
Anindhita masih menjelaskan beberapa hal tentang profit yang bisa diberikan oleh Bank untuk kantor showroom. Sebagai kepala cabang, Royan pun hanya memperhatikan dan mengawasi beberapa penjelasan dari Aninditha untuk memberikan masukan jika ada celah yang masih kurang jelas.
Tentu saja membawa Anin bagi Royan mempunyai beberapa alasan. Selain punya kemampuan diplomasi yang cukup bisa diandalkan, Royan juga sempat mendengar desas-desus hubungan wanita simpanannya itu dengan Sabda.
"Baiklah, nanti saya akan bicarakan lagi dengan staf dan pemegang saham di kantor ini." sambut Sabda, dia tidak masih harus mencari perbandingan lagi.
Sejak tadi, Sabda hanya sibuk memperhatikan file dan mendengarkan penjelasan Anindhita. Lelaki itu sangat enggan menatap sosok yang berdiri di dekat proyektor itu.
"Baiklah, saya harap Pak Sabda mempertimbangkan tawaran yang cukup menguntungkan dari kami." sambut Royan, membuat Sabda tersenyum dan menoleh pada lelaki paruh baya itu.
Meeting yang mereka adakan memang tak se-formal biasanya tapi mereka berharap mendapatkan kesepakatan yang terbaik bagi keduanya.
Setelah meeting ditutup Andrean pamit terlebih dahulu karena sudah ada janji dengan Rosa, tapi kali ini pertemuan lelaki itu dengan tantenya, dia rahasiakan dari Sabda.
"Saya dengar Pak Sabda sedang mencoba usaha di bidang yang berbeda?" Royan mulai berbasa-basi setelah meeting di tutup.
"Hanya meneruskan saja, Pak! Selebihnya masih di bawah kuasa Mama." jawab Sabda masih merendah. Padahal, Rosa sudah mempercayakan semua pada dirinya.
"Masih muda tapi ngoyo sekali Pak Sabda ini. Nggak apa- apa, kan sesekali bermain- main, untuk hiburan sejenak." celetuk Royan. Mendengar ucap Royan, Sabda merasa tidak senang.
"Bermain - main katanya? Permainan macam apa itu? Yang bisa mengambil semua yang sudah dia miliki." Sabda bermonolog dalam pikirannya.
Sabda menatap Roya tajam, sorot mata tidak suka terlihat jelas di mata Sabda. Iya, jika ingin bermain- main entah sudah berapa banyak wanita yang bisa dia habiskan. Tapi dia tidak melakukannya. Hampir, kehilangan Aruna saja dunianya jungkir balik, banyak kekacauan yang sudah terjadi termasuk kehilangan calon bayinya, hingga dia terus dikejar rasa bersalah jika mengingat semuanya.
"Pak Sabda bukan lelaki seperti, Pak Royan. Dia hanya akan terikat pada satu cinta." sela Anin.
Hidup beberapa tahun dengan Sabda dan bahkan dekat dengannya membuat Anin hafal dengan wajah tidak senang Sabda, saat mendengar kalimat atasannya itu.
__ADS_1
Tapi, dia juga mencari celah untuk memasukkan Sabda dalam umpan cinta yang pernah hadir diantara mereka. Meskipun saat menghabiskan malam bersama, Sabda terus menyebutkan nama Aruna, tapi setelah itu mereka sempat bercumbu dalam keadaan sadar, hal itu yang membuat Anin yakin jika Sabda masih memiliki cinta yang sama seperti dulu.
"Iya, betul kata Bu Anin." jawab Sabda, dia pun bersiap untuk mengakhiri percakapan yang baginya tidak penting.
"Saya sudah sedikit banyak mengenal Pak Sabda. Beliau teman satu kampus saya." lanjut Anin dengan tersenyum semanis mungkin.
"Oh... " ucap Royan kemudian beranjak dari duduknya. Dia sudah mengerti jika Sabda tidak tertarik dengan tawarannya.
"Mari, Pak Royan." Sabda mempersilahkan Royan saat mereka bergegas untuk keluar. Dia tidak perlu menanggapi banyak hal untuk masalah pribadinya.
Aninditha tersenyum tipis. Itu artinya dia masih ada harapan untuk mendapatkan cinta masa lalunya itu. Sabda memang tipe lelaki yang tidak mudah beralih seperti dulu, saat lelaki bertubuh atletis itu selalu mengejarnya. Siapa yang tidak tahu di kalangan teman- temannya bagaimana seorang Sabda Megantara memujanya?
