
Akhirnya Aruna mengikuti keinginan Sabda. Gadis itu hanya mengenakan sweeter untuk merangkapi piyama yang kini dia kenakan, sedangkan Sabda mengenakan body hitam dan celana pendek. Mereka berjalan menelusuri trotoar di sepanjang jalan depan rumah Aruna.
"Kenapa kamu menangis?" tanya Sabda dengan melirik Aruna yang terus saja menunduk.
"Aku tidak menangis." jawab Aruna padahal sudah jelas, Sabda melihat Aruna menghapus air matanya setelah keluar dari kamar Mama Hesti. Gadis itu memang selalu bisa menutupi kesedihannya.
Mendengar jawaban bohong Aruna membuat Sabda tersenyum, kemudian menggenggam erat tangan Aruna dan kembali berjalan dengan santai. Dia tidak akan memaksa Aruna untuk cerita.
Mereka duduk di sebuah bangku panjang di dekat beberapa pedagang makanan yang mangkal. Kota ini memang tidaklah seramai kota mereka tinggal, tapi cukup tenang untuk menjalani kehidupan.
"Kami punya cerita masa lalu keluarga kami yang cukup rumit." ucap Aruna, suaranya terdengar berat dengan tatapan menerawang lurus ke depan.
Sabda menggenggam tangan Aruna yang terasa dingin. Dia ingin sekali menenangkan gadisnya itu.
"Mama Hesti, adalah mama tiriku." lanjut Aruna.
"Sebaiknya kita berfikir tentang masa depan. Jangan terlalu menoleh ke belakang." sela Sabda, dia mencoba mengalihkan pembicaraan yang membuat gadisnya merasa sedih.
"Aku ingin bulan depan kita menikah. Sebenarnya aku ingin kita menikah dengan cara sederhana, tapi Mama memintaku agar pernikahan kita, beliau yang urus." Mendengar kalimat Sabda, Aruna sedikit tersentak, dia tidak menyangka Sabda menginginkan pernikahan mereka dilakukan secepat itu.
"Kalau nanti, mereka mengira aku sudah hamil, bagaimana?" tanya Aruna kembali meyakinkan Sabda. Sebulan sepertinya cukup singkat untuk mempersiapkan segalanya.
" Hanya prasangka, dari pada benar benar aku hamilin duluan?" goda Sabda membuat Aruna mencubit perut kerasa milik lelaki yang duduk di sebelahnya.
Sabda tergelak, kemudian merangkul Aruna untuk bersandar di lengannya, "Aku sudah sangat mengenalmu, tapi kamu belum mengenal sisi nakalnya seorang pria. Jadi lebih baik kita segera menikah." Selama ini Sabda mengenal Aruna yang terlalu naif dan belum mengenal seperti apa nakalnya seorang laki-laki.
"Aku ikut keluarga pihak cowok saja." Aruna tersenyum menatap mata tajam yang kini tak lepas untuk memperhatikannya.
Mereka menikmati bakso bakar sambil kembali berjalan pulang. Sabda memang memilih bakso bakar, karena sempat melihat banyaknya pembeli yang antri.
"Enak juga ya?" ujar Sabda setelah menghabiskan satu tusuk.
__ADS_1
"Itu dari aku masih SMA sudah jualan, Mas. Cuma aku jarang beli." jawab Aruna yang sedang menikmati bakso bakar legendaris, yang dulu sering dia nikmati bersama Tita sepulang dari bimbingan belajar.
"Masak? Kamu sering belinya sama siapa?" selidik Sabda.
"Bareng Tita, sahabatku yang lusa tunangan itu."
"Tapi, kadang... juga ditraktir Mas Abi." lanjut Aruna membuat Sabda menoleh dan menghentikan langkahnya.
"Abimana si sipit itu? Kok bisa?" Wajah Sabda mulai menegang. Tapi dia begitu penasaran, kenapa harus ada Abimana. Tapi Aruna mulai menarik tangan Sabda untuk kembali berjalan.
"Loh Mas Abi kan, dulu sekolah di sini. Kita satu sekolah, cuma dia kakak kelasku Dua tingkat."
"Eyangnya Mas Abi asli sini. Jadi saat kuliah, dia juga sering pulang ke sini."
"Pasti ingin ngapelin kamu, kan?" sela Sabda begitu tidak sabar dengan penjelasan Aruna.
"Bukanlah, Mas. Tentu saja menjenguk eyangnya, tapi karena kita sudah jadi teman baik, dia selalu mentraktir kami, aku dan Tita saat pulang libur semester kuliah." jelas Aruna.
