Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Bertemu Abi


__ADS_3

Sabda Pov


Oh Tuhan, kenapa semua tidak berhenti sampai di sini. Kenapa masih ada saja masalah yang terus memojokkan posisiku? Dan membuat Aruna terluka dan terluka lagi.


Iya, dulu pernah aku sering datang ke rumah Anin saat kami selesai bertemu aku mengantarnya pulang. Dan bocah kecil itu pasti menahanku saat aku akan pulang, hingga aku selalu meluangkan sejenak waktu untuk bermain dengannya.


Anin juga selalu meminta tolong padaku ketika Sisil sedang sakit. Aku memang tidak tega melihat Anin yang mengurus Sisil sendirian. Apalagi menurut cerita Anin, ayah bocah itu tak pernah lagi datang untuk mencari keberadaan putrinya.


Sedangkan Anin, Aku sempat menganggap dia masih sama seperti yang dulu, gadis lemah dan lugu seperti saat pertama kali dia dibawa Mama dari Batam dan masuk kampus yang sama denganku. Aku sering kali membelanya saat banyak teman kelasnya membuli dirinya. Tapi, sekarang dia berbeda, dia terlihat lebih fight.


Meskipun aku memang sering mampir, tapi aku tidak pernah melupakan makan malam bersama Aruna. Aku memang sempat terlena menghabiskan waktu bersama Anin, hingga aku lupa di rumah masih ada dia, seorang istri yang menunggu.


Rasa bersalahku pada Aruna terus mengejar hingga saat ini, bahkan rasanya lebih sakit jika aku mengingat sudah kehilangan calon bayi kami.


Aku melirik jam yang menggantung di ruang kerjaku, saat ini sudah pukul sembilan malam. Setelah makan malam, aku langsung masuk ke dalam ruang kerja untuk mempelajari beberapa laporan penjualan di kantor cabang.


Rumah terlihat sepi, aku sudah tidak melihat wanitaku. Aku melangkah menuju kamar. Saat aku membuka pintu kamar, Aruna sudah berbaring dan memejamkan mata.


Langkahku berlahan mendekatinya. Terlihat wajah manis itu terlihat sendu. Rasa bersalahku pada Aruna membuat hatiku merasa nyeri sendiri.


"Tapi siapa yang selalu menteror Aruna? Jika itu memang Anin, mana mungkin foto kami terlihat dari samping.


Aku mulai menerka-nerka siapa saja yang berada di balik semuanya.


Author Pov


"Maafkan, Mas. Mas selalu menyakiti hatimu." lirih sabda dengan menyingkirkan rambut poni Aruna. Wajah cantik itu terlihat sendu kala memejamkan matanya.


Merasa bersalah dengan Aruna dan sudah kehilangan calon bayinya membuat Sabda tergugu di samping istrinya.


Diusap kedua matanya yang memerah. Lelaki itu berusaha menahan tangisnya dengan kembali mendongak ke atas.


Sabda memilih berdiri dan menyusul Aruna. Hawa gerah membuat Sabda mengatur suhu AC. Lelaki itu memilih menelusup masuk ke dalam selimut kemudian memeluk Aruna yang sudah lelap.


Aruna mengerjapkan mata saat merasakan pergerakan terus menerus di sebelahnya. Dia pun sempat melihat jam terlebih dahulu.

__ADS_1


Pukul dua malam, Aruna mengerjapkan matanya. Di sampingnya Sabda sudah berbaring dengan gelisah.


"Kenapa, Mas?" tanya Aruna membuat Sabda membuka matanya.


"Aku nggak bisa tidur, Run. Mungkin hawanya panas." jawab Sabda. Dia pun membuka kaosnya dan lelaki itu hanya tidur dalam keadaan tel*njang dada.


"Nggak niat sengaja, kan?" sarkas Aruna membuat Sabda menggeleng.


"Tentu saja sengaja dibuka karena gerah." Dia berjanji dalam hati tidak akan membohongi Aruna lagi. Cukup satu hal yang masih dia tutupi selama ini.


Aruna kembali berbaring, tapi dia lebih memilih membelakangi Sabda yang kini hanya menatap punggungnya.


"Aku mencintaimu, Run. Aku akan membuktikannya." bisik Sabda, dia memeluk tubuh mungil itu dari belakang.


Sedangkan Aruna hanya bisa memejamkan mata, menahan perasaan yang bercampur aduk. Mungkin kebahagiaannya akan sempurna saat mendengar semuanya sebelum pengkhianatan itu. Tapi, saat ini semua terasa berbeda. Ada yang tertahan di sana, rasa bahagia yang sempurna tertahan dengan rasa kecewa yang begitu dalam.


###


Aruna sudah mulai beraktifitas di butik, dia memang lebih ingin menyibukkan diri untuk bisa melupakan sejenak perasaannya. Nina dan Amanda sangat senang saat Aruna ada bersama mereka. Biar bagaimanapun tidak adanya Aruna bagai ayam kehilangan induk. Mereka terpaksa harus survive, untuk mengatur butik.


