
Pov Aruna.
Aku terbangun karena rasa lapar yang teramat sangat. Di sebelahku, Mas Sabda sudah tertidur pulas dengan dengkuran yang terdengar halus. Wajahnya yang terlihat lelah membuatku mengiba. Meskipun, pernah menorehkan luka di hati tetap saja aku masih mencintainya.
Aku menatap wajah tampan yang kini masih terlelap. Aku merasa bersalah jika selalu mengingatkan kejadian itu, aku selalu saja yang memojokkannya karena kesalahan yang pernah dia lakukan. Entah, kenapa setiap kali melihat Mas Sabda aku merasa kesal. Iya, terkadang aku juga tidak mengerti, padahal aku tahu dia sudah banyak berjuang dan bersabar untuk bisa menyenangkan aku, membuatku lupa jika aku pernah terluka karenanya.
"Maafkan aku, Mas." gumamku lirih kemudian mencium pipinya hingga membuat Mas Sabda menggeliat. Mas Sabda hanya merubah posisi tidurnya.
Berlahan aku menuruni tempat tidur agar Mas Sabda tidak lagi terbangun. Aku memang tidak bisa lagi menahan lapar, jadi saat ini aku ingin membuat segelas susu yang sempat dibelikan Mas Sabda saat pulang dari klinik.
Author Pov
Aruna sedang mengaduk segelas susu dengan rasa vanila. Dia sebenarnya masih tidak percaya jika akan hamil secepat ini. Sabda Megantara lelaki dengan sejuta strategi.
"Sayang, kenapa tidak membangunkan Mas." tangan Sabda melingkar memeluk tubuh mungil istrinya.
"Aku lihat Mas Sabda sangat lelap, sedangkan aku sudah sangat lapar." jawab Aruna dengan menoleh sedikit, menatap wajah Sabda.
Sabda membawakan susu ke meja bar yang ada di dapur milik mereka. Sedangkan Aruna hanya mengikuti lelaki itu dan kemudian duduk untuk menikmati segelas susu rasa vanila yang sangat menggoda.
"Mau Mas bikinkan roti?" tawar Sabda.
"Boleh. Yang ada daging panggangnya, ya, Mas" pinta Aruna. Aruna memang lagi ingin makan yang berbau daging- dagingan.
"Siap sayang!" ucap Sabda kemudian mencium singkat pipi istrinya sebelum menghampiri freezer untuk mengambil daging dan siap membuat roti panggang ala Sabda Megantara.
Aruna menatap punggung tegap lelaki yang kini memasak roti panggang. Dia berharap, suaminya memang sudah tidak berhubungan dengan wanita itu. Tapi, untuk menanyakan semuanya Aruna masih enggan, dia takut jawaban yang dia dapat masih menyakitkan.
"Sayang, sudah siap! Tapi, sekali ini saja ya makan daging panggang." ucap Sabda, dia tidak ingin istrinya terlalu banyak mengkonsumsi daging panggang.
__ADS_1
Mereka menikmati makan tengah hari itu dengan roti buatan Sabda. Lelaki itu memang paling jago meracik menu yang berbau makanan western.
"Besok kalau Mas ke masjid untuk jamaah Subuh aku ikut, ya!" pinta Aruna. Dia memang sudah lama ingin ikut berjamaah setiap Sabda pergi ke masjid untuk salat berjamaah. Perubahan Sabda yang begitu kentara membuat Aruna merasa malu sendiri karena suaminya kini jauh lebih baik dari dirinya.
"Iya, sayang. Ternyata memang ada hikmahnya Mas memilih tinggal di pinggir kota dengan lingkungan perumahan sederhana." sambut Sabda dengan beranjak dari duduknya setelah menghabiskan roti panggangnya.
"Bukan untuk melupakan mantan, Kan?" sindir Aruna sambil tersenyum.
"Untuk menemukanmu, Sayang." Sabda membingkai wajah mungil itu dan kemudian mengecup bibir ranum Aruna. Kecupan lembut yang sebenarnya selalu dirindukan wanita yang tengah mengandung itu.
Mereka mengakhiri makan tengah malam dan kembali terlelap hingga suara azan subuh menghampiri.
Sabda membangunkan Aruna, lelaki itu mengecup kedua mata indah yang masih terpejam.
