Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Titik Balik


__ADS_3

Setelah salam terakhir Salat Magrib, keduanya berdoa. Doa yang sama yaitu meminta diberikan jalan yang terbaik untuk semua masalah yang sedang mereka hadapi.


Sabda menoleh ke kanan, dia melihat Aruna yang sedang mengusap air matanya. Mata itu mulai membengkak karena terus saja menangis.


"Maafkan, Mas!" Kalimat Sabda terjeda.


"Kamu boleh menentukan tempat ternyaman jika bersama Mas kamu merasa tertekan dan membuatmu selalu sedih." Dengan berat hati akhirnya kalimat itu meluncur dari bibir Sabda. Rasa bersalah membuatnya tidak tega saat melihat Aruna menangis.


Aruna menoleh ke arah Sabda. Kedua sorot mata yang masih menyisakan cinta yang begitu kuat itu saling tertaut.


Entah apa yang dirasakan Aruna, ketika Sabda mengatakan kalimat itu. Dia merasa ada yang hilang seketika, sesuatu yang tidak terfikir sebelumnya.


Aruna yang semula akan membungkuk untuk mencium tangan Sabda, kini kembali terduduk. Sesekali mengerjapkan mata karena pandangannya yang kabur karena air mata.


"Mas tidak memaksamu, Run! Mas hanya tidak ingin kamu terus terluka seperti ini." ucap Sabda. Banyak yang dikhawatirkan lelaki itu ketika Aruna selalu tertekan. Tidak... dia tidak akan melakukan kesalahan yang sama.


Aruna termenung sejenak, benarkah berpisah dengan Sabda bisa membuatnya bahagia? Bukankah sehancur ini karena cintanya pada lelaki di depannya ini? Bukankah Sabda juga sedang berjuang mempertahankan pernikahan mereka? Pertanyaan demi pertanyaan sedang memenuhi kembali pikirannya.


"Mas, mencintaimu!" Melihat Aruna terdiam dengan air mata yang terus menetes, Sabda mengambil tangan Aruna, menggenggamnya dan menciumnya sebagai ungkapan cintanya yang begitu dalam. Dia tidak ingin Aruna salah faham dengan kalimat sebelumnya.


"Mas ingin kamu bahagia." Lelaki itu memeluk Aruna. Dan aruna kembali terisak, dia masih merasakan pelukan lelaki yang masih bergelar suami itu tetaplah yang paling membuatnya nyaman.


"Jangan menangis, lagi! Mas nggak akan memaksamu!" Sabda mengusap air yang terus membasahi pipi istrinya. Kemudian mengecup kedua mata indah itu dengan begitu lembut.


Sabda kemudian berdiri karena mendengar suara bel terus berbunyi. Dia melangkah keluar.


"Mas... " panggil Aruna. Wanita yang masih mengenakan mukena itu langsung berdiri saat Sabda menghentikan langkahnya.


Aruna berlari menghambur dan menabrak tubuh tegap di depannya. Sabda bisa merasakan pelukan istrinya yang begitu erat hingga lelaki itu membalas dengan mengelus bahu kecil itu.


"Aku akan bertahan semampuku, Mas." ucap Aruna dengan suara lirih. Sabda menautkan kedua alisnya, rasanya tidak percaya dengan apa yang dikatakan istrinya.


Sungguh semua di luar ekspektasi Sabda. Rasa lega yang teramat sangat membuat lelaki itu tersenyum tipis. Sabda pun meregangkan pelukannya dan menatap mata bengkak Aruna.


"Mas, akan buka pintu dulu!" ucap Sabda melabuhkan kecupan kecil di bibir mungil itu sebelum dia kembali melangkah pergi.

__ADS_1


"Kenapa lama buka pintunya?" ucap Mama Rosa saat melihat putranya membuka pintu.


"Habis Salat, Ma." ucap Sabda membuat Rosa kembali mengamati putranya. Rosa memang melihat Sabda masih mengenakan baju koko.


"Kamu tambah ganteng, tapi sayang brewoknya bikin risik." Wanita itu berfikir mungkin air wudhu yang membuat wajah putranya terlihat lebih segar. Keduanya berjalan masuk menuju meja makan.


"Aruna, mana? Mama bawa tengkleng kesukaannya." ucap Rosa.


"Nggak, Ma. Aruna nggak boleh makan itu!" cegah Sabda menutup kembali kotak makanan dan memasukkannya ke dalam. kulkas.


"Kamu hamil, Sayang?" tanya Rosa saat melihat Aruna menuruni tangga. Aruna yang tidak tahu apa-apa hanya menggeleng, kemudian mencium punggung tangan mama mertuanya.


"Nggak, Ma." jawab Aruna begitu yakin karena selama gini mereka menggunakan alat kontrasepsi setiap kali berhubungan.


