Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 42


__ADS_3

"Kenalkan ini istriku." ucap Sabda yang tersadar akan keberadaan Aruna di sampingnya.


"Aruna..." ucap Aruna dengan menyuguhkan senyum seramah mungkin meski ada rasa yang cukup mengganjal saat melihat perempuan di depannya itu.


"Anindhita..." Perempuan dengan rambut panjang tergerai itu menyambut uluran tangan Aruna.


Tatapannya penuh selidik, seolah ingin tahu apa yang istimewa dari wanita di depannya hingga seorang Sabda Megantara memilih untuk memilikinya.


Berlahan rasa terkejut Sabda akan kehadiran Aninditha pun mulai mereda. Pembicaraan mereka terus saja mengalir dengan nyaman, seakan melupakan keberadaan Aruna.


"Mas, aku duduk dulu ya!?" pamit Aruna yang dijawab senyum dan anggukan oleh Sabda. Lelaki itu masih asyik berbincang dengan Anin tentang pekerjaan dan menyelipkan pembahasan tentang cerita masa yang dulu.


Pov Aruna


Entah kenapa aku melihat wanita yang bernama Anin sikapnya sangat berbeda pada Mas Sabda. Ada yang mengganjal dalam benakku setiap kali aku melihat cara dia menatap Mas Sabda. Aku melihat tatapan itu penuh akan puja. Iya, bahkan sesekali wanita itu terlihat tersipu.


Seperti saat ini mereka terlihat begitu asyik berbicara tanpa peduli aku yang duduk sendiri di sini. Mungkinkah aku yang begitu sensitif? Karena akhir- akhir ini aku memang sangat cengeng.


"Hae, Run." Andrean menghampiriku. Aku tersenyum padanya.


"Mana, Mas sabda? Aku tadi telat karena harus mengantar Mama periksa." jelas Andrean. Aku memang baru melihat lelaki kepercayaan Mas Sabda di sini.


"Mas Sabda sedang mengobrol bersama rekannya." jawabku sambil mengarahkan pandanganku pada dua orang yang masih asyik tertawa.


"Anin..." gumam Andrean yang masih terdengar olehku. Lelaki itu menatap sejenak wanita itu. Tatapan yang entah, aku sendiri tak bisa menafsirkannya.


"Kamu mengenalnya?" tanyaku pada Andrean yang terlalu lama menatap wanita itu.


Bukannya menjawab, Andrean malah pergi meninggalkanku dan melangkah menghampiri Mas Sabda, lelaki berkulit sawo matang itu membisikkan sesuatu pada Mas Sabda hingga membuat suamiku melihatku.


Entah apa yang dikatakan Andrean pada Mas Sabda hingga lelaki itu melangkah dengan wajah serius ke arahku.

__ADS_1


"Sayang, kamu ingin istirahat?" tanya Mas Sabda membuatku langsung mengangguk. Aku ikuti saja alurnya, Andrean mungkin saja mengatakan itu pada Mas Sabda karena sebuah alasan tertentu yang belum aku ketahui.


Author Pov


Aruna masih terdiam saat mobil sedan yang dikendarai Sabda mulai memasuki kawasan perumahan. Dia ingin sekali bertanya siapa sebenarnya perempuan tadi.


Mobil berhenti tepat di depan rumah di depan rumah. Aruna pun langsung masuk ke dalam setelah menutup kembali pintu pagar.


"Run, bisa nggak membuatkan Mas kopi?" tanya Sabda meminta Aruna membuatkan kopi. Dia merasa sangat mengantuk tapi harus memeriksa pekerjaan.


"Iya, Mas. Sebentar ya aku tak naruh tas dulu." jawab Aruna. Meski sebenernya dia merasakan badannya lemas tapi Aruna tahu melayani suaminya adalah sebuah kewajiban untuknya.


Setelah mengganti jilbabnya dengan bergo rumahan, Aruna berjalan menuju dapur. Tapi langkahnya terhenti saat nama Anin mengirimnya sebuah pesan yang isinya entah. Aruna sendiri belum ingin membuka ponsel suaminya.


Tidak bisa dipungkiri Aruna masih berfikir dengan rasa penasarannya. Otaknya masih mengelola dan mempertimbangkan untuk menanyakan satu persatu apa yang mengganjal dalam pikirannya.


"Sayang, sudah jadi?" tanya Sabda. Lelaki itu sudah berganti kaos dan wajahnya yang terlihat segar karena basuhan air.


