Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Patah Hati


__ADS_3

"Abi, bukankah Mariska sudah minta maaf? Wajar saja jika dia marah. Dia sangat mencintaimu, Bi." ujar Mama Nuri dengan mengejar Abimana hingga keluar menuju parkiran.


"Mama bilang wajar? Seumpama, Aruna bukan gadis yang Abi cintai itupun tidak seharusnya, Mariska membuat masalah di acara pesta orang lain." jelas Abi, dia merasa heran dengan apa yang dipikirkan mamanya. Masih saja membenarkan apa yang dilakukan gadis itu.


"Dia hanya mencintaimu, Bi. Mama yakin bukan maksud Mariska untuk mengacaukan pesta seseorang." bela Nuri, dia masih saja tidak terima Abimana menyalahkan gadis pilihannya itu.


"Susah ngomong sama, Mama." Abimana langsung masuk ke dalam mobil dan menunggu mamanya juga masuk. Belajar dari banyak hal, Abimana sekarang lebih tegas dengan mamanya.


Anak dan Ibu memang sengaja berangkat bersama. Nuri datang ke acara Tita karena undangan orang tua Tita sedang Abi memang berteman dengan Tita.


Nuri memang berencana mengajak pulang bersama Mariska, setelah pesta usai. Tentu saja, itu hanya alasan Nuri agar Abimana dekat dengan gadis yang merupakan putri dari salah satu pejabat di kota ini.


"Kasian Mariska, Bi. Karena Jeng Rosa, Mariska dipojokkan banyak orang." lanjut Nuri sebelum Abimana menghidupkan mesin mobilnya. Nuri memang tidak bisa menekan putranya setelah apa yang terjadi, tapi dia masih ingin berusaha membujuk Abimana untuk bisa menerima Mariska.


"Abi sudah tidak peduli, Ma." Abimana kemudian melajukan mobilnya untuk mengantar Mama Nuri kembali ke rumah.


Hening, di dalam mobil sudah tidak ada yang yang mengeluarkan sepatah kata pun. Meskipun putranya memang terkesan kalem, tapi Nuri mengerti bagaimana keras kepalanya Abimana.


Abimana terdiam dengan sejuta kegelisahan. Dia tahu, siapa lelaki yang menggandeng Aruna dengan batik couple. Ah, sekali lagi perasaannya semakin tak karuan. Pikiran buruk semakin membuatnya tidak bisa fokus lagi. Dia harus segera bertemu Aruna dan memperjelas semuanya.


###


Mereka menghabiskan sedikit waktu untuk bersantai dan makan sore (karena Sabda dan Aruna memang belum makan siang). Setelah ketegangan yang terjadi, Sabda memang ingin membuat Aruna melupakan sejenak kejadian yang mungkin membuatnya shock. Apalagi mereka memang tidak ada waktu untuk yang namanya berkencan.


"Kayaknya kita salah kostum, Mas. Kita dilihatin banyak orang karena pakaian kita yang mungkin aneh." ujar Aruna yang semakin tidak nyaman. Keduanya sedang menghabiskan waktu untuk melihat senja di sebuah pelabuhan.


Sabda hanya tersenyum menanggapi Aruna. Gadis di depannya membuat lelaki yang memang irit bicara itu tidak ingin menikmati apapun kecuali kecantikan Aruna.

__ADS_1


Senja yang begitu indah dan tiupan angin yang terasa kencang tidaklah membuat Sabda terbuai. Hanya Aruna. Gadis yang dapat mengalihkan dunianya.


"Cantik." gumam Sabda sambil menatap Aruna begitu dalam.


Aruna yang mendengar samar gumaman Sabda langsung menghentikan sendokan es creamnya. Kemudian menatap tajam Sabda seolah bertanya tentang apa yang baru saja dikatakan lelaki di depannya.


"Mas, tadi ngomong apa?" Akhirnya Aruna pun bertanya ketika hanya mendapatkan jawaban senyum dari bibir tipis Sabda.


"Nggak ada, Senjanya cantik." lanjut Sabda membuat Aruna hanya manggut-manggut mengiyakan dan kembali menghabiskan es creamnya.


"Kamu senang, Run?" tanya Sabda masih menatap lekat gadis di depannya.


"Senang. Dari dulu, sebenarnya aku pernah ingin kencan seperti remaja pada umumnya. Tapi, aku takut pacaran, takut jatuh cinta dan aku takut dikhianati." ucap Aruna. Dia meletakkan mangkuk es creamnya dan kemudian menoleh ke arah laut.


"Jadi kamu memang belum pernah pacaran?" Pertanyaan Sabda hanya dijawab Aruna dengan anggukan.


"Ayuk, kita pulang! Udara semakin dingin." Sabda beranjak dari duduknya, sedangkan Aruna masih menatapnya seolah dia masih betah meski angin semakin kencan.


