
Pembicaraan tentang rencana bertamu di rumah Aruna selesai dengan jawaban Aruna untuk mengikuti semua rencana pihak cowok.
"Lebih baik bawa Aruna untuk istirahat dulu, Da." titah Mama Rosa, dia memang ingin menahan keduanya, karena wanita dengan aura tegas itu masih merindukan putranya.
"Ayo ke kamarku, Run!" ajak Sabda.
"Ingat, Da. Dia masih kecil, kamu terlalu matang. Mengerti, kan?" Rosa mewanti -wanti putranya karena Rosa merasa Aruna terlihat lugu dan naif.
"Yang penting nggak sampai busuk, Ma." bantah Sabda. Dia pun meninggalkan mamanya yang masih menatap dirinya hingga menghilang dari pandangan.
Rasa resah kembali hadir di hati Rosa. Melihat Aruna yang begitu naif, mengingatkanya pada sosok Anindita yang pernah dia bawa ke rumah ini. Tak menyangka jika kepolosannya dan kelengahannya menghancurkan segalanya.
"Tuhan, hapuslah rasa yang terlalu menyakitkan ini. Dan jangan biarkan menyakiti putraku." gumam Rosa, matanya kembali berkaca-kaca. Dia memang tidak setangguh yang nampak, ada rasa nyeri saat teringat semuanya.
Aruna menaiki tangga, di temani Sabda. Gadis itu juga menikmati taman dan kolam yang terlihat indah itu dari tangga.
"Rumahnya tidak hanya cantik tapi juga nyaman." ujar Aruna.
"Papa Arsitek dan Mama kontraktor. Rumah ini adalah bentuk dan bukti cinta mereka."
"Awalnya Papa dan Mama tidak direstui Opa, tapi Mama tetap yakin pada cinta Papa hingga mereka harus berjuang untuk hidup lebih baik. Mereka membuktikan dengan banyak karya yang mereka ciptakan dan itu yang membuat Papa kembali diterima oleh Opa." Sabda bercerita dengan antusias.
Sebenarnya, dia sangat merindukan mendiang papanya. Dulu dia lebih dekat dengan papanya, karena mamanya lebih sering keluar kota.
Mereka kini sudah sampai di lantai dua, ruangan yang cukup luas. Beberapa sofa dan sebuah televisi berukuran besar menghiasi ruangan yang dilengkapi dengan ornamen modern, bahkan, dinding kaca yang dan sebuah balkon membuat seseorang bisa menikmati indahnya suasana di luar.
"Ayo!" ajak Sabda kemudian, mereka menghampiri sebuah ruangan dengan pintu berwarna coklat plitur.
"Masuk saja, sayang." ujar Sabda ketika dia melihat Aruna berdiri di depan pintu.
Kamar yang cukup besar dengan nuansa maskulin. Beberapa, miniatur mobil off-road dan motor sport tertata rapi. Sabda memang menyukai dunia otomotif sejak dulu.
__ADS_1
Aruna berjalan dengan mengedarkan pandangan, dia seolah meneliti setiap inci dari detail kamar Sabda.
Ada banyak foto yang menggantung di dinding kamar, tapi ada yang menarik langkah Aruna. Foto Sabda bersama perempuan cantik berambut panjang, mereka sama- sama mengenakan jaket kulit berlatar sebuah kebun teh.
"Cantik." ucap Aruna yang kemudian membuat Sabda melangkah cepat untuk mengambil foto yang berdiri di sebuah partisi.
"Aku sudah melihatnya." lanjut Aruna.
"Cuma masa lalu. Cinta pertamaku." jelas Sabda yang tidak di sambut oleh Aruna.
Saat Sabda mengatakan 'cinta pertama', ada yang berdenyut nyeri di dalam sana. Itu baru sebuah penggalan kata. Membayangkan 'Cinta Pertama' seperti di dalam novel membuatnya tak ingin meneruskan untuk mengetahuinya.
"Sayang." Sabda menggenggam tangan Aruna, dia menatap wajah yang kini berpaling darinya.
Aruna hanya tidak ingin, lelaki di depannya bisa membaca rasa yang ada di hatinya. Saat akan beranjak menjauh, Sabda merengkuhnya dalam dekapan.
"Aku hanya kaget saja. Tidak lebih." ucap Aruna berusaha mengatur suaranya. Dia merasa akan terlalu posesif jika dirinya cemburu dengan masa lalu Sabda.