"Aku lihat, Mas, sangat dekat dengan Mbak Aninditha." ucap Aruna. Dia begitu sulit menemukan kalimat yang tepat untuk menanyakan siapa Aninditha sebenarnya.


Mendengar pertanyaan Aruna, Sabda menatap istrinya sejenak. Dia tidak mengerti, diantara banyaknya tamu kenapa hanya Aninditha yang Aruna tanyakan.


"Jika tidak ingin menjawab tidak masalah." Aruna menatap kecewa Sabda. Dia juga tidak ingin memaksa lelaki di depannya untuk menjawab karena dia yakin dijawab atau tidak itu pasti hal yang tidak menyenangkan untuk didengar.


"Dia mantan kekasihku. Dia Cinta Pertamaku." jawab Sabda membuat Aruna merasakan sesuatu yang menghujam langsung ke jantungnya. Sakit dan terasa nyeri menyergap seketika di ulu hati. Suaminya mengakui hal itu tanpa beban, tanpa ingin tahu apa yang Aruna rasakan setelah mendengar pengakuannya.


"Kenapa kalian putus." lanjut Aruna kepalang tanggung, dia pun ingin tahu cerita masa lalu suaminya.


"Mama tidak menyetujuinya, bahkan Mama memulangkan Anin ke Batam. Mama hanya mengatakan Anin bukan gadis yang tepat untukku." jawab Sabda kemudian menyeruput kopi yang dibuatkan Aruna hingga tandas.


Sementara, Aruna hanya termangu mendengar semua cerita itu. Rasanya lidahnya terasa kelu saat ingin melanjutkan pertanyaannya.

__ADS_1


"Mas, ke ruang kerja dulu." pamit Sabda, kemudian mengambil benda pipih itu dan meninggalkan Aruna yang masih mematung menatap punggungnya yang berlahan menghilang.


Aruna hanya menatap kepergian Sabda dengan tatapan menerawang. Tanpa dia sadari lelaki itu menyisakan rasa sakit di hati istrinya.


Aruna kemudian menghela nafas panjang, mencoba berfikir positif saja. Dia mencintai Sabda bahkan mungkin terlalu mencintai, hingga rasanya dirinya begitu posesif pada lelaki yang sudah membuatnya jatuh cinta hingga terdalam.


###


Tita memutuskan akan mampir ke butik Aruna setelah mengirim pesan tentang keberadaan Aruna. Tapi Aruna malah memintanya untuk menemani dirinya di kafe.


Aruna merapikan jilbabnya. Dia akan menemui Tita dan menghabiskan waktu makan siang bersama.


Dengan langkah santai Aruna keluar dari butik. Matanya mengedar mencari keberadaan mobil Tita atau Tita sendiri. Dengan tersenyum simpul, Aruna berjalan menghampiri Tita yang masih menikmati segelas jus di depannya.


"Assalamu'alaikum, Ta." sapa Aruna saat berdiri di depan sahabatnya.


"Waalaikumsalam salam, Run. Masya allah cantik banget kamu, Run. Aku kira kamu mengenakan jilbab saat resepsi pernikahan saja." ujar Tita masih menatap lekat Aruna. Tatapannya penuh kekaguman. Dari dulu Aruna memang cantik meskipun bertubuh mungil.


"Insyallah semoga istiqomah." jawab Aruna begitu mantap. Aruna selalu tegas dalam prinsipnya maka dari itu dia akan berfikir seribu kali untuk memutuskan sesuatu hal.


"Aku lihat kamu pucat, Run?" tanya Tita saat melihat dengan teliti wajah Aruna.


"Aku habis sakit, Ta. Tapi kamu tahu, kan, aku paling anti ke dokter... "


"Karena jarum suntik?" sela Tita yang sudah hafal Aruna.


"Tidak semua yang periksa ke dokter disuntik, Run." lanjut Tita.


"Tapi, aku sudah mulai merasa baik. Jadi tidak perlu ke dokter, aku hanya mengatur pola hidup saja." Aruna masih ngotot. Dia juga paling malas berurusan dengan dokter.


Saat mereka berbincang banyak hal, Aruna memergoki seseorang menatapnya penuh selidik. Dia tidak menyangka akan melihat Anin di kafe dekat butik- nya bersama Puspita.

__ADS_1


"Mungkin-kah perempuan itu habis bertemu, Mas Sabda?" Aruna bergumam dalam hati. Entah kenapa saat bertemu dengan wanita itu otaknya selalu menerka- nerka dan hatinya menggenggam rasa yang begitu sulit dia ungkapkan.


__ADS_2