"Runa... " panggil Abimana yang tidak sengaja ingin berkunjung ke butik Aruna. Lelaki itu baru saja memarkir mobilnya.


"Mas Abi, apa kabar?" sapa Aruna, saat menoleh ke arah lelaki yang baru keluar dari mobil.


"Baik, Run. Kebetulan sekali ada bosnya. Ada yang mau aku tanyakan." ucap Abimana saat melihat Aruna yang terlihat elegant dengan jilbab yang di masukkan ke dalam blazer.


"Ayo silahkan masuk." ajak Aruna yang berjalan terlebih dahulu. Dia memang harus menjaga batasan, karena statusnya masih seorang istri.


Abimana hanya membuntut di belakang wanita bertubuh mungil itu. Sempat, dia mengusap wajahnya karena sempat terbawa keadaan. Aruna yang saat ini mengenakan jilbab membuat Abi semakin mengaguminya.


"Mari silahkan, Mas." Aruna mempersilahkan Abimana untuk masuk ke dalam ruangan.


Wanita yang membiarkan pintu ruangannya terbuka itu pun berjalan untuk menarik tirai jendela kaca ruangannya.


"Ada apa, Mas Abi?" tanya Aruna setelah mereka berhadapan.

__ADS_1


"Saudaraku ada yang mau nikahan, keluarga besar ingin mengenakan batik tulis yang kita produksi, aku menyarankan untuk membuat gaunnya di butik ini. Gimana, Run? " tanya Abimana.


Sebenarnya dia kesini ingin menemui Amanda atau Nina karena mengira Aruna masih di rumah mamanya. Ternyata malah bisa bertemu dengan Aruna secara langsung.


"Tentu bisa, Mas. Kapan bisa ketemu dengan yang punya hajat? Lebih cepat lebih baik, Mas." ucap Aruna dengan senyum yang masih terlihat manis untuk Abimana.


Mereka tidak butuh waktu lama untuk membuat kesepakatan. Hingga Akhirnya Abimana memilih pamit.


Abimana keluar dari ruangan Aruna dan di antar oleh Aruna sendiri. Mereka berjalan keluar butik. Tapi, belum sempat membuka pintu utama, Sabda sudah masuk ke dalam. Tatapan lelaki itu menghujam seolah sudah ingin meledakkan emosi yang tertahan.


"Terima kasih atas kedatangannya, Mas Abi." Kalimat Aruna yang seolah sampai disini dia mengantarkan Abi membuat Abimana mengangguk.


"Berhentilah menggoda istri orang!" bisik Sabda saat Abimana akan melewatinya.


"Jika merasa punya istri jaga dia baik-baik!" balas Abi kemudian berlalu dari hadapan Sabda yang sudah mengepalkan tangan.


Mereka masih menahan diri, karena melihat beberapa pelanggan yang sedang melihat koleksi baju di butik.


Setelah kepergian Abimana, Aruna menarik tangan Sabda untuk masuk ke dalam ruangannya. Dia menutup pintu dan jendela kaca ruangannya.


"Apa maksud Mas Sabda?" tanya Aruna dia tidak senang saat Sabda terlalu kasar dengan Abimana.


"Kenapa kamu membelanya? Kamu senang dia mendekatimu? Kamu ingin membalas, Mas?" ujar Sabda wajahnya masih memerah karena hatinya diselimuti rasa cemburu. Dia tahu posisinya masih labil hingga membuatnya begitu posesif.


"Apa Mas pikirkan tentang karakter ku? Apakah aku wanita seperti itu?" lirih Aruna. Kalimatnya terdengar begitu dalam. Dia kembali meletakkan bobotnya di sofa. Aruna memalingkan wajah saat matanya mengembun. Sabda sangat keterlaluan.


"Maafkan, Mas! Mas takut kehilanganmu." ucap Sabda setelah beberapa menit keheningan terjadi.


"Mas, memang keterlaluan." ucap Sabda kemudian menarik tangan Aruna untuk digenggamnya.


Keduanya terdiam sejenak, Sabda masih menunggu Aruna dengan menatapnya. Hingga akhirnya Aruna menarik nafas panjang.


"Aku berusaha memperbaiki perasaanku dan pernikahan kita. Jika aku berniat membalas Mas Sabda aku tidak perlu memberi Mas kesempatan lagi." suara lembut Aruna membuat Sabda tersentuh, hingga rasa itu semakin membuat jatuh hati untuk kesekian kalinya. Wanita di sebelahnya ini memang selalu tenang menghadapinya.


"Maafkan Mas!" hanya itu bisa diucapkan Sabda. Dia tidak tahu lagi harus berkata apa, saat Sabda membawanya dalam pelukan.

__ADS_1


__ADS_2