
Saat perjalan pulang dari mengantar Aruna Sabda berhenti sejenak di pinggir jalan. Dia sudah tidak bisa berkonsentrasi lagi karena rasa gelisah akan keputusan Aruna yang sulit dia goyahkan lagi.
"Aaaaarrrghhh... " teriak Sabda dengan memukul setir mobilnya. Lelaki itu menangis sesenggukan dengan kepala bertumpu pada setir. Dia begitu menyesal karena harus terlena dengan cinta yang tak semestinya dan kehilangan cinta yang sesungguhnya.
Suara azan membuat Sabda menghentikan sejenak kegelisahan yang sedang melanda. Iya, dia teringat masih ada Tuhan yang bisa membolak balikkan rasa, melunakkan hati yang begitu keras dan memberinya ketenangan dalam menghadapi masalah ini.
Sejenak dia bersandar di jok mobil, diusapnya air mata yang mengembun di sudut matanya, dia gak peduli jika dunia akan menertawakan tangisnya.
Sabda mencari keberadaan suara azan tersebut. Dan ternyata dia baru menyadari jika dirinya berada di dekat sebuah masjid.
Lelaki yang penuh dengan rasa putus asa itu akhirnya turun untuk mencoba mendekatkan diri kepada Tuhannya. Sesuatu hal yang sangat jarang sekali dia lakukan dengan niat sepenuh hati.
Setelah Salat Isya, dia masih duduk merenungi apa yang sudah terjadi di dalam masjid. Kesalahannya pada sang istri memang terlalu besar hingga dia tidak yakin Aruna masih mau menerimanya kembali.
"Maaf. Mas, bukan penduduk sekitar sini, kan?" tanya lelaki yang tadinya memimpin salat berjamaah.
"Iya, saya bukan orang sini. Saya sekedar lewat." jawab Sabda.
"Kenalkan nama saya Irul. Rumah saya di depan masjid. Jika masnya berkenan silahkan, mampir! " ucap Pak Irul dengan mengulurkan tangan, lelaki setengah baya itu melihat Sabda seperti sedang memiliki banyak beban.
Sabda pun beranjak dari duduknya kemudian berjalan mengikuti Pak Irul.
"Saya Sabda. Saya baru mengantar istri pulang, Pak." ucap Sabda kemudian.
"Mari mampir. Kita bisa kenalan dengan minum teh!" ajak Pak Irul. Sabda yang awalnya ingin segera balik pun menerima tawaran Pak Irul.
Seorang wanita paruh baya dengan hijab Syar'i datang membawakan teh dan camilan. Nampak Pak Irul sedang berfikir. Sedangkan, Sabda menyesap teh hangat yang baru disuguhkan oleh istri Pak Irul.
"Mas Sabda, sering lewat sini? " tanya Pak Irul membuka pembicaraan.
"Saya cuma beberapa kali, nggak rutin lewat sini. Rumah istri saya ada di daerah perkotaannya. Sedangkan saya tinggal di kota sebelah." jelas Sabda membuat Pak Irul manggut- manggut.
__ADS_1
"Kenapa harus berjauhan dengan istri? Apa ada acara?" tanya Pak Irul, mulai memancing Sabda. Tapi beliau memang seorang psikolog.
"Saya sebenarnya sedang ada masalah. Istri saya meminta cerai. Tapi, Saya tidak mau bercerai. Saya mencintainya, Pak." jelas Sabda. Dia merasa perlu membagikan masalahnya untuk mengurangi sedikit bebannya. Apalagi Pak Irul yang terlihat sangat bijaksana itu membuat Sabda merasa nyaman.
"Kenapa meminta cerai? Kalian ada masalah apa? Apa Mas Sabda punya wanita lain atau sebaliknya? Jika dilihat dari tampilan Mas Sabda tidak mungkin karena masalah ekonomi." sambut Pak Irul membuat percakapan mereka mengalir lebih dalam.
"Saya bertemu mantan saya dan saya terlena dengan kebersamaan kami hingga saya tidak menyadari jika istri saya sudah terluka." jelas Sabda.
"Sejauh mana hubungan kalian? Apa Mas Sabda sudah melakukan hubungan layaknya suami istri?" tanya Pak Irul penuh selidik.
Sejenak Sabda terdiam, tapi kemudian berlahan mengangguk membuat Pak Irul mengembuskan nafas berat.
"Itulah yang benar-benar menjadi beban saya. Saya takut istri saya mengetahuinya karena saya sangat mencintainya." lanjut Sabda. Letak ketakutan Sabda berada di titik itu. Bisakah, Aruna memaafkannya jika tahu sebejat itu suaminya.
"Mas Sabda mencintai istrinya. Tapi, melakukan hal itu pada wanita lain.... " Pak Irul seperti menyayangkan perbuatan Sabda.
