
Sabda masih mondar-mandir tak karuan, sesekali dia mengusap wajah dan menarik rambutnya dengan kasar. Lelaki yang dilanda jutaan penyesalan itu merasa begitu buruk setelah terlambat mengetahui semuanya. Dia bahkan tidak pernah menyadari jika istrinya hamil. Dia merasa menjadi lelaki paling brengsek saat ini.
Proses kuretas berlangsung, Sabda seolah kehilangan semua tenaganya untuk menunggu. Disandarkan tubuh yang terasa lemah di dinding, matanya terpejam merasakan sesal dan rasa sakit karena kebodohan dan kesenangan semu.
Sesaat kemudian pintu ruangan terbuka. Sabda terhenyak kaget, ketika dokter bersama teamnya keluar dari ruangan Aruna. Gegas dia menghampiri dokter.
"Bagaimana, Dok?" tanya Sabda dengan wajah yang masih tegang.
"Pasien masih dalam pengaruh obat bius." ucap dokter.
"Boleh ditunggu di dalam, sampai Ibu Aruna siuman." lanjut dokter dengan name tag Anggraini.
"Terima kasih, Dok." jawab Sabda. wajahnya terlihat sangat kacau dengan sorot mata yang terlihat begitu sendu.
Sabda melangkah masuk ke dalam. Lelaki itu menatap wajah pucat istrinya. Entah, kenapa setiap melihat wajah itu hanya ada sesal dan rasa bersalah, sehingga lelaki itu menitikkan air mata yang kemudian dengan cepat dihapusnya.
Langkah kakinya mendekati Aruna yang masih dalam pengaruh bius itu. Sabda kemudian duduk di dekat istrinya. Penyesalan itu semakin dalam saat mengingat mereka kehilangan bayinya. Bukti cinta mereka.
Dia benar- benar tidak menyangka jika istrinya hamil. Akhir- akhir ini, saat Aruna melayaninya di tepat tidur, Sabda memang melihat perubahan fisik terutama di bagian perut Aruna yang sedikit membuncit dan sering sekali istrinya mengucapkan kata 'Pelan-pelan'.
Dia kembali teringat betapa tenangnya Aruna menghadapi kegilaannya pada cinta masa lalunya. Aruna selalu memainkan perannya dengan sangat baik sebagai seorang istri. Hal itu yang semakin membuatnya dihujami rasa bersalah pada wanita yang masih mengatupkan mata.
Sabda semakin dihantui rasa bersalah. Saat ini, dia tak bisa lagi menahan isakannya karena rentetan kejadian hari ini adalah hal terburuk sepanjang hidupnya.
"Maafkan Mas, Run." Sabda menggenggam erat jari- jemari yang masih terasa dingin itu. Penyesalan dan rasa bersalahnya pun tidak bisa digambarkan dengan kata- kata.
Pertama kali Sabda menangis tergugu, perasaannya pun campur aduk. Sesekali dia mencium tangan kecil Aruna, " Mas memang brengsek. Kamu boleh menghukum, Mas. Tapi, jangan tinggalkan, Mas. Jangan pergi, Run!" meski semua yang ada di hatinya berusaha dia ungkapkan tapi tidak merubah segalanya. Dadanya masih terasa sesak.
__ADS_1
Hampir satu jam Sabda tidak beranjak dari duduknya. Berlahan, jari-jari kecil itu bergerak, kemudian mata bulat itu mengerjap. Sabda yang melihat Aruna sudah sadar menjadi begitu antusias.
"Kamu sudah bangun, Run?" tanya Sabda, tapi tidak dijawab oleh Aruna. Sabda berdiri, agar dia bisa melihat wajah Aruna yang seperti enggan melihatnya.
Tatapan Aruna menerawang jauh ke depan, tidak ada perlawan atau respon lainnya dari Aruna. Wanita yang hanya terdiam itu pun, terlihat menitikkan air mata dari kedua sudut matanya saat menyadari jika dirinya sudah kehilangan bayi.
Suasana menjadi hening. Sabda tahu istrinya lebih terpukul darinya, "Maafkan, Mas!" ucap Sabda dengan mengeratkan genggaman.
"Aku sudah kehilangannya." lirih Aruna dengan mata yang terus berair dan tanpa henti. Tidak ada semangat lagi dirinya untuk bertahan dan meneruskan hidupnya.
"Ceklek... " terlihat Mama Rosa membuka ruangan Aruna. Sejenak beliau terdiam menatap anak dan menantunya yang terlihat begitu menyedihkan.
