
"Kamu dandanannya terlalu cantik untuk mencari mangut lele, Sayang." ujar Sabda setelah beberapa kali menoleh ke arah Aruna.
"Benarkah?" sambut Aruna. Wanita yang menggunakan jilbab pasmina itu hanya tersenyum.
"Aku hanya ingin Mas selalu tertarik padaku." rasanya dia ingin mengatakan itu, tapi Aruna hanya memberikan senyuman dan tidak sampai mengatakannya.
Terlihat sekali Aruna menikmati perjalan dan kemacetan kota membuat Sabda begitu penasaran pada wanitanya itu.
"Kamu senang?" tanya Sabda.
"Iya." jawab Aruna dengan mengangguk. Dia memang merasa senang, bahkan rasanya dia ingin sekali perjalanan ini lama.
Sabda menarik tangan Aruna. Dia kemudian menggenggamnya, " maafkan Mas yang terlalu sibuk hingga tidak pernah mengajakmu jalan- jalan." lanjut Sabda. Dia baru menyadari jika dia belum pernah mengajak istrinya berlibur atau sekedar mengisi weekend di luar.
"Run, selama ini kamu tidak pernah meminta apapun pada, Mas. Sebenarnya kamu. ingin apa? Mobil, rumah, tas, berlian atau apa?" tanya Sabda, saat mobil mereka mulai berbelok pada jalan yang mulai lenggang.
"Aku hanya ingin Mas Sabda setia dengan pernikahan kita." ujar Aruna membuat Sabda mendadak menghentikan mobilnya. Dia menatap istrinya dengan begitu dalam.
"Maafkan Mas yang sudah menorehkan luka di hatimu, Mas janji akan memperbaiki semuanya. Tolong, percayalah pada, Mas." ucap Sabda. Dia tahu, perasaan terluka masih terbaca jelas oleh Sabda di mata Aruna meskipun dia juga tahu jika Aruna berusaha menyimpannya sendiri.
"Aku percaya dengan Mas Sabda." Aruna memeluk Sabda. Dia akan menggenggam rasa yang mungkin tidak mudah dia lupakan. Tapi, dia akan berusaha untuk menggenggamnya hingga waktu dan kebahagiaan akan menggerusnya secara berlahan.
"Ayo, Mas. Aku sudah lapar!" ucap Aruna setelah melepas pelukannya. Biarlah, perasaan itu hanya tersimpan dan tergenggam tanpa kembali membuat sakit satu sama lain.
"Untung, kepergiaan Mas masih ditunda. Jadi bisa santai menemani istri yang lagi ngidam." ucap Sabda kemudian membelokkan mobilnya pada gang rumah penjual mangut yang diinginkan Aruna.
"Sudah tutup, Mas." ucap Aruna terlihat kecewa. Tapi, Sabda tetap saja turun dan ingin menemui penjualnya.
Beberapa kali dia mengetuk pintu, hingga akhirnya sosok yang sudah sepuh itu berdiri di depannya. Lelaki yang tidak ingin istrinya kecewa itu pun membujuk agar dibuatkan mangut lele seperti yang diinginkan Aruna.
Sabda kembali menghampiri Aruna di dalam mobil. Dia pun, mengatakan jika akan dimasakkan terlebih dahulu karena mangut yang dijual hari ini sudah habis.
Aruna pun memutuskan untuk keluar. Bersama Sabda, dia menunggui Mbah Marni yang sedang memasak mangut itu.
__ADS_1
"Maafkan saya, sudah merepotkan." ucap Aruna. Ada rasa bersalah saat melihat wanita sepuh itu terganggu jam istirahatnya hanya untuk menuruti keinginannya yang konyol.
"Ndak apa- apa. Mbak. Namanya juga ngidam, dulu saya juga begitu." ujar Mbah Marni sambil tersenyum. Beliau seperti mengingat masa- masa yang paling merepotkan bagi perempuan.
Sabda hanya terdiam di sebelah istrinya, dia hanya memainkan ponselnya saat mendengarkan percakapan dua wanita di dapur yang cukup sederhana itu.
Setelah menunggu beberapa menit, akhirnya mangut lele pun akan mereka bawa dalam sebuah kotak, Aruna bilang akan makan saat mereka sampai di rumah. Dia ingin makan di taman umum perumahan yang ada di depan rumahnya.
"Mas, besok aku akan pesan parcel saja untuk dikirim ke Mbah Marni sebagai ucapan Terima kasih." ucap Arina saat perjalanan pulang mereka.
"Terserah kamu, Sayang." ucap Sabda dengan kembali memperhatikan jalan di depannya.
Keduanya merasa sangat sungkan saat wanita sepuh tidak mau dibayar. Beliau mengatakan senang bisa mengabulkan keinginan wanita yang tengah hamil.
Sabda memutar Audio dalam mobilnya untuk menemani perjalanan pulang mereka. Lelah, sebenarnya yang di rasakan lelaki itu. Tapi, masa seperti ini hanya akan ada saat istrinya sedang hamil saja.
###
Aruna mengerjapkan mata saat sinar mentari masuk dari celah- celah jendela kamarnya. Niatnya hanya rebahan setelah dia dan Sabda berjamaah ternyata rasa kantuk membawanya sampai terlelap. Semalam, mereka memutuskan tidur dini hari setelah menikmati perburuan mangut lele.
