
"Pergilah ke mobil lebih dulu!" titah Sabda, membuat Aruna semakin meragu. Dia tidak ingin terjadi keributan di tempat umum.
"Mas, aku bisa jelaskan!" lirih Aruna dengan wajah panik. Padahal dia tidak sengaja bertemu Abimana.
"Sudah, kamu ke mobil dulu!" Sekali lagi Sabda meminta Aruna q??sambil memegang kedua pundak kecil istrinya.
Aruna pun menurut, dia berjalan dengan ragu menghampiri mobil Sabda. Sesekali dia menoleh ke arah dua pria yang terlihat saling bersitegang.
Di bawah pohon flamboyan, Abimana dan Sabda saling bersitatap. Abimana masih dengan gaya santainya dan Sabda yang nampak terlihat cool tapi keduanya saling memancarkan rasa cemburu yang telah membubung tinggi.
"Berhentilah mendekati istriku!" ucap Sabda, kalimatnya penuh dengan penekanan.
Abimana tersenyum sinis, seolah menertawakan kepongahan Sabda. Dia tahu lelaki di depannya sedang mengancam dirinya karena rasa cemburu.
"Sudah aku katakan jika kamu menyakiti Aruna, aku akan mengambilnya! Dia berhak untuk bahagia." tantang Abimana membuat wajah Sabda semakin memerah.
"Kehadiranmu mengusiknya. Lihatlah, istriku tidak tenang bersamamu!" lanjut Sabda. Dia juga tak mau Abimana merasa di atas awan.
"Aruna selalu tahu batasannya. Ya, ketika kamu tidak tahu batasanmu, aku yang akan mengajarimu sebuah batasan." lanjut Abimana. Entah, kenapa rasanya tidak ikhlas saja jika wanita yang dicintainya itu pernah menangis karena orang yang saat ini berada di depannya sudah mengkhianatinya.
Sindiran Abimana malah membuat Sabda tersenyum sinis. Dia merasa lelaki itu juga telah melampaui batasannya jika terus mendekati Aruna yang masih berstatus istrinya.
"Jangan mencampuri urusanku. Ingat! Kamu hanya orang lain, tidak berhak apapun tentang keluargaku. Setidaknya kamu harus tahu diri." lontaran kalimat terkahir Sabda memang tidak ingin dibantah.
Lelaki itu kembali berjalan dengan membawa kotak makanan milik istrinya. Dengan memaksa untuk tersenyum tipis, Sabda menghampiri Aruna yang sedari tadi hanya berdiri di depan mobilnya dengan wajah panik.
__ADS_1
"Kenapa tidak masuk?" tanya Sabda dengan merangkul bahu kecil istrinya.
"Aku menunggu, Mas Sabda. Aku akan jelaskan ini, Mas." lirih Aruna dengan wajah yang tampak terlihat masih tegang.
"Kita bicarakan nanti." ucap Sabda kemudian menuntun masuk Aruna untuk masuk ke dalam mobil.
"Aku dengan Mas Abi tidak janjian, Mas. Kami tidak sengaja bertemu." jelas Aruna dengan menghentikan langkahnya. Dia pun menatap lelaki yang saat ini tersenyum dan kemudian mengecup pipinya.
"Mas tahu. Kita bicarakan nanti! Mas sudah mengatur janji dengan dokter saat ini." ujar Sabda, dengan mengusap kedua lengan kecil Aruna. Lelaki itu kemudian membawa Aruna untuk masuk ke dalam mobil dan menutup kembali pintunya sebelum dia duduk di balik kemudi.
Mobil melaju dengan tenang di tengah keramaian jalanan kota di sore hari. Pukul lima sore Sabda membuat janji dengan dokter Anggraini. Lelaki itu merasa bersemangat, sebentar lagi akan melihat jenis kelamin bayi yang menjadi titisannya.
"Mas Sabda tidak marah?" tanya Aruna heran saat melihat wajah Sabda yang kembali tenang.
"Mas percaya padamu! Tapi, sebenarnya Mas cemburu setiap kali kamu dekat dengan lelaki itu." jelas Sabda membuat Aruna tersenyum lega. Dia tidak ingin Sabda salah faham karena pertemuan yang tidak di sengaja itu.