Mereka bertiga berjalan menuju lantai dasar. Anin yang berjalan di belakang terlihat menundukkan wajahnya yang tengah tersenyum, sebagian rambut panjangnya menutup wajah putihnya yang tengah merona. Wanita itu seolah kembali menjadi Anin yang dulu, mengingat dirinya masih menjadi kekasih Sabda.
"Terima kasih untuk kesempatan yang diberikan kepada kami, Pak Sabda. Kalau begitu, kita pamit dulu!" pamit Royan membuat Anin mengakhiri bayangan masa lalunya.
###
"Assalamu'alaikum... " Sabda mengucap salam saat masuk ke dalam rumah. Sepulang dari Salat Isya lelaki di masjid Sabda langsung menghadiri undangan Pak Azam untuk membahas yayasan pendidikan taman Al-qur'an. Sabda memang bukan pengelola, tapi sebagai donatur tetap, orang-orang yayasan mengundangnya sebagai tamu.
"Run... Aruna." panggil Sabda saat suasana rumah terasa sepi. Lelaki itu berlari menaiki tangga, mencari keberadaan istrinya.
Di bukanya pintu kamar, hingga melihat istrinya sudah tertidur pulas di sofa. Tubuh mungil itu terlihat begitu nyaman meringkuk di sofa berukuran panjang.
Sabda tertegun menatap wajah tenang istrinya sambil membuka kancing baju koko yang kini dia kenakan. Aruna memang masih muda, selisih umur sepuluh tahun membuat perbedaan yang terlihat begitu jelas. Tapi, tidak ada yang menyangka jika wanitanya bisa sedewasa itu menanggapi permasalah yang melanda di awal pernikahan mereka.
Aruna mengerjapkan mata saat Sabda mengangkat tubuhnya untuk dipindahkan ke kasur. Dia pun mengalihkan pandangannya pada jam yang menggantung di dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.
__ADS_1
"Mas, baru pulang?" tanya Aruna saat Sabda meletakkan tubuhnya di kasur.
"Iya, kamu tidur saja jika masih ngantuk!" jawab Sabda kemudian mencari kaos rumahan yang ada di lemari.
"Tapi, aku lapar. Sejak tadi, aku sudah menunggu Mas Sabda. Tapi, sekarang aku sudah tidak berselera makan masakanku sendiri, Mas." ujar Aruna membuat lelaki yang sedang menyisir rambutnya itu pun menoleh.
"Terus ingin makan apa?" tanya Sabda sambil meletakkan sisirnya. Dia menghampiri Aruna yang tengah menatapnya dengan begitu lekat.
"Aku ingin makan mangut lele." Mendengar permintaan Aruna Sabda menautkan kedua alisnya. Berharap bukan Mangut lele Mbah Marni karena letaknya yang cukup jauh.
"Aku ingin mangut lelenya Mbah Marni." jawab Aruna dengan tatapan memohon.
"Jam segini sudah tutup, Sayang. Gimana kalau kita ke rumah Mama Minta dibuatkan asisten rumah tangganya Mama, sekalian tidur di sana." tawar Sabda yang dijawab gelengan Aruna. Mata bulat itu masih menatap lekat suaminya, seolah bentuk ungkapan permohonannya.
"Baiklah, kita coba. Tapi, jangan banyak berharap, ya!" Akhirnya lelaki itu beranjak untuk bersiap mencari mangut lele.
"Aku akan dandan dulu, Mas!" ucap Aruna membuat Sabda mendesah. Masih sempatnya Aruna berfikir untuk berdandan lebih dulu.
"Nggak usah dandan juga nggak ada yang nanya, Sayang." jawab Sabda.
"Emang tidak ada yang nanya, tapi banyak yang lihat, Mas! Aku juga harus cantik, mas, meskipun perutnya mulai buncit." jawab Aruna sambil tersenyum. Akhir- akhir ini dia memang senang berdandan.
Sabda menatap Istrinya yang kini sudah mengenakan dress hamil dan wajah yang tidak lupa di make up. Sabda hanya merasa heran, sikap Aruna yang seperti itu memang berbeda. Entah kehamilan atau ada perasaan pernah dikhianati yang membuat istrinya akhir- akhir ini jaga penampilan.
"I love you, Run." Sabda memberikan pelukan tiba-tiba pada istrinya membuat Aruna tersenyum.
"Ayo Mas, keburu malam nanti." sahut Aruna dengan menarik tangan Sabda. Lelaki itu pun mengikuti langkah istrinya dan menatap Aruna dengan tersenyum tipis.
__ADS_1
Aruna begitu bersemangat selain untuk memang menginginkan mangut lele. Wanita hamil itu memang senang sekali jalan- jalan mengelilingi kota.