
"Astaga Arunaaaaa..." Sabda mengeram kesal. Dia merasa Aruna seperti menggantungnya tak jelas.
"Dia hanya akan memikirkan tawaranku?" gumam Sabda sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua telapak tangan.
"Kamu benar benar membuatku sesak nafas Runa. Apa susahnya hanya bilang'Iya'." Sabda sudah dibuat gemas oleh Aruna. Dia merasa gadis itu seperti menggantungnya hidup-hidup.
Wajahnya menengadah, mencari ide untuk menaklukkan hati Aruna, tapi terlalu sulit menembus hati gadis yang susah untuk dibaca. Kadang Sabda merasa tatapan mata indah itu penuh dengan cinta tapi gadis itu terlalu memberi jarak padanya.
Dibawah kucuran shower, Aruna masih memikirkan apa yang telah diucapkan Sabda. Saat ini, dia memang tidak ingin terlibat hubungan apapun dengan siapapun.
Tapi, ada rasa berbeda saat dia berada di dekat Sabda. Rasa yang pertama kali dia rasakan, yang mempu menggetarkan segala rasa yang sudah tergenggam kuat.
###
Abimana terdiam di balik meja kerjanya. Keadaan hubungannya dengan Mariska sudah diketahui kedua keluarga mereka. Kedua pihak menyayangkan itu, terlebih mamanya Abi.
Seperti halnya tadi pagi, Mama Karina begitu murka saat putranya mengatakan tidak akan menikah dengan Mariska. Abimana mengatakan jika dirinya hanya mencintai Aruna. Abimana yang penurut tiba- tiba menjadi pembangkang.
"Ceklek..." Seorang wanita paruh baya yang juga berwajah oriental kini berdiri di depan pintu ruangan Abimana.
"Mama... " desah Abimana. Lelaki itu akan sangat hafal seperti apa mamanya jika keinginannya tidak terwujud.
Mama Karina kembali menutup pintu ruangan putranya, wanita dengan dress sebatas lutut dan hand bag itu pun melangkah mendekati meja putranya.
"Mama tidak akan mengizinkanmu menikah dengan gadis itu sampai kapanpun!" tegas Karina. Pembicaraan mereka tadi pagi belum selesai, kerena Abi langsung meninggalkan meja makan dan itu membuat Karina mendatangi kantor putranya saat jam makan siang.
"Dan sampai kapanpun Abi tidak akan menikah dengan Mariska." bantah Abimana. Kali ini dia berani menentang mamanya karena perasaannya untuk Aruna begitu kuat.
"Baiklah... Kalau begitu tinggalkan semua yang sudah diberikan oleh keluarga untukmu." ancam Karina, Abimana sempat terhenyak kaget. Dia tidak menyangka mamanya mampu mengusirnya dari keluarga besar.
"Baiklah, kalau itu maunya Mama." lirih Abi, kemudian meletakkan bolpoin yang sempat dipegangnya.
Lelaki yang sudah tidak bisa menahan emosinya itu pun menyambar ponsel dan kunci mobilnya. Tanpa bicara apapun, Abimana melangkah keluar meninggalkan mamanya yang sudah mematung. Wanita itu sangat menyesal dengan apa yang sudah dia katakan.
"Abi... Abimana... " panggil Karina mengejar Abimana yang semakin mempercepat langkahnya.
Beberapa karyawan menatap Karina dan Abimana secara bergantian. Ya, mereka sedikit heran karena tidak biasanya Abimana terlihat semarah itu.
Karina menyesal, tidak seharusnya dia membuat putusan yang keterlaluan seperti itu. Karina mengusap sudut air matanya dan berjalan menuju mobil dimana sopir sudah menunggunya.
__ADS_1
Abimana melajukan mobilnya dengan emosi yang meluap- luap. Sungguh, mamanya sangat keterlaluan seolah dirinya hanya sebuah benalu yang hanya menempel pada keluarga besarnya.
Mobil Pajero putih menembus ramainya jalan raya menuju apartemen miliknya. Apartemen yang rencananya akan dia tempati sementara jika dia menikah dengan Aruna sebelum membuat rumah impian.
Aruna...
Semuanya masih tentang Aruna. Apa kabar gadis itu. Dia begitu merindukan senyum yang membuat si empunya bertambah manis.
Teringat sosok yang mengalihkan semua dunianya, Abimana menghentikan mobilnya di pinggir jalan. Nafasnya terdengar sangat berat, kala mengingat kekecewaan atas penolakan Aruna.
"I miss you, Runa." lirihnya, matanya mengembun, merasakan sesak kala mengingat betapa sulit memperjuangkan gadis itu. Gadis yang bertempat begitu spesial di hatinya. Tujuh tahun dia menyimpan rasa cinta dan rasa itu tergenggam begitu kuat hingga saat ini.
Sejenak Abimana terdiam dalam pikirannya, hingga dia memutar arah mobil. Tujuannya adalah menemui Aruna.