"Kalau cemberut nanti banyak kerutan di wajah loh, Mas." Goda Aruna membuat Sabda menghela nafas panjang. Berusaha tenang tapi wajah dingin itu tidak bisa membohongi jika hatinya sedang menahan cemburu.
Malam yang cukup cerah dengan angin yang bertiup dengan lembut, mereka berjalan menuju rumah berlantai dua itu. Setelah menghabiskan waktu sebentar di luar rumah membuat Aruna merasa lebih baik.
###
Aruna masih menata beberapa barang yang akan dia bawa balik ke rumah. Sejenak, dia menatap isi kamar yang dulu menjadi saksi kegalauannya menghadapai semua masalah yang menimpa diri dan keluarganya.
"Tok.. tok... Sayang!" Suara bariton itu membuat Aruna menoleh ke arah pintu.
Terlihat Sabda berdiri di depan pintu yang tidak sepenuhnya terbuka. Melihat Aruna tersenyum membuat Sabda melangkah masuk.
"Kita akan berangkat sekarang, ya! Nanti sore aku ada janji dengan pihak finance." ujar Sabda yang dijawab dengan anggukan Aruna. Gadis bermata bulat itu memang sudah siap.
__ADS_1
"Waahhh... imut sekali gadis kecil itu." ucap Sabda, tatapannya tertuju pada sebuah foto yang menggantung di dinding.
"Cantiklah, Mas. Itu kan, Aku." sahut Aruna dengan mengikuti tatapan lelaki yang kini berada di sebelahnya.
"Masak si? Tapi, benaran kok, lebih manis gadis kecil itu." Tidak ada sahutan dari Aruna, membuat Sabda memindahi tatapannya pada wajah yang sudah cemberut.
"Coba sini, Mas lihat! Sama nggak hidungnya, matanya sama bibirnya." lanjut Sabda. Dia menatap foto di dinding dan wajah Aruna bergantian. Bukannya tidak percaya, tapi Sabda hanya menggoda Aruna.
"Mas Sabda... " Aruna mendorong lelaki bertubuh atletis itu dengan kuat, karena wajah Sabda yang semakin mendekat ke wajahnya. Wajah dengan bulu- bulu halus itu hanya berjarak begitu tipis dengan wajah Aruna membuat gadis itu merasa insecure.
"Ayo kita berangkat sekarang." ucap Aruna dengan memalingkan wajah. Sabda tersenyum.
Melihat Aruna akan membawa tas pakaian keluar kamar, Sabda langsung mengambil alih. Keduanya menuruni tangga dan di sambut Mama Hesti yang sudah berdiri di bawah tangga.
"Kalian sarapan dulu! Mama sudah siapkan."ucap Hesti, dia memang akan menghampiri Aruna dan Sabda ke atas.
"Apa Mama, ikut kami saja?" tawar Aruna.
"Jangan khawatir penghasilan Aruna bisa mencukupi kebutuhan kita, kok!" lanjut Aruna saat mereka berjalan ke meja makan..
"Mama percaya padamu. Tapi Mama lebih tenang berada di rumah ini." jawab Hesti mereka mulai sarapan.
Sarapan yang sangat awal, karena jam menunjukkan pukul lima pagi. Mereka memutuskan pulang secepatnya karena Sabda dan Aruna hari ini sudah ada janji dengan beberapa orang.
"Minggu depan kami ke sini lagi bersama Mama, Tan." ujar Sabda membuka pembicaraan.
"Mama akan senang menyambut kedatangan kalian. Yang penting jaga putri Mama. Jangan sakiti perasaannya. Dia milik Mama satu-satunya." pinta Hesti pada Sabda.
"Panggil Mama saja." lanjut Hesti. Niatnya ingin memberikan surat- surat berharga pada Aruna, tapi masih diurungkannya. Dia akan memberikannya nanti sebagai hadiah pernikahan.
Setelah menyelesaikan sarapan mereka memang memutuskan untuk berangkat. Aruna memeluk Mama Hesti, membuat wanita itu membisikkan wejangan untuk hati- hati dan menjaga diri.
__ADS_1
Sedan mewah berwarna hitam itu meluncur keluar halaman, Aruna melihat wanita yang melambaikan itu terlihat dari spion. Tiba - tiba rasa tidak tega membuat hatinya gelisah. Dia mulai menyadari rasa sayangnya pada wanita yang belasan tahun sudah menjaga dan mendidiknya itu.