Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menghabiskan Waktu


__ADS_3

Setelah sampai rumah mereka langsung merebahkan diri di atas tempat tidur. Rasa lelah yang mendera membuat keduanya bersantai di atas kasur empuk dengan bercerita apa yang mereka lalui hari ini.


Seperti itulah hubungan mereka untuk sementara, bicara tentang kerjaan satu sama lain untuk menghabiskan waktu dan rasa lelah.


Aruna hanya melepas jilbabnya kemudian rebahan di atas ranjang. Sedangkan, Sabda masih dengan celana dan kemeja kerjanya memeluk Aruna yang tidur dengan bertumpu di salah satu lengan besar Sabda. Satu tangannya menyingkirkan rambut pendek Aruna yang menutup wajahnya.


Pekerjaan yang membuat mereka sama- sama lelah, lebih senang menikmati waktu berdua dengan hal sederhana.


"Mas membeli tempat untuk butikmu agar kamu tidak terlalu tertekan untuk membayar kontraknya, Run." ucap Sabda. Lelaki itu menempelkan hidung mancung nya di pipi sebelah kiri istrinya dan tangannya pun masih memeluk tubuh Aruna.


Aruna sempat tersentak kaget dengan apa yang dikatakan Sabda. Dia hampir tidak percaya dengan yang dilakukan suaminya. Aruna menatap tajam Sabda.


"Iya, Mas nggak mau kamu harus kejar setoran untuk membagi pembiayaan." lanjut Sabda


"Terima kasih, Mas." jawab Aruna hanya memalingkan sedikit wajahnya agar bibir mereka tidak bersentuhan.


"Sebenarnya itu hadiah Anniversary kita. Tapi, ternyata Mas yang dapat hadiah yang lebih besar saat membawamu ke klinik. Calon anak kita adalah hadian terindah untukku, Run." ucap Sabda dengan mengelus perut Aruna.


"Aku tidak ingin merayakan anniversary atau menghitung sudah berapa lama kita bersama, Mas. Aku ingin kita akan selamanya bersama hingga nanti di jannahnya." lirih Aruna dia melirik Sabda yang tersenyum tipis.


Sungguh, senyum itu memang selalu mempesona maka tidak heran jika banyak wanita yang terkagum melihat sosok Sabda Megantara.


Sabda menolehkan wajah cantik di sebelahnya, mengecup bibir mungil yang seperti candu baginya.


Aruna.


Bagi Sabda wanita ini memang berbeda dengan banyak wanita yang dia kenal. Pemikirannya yang sederhana tapi begitu tegas. Prinsipnya yang kuat membuatnya terlihat berkarakter dengan jati dirinya sendiri. Wanita cantik yang begitu menarik.


"Mas kita belum Salat Isya." lirih Aruna saat menahan gerakan Sabda yang sudah semakin liar meraba tubuhnya.


"Kilat saja! Mas udah pingin." bujuk Sabda membuat Aruna mengangguk dengan tersenyum manis.


Lelaki itu kembali membawa Aruna untuk mereguk indahnya nirwana dalam pergumulan panas mereka. Meskipun sangat hati- hati dan penuh kelembutan tapi tidak membuat keduanya kehilangan nikmat yang berhasil membuat keduanya sama-sama terengah.

__ADS_1


Sabda memeluk tubuh mungil yang sempat dia kuasai itu dengan begitu posesif. Sejenak mereka ingin melepaskan rasa lelah dengan memejamkan mata.


"Mas, bagaimana dengan gadis itu?" tanya Aruna dengan mendongak wajah lelaki yang masih memejamkan matanya.


"Hmmm..." jawab Sabda ogah- ogahan. Pikirannya masih traveling tentang percintaan yang baru saja mereka lakukan.


"Mas Sabda... " Aruna mengguncang tubuh atletis Sabda. Dia seolah menuntut jawaban atas pertanyaannya.


"Iya, sayang." ucap Sabda kemudian sambil tersenyum jail di depan istrinya.


"Mas hanya sedang memuji si mungil yang lincah saat menyenangkan suami." Seketika wajah Aruna memerah hingga membuatnya membuang muka dari tatapan lelaki yang masih memeluknya.


"Ada apa, Sayang?" ulang Sabda saat melihat wajah cemberut wanitanya. Lelaki itu kemudian terkekeh.


"Gadis itu. Benarkah dia mencintaimu, Mas? Aku tak habis pikir jika seorang gadis bisa mencintai suami orang." ucap Aruna, dia jadi kesal saat mengingat Puspita memeluk erat tubuh suaminya.


"Sebenarnya wajar si, Sayang." ucap Sabda membuat Aruna melotot. Dia akan beranjak pergi, tapi ditahan oleh Sabda.


