Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Kangen


__ADS_3

"Kamu kenapa, Run?" tanya Rosa saat melihat Aruna tidak begitu bersemangat. Sedari tadi, menantunya itu lebih banyak diam dan melamun.


"Aruna hanya kepikiran Mas Sabda sudah dua hari tidak menelpon." ucap Aruna masih mengaduk susu hamil sebelum sarapan pagi.


Sudah seminggu Sabda di luar pulau untuk melanjutkan pekerjaan Rosa. Kali ini dia harus terjun langsung karena ini adalah bidang baru yang harus dia pelajari dengan serius.


"Mungkin Sabda berada di pelosok. Proyek yang membuka lahan, biasa memang susah sinyal. Kamu jangan khawatir!" jelas Rosa. Beliau memang sudah banyak berpengalaman di bidang itu.


"Atau kamu tidak percaya dengan Sabda?" selidik Rosa membuat Aruna terdiam. Entah, rasa tidak percaya atau khawatir yang membuat wanita hamil itu tidak bisa berhenti memikirkan suaminya. Aruna sendiri tidak mengerti.


"Mama tahu rasanya dikhianati, tapi jangan terlalu banyak pikiran! Kasian cucu Mama." Rosa tidak ingin mengatakan untuk bisa mempercayai Sabda. Orang yang pernah dikhianati selalu dihantui rasa tidak percaya.


"Aruna percaya Mas Sabda, Ma." lanjut Aruna, dia kembali meyakinkan hatinya untuk percaya kepada suaminya.


Rosa tersenyum, tangan kriput itu menggenggam tangan menantunya. Itu, artinya dia akan mendukung apa yang diucapkan Aruna barusan.


Rosa percaya jika putranya bukan tipe lelaki yang mudah jatuh cinta. Jika pernah terlena dengan sosok cinta di masa lalunya, itu karena hubungan mereka yang terpisah tanpa kejelasan dan itu membuat Sabda seolah masih penasaran dengan perasaannya sendiri.


"Mama kenal Aninditha?" tanya Aruna dengan ragu.


Pertanyaan Aruna membuat Rosa terdiam sejenak. Wanita itu masih bimbang untuk kembali membuka cerita masa lalunya atau memilih bertahan untuk menyimpannya.


Hening. Atmosfir di dalam ruang makan itu menjadi sunyi sejenak. Aruna menatap mertuanya dengan penuh tanya.


"Dia putri sahabat Mama..." kalimat Rosa menggantung. Mata keduanya saling tertaut penuh dengan pertanyaan.


"Saat ada proyek di Batam. Mama sengaja mencari sahabat Mama. Namanya Anindya, tapi ternyata dia sudah tiada dan meninggalkan putri bernama Anin itu."


"Anin gadis yang cantik, saat itu dia kelas tiga SMU. Hidupnya yang sebatang kara tertatih-tatih membuat Mama ingin membawanya, merawatnya dan sebenarnya dulu ingin menjodohkannya dengan Sabda, agar bisa menyambung persahabatan menjadi kekeluargaan." kalimat Rosa terjeda saat melihat wajah Aruna yang sudah berubah. Ada sedikit rasa tidak nyaman pada menantunya itu.


"Tapi, Mama bersyukur. Sabda mendapat gadis cantik dan baik seperti dirimu." lanjut Rosa. Bukan hanya sekedar merayu atau omong kosong belaka, tapi itulah yang ada di hati Rosa. Dia sangat menyukai wanita seperti Aruna.

__ADS_1


"Terus, Ma." desak Aruna.


"Dulu, Sabda sangat bandel. Dia tidak ingin melanjutkan kuliah, pekerjaannya kluyuran dan nongkrong. Salahnya Mama juga, Mama bukan ibu atau istri yang baik. Mama terlalu terobsesi pada sebuah pembuktian pada kedua orang tua Mama jika menikah dengan papanya Sabda adalah yang terbaik untuk Mama."


"Tapi, Aruna yakin Mas Sabda adalah prioritas Mama." sela Aruna untuk mengalihkan rasa bersalah Rosa pada keluarganya.


"Iya, Sabda adalah prioritas Mama. Hanya saja Mama tidak menyadari apa yang dibutuhkan seorang anak. Mama terlalu lengah untuk mengejar materi." jelas Rosa.


Ponsel Aruna berdering di sela obrolan santai mereka di pagi itu. Nama Sabda akhirnya muncul dalam layar benda pipihnya. Aruna langsung tersenyum menyambutnya.


"Assalamu'alaikum, Mas." sapa Aruna, wanita itu langsung tersenyum ceria.


