Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Bujukan Syaitan


__ADS_3

Mereka kini sudah sampai di sebuah rumah dengan model bangunan kuno yang cukup terawat. Berlantai dua dengan halaman luas dan di tumbuh beberapa bunga dan sebuah pohon mangga di depannya. Rumah itu yang selalu membuat Aruna merindu.


Mereka memasuki rumah dan di sambut Bi Narti yang sudah tahu akan kedatangan mereka.


Setelah visit dokter, Sabda langsung menyelesaikan administrasi biaya perawatan calon mertuanya. Meskipun Aruna sudah melarang, tapi lelaki itu tetap ngotot agar cepat sampai rumah.


"Selamat datang, Mbak Runa."


"Ini ya calonnya, Mbak Runa?" lanjut Bi Narti kemudian mengangguk pada Sabda yang berada di sebelah Aruna.


Bi Narti memang sering mendengar curhatan Mama Hesti yang terus mendesak Aruna untuk menikah dan saat ini putri pemilik rumah ini membawa pulang sosok rupawan yang terlihat sudah mapan.


Wanita paruh baya itu yakin jika lelaki gagah dan tampan itu calon suami Aruna. Mereka memang nampak sangat serasi.


Aruna mendorong kursi roda yang diduduki Mama Hesti hingga sampai ruang keluarga. Ruangan yang dipenuhi dengan banyak foto tapi tak ada satupun foto Mama Hesti bersama Ayah Handoyo. Foto keluarga yang berdiri bersama Aruna adalah wanita yang berbeda. Itu yang membuat Sabda semakin penasaran.


"Aruna memang putri tiriku. Tapi aku menyayanginya." ujar Hesti saat melihat Sabda terus menatap foto keluarga yang terdiri dari Handoyo, Aruna kecil dan Arini, Ibunda Aruna.


"Oh... " Sabda tidak ingin banyak bertanya. Baginya, semua tidak masalah. Itu hanya sejarah keluarga mereka.


"Antar Nak Sabda ke kamar tamu, dan nanti malam kamu tidur bersama Mama, Run." ujar Hesti. Aruna mengernyitkan kedua alisnya, selama ini dia tidak pernah tidur satu ruang dengan wanita yang dianggap sudah mengambil posisi ibundanya.


"Aku akan tidur di kamarku!" Di rumah Aruna terkesan keras kepala.


"Mama hanya ingin bicara denganmu, Run. Banyak hal yang ingin Mama sampaikan." desak Hesti membuat Aruna terdiam.


"Aku akan mengantarkan Mama untuk istirahat." Aruna kembali mendorong kursi roda itu menuju kamar Mama Hesti.


Dibukanya pintu kamar yang selama ini tidak pernah dilihatnya di dalamnya. Ruangan sedikit kecil dari ruangan Bunda Arini. Foto Ayah Handoyo bersama Mama Hesti terpajang dengan jelas dan yang membuat Aruna heran, begitu banyak fotonya yang memenuhi ruang kamar ini.


"Mama sayang kamu, lebih dari jiwa Mama." ucap Hesti saat Aruna terpaku menatap fotonya sendiri.


"Mama istirahat ya! Runa Akan mengantar Mas Sabda ke kamar." pamit Aruna tanpa menjawab ungkapan perasaan sayang Mama tirinya.


"Mama percaya kamu bisa jaga diri, Run." kalimat yang mengandung pesan agar Aruna bisa menjaga diri pun sudah dihafal Aruna. Hesti memang tidak ingin mengekang Aruna. Tapi wanita itu begitu over protect pada putri yang dititipkan Handoyo padanya.

__ADS_1


"Runa, faham, Ma. " jawab Aruna kemudian dia keluar dan menutup kembali pintu kamar mamanya.


Langkah Aruna terhenti saat melihat Sabda merebahkan diri di sofa dengan tangan bertumpu sebagai bantalan. Dicermati sekali lagi wajah lebam dengan warna biru yang sudah hampir memudar itu dari kejauhan.


Aruna pun melangkah ke belakang dan kembali dengan secangkir kopi dan semangkuk kerikil es batu yang baru dia ambil dari freezer.


Aroma harum kopi dan pergerakan seseorang di samping badannya membuat Sabda membuka mata. Dia menatap Aruna sudah duduk di samping pinggangnya.


"Sayang... " Sabda langsung bangkit saat melihat Aruna.


"Mas Istirahat di kamar ya!" tawar Aruna sambil mengompres wajah lebam Sabda.


"Nanti saja, Mas ingin menghabiskan waktu bersamamu." jawab Sabda dengan menahan tangan Aruna yang sedang meletakkan es batu. Lelaki itu menatap lekat wajah cantik yang akan dia lihat setiap harinya.


