
Sabda meletakkan ponselnya setelah melihat Aruna masuk dan berjalan ke arahnya. Dia menatap istrinya dengan tajam, rasanya gemas sekali mendengar semua obrolan wanitanya dengan tetangga baru.
"Mas Sabda nanti pergi ke kantor mana?" tanya Aruna kemudian duduk di depan suaminya yang masih menatapnya.
"Kenapa?" tanya Sabda dengan ekspresi yang cukup datar.
"Nggak apa- apa, sih. Cuma nanya saja." jawab Aruna kemudian mengambil gelas susunya dan menyesap isinya hingga tinggal separo.
"Mas ke showroom pusat, soalnya ada salah satu sales yang mendapatkan masalah penjualan." jelas Sabda.
"Faktur pembelian udah dikeluarkan, tapi ternyata ada pembatalan dari pihak customer." lanjut Sabda dia baru saja mendapatkan telpon dari kantor. Meskipun, itu tanggung jawab sales marketing tapi dia juga berusaha membantu agar mobil dapat terjual sesuai aturan tanpa merugikan karyawannya.
"Oh ya, Sayang. Tolong dong, bayarin tagihannya yang menggunung, Mas." ucap Sabda saat mengambil cangkir kopinya dan menyesapnya sambil melirik istrinya yang sedang tersenyum meringis.
"Eh, itu si... " Aruna mulai salah tingkah.
"Maaf, Mas! Tapi gadis itu sepertinya suka sama, Mas." lanjut Aruna wajahnya terlihat memerah, takut Sabda sudah tersinggung karena mendengar percakapannya bersama Litta.
"Mas sih nggak peduli! Yang penting kamu bisa nerima Mas apa adanya, meskipun tagihan menggunung dan sedikit jorok." ujar Sabda membuat Aruna hanya terkekeh. Dia merasa tidak punya kalimat pembelaan lagi.
"Maaf, aku bukan bermaksud memfitnah atau membuat aib. Tapi, aku maksudnya baik, kok!" jelas Aruna sambil melihat Sabda, seolah menjelaskan pada lelaki itu jika dirinya bicara tentang niatnya.
"Iya, Mas mengerti, Sayang. Tapi, untuk peredam suara di kamar itu untuk kamu buka untuk Mas, agar Ah, Uh- nya nggak heboh sampai di luar." ujar Sabda sambil tersenyum jail. Seketika wajah Aruna memanas, Sabda berhasil membalasnya.
Obrolan mereka terjeda, saat sebuah mobil sedan berhenti di depan rumah mereka. Keduanya melihat mobil yang mana, Mama Rosa keluar dari dalamnya.
"Mama... " Aruna dan Sabda beranjak dari duduknya untuk menghampiri Mama Rosa yang datang dengan membawa tas yang bersisi makanan.
"Mama bawa makanan. Ini masakan Mama sendiri, lo!" ucap Rosa setelah anak menantunya menyambut kedatangannya.
Mereka akhirnya memutuskan masuk! Aruna mulai mengambil piring dan menatap oleh-oleh yang dibawa oleh mertuanya, "kebetulan kami belum sarapan, Ma." ucap Aruna.
"Mama sengaja ke sini pagi agar bisa sarapan bersama kalian." jawab Rosa. Rosa dan Sabda sudah siap duduk di kursi meja makan.
__ADS_1
"Tapi, kamu doyan kan, asem - asem iga sapi?" tanya Rosa. Dia hanya tahu Aruna tidak terlalu rewel soal makan.
"Doyan, Ma. Alhamdulillah, nggak terlalu rewel." ujar Aruna dia pun sudah siap duduk di antara suami dan mertuanya.
Mereka menikmati sarapan pagi dengan tenang. Tidak ada yang bicara sebelum makanan mereka habis. Aruna terlihat sangat menikmati sarapannya kali ini, hingga Sabda yang melihatnya tersenyum. Wanitanya terlihat begitu lahap memakan masakan mamanya.
"Apa kabar cucu Mama, Run?" tanya Rosa.
"Baik, Ma. Sangat Aktif, semua anggota tubuhnya udah lengkap." ujar Aruna kemudian meminum air putih setelah menghabiskan makanannya.
"Kata dokter cewek, Ma!" sahut Sabda membuat Rosa tersenyum. Bagi wanita setengah baya itu tidak masalah apapun jenis kelaminnya.
"Oh ya kamu sudah siap berangkat, kan? Arsiteknya sudah menunggumu di sana!" ujar Rosa. Dia tidak ingin Sabda menunda lagi karena semakin cepat selesai akan lebih baik.
"Iya, Ma. Sabda sudah bilang sama Aruna." ujar Sabda dengan menatap Aruna.
"Maafkan Mama, Run!" ucap Rosa dengan menggenggam tangan Aruna. Dia merasa bersalah pada Aruna karena seharusnya Sabda menjadi suami siaga.