Dia sadar, mungkin banyak dari mereka akan melewati masa remaja, masa muda dengan perjalanan cinta. Jika dia berbeda, maka tidak seharusnya dia se- posesif hatinya saat ini.
"Maafkan, Mas!" lirih Sabda masih menatap lekat Aruna. Ditatap Sabda seperti itu, membuat Aruna tersenyum tipis.
"Aku tak ingin pulang malam, Mas." pinta Aruna membuat Sabda semakin yakin Aruna tidak baik- baik saja.
"Baiklah, tapi istirahat dulu, ya!" pinta Sabda dengan menatap penuh permohonan pada wanitanya.
"Aku tidak ingin tidur, Mas!"
"Kenapa? Kamu takut diganggu, Mas? Apa kamu tidak percaya dengan, Mas?" Kali ini Sabda bicara dengan serius. Dia nampak ingin meyakinkan Aruna, bahwa dia akan baik - baik saja.
Sabda langsung membawa Aruna pada sebuah sofa yang yang terletak di dekat jendela kaca, sofa yang dipesan khusus agar bisa memberi rasa nyaman.
__ADS_1
Lelaki itu memutar sebuah lagu yang bisa menenangkan, dan mengatur suhu AC." Jika tidak ingin tidur, kamu duduk santai saja, sambil melihat pemandangan kota atau, taman di bawah. Mas akan keluar, jadi nggak usah khawatir." Sabda menarik Aruna untuk mulai rebahan di sofa.
" Kamu tenang saja. Mas, sayang kamu!" Sabda menundukkan tubuhnya untuk mencium puncak kepala Aruna, bahkan lelaki itu sempat mengacak rambut Aruna sebelum melangkah pergi.
Aruna masih dibuat terpana oleh Sabda. Ini kalimat 'Sayang' pertama Sabda untuknya. Sabda memang sering mengajak menikah, tapi mengatakan Cinta atau Sayang. Ini pertama kalinya.
Sabda Megantara, dia selalu membuat jantung Aruna berdetak seperti lampu disko. Hati Aruna terasa riuh di dalam sana ketika mendapatkan tindakan -tindakan tak terduga dari lelaki itu.
###
Di sebuah apartemen Abimana semakin dibuat gelisah. Dia tidak peduli dengan pertengkaran kedua orang tuanya karena dia tidak lagi mengurus usaha keluarga.
Tapi, dia semakin gelisah kala mengingat hubungannya dengan Aruna semakin jauh di kala rasa cinta yang masih membubung tinggi.
"Ting- tong, ting -tong." terdengar suara bel membuat Abimana langsung melangkah untuk membuka pintu.
"Papa, Mama." lirih Abimana kemudian dengan enggan meminta kedua orang tuanya masuk dan mempersilahkannya untuk duduk.
Sejenak mereka terdiam menunggu, belm salah satu yang membuka pembicaraan membuka pembicaraan.
"Jika meminta Abi menikah dengan Mariska akan bilang tidak." ucap Abi dengan lantang.
"Ayo, Ma bicara! " titah Papa Abi setelah lama terbungkam.
"Mama Minta kamu kembali ke rumah, Bi. Kita sudah membatalkan perjodohan kalian." jelas Mama Abi. Meski dengan berat dia mengatakan itu pada putranya, dia tidak ingin pabrik telantar dan dia kehilangan seorang putra.
"Benarkah?" Abimana kembali meyakinkan. Bagi Abimana sangat mudah mendapatkan pekerjaan dengan latar belakang pendidikan yang memadai dan pengalaman mengelola usaha.
Tapi, kondisi pabrik mereka mulai tidak kondusif setelah kepergiaan Abi. Bahkan, kegiatan ekspor mereka mulai kacau. Abimana memang bisa diandalkan untuk mengurus semuanya.
"Aku hanya ingin menikah dengan Aruna. Abi mencintai Aruna. Dan Abi berhak untuk menentukan pilihan Abi." jelas Abi dengan lugas.
__ADS_1
"Papa membebaskanmu, dari awal Papa tidak pernah menentang hubunganmu dengan gadis itu. Papa hanya ingin bertanggung jawab."
"Tidak langsung meninggalkan pabrik begitu saja tanpa pembicaraan sama Papa." Dengan penuh wibawa Papa Abi menasehati putranya memang tidak ingin memaksa untuk masalah percintaan.