
Aruna tidak memperpanjang urusannya dengan wanita itu, dia langsung berjalan tergesa dan memesan taxi online untuk pulang. Seseorang yang sedari tadi melihat Aruna masih memperhatikan kepergiannya dari kejauhan.
Wanita yang hampir tidak tahan dengan tangis yang ingin meledak itu segera masuk ke dalam taxi. Tanpa Aruna tahu, mobil berwarna putih itu pun segera mengikutinya.
Air matanya seketika tak bisa dibendung, tangisnya tumpah dengan tangan membekap mulut agar tangisnya tidak meledak.
Hal yang ditakutkan dirinya selama ini ternyata baru saja dia dengar dari wanita itu. Hatinya terasa seperti diremas dan dihancurkan hingga lumpuh dan mati rasa seketika.
Beberapa kali sopir taxi melihat Aruna yang tergugu di bangku belakang. Lelaki paruh baya itu rasanya tak tega melihat Aruna yang hampir histeris jika saja tidak ditahan dengan bekapan tangannya sendiri.
"Mbak, sudah sampai." ucap Sopir taxi itu dengan lirih. Aruna mencari tasnya mengambil dompet dan mengeluarkan uang sekenanya. Kemudian berlari masuk ke dalam rumah.
Sopir taxi menatap rumah itu dengan ragu. Uang yang diberikan Aruna terlalu banyak dan paper bag yang ketinggalan membuat sopir taxi itu keluar.
Sejenak, dia kembali menatap rumah berlantai dua itu. Lelaki berkulit sawo matang itu pun mondar mandir di depan gerbang antara masuk atau ditinggalkan saja di luar barang milik penumpangnya itu.
Mobil sedan berhenti tepat di depan rumah dengan gerbang sedikit terbuka. Sabda keluar dari mobil, saat melihat sopir taxi yang terlihat gelisah di depan rumahnya.
"Ada apa, Pak?" tanya Sabda.
"Ini milik mbaknya yang masuk ke dalam." ucap Sopir taxi dengan menyerahkan paper bag milik Aruna.
Sabda langsung menyambar paper bag itu dan berlari masuk. Pikirannya sudah tidak karuan, apalagi saat mendengar tangis dan raungan Aruna dari dalam kamar.
Sabda yang wajahnya sudah terlihat panik itu berlari menaiki tangga. Dalam hatinya bertanya dengan apa yang sudah terjadi hingga Aruna se-histeris ini.
"Run... " panggil Sabda saat Aruna duduk di lantai dengan memeluk bantal dengan begitu eratnya.
Sabda berjalan mendekat, dia pun berjongkok tapi saat akan menyentuh Aruna. Wanita itu segera menepisnya.
"Jangan menyentuhku!" pekik Aruna diantara sela tangisnya. Wajah cantik itu terlihat sangat kacau. Ini pertama kalinya Sabda melihat Aruna tidak bisa mengendalikan diri.
"Ceraikan aku, Mas! Aku benci kamu, Mas. Benci..." Aruna memukul dada lelaki di dekatnya itu hingga berulang-ulang. Sosok yang membuatnya terluka.
"Mas, salah. Pukul saja jika bisa membuatmu lega" lirih Sabda dengan mata yang sudah berkaca- kaca. Hingga dia sudah mengerti apa yang membuat Aruna se-histeris ini.
__ADS_1
"Maafkan, Mas." Sabda memeluk tubuh mungil itu untuk menahan gerakannya. Rasa bersalah semakin menghimpit hingga muncul pikiran untuk mengabulkan permintaan berpisah istrinya.
Beberapa menit berlalu, tangis Aruna mulai mereda, wanita itu terisak pelan dalam rengkuhan Sabda.
"Kenapa menikahi aku jika Mas Sabda tidak mencintaiku? Salahku apa, jika Mas berniat mempermainkan perasaanku? Berapa kali Mas tidur dengannya? Jika Mas masih mencintai wanita itu, kenapa tidak melepaskan aku agar kalian bahagia." racau Aruna diantara isak tangisnya. Wanita yang merasa hatinya teramat sakit itu sudah tidak bisa mengendalikan diri.
Sabda semakin mempererat pelukannya, dia tidak menyangka Aruna yang biasa tenang bisa sekacau ini. Isakan Aruna yang mulai melemah membuat Sabda meregangkan pelukannya untuk melihat wajah istrinya.
Sabda menatap mata yang terus berair itu. Mata sayu yang menunjukan hatinya yang teramat sakit.
"Apa yang harus aku lakukan saat ini? " lirih Aruna wajahnya menengadah menatap sosok di depannya.
Aruna berada pada titik terlelah. Dia tidak bisa berfikir apalagi memberi membuat keputusan.
"Aku lelah." Dia kembali terisak hingga tergugu. Tubuhnya pun terlihat lemah sudah terlalu banyak tenaga untuk menahan tangis dan emosi.