"Keburu malam. Aku nggak mau, kamu sakit!" Sabda menggenggam tangan Aruna, keduanya berjalan menuju mobil yang terparkir beberapa meter dari tempat mereka makan. Bersama Aruna, gaya pacaran Sabda memang beda, dia tak bisa melakukan banyak hal seperti yang biasa dia lakukan bersama kekasihnya yang dulu- dulu.


"Sabda megantara, aku semakin yakin dengan pilihanku. Mungkin, inilah yang namanya jodoh. Allah membuat keyakinan hatiku, tatkala aku bimbang dengan hubungan yang belum lama ini. Pernikahan bagiku tidak hanya sekedar cinta, tapi juga memilih lelaki yang tepat." Aruna bermonolog dengan perasaannya.


Mata bulat dengan bulu lentik itu terus menatap Sabda yang berjalan di sebelahnya, lelaki itu meneluspkan jari jemari besarnya dan menggenggamnya dengan begitu erat.


Tatkala Sabda meliriknya, Aruna membalas dengan senyum dan binar bahagia, hingga bibir Sabda menampakkan senyum tipis. Mereka memutuskan untuk pulang dan berlahan meninggalkan pelabuhan.


Sore ini seperti milik keduanya, Sabda sempat menghentikan mobilnya di sebuah masjid yang sebenarnya tidaklah jauh dari komplek perumahan mereka, itu karena Aruna merengek takut batas waktu untuk Salat Magrib.

__ADS_1


Setelah Salat Magrib dengan tenang Sabda kembali melajukan mobil hingga memasuki gang dimana rumahnya berada. Perjalanan yang sungguh menyenangkan karena bisa mengembalikan senyum sang bidadari.


Sebuah Pajero putih sudah terparkir di depan rumah Aruna. Dan pemiliknya pun masih berdiri dengan bersandar di badan mobil. Wajah Abimana terlihat lesu, bahkan semburat rasa gelisah tidak bisa lagi dia tutupi.


"Mas, beri aku kesempatan untuk bicara dan menyelesaikan semuanya dengan Mas Abi." pinta Aruna saat melihat Sabda menatap tajam Abimana.


Kehadiran Abimana membuat Sabda tidak senang. Dia memang percaya dengan Aruna, tapi bagaimana pun Abimana sosok yang tidak bisa di sepelekan oleh Sabda.


"Jangan terlalu lama dan seperlunya." ucap Sabda penuh dengan penekanan. Sabda memang terlalu posesif.


"Iya, Mas. Terima kasih, sudah percaya padaku." Setelah mengucapkan itu, Aruna kemudian turun dari mobil Sabda. Meski begitu Sabda belum ingin beranjak. Dia masih mengamati Aruna hingga sang kekasih mempersilahkan rivalnya masuk dan duduk di teras rumah.


Sementara itu di teras mungil yang dihiasi tanaman anggrek Abimana dan Aruna duduk berhadapan. Bagi keduanya memang susah untuk memulai pembicaraan. Keduanya mulai terlihat sangat canggung.


"Run, aku ingin minta maaf atas kejadian di pesta Tita."


"Kami tidak jadi bertunangan, Mariska hanya omong kosong." lanjut Abimana. Dadanya berdebar kencang yang akan melanjutkan kalimat selanjutnya.


"Tidak apa- apa, Mas. Semoga kedepannya baik- baik saja." balas Aruna.


"Lagi pula, aku memang tidak merebut Mas Abi. Dan InsyAllah bulan depan aku akan menikah, Mas. Jadi, itu hanya prasangka Mariska saja dan semoga tidak berpengaruh untuk kedepannya." ucap Aruna dengan begitu lancar, bebannya terasa terangkat sudah meski awalnya dia kesulitan untuk memulai mengatakannya. Tapi, kejadian di pesta Tita membuatnya yakin akan keputusan untuk mengatakan sebenarnya pada Abi.


"Run... kamu bohong, kan? Apa kamu sudah mengenalnya dengan pasti , Run?" Sebenarnya apa yang dikatakan Aruna bukanlah hal yang meleset dari perkiraannya. 'Menikah' Abimana hampir tidak percaya saja jika akan dilakukan Aruna secepat itu dengan orang yang baru dikenalnya.


"Iya, Mas. Maafkan aku!" lirih Aruna. Dia tak mampu menatap mata sendu Abimana, mata yang biasa terlihat lembut itu terlihat berkaca -kaca.


Betapa hancurnya Abimana mendengar semua itu. Jiwanya seolah meninggalkan raga setelah mendengar pengakuan Aruna. Aruna gadis yang dia puja dan dia cintai selama bertahun-tahun.

__ADS_1


__ADS_2