"Wajar jika banyak gadis menyukai Mas. Mas, kan ganteng." ucap Sabda dengan menahan tangan Aruna.


"Jika Mas kasih tahu kamu percaya?" tanya Sabda membuat Aruna menoleh mencari kejujuran yang ada di mata suaminya.


"Puspita mencintai Mas. Dia bekerja sama dengan Mas Abimu itu untuk mengirim pesan yang akan memperkeruh keadaan kita." jelas Sabda.


"Dan hubungan dia dengan cinta masa lalumu itu, Mas?" tanya Aruna begitu antusias.


Sabda hanya mendesah. Dia menatap dengan teliti wajah wanitanya. Ah, ini memang hal sensitif bagi Aruna hingga Sabda sebenarnya tidak ingin membahasnya.


"Iya Puspita memanfaatkan keadaanku dengan Anin. Sebenarnya mereka hanya berteman baik. Entah, berteman atau hubungan mutualisme. Mas nggak tahu jelasnya." ujar Sabda membuat Aruna tidak berkomentar. Wanita berambut pendek itu ingin pergi ke kamar mandi.


"Runa... " Sabda makin memeluk erat Aruna dia tidak mau istrinya pergi dengan keadaan marah.


"Aku ingin ke kamar mandi, Mas. Kita belum Salat Isya." tutur Aruna.

__ADS_1


"Ini yang aku nggak suka jika membahas soal dia. Kamu pasti marah." keluh Sabda.


"Bukan marah. Tapi hanya ada yang ngganjel saja. Tapi serius, aku mau ke kamar mandi." ucap Aruna sambil tersenyum.


"Aku ikut!" Sabda langsung menyibakkan selimut, mengejar Aruna yang sudah berada di depan kamar mandi.


"Mas Sabda, nanti kita nggak jadi mandi!" ucap Aruna sambil mendorong tubuh yang berukuran tinggi itu untuk menjauh. Namun bukan Sabda jika tidak bisa memaksa seseorang.


Lelaki itu langsung mengangkat tubuh Aruna dan masuk ke kamar mandi bersama. Benar yang dikatakan Aruna sebelum selesai membersihkan diri, mereka kembali melakukan ritual yang membuat jantung berdebar hebat.


###


Setelah Salat Subuh di masjid, Aruna dan Sabda mampir di gang sebelah berniat untuk membeli nasi uduk. Dia memang merasa enggan sekali untuk memasak.


Keduanya berjalan santai. Sabda menggenggam tangan Aruna dan satunya membawa tas berisi mukena milik Aruna. Beberapa ibu- ibu sudah memperhatikan mereka, karena yang antri memang mayoritas ibu.


"Mbak Runa, beli sarapan saja dianter suami. Enak ya, punya suami yang perhatian." ucap salah satu diantara mereka.


"Kami memang habis jamaah di masjid, Bu. Jadi sekalian saja kami mampir." jawab Aruna, agar orang tidak terlalu menilai berlebihan dengan hubungan mereka. Ya, Aruna merasa dia dan Sabda sama dengan pasangan lainnya. Bahkan, dirinya pernah merasakan sebuah pengkhianatan di awal pernikahan.


"Saya duluan, Bu!" ucap Aruna. Setelah mendapatkan pesanannya, Aruna pun segera menarik Sabda pergi. Mereka kembali berjalan hingga beberapa meter lagi untuk sampai di rumah.


"Mas, sarapan sekarang atau nanti?" tanya Aruna, setelah mereka sampai di meja makan untuk meletakkan makanannya.


"Nanti saja, tapi Mas ingin minum kopi dulu!" ujar Sabda. Dia meletakkan ponselnya dan pergi untuk mengganti baju koko dengan kaos rumahan.


Ponsel Sabda yang terus berbunyi membuat Aruna yang selesai meracik kopi dan susu hamil itu menghampiri benda pipih yang tergeletak di meja makan.


'Anin'


Nama itu tertera berkali- kali di ponsel Sabda. Aruna memilih mendiamkannya, dia memilih melanjutkan aktifitasnya meski dengan rasa penasaran.


"Sayang, nanti jangan ke butik. Kamu istirahat di rumah saja!" titah Sabda. Lelaki yang sudah berganti dengan kaos dan celana pendek itu terlihat sedang menuruni tangga.

__ADS_1


"Sayang, sudah jadi kopinya." Sabda menghampiri Aruna. Tangannya melingkar di pinggang Aruna mengecup pipi halus istrinya dari belakang.


"Ini baru diaduk, Mas." ucap Aruna berusaha bersikap biasa. Dia hanya ingin tahu apakah Sabda bicara jujur padanya atau masih menyembunyikan cerita tentang wanita itu.


__ADS_2