"Mas kangen, Run." ujar Sabda seminggu jauh dari istrinya dan berada di pedalaman membuat Sabda sangat merindukan istrinya.


"Tapi, di jawab dulu salamnya, Mas." protes Aruna.


"Hehehe waalaikumsalam, Sayang. Apa kabar dedek bayi?" tanya Sabda. Suaranya membuat hati Aruna yang sudah merindu menjadi basah.


"Baik, Mas. Tapi, kenapa baru menelpon?" tanya Aruna.


"Mas, di pedalaman banget ya?" tanya Aruna begitu penasaran.


"Iya, tapi tempatnya bagus, Run. Di sini juga ada kotanya meski harus menempuh perjalanan dua jam untuk sampai di sana. Nanti kalau Mas sudah mempersiapkan semuanya Mas akan bawa kamu ke sini." ucap Sabda.


"Apa itu artinya Mas lama di sana?" sela Aruna, suaranya terdengar berat. Meskipun pernah terluka karenanya, tapi hatinya masih terikat pada lelaki yang sedang menelponnya.


"Iya, ternyata proyeknya Mama banyak masalah. Belum lagi bentrok dengan penduduk setempat." jawab Sabda.


Obrolan mereka terputus kembali oleh signal. Aruna hanya bisa mendesah dan spontan mengelus perutnya karena tendangan si kecil di dalam sana.


"Sial!" umpat Sabda masih menaik-naikkan posisi ponselnya.

__ADS_1


"Kenapa, Pak Sabda?" tanya Nanang melihat Sabda yang penuh emosi. Dia juga baru selesai melakukan panggilan dengan kekasihnya.


Sabda menuruni tangga dan menghampiri Nanang yang ada sudah berada di bawah. Situasi seperti ini membuat Sabda sangat muak. Disaat kangen- kangennya sama istri harus terputus oleh signal yang nggak jelas.


"Masih kangen istri malah signal ilang lagi, bikin greget saja." keluar Sabda membuat Nanang terkekeh menanggapi.


"Apalagi saya, Pak. Kalau putus komunikasi takut pacar di tikung orang." sambung Nanang. Lelaki itu Asisten Sabda yang baru.


"Wah, kenapa nggak dinikahin dulu saja?" goda Sabda sambil menepuk lelaki punggung lelaki itu.


"Waduh, cari modal buat nikah dulu, Pak." sambut Nanang dengan suara lemah. Lelaki itu sedang mengejar karir diusianya yang masih terbilang muda.


Sabda dan Nanang kembali berjalan menuju pemukiman sementara dan cukup sederhana.


"Kenapa, Pak Sabda tidak tinggal di kota saja? Pak Sabda bisa memantau dalam waktu- waktu tertentu." ucap Nanang yang merasa heran, biasanya bos besar hanya terima bersih berbeda dengan Sabda yang langsung terjun ke lapangan.


"Ini pertama kalinya aku menangani proyek. Jadi aku masih banyak belajar. Lagi pula masalah di sini terlalu banyak. Mana bisa aku leha- leha, Nang." jelas Sabda membuat Nanang semakin mengagumi Sabda sebagai sosok yang cerdas dan totalitas.


Sebuah mobil fortuner terparkir di depan pemukiman mereka. Sabda dan Nanang mempercepat langkah mereka menemui tamu yang sudah mereka tunggu.


"Selamat sore, Pak Arslan." sapa Sabda pada lelaki yang beberapa tahun di atasnya. Dia adalah Arsitek pada proyek yang sedang ditangani Sabda.


"Selamat sore, Pak Sabda. Bagaimana, betah tinggal di sini?" tanya Arslan dengan begitu ramah.


Sementara wanita di samping Arslan memperhatikan Sabda dengan begitu seksama. Alena, dia adalah istri Arslan yang kebetulan ikut bersama Arslan. Alena sebenarnya juga seorang Arsitek, tapi untuk saat ini Arslan memintanya fokus menjadi ibu rumah tangga.


"Kenalkan, dia Alena istri saya." Arslan memperkenalkan Alena.


"Alena." wanita dengan rambut sepinggang itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum.


"Sabda." sambut Sabda dengan menelangkupkan kedua tangannya di dada.

__ADS_1


Kesalahan masa lalu membuat Sabda belajar dan mengerti, bagaimana bersikap pada lawan jenis, atau yang bukan mahram.


Alena menarik tangannya, wanita itu terlihat salah tingkah. Tapi, ada kekaguman yang terpancar pada tatapannya untuk Sabda. Sosok yang tampan dengan gaya metropolis tapi begitu berhati-hati dalam menjaga sebuah pergaulan. Hal itu membuat karakter Sabda begitu menarik di mata Alena.


__ADS_2