
Tiga orang dalam satu ruangan, Aruna, Sabda dan Abi. Mereka akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Agar tidak melakukan sesuatu yang bisa mempermalukan diri sendiri.
Sabda dan Abimana sudah babak belur, bahkan jika tidak dihentikan oleh banyak orang termasuk scurity mungkin sudah saling membunuh.
"Kenapa harus seperti ini?" Aruna mendesah kesal. Dia juga malu karena keributan yang mengundang perhatian banyak orang itu juga melibatkan dirinya.
Tidak ada yang menjawab Aruna. Keduanya masih membungkam dengan kebencian masing-masing. Rasa marah masih menguasai mereka, tapi kemarahan Aruna membuat mereka bungkam.
"Mas Abi, Mas Sabda kalian seperti anak kecil!" lanjut Aruna dengan suara lirih. Terlihat sekali rasa kecewa Aruna pada dua lelaki itu.
"Aku... "
"Iya aku... " keduanya menjawab Aruna secara bersamaan hingga kalimat keduanya menggantung.
"Sebenarnya apa masalahnya?" tanya Aruna dengan menatap tajam kedua lelaki di depannya. Wajah kedua lelaki yang biasanya terlihat bersih itu terdapat lebam- lebam.
"Kamu sendiri sudah tahu jawabannya, Run." ucap Sabda dengan jelas.
Akhirnya Sabda menjawab setelah sekian detik terjadi keheningan. Sabda memang tidak pandai berbasa-basi.
"Aku rasa kamu tahu jika kita punya masalah yang sama." lanjut Abimana. Abi yakin jika semua yang dia rasakan itu benar.
"Berhentilah seperti ini, aku tidak akan ikut campur lagi jika keadaannya seperti ini." Kalimat Aruna terjeda. Seketika itu terdengar helaan nafas yang begitu berat dari gadis yang kini terlihat lelah.
Aruna sangat kecewa pada dua orang dewasa yang terkesan kekanak-kanakan. Apalagi itu melibatkan reputasi masing-masing, termasuk reputasi dirinya dan butik, karena kejadian itu tepat di depan butiknya.
"Aku tidak ingin terlibat apapun lagi dengan Mas Sabda atau Mas Abi. Jika berhubungan dengan pekerjaan, Mas Sabda atau Mas Abi bisa langsung pada Nina yang menghandle siklus butik. " ucap Aruna. Kemudian meninggalkan dua orang yang masih bengong menatap kepergiannya.
Aruna langsung keluar dan berniat pulang ke rumah. Dia merasa perutnya sangat mual dan kepalanya terasa pusing. Gadis yang sudah meninggalkan dua lelaki itu di ruangannya itu takut akan ambruk sebelum sampai rumah.
"Aku pulang dulu, Nin." ujar Aruna lirih.
"Iya Mbak." Nina hanya menjawab sekedarnya. Aruna terlihat pucat, Nina menduga itu pasti karena shock dengan kejadian barusan.
__ADS_1
Setelah Aruna keluar dari butik, dua lelaki itu menyusul Aruna. Sebenarnya, ada rasa cemas pada keduanya saat melihat wajah pucat Aruna. Tapi, keputusan Aruna sepertinya sudah final. Bahkan, gadis itu sudah memberi ketegasan jika dia hanya ingin sendiri.
Dengan sangat lemah dia masuk ke dalam rumah. Rumah adalah tujuan utamanya untuk bisa beristirahat dengan tenang. Aruna melempar tasnya ke sofa yang ada di dekat jendela, kemudian menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur.
Hari ini cukup melelahkan. Entah kenapa dia merasa enggan untuk memilih keduanya, meski ada rasa untuk mereka. Abimana memang selalu membuatnya nyaman dan Sabda memang menghadirkan perasaan yang berbeda.
Tiba- tiba ada rasa sepi yang menyergap dalam hatinya. Ingatannya tertuju pada bundanya yang sudah lama tiada. Jika seandainya beliau masih hidup, mungkin ada tempat berbagi untuk semuanya.
Aruna membuka matanya, menatap langit- langit kamarnya. Dia yang berusaha tegar, tapi tidaklah sekuat itu. Dia yang selalu berusaha menyelesaikan semuanya sendiri, tapi ternyata dia butuh tempat untuk bersandar.
"Bunda... aku lelah... " liriknya dengan mengusap air mata yang menetes dari sudut kedua matanya.