Berlahan laju mobilnya pun semakin teratur. Membayangkan melihat wajah manis itu membuat emosinya berlahan melemah.
mobilnya sudah melaju pada Jalan yang tidak terlalu ramai, itu Artinya Abimana sudah sampai pada Jalan yang menuju butik Aruna. Jantungnya mulai berdetak tidak karuan. Dia berharap Aruna masih mau bertemu dengannya meski masih sebagai teman.
Sebuah butik mungil yang memang tidak terlalu ramai pengunjung sudah ada di depan mata. Meski begitu omset butik itu semakin melambung tinggi berkat pesanan online.
Abimana berjalan masuk ke dalam butik. Tapi belum juga sampai membuka pintu kaca itu, Seorang gadis bertubuh mungil terlihat keluar. Senyum manis itu terbit dari wajah cantik Aruna hingga membuat Abimana membalas senyum itu dengan rasa senang.
"Mas Abi, untuk pesanan batik yang minggu lalu udah ditransfer Nina, kan?" tanya Aruna dengan nada panik. Lima puluh yard untuk batik yang satu meternya satu juta dua ratus bagi Aruna itu jumlah uang yang tidak sedikit.
"Jangan khawatir, semua sudah beres. Aku ke sini hanya ingin bicara denganmu." jelas Abimana seketika membuat Aruna menghela nafas lega.
"Bisakah kita bicara sambil menikmati es cream di tempat biasa?" ajak Abimana membuat Aruna tersenyum. Bagi Aruna Abimana memang sosok yang menyenangkan.
"Ehm... Aku ingin bicara dengan Aruna." Suara bariton itu tiba- tiba menyela saat Aruna akan melangkah menuju mobil.
Sabda sudah menatap tajam Aruna, rahangnya mengeras, bahkan raut wajahnya yang mencekam membuat Aruna bingung.
"Bisakah kita bicara setelah jam istirahat siang, Mas?" tanya Aruna dengan melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan.
"Tidak bisa, Aku juga tidak punya waktu hingga istirahat makan siang selesai." jawab Sabda. Dia memang tidak akan melepaskan Aruna pada lelaki bermata sipit yang dia tahu rival terberatnya.
"Tapi Aruna juga butuh mengisi tenaga, dia juga lelah." Abimana mulai maju selangkah mendekat ke arah Sabda. Suasana menjadi sangat tegang membuat Aruna sedikit gugup.
"Mas Abi, biar aku selesaikan sebentar." Aruna menarik tangan Abimana hingga emosi Sabda semakin meledak - ledak di dalam sana.
__ADS_1
"Ada apa Mas Sabda?" tanya Aruna, wajah yang biasa bersinar ceria kini ikut menegang.
"Pesanan tas Mama minta diantar sekarang!" ucap Sabda. Saat melihat pajero putih itu berhenti di depan butik membuat Sabda cemas. Dia tahu rivalnya sedang mendatangi Aruna.
Flash back
"Mau ke mana, An? " tanya Sabda saat bertemu Andrean yang sedang menuruni tangga.
"Aku diminta Tante Rosa mengambil pesanan tasnya di butik Aruna." jawab Andrean.
Awalnya Sabda hanya terdiam tapi beberapa langkah dia kembali memanggil Andrean. Andrean pun berhenti melangkah, dia menoleh ke arah Sabda.
"Biar aku yang urus." ujar Sabda. Niatnya yang akan mengawasi Aruna dari kafe sebelah malah punya alasan untuk menemui gadis itu.
Sejenak Andrean terdiam, "Tapi, Tante Rosa juga maunya diantar sekaligus!" ucap Andrean meyakinkan. Dia punya ide itu karena berharap sabda mau kembali menginjak rumah milik kedua orang tuanya.
"Baik." Sabda pun berjalan keluar dengan langkah seribu.
Flash On.
"Setengah jam lagi ya!" pinta Aruna.
"Tidak bisa, harus sekarang. Itu akan dipakai Mama arisan jam dua ini." ujar Sabda kemudian melirik Abimana.
"Kenapa harus memaksa. Apa kita antar saja, Run?" Abimana mencari ide.
"Tidak bisa, Mama Minta aku dan Aruna yang mengantar, karena Mama juga akan memesan baju." jelas Sabda masih berusaha memaksa.
"Mana bisa begitu. Aruna bukan budak, yang harus dipaksa seperti itu!" bentak Abimana yang mulai emosi.
"Mas Abi, sabar!" Aruna berusaha melerai ketegangan diantara mereka tapi saat Aruna memegang lengan Abimana, emosi Sabda yang semakin menggebu.
"Mau apa nggak? Jika nggak biar aku minta mengcancel semuanya!"
"Kamu keterlaluan!" Abimana mendorong tubuh tinggi tegap itu.
"Brengsek!" Sabda yang tak kalah emosi sudah melayangkan pukulan di wajah Abimana.
"Mas, Berhenti! " teriakan Aruna tidak lagi mereka gubris. Keduanya mulai adu jotos disertai teriakan Aruna membuat beberapa orang datang untuk memisahkan.
__ADS_1