"Sayang... " dipeluknya Aruna yang terlihat begitu lemah. Diusapnya lengan menantunya yang kini bersandar dalam pelukannya.
"Aruna kehilangannya, Ma. Aruna tidak bisa menjaganya." lirih Aruna kemudian terisak kuat dipelukan Mama Rosa.
"Sabar, Sayang. Mama yakin, Allah mengatur semuanya dengan baik." Mama Rosa masih berusaha menenangkan.
Lelaki dengan kemeja dan celana yang penuh dengan noda darah itu memilih untuk duduk sejenak di depan ruangan. Sungguh, hatinya merasa nyeri melihat keadaan dan tangis istrinya. Dia merasa menjadi suami yang paling brengsek.
Setelah beberapa menit dan merasa perasaannya jauh lebih baik, Sabda kembali masuk. Terlihat Mama Rosa membuka paper bag yang beliau bawa.
"Sabda, bantu Aruna makan! " titah Mama Rossa.
"Aku tidak lapar, Ma." jawab Aruna. Dia memang tidak nafsu makan.
"Jangan membantah, Mama, Runa. Mama tidak ingin terjadi hal yang lebih buruk pada putri, Mama." Rosa menatap tajam Aruna. Dia tahu menantunya itu sudah kehilangan banyak tenaga.
__ADS_1
"Cukup Mama kehilangan calon cucu Mama." lirih Rosa dengan kesedihan yang tidak bisa dia tutupi lagi, Rosa juga merasakan sangat kehilangan. Sudah lama, Rosa menginginkan cucu, berharap bisa mengisi kesepiannya di hari tua.
Sabda langsung menuruti apa kata Mamanya, dia kemudian mendekati istrinya dan duduk di sebelah Aruna.
Sabda tahu Aruna enggan menatapnya, tapi dia bisa mengerti jika sikap Aruna yang seperti itu. Lelaki itu merasa sudah melukai banyak orang yang dia cintai.
"Sudah, Mas." ucap Aruna saat Sabda akan menyuapkan nasi untuk yang ke lima kalinya.
Rosa sebenernya melihat ada kecanggungan diantara mereka. Entah masalah apa yang sedang menghampiri keluarga putranya. Wanita cantik yang selalu tampil elegant itu hanya bisa menerka dalam pikirannya dengan masih menatap ponsel miliknya.
"Mama khawatir saat melihat berita tabrakan di depan Showroom. Semua korban dalam tabrakan itu meninggal. Mama langsung telpon kantor dan ternyata malah Aruna dibawa ke klinik. Hampir saja Mama terkena serangan jantung, sebelum security menjelaskan semuanya." jelas Rosa memecahkan kecanggungan diantara mereka.
"Salah satu mobil itu hampir saja menabrak Aruna." sambut Sabda, lelaki itu kemudian meletakkan makanan di atas nakas.
"Mama ingin kalian tinggal di rumah Mama untuk sementara, agar Mama bisa menjaga Aruna." ucap Rosa membuat Aruna kembali bimbang. Rosa begitu menyayanginya, rasanya tidak tega mengatakan sesuatu yang membuat beliau kecewa.
Tapi mau sampai kapan dia menyembunyikan ini? Dia masih sulit memaafkan pengkhianatan Sabda.
"Aruna mau pulang ke rumah Mama Hesti, Ma." kalimat Aruna membuat Rosa dan Sabda menatapnya. Jika Mama Rosa menatapnya penuh dengan rasa heran dan penasaran, berbeda dengan Sabda yang menatapnya dengan sorot mata penuh permohonan.
Dia masih berharap Aruna, melupakan niatnya yang ingin bercerai dan memberinya kesempatan lagi.
"Kenapa harus ke Mama Hesti? Itu artinya kalian akan jarak jauh?" desak Rosa, pikirannya mulai tidak tenang. Dia sangat menyayangi Aruna. Bahkan, dia yakin Aruna adalah sosok wanita baik yang membuat putranya merasa beruntung.
Aruna masih bungkam, dia merasa dilema antara bicara sejujurnya atau masih menyimpannya. Tapi, entah kapan kejujuran ini harus tetap dia simpan.
"Kenapa, Runa?" desak Rosa dengan tidak sabar.
__ADS_1
"Aruna ingin bercerai dengan Mas Sabda, Ma." lirih Aruna yang tetap membuat hati Sabda merasa nyeri.
Rosa yang mendengar kalimat Aruna, benar- benar merasa terkejut bahkan tubuhnya terasa limbung. Separah apakah masalah dalam rumah tangga putranya? Pertanyaan itu membuat Rosa mulai penasaran.