"Sayang, katanya mau ikut jamaah di masjid." ucap Sabda dengan menunggu Aruna yang masih mengumpulkan kesadarannya.
"Iya, Mas." jawab Aruna.
Lelaki Alim yang pernah ditemui Sabda diantara rasa putus asa kala hubungannya dengan Aruna sedang di ujung tanduk.
Pak Irul pula yang mengajarkan banyak ilmu agama dan mengajarkan menjadi seorang Imam dalam keluarga. Beliau juga selalu mengingatkan bagaimana memahami sifat perempuan apalagi yang pernah terluka atau terkena trauma.
Kenyataannya teman dan circle lingkungan akan membawa pengaruh pada kepribadian dan pola pikir seseorang. Jadi tidak ada salahnya jika kita memang harus memilih seorang teman.
###
Suara panggilan di ponsel Sabda terus saja berbunyi. Beberapa panggilan dari Aruna tidak dijawab. Hingga Aruna mengirim pesan jika ingin makan siang bersama.
Sabda hanya membaca pesan dari Aruna, dia berniat akan langsung datang ke butik saja dikarenakan Dia masih serius dengan meeting bulanan untuk mengarahkan bagaimana cara menghabiskan stok jenis mobil yang sudah tidak lagi di produksi. Iya, pergeseran produk untuk tetep bisa bersaing dengan merk lain membuat Sabda menekan supervisor dan sales marketing untuk lebih bekerja keras.
__ADS_1
"Puspita bisa kita bicara sebentar?" Sabda memang menunggu kesempatan untuk bisa berbicara empat mata dengan Puspita.
"Iya, Pak." jawab Puspita masih penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan Sabda padanya.
Keduanya terdiam, menunggu orang yang hadir dalam rapat itu keluar satu persatu. Sabda memang tidak ingin urusan pribadinya menjadi konsumsi umum.
"Ada apa, Pak?" tanya Puspita begitu penasaran setelah di dalam ruangan hanya ada dia dan Sabda.
Sabda kemudian berdiri dengan membawa beberapa kertas bukti yang masih dipegangnya.
"Apa hubunganmu dengan Abimana?" tanya Sabda saat dia berdiri di dekat wanita yang tengah menunduk itu.
"Apa yang kamu rencanakan bersama Aninditha? Apa maksud dari semuanya?" tanya Sabda dengan meletakkan bukti penyadapan dari ponsel wanita itu yang sudah diprint.
Puspita tersentak kaget. Dia tidak menyangka jika Sabda akan mencurigainya dan mengetahui semuanya. Puspita masih saja terdiam dia sudah tidak bisa lagi menjawab apa yang sudah ditanyakan Sabda.
"Kamu memilih penjara atau keluar dari pekerjaanmu?" tanya Sabda dengan tenang. Tapi, suara lelaki itu terdengar begitu dingin. Tentu karena Sabda sudah begitu geram. dengan kelakukan anak buahnya itu.
"Jawab! " bentak Sabda hingga membuat wanita yang ada di dekatnya itu kini menangis tersentak kaget.
"Maafkan aku, Pak! " tangis Puspita pecah tapi Sabda tidak peduli.
"Kelakuanmu sudah keterlaluan!" umpat Sabda dengan berkacak pinggang. Matanya menatap tajam perempuan yang sudah terisak itu. Jika bukan karena Puspita perempuan, Sabda pasti sudah membuat babak belur gadis di depannya.
"Aku mencintai, Pak Sabda!" ucap Puspita. Perempuan itu malah menghambur menumpahkan tangis dengan memeluk tubuh tegap di depannya. Sabda Megantara adalah obsesinya sejak dia melihat lelaki itu pertama kalinya. Lelaki cool yang sangat mempesona dan terlalu menjaga jarak dengan perempuan.
"Lepas!" Sabda berusaha melepaskan pelukan perempuan itu.
"Sudah lama aku mencintai, Pak Sabda!" lirih Puspita dengan semakin mempererat pelukannya di tubuh Sabda.
__ADS_1
"Tok.. tok.. "
"Ceklek. " Suara pintu terbuka. Masih dengan memegang handle pintu, Aruna berdiri dengan perasaan yang cukup terkejut. Rasa kaget yang sangat luar biasa membuatnya tertegun.