
"Maafkan atas kejadian di rumah makan tadi, ya!" ucap Sabda dengan memeluk tubuh mungil istrinya, menghujani puncak kepala Aruna dengan ciuman. Ada yang membuat hatinya merasa nyeri, saat Aruna harus menanggung banyak hal dan rasa sakit hati terus menerus karena kesalahannya.
Aruna membalikkan tubuhnya. Menatap mata yang sudah berkabut itu, "ketika aku sudah memutuskan sesuatu aku sudah memikirkan semuanya." jawab Aruna. Dia memang sudah menyiapkan segalanya untuk menghadapi semua yang dia yakini tidaklah mudah.
"Mas akan ke kantor sebentar! Kamu istirahat saja, tidur di rumah sakit pasti membuatmu tidak nyaman." ucap Sabda dengan membuka kancing kemejanya. Dia akan mandi untuk menghilangkan rasa lengket dari tubuhnya.
"Nanti saat ke rumah sakit, aku ikut, Mas." ucap Aruna yang berhasil menghentikan langkah Sabda di depan kamar mandi.
"Mas nggak mau kamu kecapekan. Perjalanan jauh kemarin dan menginap di rumah sakit pasti sangat lelah untukmu." jawab Sabda dengan menatap Aruna, kemudian menunggu reaksi istrinya.
"Saat Mas ke kantor aku bisa tidur sebentar." desak Aruna. Niat awalnya ke sini memang untuk mama mertuanya.
"Baiklah." jawab Sabda. Dia pun kembali melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Aruna membuka jilbab dan kemudian mendekat di meja rias. Kamar yang masih sama saat dia meninggalkan rumah ini saat beberapa bulan lalu.
Sejenak dia menatap wajahnya di cermin, kemudian menyisir rambut pendeknya itu dan membuatnya sedikit mengembang.
Tiba-tiba terlintas bayangan wanita itu. Sosok yang tampak sangat berbeda dengannya. Wanita itu memang terlihat begitu dewasa, seksi dan terlihat menggoda.
Aruna mendesah. Dia pun terduduk di kursi yang ada di depan kaca. Matanya tidak luput dari setiap detail wajahnya. Aruna mulai mempertanyakan eksistensinya sebagai seorang istri. Seberapa besarkah Sabda mencintainya? Hingga dengan mudahnya goyah dengan kehadiran cinta masa lalunya. Ataukah, selama ini suaminya tidak pernah mencintainya?
Ternyata setelah mendapati sebuah pengkhianatan terjadi dalam sebuah hubungan tidaklah mudah mengembalikan semua keadaan, tidak hanya perasaan yang terluka.
"Sayang, kenapa melamun?" tanya Sabda yang sejak keluar dari kamar mandi sudah memperhatikan Aruna.
Dia berjalan mendekat ke arah Aruna dan memegang pundak kecil istrinya, "Apa aku istri yang sangat tidak menarik? Kenapa mengajakku menikah?" cecar Aruna dengan menatap wajah Sabda dari pantulan cermin.
"Pernahkah, Mas Sabda mencintaiku?" lanjut Aruna.
__ADS_1
Lelaki yang kini hanya mengenakan celana panjang dengan handuk yang menggantung di leher itu pun menghela nafas. Dia tidak menyangka Aruna sudah meragukan perasaannya.
Sabda mulai berjongkok dan menyamakan tingginya dengan tinggi istrinya yang masih duduk.
"Kamu sangat sempurna! Mas saja yang selama ini salah. Maafkan Mas! " jawab Sabda dengan suara yang sangat lirih.
"Mas mencintaimu! Jika tidak mencintaimu Mas tidak akan mempertahankan pernikahan ini." ucap Sabda. Dia memang sangat mencintai Aruna. Bahkan, perasaannya itu sangat berbeda dari yang dia rasakan pada cinta masa lalunya.
Pernyataan cinta Sabda memang masih terasa hambar di hati Aruna, bahkan dia hanya bisa tersenyum untuk membalas pernyataan cinta suaminya.
Tapi Aruna berjanji akan berusaha mempertahankan pernikahan ini. Wanita dengan bibir mungil itu tersenyum dan senyum itu bisa membuat Sabda semakin gila.
"Cup... " Lelaki itu langsung mencium bibir ranum itu, meluma*tnya beberapa menit. Hingga Aruna mendorong dada bidang suaminya.
"Mas Sabda akan terlambat jika seperti ini!" ucap Aruna. Dia tidak ingin keterusan. Sedangkan Sabda hanya menatapnya dengan penuh harap membuat Aruna kembali tersenyum.
"Aku akan mengambilkan kemeja untuk Mas." Aruna pun beranjak dari duduknya. Dia berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil kemeja berwarna biru navy untuk Sabda.