Sabda kembali memeluk Aruna menghujani puncak kepala istrinya dengan ciuman. Sementara matanya juga berkaca- kaca melihat Aruna seperti ini. Otaknya pun mendadak tidak mampu berfikir. Kondisi Aruna membuat hatinya terasa nyeri.
Aruna mengerjapkan mata, kepalanya masih berdenyut nyeri hingga beberapa menit yang lalu Aruna tidak sadarkan diri.
"Sayang kamu sudah sadar?" tanya Sabda. Tapi, hanya dijawab dengan tatapan mata oleh Aruna.
"Bicaralah! Jangan diam seperti ini. Mas tidak bisa melihatmu seperti ini." Akhirnya setelah beberapa jam mereka terdiam kalimat Sabda memecahkan keheningan.
"Berapa kali kalian melakukannya, Mas?" Aruna menatap Sabda. Bukan kemarahan yang terlihat dari wajah Aruna, tapi sebuah ketidakberdayaan. Dia sudah siap mendengar jawaban jujur dari suaminya.
Sabda terdiam wajahnya memerah antara sedih dan emosi. Entah siapa yang mengatakan kebenaran itu.
"Katakan saja, Mas. Aku sudah siap mendengarnya." lirih Aruna.
Pertama kali mengetahui perselingkuhan suaminya. Sudah terbayang dalam benak Aruna tentang hal ini. Tapi, ungkapan sebuah kebenaran itu yang membuatnya begitu histeris.
Dia berharap apa yang dipikirkan dan dia bayangkan selama ini tidak sampai terjadi. Tapi itulah kenyataannya. Hingga wanita yang kehilangan kendali mencapai puncak emosinya. Titik dimana dia meluapkan kemarahan yang sudah dia tahan.
"Maafkan, Mas, Run." ucap Sabda, matanya memerah menahan tangis. Dia tidak tega mengatakan itu pada istrinya karena dia tahu Aruna pasti akan terluka.
__ADS_1
"Aku sudah siap mendengarnya. Pertanyaan akan hal ini selalu membayang setiap kita berhubungan, Mas." lanjut Aruna. Dia yakin bisa menerima pengakuan Sabda. Tatapan tajam Aruna seolah memaksa Sabda untuk bicara.
"Sekali, saat acara club mobil. Mas mabuk saat itu!" lirih Sabda. Tangannya menggenggam erat tangan kecil istrinya. Tapi, Aruna kembali terdiam. Hingga ponsel Aruna berbunyi.
Tidak ada reaksi dari Aruna hingga Sabda berinisiatif mengambil ponsel yang masih di dalam hand bag itu.
"Mama, sayang." ucap Sabda.
"Angkat saja, Mas." jawab Aruna.
"Iya, Ma." Sabda mengangkat telepon Mamanya.
"(...) "
"Aruna sakit. " Sabda hanya menjawab singkat pertanyaan mamanya.
"(...) "
"Iya." Sabda mengakhiri panggilan dari mamanya tapi ada yang membuatnya penasaran.
Tanpa sengaja Sabda melihat pesan gambar di ponsel istrinya yang belum buka. Dan ternyata itu gambar dirinya dan Anin saat di acara club mobil.
Dengan cepat Sabda menghapus gambar itu dan mengirim nomer asing itu ke ponselnya. Untung saja Aruna tidak memperhatikan dirinya mengotak atik ponselnya.
Lelaki itu menghela nafas panjang saat meletakkan ponsel milik istrinya dengan emosi yang sudah meradang. Ya, sepertinya kejadian selama ini seperti sebuah konspirasi. Tapi, apa motifnya?
Sabda melirik Aruna yang menatap kosong ke luar jendela. Dia merasa sangat kasihan dengan istrinya. Di sini, Arunalah yang sangat terluka dengan semua ini.
"Sayang, kamu mau makan apa? Mas akan pesan makanan." tanya Sabda dengan beralih mengambil ponselnya. Sabda berusaha bersikap senormal mungkin.
"Aku tidak lapar." jawab Aruna tanpa mengalihkan pandangannya dari jendela.
"Kalau begitu kita ke rumah sakit saja. Kamu tidak usah makan cukup diinfus." Aruna menoleh ke arah suaminya. Wajahnya masih sendu tapi tatapannya menolak. Sabda tahu Aruna dari awal menikah dia takut jarum suntik.
"Soto mau?" tanya Sabda membuat Aruna mengangguk.
__ADS_1
"Sambil menunggu pesanan datang, kita Salat Magrib dulu, ya!" Sabda berfikir mengajak Aruna Salat mungkin pikiran mereka lebih tenang.
Hari ini sungguh melelahkan bagi mereka.Tidak hanya Aruna, tapi Sabda. Tapi mereka harus melewatinya, karena setiap rumah tangga akan mengalami ujian yang berbeda.