"Mas, kita belum menikah! " ujar Aruna dengan tangan kiri menahan dada bidang lelaki yang terus mencondongkan tubuhnya. Aruna tahu Sabda ingin menciumnya.


Mendengar ketegasan Aruna membuat Sabda terkekeh. Aruna memang beda, mungkin gadis itu tidak pernah tahu bagaimana orang-orang pacaran.


"Kamu tidak pernah lihat drakor ya?" tanya Sabda. Aruna masih fokus mengompres lebam di wajah Sabda.


"Sakit, Run." Sabda meringis, berpura-pura kesakitan.


"Makanya jangan mikir aneh-aneh." ujar Aruna.


"Pacaran ya seperti itu, sayang. Pegang tipis-tipis kan boleh." desak Sabda.


"Bahkan, di drakor banyak yang bobo bareng..." sahut Aruna dengan kalimat yang masih menggantung.


"Betul- betul. Mas ajarin kamu, mau!" sela Sabda sambil tersenyum keki membuat Aruna mencubit kecil perut keras Sabda.


"Ya Allah, istigfar, Mas. Ngeri aku dengarnya!" Wajah Aruna sudah seperti kepiting rebus. Gadis itu tidak ingin melayani omongan Sabda dan beranjak pergi membawa mangkuk berisi es batu ke belakang.


Aruna semakin ngeri membayangkan jika sering bertemu dengan Sabda. Meskipun dia mengerti, diumur yang terbilang matang, Sabda memang butuh menyalurkan kebutuhan biologis, tapi tidak juga harus dengan jalan yang salah.


"Bi... Bi Narti." panggil Aruna berulang kali tapi tetap saja tidak melihat keberadaan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Makanan sudah tersaji di meja, dapur juga sudah bersih, biasanya Bi Narti akan pulang setelah Salat Ashar. Tapi saat ini, Bi Narti tidak nampak barang hidungnya.


"Mas sudah memintanya balik, Sayang. " sahut Sabda yang sudah berdiri di dekat meja makan. Dia menatap Aruna sambil tersenyum.


"Maksudnya, Mas, apa?" geram Aruna, Sabda memang selalu bertindak diluar dugaannya.


"Biar kita bisa berduaan, hehehe... " lanjut Sabda tanpa dosa. Lelaki itu bahkan memberinya beberapa lembar uang ratusan agar wanita yang sempat memasak untuk makan siang itu pun menurut.


Aruna menurunkan kedua bahunya dan menghela nafas lemah. Ada- ada saja yang dilakukan Sabda. Wajah terlihat cool tapi kelakuannya begitu absurd. Mungkin, itulah ada istilah jangan menilai sesuatu dari covernya..


"Jangan mencoba menjadi syaitan, Mas. Kita belum menikah, jangan sampai kita berdua khilaf!" ketus Aruna. Bersama Sabda membuatnya merasa insecure.


Tanpa menjawab Aruna Sabda kemudian duduk berhadapan dengan Aruna di meja makan. Dia kemudian mengambil ponsel dan mencari nomer mamanya.


"Ma..." sapa Sabda saat melihat wajah Mama Rosa di layar.


"Ada apa, Da. Tumben telepon Mama." Setelah sekian lama Sabda memang tidak pernah menghubungi mamanya terlebih dahulu. Hingga kali ini mamanya dibuat penasaran.


"Calon mantu Mama ingin menikah secepatnya. Secepatnya... Ma." Mendengar Kalimat Sabda membuat Aruna melotot.


"Mas Sabda...! " ucap Aruna sambil mengeram kesal. Sedangkan Sabda malah tergelak.


"Mama pasti akan menyiapkan secepatnya jika itu mau kalian. Duh.... calon nantu Mama cantik banget! " ucap Rosa di seberang saat saat Sabda mengarahkan kamera ke arah Aruna yang sedang cemberut.


Aruna kemudian bangkit dan berjalan mendekat ke arah Sabda berusah merebut ponsel Sabda. Terdengar Mama Rosa tertawa saat terdengar kehebohan dan kamera yang bergerak gerak tak jelas.


"Mama senang mendenar kabar itu, Da." terdengar suara Mama Rosa saat keduanya sibuk berebut ponsel.


Sabda yang punya tinggi badan jauh dari Aruna membuat lelaki itu sangat mudah mempertahankan ponselnya dengan tangan ke atas.


"Kita akan ke rumah calon besan Mama minggu depan." lanjut Sabda sebagai ucapan terakhir. Karena satu tangannya menangkap tubuh Aruna yang hampir terjatuh karena berusaha melompat.


"Kamu yang meluk aku lo, Run. Jadi jangan salahkan aku." goda Sabda saat kedua tangan Aruna mencengkeram baju Sabda ketika dirinyĆ  akan terjatuh.


"Sudahlah, Mas Sabda lebih baik makan dulu." kesal Aruna saat Sabda playing victim mencoba menyalahkan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2