Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Ketulusan Aruna


__ADS_3

Hampir saja Aruna telat bangun, karena semalam Sabda mengajaknya bergadang. Pukul enam pagi, dia baru saja berada di dapur.


Sebenarnya Sabda sudah menawarkan asisten rumah tangga yang mau tinggal bersama. Tapi, Aruna selalu saja menolak dengan alasan, jika kerepotan mencuci bisa diloundry, jika nggak sempat memasak bisa deliveri order. Lagi pula untuk bersih- bersih sudah ada yang datang setiap hari saat mereka berangkat bekerja. Bagi Sabda, untuk urusan rumah dian menyerahkan semuanya pada Aruna.


"Mas, aku kesiangan. Kita sarapan seadanya, ya?" tanya Aruna masih dengan sibuk meletakkan kopi panas di meja.


"Nggak apa- apa, Sayang. Mas bisa makan apa saja. Termasuk kamu!" bisik Sabda sambi berbisik di telinga Aruna. Aroma - aroma pengantin baru memang masih melekat pada mereka.


Satu lengan Sabda melingkar di pinggang Aruna, kemudian mencium sekilas pipi merah merona wanitanya. Memang ada sensasi yang berbeda saat bisa menggoda wanita pemalu.


"Sayang kita berangkat bareng ya? Mumpung, Mas, masih fokus di kantor yang di sini." ucap Sabda sambil menyuap spagety buatan Aruna.


"Berarti kalau kantor cabang yang di luar kota jadi, Mas Sabda jarang pulang?" tanya Aruna terlihat sedikit kecewa.


"Mas akan pulang, cuma mungkin Mas akan sibuk, banyak waktu yang habis untuk perjalanan." ucap Sabda.


"Tenang sayang, nggak lama kok. Setelah berjalan lancar, Mas akan serahkan pada Andrean." lanjut Sabda membuat Aruna sedikit lega. Kadang kita memang harus mengambil sebuah pilihan dalam hidup.


"Bagaimana jika butik di tutup saja? Mas lebih senang kamu di rumah." Sabda mengatakan keinginannya. Melihat mamanya sibuk mengejar karir hingga tak punya waktu, membuat Sabda menginginkan sebaliknya pada istrinya.


"Apa, Mas, tidak mengizinkan aku bekerja?" tanya Aruna dengan rasa kecewa. Dia merasa pemikiran Sabda bertentangan dengannya.


"Bukan seperti itu. Mas hanya takut kamu capek, padahal Mas yang harus memenuhi apa yang kamu butuhkan dengan sepenuhnya." Melihat wajah kecewa Aruna, lelaki itu mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan istrinya.


"Aku takut di rumah bosan, Mas. Jika butik ditutup, kasian Nina. Dia masih harus menyekolahkan adiknya, Amanda butuh tambahan biaya kuliah, dan di sana ada penjahit yang seorang janda." jelas Aruna pada Sabda, butik itu tidak hanya tentang cita-citanya. Tapi, banyak harapan bergantung di butik kecil itu.


"Atur kamu saja, Mas tidak ingin kamu tertekan atau kelelahan dengan banyak kerjaan." jawab Sabda. Dalam hatinya dia merasa sangat beruntung mendapatkan istri seperti Aruna, tidak hanya cantik, wanitanya itu punya hati yang mulia dan tulus.


Mereka melanjutkan sarapan bersama, seperti apa yang diminta Sabda selama dia masih fokus di kota ini. Mereka akan berangkat bersama.


###

__ADS_1


Aruna kembali mencoba mengenakan jilbab. Gadis cantik itu mematuk diri di depan cermin untuk memantapkan niatnya ingin berjilbab.


"Sudah cantik, Mbak Runa. Bahkan lebih cantik mengenakan jilbab." Setiap kali mencoba model jilbab di butiknya selalu saja Nina melayangkan pujian. Bukan cuma basa- basi, tapi dia mengatakan yang sebenarnya ada dalam hatinya.


"Kamu sudah berapa lama berjilbab, Nin?" tanya Aruna kemudian menoleh pada gadis yang membawa botol air yang baru diisinya.


"Dari lulus sekolah dasar, Mbak." jawab Nina. Nina dan Amanda memang sudah mengenakan jilbab lebih dulu.


"Mbak Runa cantik banget jika mengenakan jilbab." Sekali lagi Nina mengungkapkan kekagumannya. Matanya benar- benar mengamatinya secara detail.


"Mas Sabda bilang akan lebih senang jika aku mau berjilbab." jawab Aruna kemudian melepas lagi jilbab yang habis dia coba. Rencananya dia akan mengenakan jilbab setelah resepsi minggu depan.