Pandangannya mengedar meneliti setiap detail rumah, tapi tidak dia temui Sabda. Sesaat kemudian, dia menangkap sosok yang sedang mencuci mobil dari balik jendela rumah.
Sudah lama Sabda tidak mencuci kendaraan di rumah. Jika tidak dibawa ke cucian mobil, dia meminta sopir kantor untuk mencuci mobilnya.
Saat ini pukul enam pagi, tapi dia belum sempat membuatkan Sabda kopi seperti biasanya. Wanita hamil itu memilih ke dapur terlebih dahulu membawa secangkir kopi dan susu hamil ke teras rumah.
"Mas, aku sudah buatkan kopi!" ucap Aruna setelah meletakkan nampannya di meja dan menghampiri sabda yang masih mencuci mobil di depan rumah.
Sejenak dia memperhatikan gadis tetangga barunya berolahraga. Litta berlari pagi dengan sport bra yang cukup seksi. Rasanya, begitu tabu untuk Aruna yang melihat pemandangan itu, apalagi ada suaminya yang sedang mencuci mobil di depan.
"Kenapa nggak dicuci di kantor saja, Mas? " tanya Arina, dia kembali melihat Litta yang mengarahkan pandangannya hingga membuat Aruna tersenyum dan mengangguk.
"Emang kenapa, sayang?" tanya Sabda masih mengeringkan body mobil dengan kanebo.
__ADS_1
"Mas Sabda, nggak punya maksud apa-apa, kan?" Pertanyaan Aruna membuat Sabda menoleh.
Lelaki yang hanya mengenakan kaos putih yang menunjukkan otot tubuhnya itu pun mengernyitkan dahi. Dia tidak mengerti apa maksud pertanyaan istrinya.
"Ada gadis seksi yang sedang olahraga." lirih Aruna, sambil tatapannya kini mengarah pada perutnya. Tidak hamil pun dia memang kurang percaya diri dengan tinggi badannya.
Sabda kini mendesah. Dia meletakkan kanebo dan segera mencuci tangannya. Dia menghampiri istrinya yang masih berdiri di dekatnya.
"Kamu tetap wanitaku yang paling cantik Aruna Putri Handoyo." Sabda yang berdiri di depan Aruna itu pun mengambil tangan mungil istrinya untuk digenggam.
"Kamu tidak hanya cantik, tapi juga baik. Dan yang penting kamu yang membuat Mas jatuh cinta. Prioritas hidup Mas adalah kamu dan calon bayi kita." lanjut Sabda, dia mencium kening istrinya dan kemudian mengusap perut Aruna.
Aruna hanya tersenyum, dia tersipu malu saat Sabda melakukan hal itu di depan rumah. Apalagi, saat ini Sabda masih menatapnya dengan lekat. Ini berlebihan! Bagaimana jika ada yang memperhatikan dirinya?
"Wah sweet banget, Mbak Runa. Selamat pagi... " sapa Litta yang berhenti di dekatnya dengan nafas ngos-ngosan.
"Pagi, Mbak Litta." jawab Aruna.
"Sayang, Mas masuk dulu!" pamit Sabda yang kini berjalan menuju teras menghampiri kopi yang sudah dibuatkan Aruna.
"Mbak Runa beruntung ya dapat suami Mas Sabda. Sudah ganteng, tajir dan penyayang." ujar Litta membuat Aruna tersenyum. Cara Litta menatap Sabda membuatnya tidak suka. Tatapan gadis itu terlihat sekali jika mengagumi Sabda.
" Mbak Litta belum tahu saja sifat aslinya Mas Sabda, tagihannya dan belum tahu saja merepotkannya Mas sabda." jawab Aruna, dalam hatinya dia tidak bermaksud membuka aib dan berdoa, tapi agar gadis itu merasa illfeel dengan suaminya.
"Masak si Mbak?" Litta masih tidak percaya.
"Beneran, kalau malam dengkurannya kerasa banget sampai kamar kami ada peredam suaranya. Belum lagi joroknya, kadang aku jijik juga si." ucap Aruna sambil bergidik.
"Tagihannya Mas Sabda menggunung." bisik Aruna dalam hati berdoa semoga Allah mengampuninya dan para malaikat tidak mendengar ucapannya. Amit- amit jika suaminya dikejar hutang.
"Tapi, katanya donatur di sini Mas Sabda?" jawab Litta dengan menatap mobil mewah di sampingnya.
"Namanya juga orang lihat luarnya Mbak Litta, jika Mas Sabda kaya, kami pasti punya pembantu, rumah pun Mas Sabda masih mengangsur dan mobil ini peninggalan almarhum Papanya Mas Sabda. " jelas Aruna, tapi mobil yang mereka pakai memang benar peninggalan papanya dan rumah pun sebenarnya sudah lunas.
__ADS_1
Litta pun mengangguk dengan ragu. Tapi, yang dikatakan Aruna tidak salah. Mungkin Aruna bicara yang sebenarnya karena sebagian wanita kadang lebih suka pamer tanpa ingin menunjukkan kesederhanaan.