"Kondisi Aruna tidak stabil, Ma. Takut akan berpengaruh pada tekanan darahnya." sela Sabda. Rosa hanya terdiam, dia kembali menatap Aruna dan mungkin Sabda ada benarnya.


"Lagian aku juga sudah pesan soto tadi, Ma." lanjut Sabda.


"Baiklah kita makan malam saja." ucap Rosa kemudian beliau yang menyiapkan makan malam, dia tidak membiarkan Aruna melakukan apapun.


###


Dia sangat senang saat melihat Zoya datang. Wanita yang baginya begitu inspiratif sebagai seorang istri dan sosok ibu.


Beberapa kali mengobrol dan sempat membawa cucunya yang lucu membuat Aruna tahu kedekatan diantara keluarga mereka.


"Assalamu'alaikum, Bu Zoya." sapa Aruna kemudian menjabat tangan wanita cantik di depannya.


"Waalaikum salam... Mbak Runa. Apa kabar? Kok kelihatan lesu?" sapa Zoya dengan senyum merekah. Dia sebenarnya sempat memperhatikan Aruna yang duduk termenung sendiri di sofa.


"Kabar saya baik."


"Alhamdulillah...semoga selalu diberi keberkahan ya!" jawab Zoya sambil mengelus bahu Aruna dan tersenyum.


Mereka sebenarnya memang sudah sedikit akrab. Zoya, wanita yang paling enak untuk diajak bicara.

__ADS_1


"Tapi, ada yang ingin saya tanyakan sedikit. Apa Bu Zoya punya waktu untuk saya?" Zoya yang pernah cerita sedikit tentang awal pernikahannya dengan Hans dan beberapa skandal yang menimpa keluarga Hans membuat Aruna sangat tertarik.


"Boleh saja, Mbak Runa." jawab Zoya masih dengan senyum ramahnya.


Mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan Aruna. Aruna mulai bercerita tentang persoalan yang sedang melandanya.


"Apa Mbak Aruna mencintai Mas Sabda?" tanya Zoya.


"Iya, Bu. Mas Sabda cinta pertama saya." jawab Aruna. Zoya bisa melihat wanita di depannya menahan tangis saat bercerita tentang hubungannya dengan Sabda.


"Jika sudah memutuskan untuk memperbaiki. Berusaha saja memaafkan dengan ikhlas. Tidak mudah mungkin tapi saya yakin bisa."


"Apalagi Mbak Aruna punya kesibukan seperti di butik dan Mas Sabda sudah berusaha keras untuk memperbaiki semuanya. Saya yakin Mbak Aruna bisa." jelas Zoya. Wanita yang pernah kuliah di fakultas psikologi itu memang paling nyaman saat diajak berbicara.


"Pikirkanlah saja semua ini untuk ibadahnya Mbak Aruna. Lagi pula di luar masih ada wanita yang mendapat perlakukan, sudah dikhianati, dipukuli dan bahkan tidak dinafkahi." kalimat terakhir Zoya membuat Aruna tersadar jika ada kenyataan yang lebih menyakitkan dari masalahnya.


Zoya yang sudah di jemput oleh Hans membuat mereka mengakhiri percakapan. Aruna mengantar Zoya hingga ke depan.


"Terima kasih Bu Zoya." ucap Aruna.


"Sama- sama, Mbak Runa." jawab Zoya.


Setelah kepergian Zoya terlihat Sabda keluar dari mobil yang sudah terparkir di depan butik Aruna. Lelaki itu kemudian menghampiri istrinya.


"Aku akan mengambil tas dulu, Mas." ucap Aruna kemudian melangkah masuk terlebih dahulu dan di susul Sabda.


Aruna menghampiri Sabda yang masih berdiri diantara jajaran etalase setelah mengambil tasnya.


Kemudian, Sabda menggandeng tangan Aruna menuju mobil parkir di pinggir jalanan. Dia bisa melihat Aruna yang sudah bisa tersenyum lepas.


"Kita kemana?" tanya Sabda saat sudah duduk di belakang kemudi.


"Pulang saja, Mas. Aku ingin bikin kue atau apalah yang bisa membuatku lebih baik." ucap Aruna.


"Baiklah..." ucap Sabda dengan mengusap kepala Aruna. Dia akan membiarkan Aruna untuk melakukan apa saja yang saat ini membuatnya jauh lebih baik.

__ADS_1


"Buatkan Mas kue terenak ya!" pinta Sabda saat mengemudikan mobilnya kembali.


"Aku kan baru mulai mencoba, Mas. Jangan berharap kuenya akan enak." jawab Aruna membuat Sabda terkekeh. Dia memang tidak pernah bermain dengan tepung dkk. Tapi, dia butuh sesuatu yang ringan dan tanpa target.


__ADS_2