"Saya dan wanita itu terlibat hubungan kerja. Dan kami ada acara bersama hingga menginap, saya mabuk saat itu. Hingga ternyata saya salah masuk kamar dan melakukannya." Pak Irul menggelengkan kepala, dia merasa kesalahan lelaki di depannya sangat berat sudah mabuk, berzina pula, jika beliau di perbolehkan untuk menghakimi.
"Memang sulit jika sudah begini. Maka dari itu, Allah mengharamkan minuman keras. Alkohol bisa menghilangkan akal sehat sehingga orang yang meminumnya bisa melakukan hal buruk lainnya." jelas Pak Irul membuat Sabda mengangguk.
"Sejak saat itu saya benar-benar tidak mau meminum sedikitpun minuman beralkohol. Saya takut akan melakukan kesalahan yang sama." lanjut Sabda. Iya sejak saat itu meskipun teman atau Anin juga pernah memaksanya minum tapi dia tetap menolaknya.
"Saya takut jika istri saya mengetahui semuanya. Saya yakin, dia akan semakin membenci saya." jelas Sabda. Ketakutannya selama ini jika Aruna mengetahui semua ini meski dia sudah menyimpannya sangat rapat.
"Apakah Mas Sabda sangat mencintai istri, Mas?" tanya Pak Irul. Beliau memang konsultan pernikahan jadi bagi beliau kasus seperti ini memang sering terjadi, terlena dengan cinta masa lalu tapi kenyataannya semua sudah tidak sama, tak seindah yang dulu.
"Mas Sabda sudah punya anak?" Sabda hanya menggeleng.
"Belum, kemarin istri saya baru keguguran, Pak. Makanya dia ingin pulang agar lebih tenang selain ingin berpisah dengan saya." lanjut Sabda. Iya hatinya memang sedikit lega ketika bisa bercerita dengan orang lain dan kebetulan orang itu memang pendengar yang baik.
"Cobalah terus membujuk istri untuk bisa memaafkan semuanya. Sebenarnya Allah sangat membenci perceraian, meski diperbolehkan." Sabda bisa mengerti kalimat dari Pak Irul.
__ADS_1
"Bertaubatlah, mendekatkan diri pada Allah. Meminta dilunakkan hati istri dan menjadikan keluarga yang sakinah. Itulah pentingnya menjaga pandangan, memberi batasan antara laki- laki dan perempuan yang bukan muhrim. Semua ada aturan dan adabnya."
"Saya mengerti, Pak. Saya akan berusaha memperbaiki diri." jawab Sabda.
"Cobalah untuk mendapatkan momongan. Mungkin dengan adanya bayi bisa mempererat hubungan kalian."
"Saya sebenarnya, psikolog dan lebih tepatnya, konsultan pernikahan, Mas. Jadi saya biasa menangani kasus seperti ini." lanjut Pak Irul dengan menunjukkan tulisan yang menempel di dinding rumahnya.
Sabda tersenyum, dia sampai tidak memperhatikan hal itu. Dia hanya merasa Pak Irul adalah sosok yang enak diajak bicara.
Sabda melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sudah pukul sembilan malam, rasanya dia harus melanjutkan perjalanan.
"Sepertinya saya harus melanjutkan perjalanan, takut kemalaman, Pak." pamit Sabda.
"Oh silahkan, Mas. Kapan- kapan kalau lewat sini bisa mampir." jawab Pak Irul.
"Iya, Terima kasih, Pak. InsyaAllah, jika berkenan saya ingin belajar banyak dari Bapak. Kalau begitu saya permisi." pamit Sabda.
"Silahkan, Mas. Dengan senang hati." sambut Pak Irul.
Sabda kembali masuk ke dalam mobil. Hatinya sedikit lega saat perjalanan pulang. Ya, dia harus bisa meyakinkan Aruna. Seperti yang dikatakan oleh Pak Irul, kehadiran seorang anak akan mengikat mereka untuk bersama.
###
Sabda tertegun di meja makan. Biasanya ada Aruna yang sudah menyiapkan segalanya. Tapi, saat ini dia sendiri di rumah. Rumah terasa sangat sepi.
Sabda Menyeruput cangkir kopinya. Kemudian mengambil ponsel dan kunci motornya. Dia ingin sekali naik motor pagi ini, mengingat perkenalan pertamanya dengan Aruna menggunakan motor itu.
Lelaki itu melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan. Pukul delapan, dia sudah memasuki loby showroom karena hari ini dia akan memimpin meeting pagi setelah beberapa hari tidak ke kantor.
"Oh ya, jangan biarkan siapapun masuk ke ruanganku tanpa izin dulu!" ujar Sabda pada resepsionist dan kebetulan kebetulan juga ada sales counter yang masih duduk berjajar, membuat mereka mengerti.
__ADS_1