"Tadi mendadak sekali, Mas. Aku pas lihat postingan teman lagi makan siomay dan es dawet di sini kayak pingin netes aja liurku." ujar Aruna sambil tersenyum. Dia bahkan sudah menghabiskan satu prosi siomay dan dia juga membawa satu porsi untuk dimakan nanti.
"Kamu nggak sabaran banget!" ujar Sabda kemudian kemudian membelokkan mobil ke arah halaman klinik.
Lelaki yang sudah mematikan mesin mobilnya itu menoleh sejenak, menoleh ke arah istrinya.
"Jika kamu bilang sama, Mas. Mas bisa minta sopir kantor untuk mencarikan apa yang kamu inginkan jika Mas sedang sibuk. Tapi, kalau Mas bisa mencarikan sendiri Mas akan segera lakukan." pesan Sabda. Dia tahu pekerjaan membuatnya tidak setiap saat ada buat Aruna, tapi dia bisa mencari alternatifnya.
"Iya, Mas." jawab Aruna sambil tersenyum.
__ADS_1
Keduanya kini keluar dari mobil dan berjalan menuju ruang praktek dokter obgyn.
###
Abimana duduk tertegun setelah kepergian Sabda. Lelaki itu berfikir sejenak. Entah, harus sampai kapan dia akan mengharapkan Aruna. Sementara hubungan Aruna dan Sabda terlihat semakin membaik.
"Aku menghubungimu karena aku pikir kamu bisa merayu wanita itu. Ternyata kamu tidaklah sehebat itu. Hanya untuk menaklukkan satu wanita saja begitu sulit." suara Anin membuat Abimana menoleh. Anin memang sengaja menghubungi Abimana ketika tidak sengaja melihat Aruna sendirian.
"Aruna berbeda, dia bukan wanita murahan yang mudah tergoda atau senang menggoda." balas Abimana meskipun dia memakan umpan Aninditha tapi lelaki itu tidak ingin di setir oleh wanita yang tengah menatap tajam ke arahnya.
Aninditha merasa lelaki di sebelahnya sedang menyindirnya. Jika bukan karena ingin menjauhkan Sabda dan Aruna, wanita itu enggan berhubungan dengan lelaki yang selalu saja memuja Aruna. Entah kenapa bagi Anin mendengar nama Aruna di agungkan membuat hatinya terasa panas. Dia sangat membenci wanita yang sudah mengambil cinta Sabda untuknya.
"Aku hanya ingin dia bahagia. Bukan obsesi untuk memilikinya." lanjut Abimana.
Tak ada niat sedikit pun untuk menyakiti Aruna. Dia hanya ingin Aruna bahagia. Meskipun, ada rasa kecewa saat wanita itu harus bahagia dengan lelaki lain.
"Jangan munafik! Kamu tidak bisa melupakan wanita itu dan aku juga masih mencintai Sabda. Kita bisa memiliki orang yang kita cintai jika mau sama -sama berusaha." lanjut Anin, dia ingin sekali mengajak Abimana bekerja sama.
Tapi lelaki yang sudah jengah itu pun berdiri, dia melihat Anin sejenak, " Biarkan mereka bahagia. Kita hanya perlu mencari apa yang belum kita dapat." ujar Abimana kemudian beranjak pergi meninggalkan Anin yang terus menatapnya kesal.
"Arggghhh dasar, lelaki lemah. Seharusnya dia bisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Tapi dia tidak mau... Bodoh!" umpat Anin dia semakin pongah saat orang yang seharusnya memuluskan jalannya pun tidak ingin berjuang bersama.
Hanya Sabda yang dia inginkan. Dan hanya untuk Sabda rasa cinta yang kini dia. Hanya Sabda yang bisa memberikan banyak rasa yang berbeda.
"Sabda. Aku hanya ingin kamu mencintaiku seperti dulu. Saat kita masih sering bersama. Saat ini aku merasa hidupku tidak berarti. " gumam Anin. Dia menyusut air matanya, banyak penyesalan yang kini melanda hatinya.
__ADS_1
Hidupnya semakin buruk apalagi saat dia tidak bisa move on dari lelaki yang dulu pernah mengisi cinta masa lalunya. Dia merasa semua ini karena Rosa. Wanita yang telah membuangnya begitu saja.