Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Penyesalan


__ADS_3

Aruna terbangun saat mendengar derit suara pintu yang terbuka. Dengan berat matanya mengerjap untuk melihat waktu.


Wanita itu terkesiap bangun, saat jam yang menggantung di dinding menunjukkan pukul lima pagi.


"Mas Sabda kenapa tidak membangunkan aku?" omel Aruna saat melihat Sabda yang baru saja masuk dan mengganti baju koko dengan kaos rumahan.


"Mas baru akan membangunkanmu ini, tapi ternyata kamu sudah bangun." jawab Sabda.


Aruna pun beranjak ke kamar mandi, dia akan mandi terlebih dahulu dan kemudian menunaikan Salat Subuh.


"Sayang, Mas kangen masakanmu. Bisa, kan masak sarapan untuk Mas?" tanya Sabda saat Aruna hampir melangkah masuk ke kamar mandi.


"Iya, nanti aku masak buat sarapan. Mas Sabda ingin makan apa?" tanya Aruna ketika menoleh ke arah Sabda yang siap keluar kamar.


"Apa saja, yang penting ada tahu sama tempenya." ucap Sabda. Sudah sangat lama dia tidak memakan dua jenis makanan itu.


"Siap, Mas." jawab Aruna kemudian masuk ke dalam.


Lelaki itu memilih untuk berolah raga sebentar agar tubuhnya tidak terasa kaku- kaku. Mumpung boulevard di depan rumah masih nampak sepi, Sabda memilih untuk berlari kecil sebagai pemanasan sebelum bermain dengan besi- besi yang ada di lantai dua rumahnya.


Setelah selesai Salat Subuh, Aruna memilih turun untuk mencari bahan yang akan dia masak untuk sarapan. Kebetulan Bu Ninik pulang untuk waktu dua hari karena ibunya sedang sakit.


"Run, masak apa?" tanya Rosa saat melihat menantunya memotong sayuran di dapur.


"Mau bikin sup sama tempe goreng, Ma." jawab Aruna dengan menoleh ke arah Mama Rosa yang sedang mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.


"Mama, mau teh? Atau kopi?" tawar Aruna.


"Teh saja. Oh ya, semalam kamu tau tidak, jika ada keributan?" tanya Rosa penuh dengan selidik. Mereka memang berada dalam satu pesta tapi berbeda komunitas.


"Emang ada apa, Ma?" tanya Aruna menghentikan tangannya yang sedang meracik sayur dan berganti membuat teh untuk mertuanya.


Tanpa berbicara lagi, Rosa melangkah mendekati Aruna. Wanita yang sudah dari tadi memegang ponsel itu membuka you tube dan memperlihatkan kericuhan antara Anin dan istrinya Royan. Mereka terlihat masih di area parkir.


"Astaghfirullah..." ucap Aruna saat melihat wanita yang sempat dia lihat dalam pesta itu menggampar wajah Aninditha.

__ADS_1


"Aku dan Mas Sabda juga sempat melihat mereka berciuman di parkiran, Ma. Tapi, kita sudah tidak peduli." ujar Aruna menceritakan kejadian semalam.


"Dasar tidak tahu malu! Kalau dia berani mendekati Sabda lagi, akan Mama lempar ke samudra Hindia, sekalian dimakan paus." geram Mama Rosa, setiap apa yang berhubungan dengan Anina wanita paruh baya itu mendadak emosi.


"Kalau Aruna, sebenarnya masalahnya bukan Aninditha tapi Mas Sabda sendiri. Karena, jika saja Mas Sabda kuat iman dan mencintai Aruna, pengkhianatan itu pasti tidak akan terjadi, Ma." ujar Aruna dengan mengaduk teh yang kemudian diberikan kepada Mama mertuanya.


Pembicaraan mereka yang dari sekedar bergosip kini berubah menjadi serius. Kedua wanita itu tidak menyadari jika Sabda sudah berdiri mendengarkan obrolan mereka.


"Jika wanita itu sampai hamil anak Mas Sabda. Aruna dengan mudah memilih untuk berpisah. Menerima kembali seseorang yang pernah mengkhianati kita itu tidak mudah ternyata." lanjut Aruna.


Wanita hamil itu kemudian fokus memasak sementara Rosa merasa kaget saat melihat Sabda sudah berdiri di dekat tangga.


"Mama akan ke teras dulu, Run!" pamit Rosa. Dia melihat putranya yang sedang menatap ke arah dirinya dan Aruna.


Sabda berjalan mendekat ke arah Aruna. Sebenarnya dia tidak tahu apa yang harus di bicarakan pada sosok yang masih sibuk di depan kompor. Lelaki itu terus saja menatapnya dengan perasaan entah, karena ternyata wanita itu mampu menggenggam perasaannya dengan sangat kuat hingga semua bisa berjalan dengan baik.


"Apa kamu tidak bisa memaafkan kesalahan, Mas?" tanya Sabda membuat Aruna menoleh.


Aruna sempat tersentak kaget, tapi dia kemudian tersenyum ke arah wajah yang terlihat tegang.