###
Anin menatap dirinya di cermin. Keputusannya mungkin akan merubah hidupnya saat ini. Dia menerima tawaran Pak Royan tapi dengan syarat tidak ada yang tahu kebersamaan mereka.
Kesepakatan pun terjadi, Pak Royan pun ingin menjaga rahasia ini dari keluarganya. Hari ini lelaki berumur itu akan menjemputnya dari rumah. Dia sengaja mengajak Anin check- in di saat hari libur agar teman kerjanya tidak curiga.
"Seharusnya aku bisa hamil anak Sabda. Tapi kenapa Tuhan selalu membuatku kecewa? Hidupku sudah terlalu berantakan. Dia seenaknya meninggalkanku." gumam Anin dalam hati. Dia mencintai Sabda, sejak dulu. Tapi, semesta ternyata tidak pernah menyatukan mereka.
Sebuah pesan masuk dari Pak Royan jika lelaki itu sudah dalam perjalanan. Anin kemudian berdiri dan mengambil tasnya.
Dia akan menunggu di depan saja, mumpung Sisil masih tidur. Dia juga sudah mengatakan pada pengasuh Sisil jika dia tidak pulang dan sepupunya Ana akan datang menemani mereka di rumah ini.
__ADS_1
Sebuah mobil berhenti di depan Anin yang berdiri dipinggir jalan. Wanita dengan dress berwarna merah mencolok dengan belahan dada rendah itu segera masuk ke dalam mobil.
"Kamu sangat menggoda, Nin." ucap Royan dengan menatap Anin dengan genit. Anin hanya tersenyum hambar.
"Saya jadi tidak sabar untuk merasakannya!" lanjut Royan dengan menatap bagian dada yang hanya tertutup separo itu.
Perjalanan yang mereka lalui hanya dua jam. Lelaki dengan perut sedikit membuncit itu menghentikan mobilnya di parkiran hotel bintang empat. Mereka memang akan menginap dulu di sini agar jauh dari keluarga Royan.
"Aku nggak nyangka bisa memeluk tubuh seksimu, Sayang." ucap Royan dengan memeluk Anin dari belakang. Lelaki itu menciumi tengkuk wanita bawaannya itu dengan rakus.
"Sabar, Pak. Kita masih punya banyak waktu." ucap Anin berlahan melepaskan diri. Dia sebenarnya enggan melayani lelaki itu tapi mau bagaimana lagi. Dia butuh banyak uang untuk hidupnya dan kebutuhan Sisil.
Anin melirik lelaki yang sudah melepaskan baju luarnya dan hanya menyisakan boxer dan celana panjangnya itu. Lelaki itu seperti sudah menyiapkan segalanya.
Mereka pun memulai adegan panas itu. Lelaki itu begitu rakus menguasai tubuh Anin. Sedangkan untuk menghilangkan rasa jijiknya Anin lebih membayangkan jika saat ini yang sedang mencumbu dan memainkan miliknya adalah Sabda. Dia memang merindukan Sabda.
Lelaki yang umurnya sepuluh tahun di atasnya itu ternyata masih kuat untuk urusan ranjang hingga membuat Anin kewalahan mengimbanginya. Anin yakin jika Royan sudah sangat berpengalaman dengan banyak wanita.
Keduanya kini terengah dengan keringat yang membanjir setelah percintaan panas itu. Setidaknya kerinduannya pada Sabda bisa sedikit terobati. Ah, dia benar-benar tidak bisa melupakan Sabda saat dia harus memuaskan Royan.
"Kamu sangat pintar, Sayang! Aku begitu puas dengan pelayananmu." ucap Royan. Anin hanya tersenyum, dia pikir tidak perlu menjawab pertanyaan lelaki genit itu.
"Aku sudah mentransfer uangnya!" ucap Royan dengan meletakkan kembali ponselnya.
Sementara Anin mengambil benda pipih miliknya itu. Dia pun tersentak kaget angka yang lebih dari dia bayangkan sudah masuk ke dalam rekeningnya. Dia bisa membayangkan bisa membeli banyak hal. Dan sesuai perjanjian dia juga harus melayani beberapa kali lagi bandot satu ini.
"Terima kasih, Pak." ucap Anin.
"Jika ada kesempatan kita akan melakukannya yang lebih hebat lagi." sahut Royan membuat Anin mengerti.
__ADS_1
"Aku tidak ingin kamu hamil, karena aku sudah membayarmu jika kamu sampai hamil itu urusanmu." ucap Royan. Anin sendiri tidak ingin hamil anak lelaki tua itu. Dia hanya ingin Sabda. Iya Sabda Megantara yang kini menjadi obsesinya.