"Mbak Runa beruntung dapat suami pengertian, ganteng dan tajir." sambut Nina. Aruna hanya tersenyum menanggapinya dia memang bersyukur mendapatkan Sabda yang pengertian.


"Nin, kamu tidak ingin kuliah?" tanya Aruna mengawali.


"Sebenarnya ingin, Mbak. Tapi, aku masih punya tanggungan, urusan sekolah adikku masih harus ada andilku juga, Mbak." jawab Nina. Ada semburat rasa kecewa di wajah gadis itu. Keinginannya ingin melanjutkan kuliah terhambat oleh biaya.


"Sebenarnya bisa saja, asal kamu bekerja keras lagi. Membangun butik ini seperti milikmu sendiri." Nina semakin tidak mengerti dengan apa yang diucapkan Aruna.


"Kita bangun bersama-sama butik ini. Kamu bukan karyawan di sini, tapi kamu dan Manda patner kerjaku." jelas Aruna semakin membuat Nina melongo.


"Iya, kita kerja keras bersama-sama. Nanti kita atur komisinya bersama. Toh kamu juga tahu keuangan di sini." Kalimat Aruna membuat Nina mendapat sejuta harapan akan masa depan yang lebih baik.


"Mbak... " Nina tak mampu melanjutkan kalimatnya, tenggorokanya terasa tercekat, rasa bahagia membuat matanya basah.


"Aku tidak memberikan gratis, tapi aku hanya memberi jalan." Aruna memeluk Nina. Gadis berumur sembilan tahun itu sudah dia anggap seperti adiknya sendiri.


"Mbak Runa, baik sekali. Aku tidak tahu lagi bagaimana berterima kasih pada Mbak Runa." Nina kembali memeluk Aruna. Dia beruntung dipertemukan pada seseorang sebaik Aruna dengan rasa empati yang tinggi.


"Sayang... " Suara bariton itu membuat keduanya menoleh. Nina dan Aruna mengusap matanya yang basah.

__ADS_1


Sabda sudah berdiri di depan pintu utama dan berjalan mendekat ke arahnya.


"Besok kita adakan meeting bersama Manda juga. Kita atur sekali lagi sistem manajemen kita. Mbak pergi dulu ya!" Aruna menepuk bahu Nina yang masih shock dengan semuanya.


Tatapan yang diiringi doa penuh kebaikan tertuju pada Aruna. Wanita itu membangun sebuah harapan yang bisa direalisasikan oleh dirinya sendiri.


"Sayang, sudah selesai?" tanya Sabda menatap Aruna penuh selidik. Dia melihat sisa sisa air di sekitar mata istrinya.


"Kamu habis nangis?" selidik Sabda yang masih ingin tahu.


"Nggak, Mas. Aku hanya merasa bahagia saja." Senyum manis merekah diantara bibir ranum Aruna hingga membuat Sabda merasa istrinya memang sedang merasa bahagia.


Sabda menggenggam tangan Aruna membawa istrinya masuk ke dalam mobil yang sudah terparkir di depan butik.


Seperti kesepakatan tadi pagi, mereka akan belanja bulanan sepulang kerja. Aruna bosan jika harus makan di luar terus dan Sabda juga sudah merindukan masakan istrinya.


Mobil melaju menuju mall terbesar di kota itu.


Sesekali Sabda melirik Aruna yang sedang membalas pesan dari Tita. Sabda memang mengendarai mobil dengan santai hingga sampai di depan mall.


Setelah sampai di dalam bazar, Sabda mengambil alih troli yang didorong Aruna. Sabda terus membuntut di belakang Aruna yang mengambil apa yang dibutuhkan untuk kebutuhan bulanan.


"Sayang, Mas akan ke toilet dulu." ujar Sabda kemudian meninggalkan Aruna ke toilet.


Sabda menyelesaikan hajatnya dengan cepat, dia tidak ingin meninggalkan Aruna sendiri dengan mendorong troli yang sudah berisi banyak barang.


Langkah panjang, kini tertuju dimana dia meninggalkan Aruna. Tapi saat dia melangkah dengan menatap Aruna yang sedang kesulitan mencari sesuatu di rak atas Sabda mempercepat langkahnya.


"Bugghhh... " Seseorang menabrak Sabda yang tidak peduli.


"Maaf- maaf" ucap Sabda tanpa mengalihkan tatapannya pada Aruna yang kejatuhan beberapa barang hingga tidak melihat dia tabrak. Sabda begitu panik melihat istrinya yang kesulitan atau mungkin merasakan sakit.

__ADS_1


Wanita itu menatap Sabda dengan rasa yang entah. Sudah berapa tahun mereka tidak bertemu, ada rasa rindu yang ingin membuatnya ingin menemui lelaki yang bisa menjatuhkan hatinya pada cinta yang sesungguhnya.


__ADS_2