"Aruna ngerti, Ma." ujar Aruna sambil tersenyum.
###
Semalam Mama Rosa menginap di rumah Sabda. Wanita itu kini menikmati secangkir teh dengan melihat ikan- ikan yang berlari kesana - kemari di belakang rumah Aruna.
Taman rumah Sabda yang terletak di rooftop dan tidak ada lift membuat Rosa enggan untuk naik di atas. Beliau memilih duduk santai di belakang rumah Aruna yang sekarang sudah diberi pintu penghubung antara kedua rumah itu.
"Ma, Aruna akan menyiapkan keperluan Mas Sabda dulu!" pamit Aruna, dia akan mengemas sebagian barang Sabda.
Aruna berjalan menuju rumah utama yaitu rumah milik Sabda. Di sana terlihat Bu Ninik sedang membersihkan dapur. Aruna berjalan mendekat ke arahnya.
"Bu Ninik." panggil Aruna.
"Iya, Mbak. Ada apa ya?" Wanita berumur empat puluh lima itu berjalan mendekat ke arah Aruna.
__ADS_1
"Selama Mas Sabda dinas di luar, Bu Ninik mau menginap di sini?" tanya Aruna saat wanita itu berdiri di depannya.
"Emmm, iya mau, Mbak. Tapi, jika ada waktu senggang saya boleh pulang sebentar?" Wanita itu kemudian balik bertanya pada Aruna. Jika menolak Aruna dia pun merasa sungkan, Sabda dan Aruna sudah sangat baik.
Bertahun-tahun dia sudah bekerja paruh waktu pada Sabda. Dari suaminya yang sakit-sakitan hingga sudah tiga tahun suaminya meninggal. Jadi enggan bagi Bu Ninik menolak permintaan Aruna.
"Si Dito dibawa ke sini juga nggak apa- apa, Bu. Bu Ninik bisa menempati rumah sebelah." sambut Aruna kemudian.
"Dito sekarang sudah besar Mbak Runa, sudah SMP jadi saya tidak repot untuk menyiapkan keperluannya, lagi pula di rumah dia bisa menemani si mbahnya." jelas Bu Ninik. Dulu dia memilih bekerja paruh waktu selain permintaan Sabda, dia juga harus masih mengurus suami yang sakit dan anaknya yang masih kecil.
"Terima kasih, Bu Ninik. Ini nanti dibawa pulang, ya! " Aruna menepuk bungkusan plastik hitam di atas meja yang ada di sebelahnya.
"Terima kasih, Mbak." jawab Bu Ninik merasa senang. Aruna memang sering memberikan makanan dan kadang menyelipkan pakaian untuk dirinya atau untuk Dito. Hal itu membuat Bu Ninik merasa tidak bisa untuk menolak keinginan Aruna.
Aruna masuk ke dalam kamar, dia menurunkan koper besar untuk di isi dengan keperluan Sabda yang sudah dicatatnya. Dia memang mengingat berlahan apa yang di perlukan Sabda dan mencatatnya agar tidak ada yang terlewatkan.
Ponsel yang terus bergetar membuat Aruna bangkit. Aruna meraih ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur dan melihat nomer asing yang sedang menelpon.
"Assalamu'alaikum, siapa ya?" tanya Aruna ketika mengangkat teleponnya.
"Waalaikum salam, aku Aninditha. Bisakah kita bertemu sekarang?" jawab suara di seberang. Seketika Jantung Aruna berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
"Ada apa? Bukankah, kita tidak ada urusan?" Aruna berusaha menolak sehalus mungkin.
"Ada yang harus kamu tahu, aku dan Mas Sabda masih sering bertemu? Dan aku pikir kamu perlu tahu itu." jawab Aninditha. Kalimatnya seperti kembali mencabik- cabik perasaan Aruna.
"Berhentilah untuk memprovokasiku, biarkan aku dan Mas Sabda hidup tenang. Aku tidak peduli dengan kalian. " jawab Aruna dengan menekan suaranya agar tidak bergetar.
"Benarkah tidak peduli? Aku hanya tidak ingin kamu terlalu bodoh bertahan dengan seseorang yang masih menginginkan wanita lain. Jika kamu tak percaya, aku akan mengirimkan beberapa bukti." ujar Aninditha. Dari suaranya dia merasakan suara Aruna yang tertahan.
Aninditha memutuskan sepihak panggilannya. Dia kembali mengirimkan beberapa fotonya saat bersama Sabda dan mengirimkan sebuah pesan.
[ Jika masih mau menemuiku datanglah ke kafe ' Kayangan' saat ini]
__ADS_1
Wanita yang kini tersenyum jahat itu memang sudah berjanji. Jika dia tidak bisa mendapatkan Sabda, maka tidak akan membiarkan wanita lain memilikinya.