"Aku sudah memaafkan Mas Sabda. Aku tidak akan bertahan jika tidak bisa memaafkan Mas Sabda. Tapi tidak mudah bagi seorang wanita melupakan sesuatu yang pernah melukainya." ucap Aruna. Kali ini, dia tidak bisa mengartikan tatapan sendu Sabda yang tertuju padanya.


"Aku sudah memaafkan Mas Sabda. Kita jalani saja dengan cara yang baik dan fokus pada baby kita." lanjut Aruna, kemudian dia kembali berpaling pada panci yang mendidik dan mengaduk sup yang kini sudah mendidik.


"Mas Sabda, mau kopi?" tanya Aruna mengalihkan pembahasan yang membuat wajah Sabda penuh penyesalan.


"Kopi saja, Sayang." jawab Sabda. Dia yang berniat akan berolahraga pun akhirnya tidak jadi.


Sabda memilih untuk menikmati kopi paginya sambil menunggui Aruna yang masih memasak sarapan. Benar kata orang penyesalan tidak jauh lebih dari pada menghindari permasalahan.


###


Sementara itu pertengkaran Anin dan Royan terdengar menggema di dalam apartemen yang disewakan Royan untuk Anin.


Wanita itu begitu marah karena videonya sempat viral mesti wajahnya tidak terlihat jelas. Tapi, saat ini semua orang yang sudah mengenal mereka pasti tahu hubungan terlarang keduanya.

__ADS_1


"Semua sudah tahu hubungan kita sekarang. Aku harap kamu mau menikahi aku!" pinta Aninditha. Wanita itu terlihat kacau, dia tidak tahu lagi bagaimana menyembunyikan wajahnya karena malu.


"Aku tidak bisa! Yessi, dia tidak ingin dimadu. Bahkan, dia mengancamku untuk mengakhiri semuanya jika aku menikahimu." jawab Royan dengan berdiri berhadapan dengan Anin. Lelaki itu tidak bisa meninggalkan keluarganya.


"Hubungan kita juga tidak gratis. Aku sudah membayarmu dan apartemen ini masih ada sisa waktu satu tahun. Kamu bisa menggunakannya." jawab Royan kemudian lelaki itu melangkah pergi.


"Brengsek kamu, Roy!" pekik Aninditha dengan melempar beberapa barang ke arah lelaki yang kini menghilang dari balik pintu.


Wanita itu menangis sejadi- jadinya. Dia begitu membenci hidupnya sendiri. Rasa marah, kecewa, benci dan terluka membaur menjadi satu. Ya, biar bagaimanapun dia merasa harga dirinya sudah terluka.


Tubuhnya luruh dilantai dengan raungan yang terus menggema di seluruh ruangan. Dia terus saja menyalahkan garis nasibnya.


Sejak tadi bel terus berbunyi. Dia seperti engga untuk membuka pintu. Tidak ada tujuan hidup, bahkan untuk bertemu orang pun dia merasa malu. Tapi, bel terus saja berbunyi, hingga dia memaksa dirinya untuk bangkit dan membukakan pintu.


"Mbak Anin..." Ana memeluk Aninditha yang terlihat sangat kacau. Sedangkan Anin hanya mematung, dia tidak lagi punya tenaga untuk memberi respon.


"Ada apa?" lirih Anin dengan suara parau. Tatapannya menerawang.


"Tinggalah bersamaku." ajak Ana. Dia merasa iba dengan saudaranya setelah melihat video yang viral.


"Ayolah, Mbak. Kita buka lembaran baru." bujuk Ana sekali lagi saat melihat Anin terdiam.


"Aku ingin mati saja! Aku tidak punya wajah untuk melihat dunia." tolak Anin yang dia pikirkan hanya mati.


"Aku akan pindah dinas. Bagaimana jika Mbak Anin ikut aku." bujuk Ana sekali lagi. Melihat, kondisi Anin, Ana rasanya tidak tega.


"Aku malu!" jawab Anin suaranya terdengar sangat lemah.


Ana menarik tangan Anin. Wanita yang sudah tidak bertenaga pun hanya mengikutinya saja. Keduanya kini berada di depan cermin.


Ana mengeluarkan sesuatu dari paper bagnya, sebuah jilbab dan memakaikannya di kepala Anin.


"Untuk sementara mungkin belum ikhlas tapi setidaknya ini bisa melindungimu, Mbak." ujar Ana sambil membingkai wajah Anin dengan jilbab yang baru saja dia bawa.


Anin semakin menangis histeris menatap wajahnya di cermin. Dia tidak pernah membayangkan menggunakan jilbab.

__ADS_1


"Orang akan sulit mengenalimu, Mbak. Kita buka lembaran baru." bujuk Ana.


Anin memeluk Ana sambil menangis dan menggangguk setuju, hal membuat Ana tersenyum dengan tenang. Dari dulu dia memang tidak pernah sependapat dengan sepupunya itu. Tapi, Anin terpuruk tidak ada salahnya memeluknya sebagai saudara.


__ADS_2