"Drt... drt...... drt... " Suara ponsel Aruna yang berbunyi membuat dirinya bangkit dan mengambilnya ternyata dari mama tirinya.
"Assalamu'alaikum... " jawab Aruna saat mengangkat telpon dari Mama tirinya.
"... "
"... "
"Walaikum salam. "
Aruna langsung beranjak dari tidurnya dan bersiap untuk pulang. Biar bagaimanapun dia menjaga jarak dengan Mama tirinya tapi dia tidak tega untuk melepas hubungan yang dijalin oleh ayahnya. Hubungan yang berjarak tapi tidak bisa terlepas begitu saja.
Segera, dia memasukkan beberapa baju dan memesan taxi online untuk mengantarnya ke station. Aruna akan memilih naik kereta saja.
Hanya butuh waktu yang singkat untuk dirinya berkemas, Aruna pun segera membersihkan diri sambil menunggu taxi online.
Dengan menenteng sebuah hand bag besar yang berisi beberapa pakaian, Aruna berjalan menghampiri taxi yang sudah menunggunya di depan.
"Run, kamu mau kemana?" tanya Sabda yang terlihat panik.
Dia yang baru tiba, tidak langsung masuk. Sabda sempat mengamati taxi online yang terparkir di pinggir jalan, tepatnya di depan rumah Aruna.
__ADS_1
Sesaat kemudian lelaki itu memindai pandangannya pada Aruna yang berjalan tergesa dengan membawa tas pakaian.
Rasa panik membuat Sabda turun dari motor dan menghadang Aruna. Dia sangat panik. Prasangkanya Aruna akan pergi untuk menghindarinya karena masalah yang dia timbulkan.
"Run, mau kemana? Kenapa membawa tas pakaian?" tanya Sabda wajahnya terlihat panik sekali. Apalagi Aruna tidak bisa menyembunyikan wajah pucatnya.
"Aku mau pulang, Mas. Tolong beri aku jalan." ujar Aruna dengan tatapan memohon.
"Apa karena aku, Run? Kamu sakit, kenapa harus memaksakan diri untuk pergi? Apa segitu bencinya sama aku?" Rasa panik membuat Sabda banyak bicara. Lelaki yang terlihat serius itu memberondongnya dengan beberapa pertanyaan.
"Mamaku sakit, Mas. Aku harus pulang. Aku tidak membenci siapapun." jawab Aruna mencari jalan untuk membuka pintu taxi. Tapi Sabda tetap menghadang dengan tubuh tingginya.
"Kalau begitu aku akan mengantarmu! Kamu tidak bisa pergi dengan keadaan sakit." ujar Sabda berusaha membujuk Aruna.
"Aku baik- baik saja, Mas." ucap Aruna dengan mendesah, dia tidak ingin masuk dalam akal akalannya Sabda lagi.
"Run, kali ini saja. Aku janji tidak akan mengganggumu lagi. Kali ini saja." Rasa khawatir Sabda membuat Sabda menjanjikan sesuatu yang sangat berat bagi lelaki itu.
Sejenak Aruna terdiam mempertimbangkannya. Sekali lagi, dia melirik jam di pergelangan tangannya, kemudian menatap mata sendu lelaki keras kepala di depannya itu.
"Please kali ini saja... setelah ini aku tidak lagi mengganggumu." desak Sabda. Dia memang sudah kehilangan harapan pada Aruna. Tapi, dia tidak tega jika terjadi sesuatu dengan Aruna.
"Mbak... jadi tidak?" Sopir taxi membuka kaca jendela saat Aruna terlalu lama membuatnya menunggu.
Aruna kembali melihat Sabda dengan perasaan memohon dan rasa khawatirnya pada mama tirinya membuat Aruna kemudian memilih mengangguk.
"Maaf, Pak. Nggak jadi. Tapi saya akan membayar ganti ruginya." ucap Aruna dengan membuka tasnya, bermaksud membayar.
"Cukup, kan?" ternyata Sabda sudah memberikan lima lembar uang seratus ribuan.
"Lebih dari cukup, Mas. Terima kasih." bisa terlihat binar bahagia di wajah sopir taxi tersebut. Kemudian melajukan mobil yang tadinya menjauh.
"Aku akan mengambil mobil dulu." ucap Sabda memasukkan motornya dan mengeluarkan mobilnya. Untung aja lelaki yang memang menyukai dunia otomotif dari dulu itu setiap pagi memanaskan mesin kendaraannya.
__ADS_1