Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Terkesima


__ADS_3

Memasuki rumah yang sudah lama dia tinggalkan, Sabda masih menggenggam tangan Aruna. Lelaki itu seperti enggan untuk lepas dari istrinya meski sesaat.


"Kalian, sudah pulang? Mama kira besok baru pulang!" sarkas Mama Rosa, dia sedikit menurunkan kacamata bacanya saat anak dan menantunya akan melintas.


Wanita berumur itu sudah mengerti, terlintas dari wajah putranya yang terlihat lebih segar dan bersemangat sementara Aruna lebih terlihat salah tingkah.


"Mama kayak nggak ngerti kalau baru ketemu istri yang sudah lama ditinggal." jawab Sabda dengan santainya. Sementara, nampak oleh Rosa, Aruna mencubit kecil pinggang suaminya membuat Rosa tersenyum tipis.


"Mama, sudah meminta Bu Ninik untuk membuatkan kalian jus. Mungkin, masih di lemari pendingin." ujar Rosa, beliau kembali menatap ponsel yang sedari tadi menemaninya.


"Terima kasih, Ma. Kita naik ke atas dulu!" sambut Sabda. Dia masih ingin bersama Aruna.


"Mama ngerti, tapi jangan lupa besok laporan sama Mama!" titah Rosa.


"Siap, Ma." Sabda kembali menarik Aruna untuk segera naik ke atas. Sedangkan Aruna hanya mengikuti apa yang diinginkan suaminya.


Aruna mendudukkan bobotnya di sofa yang ada di dekat jendela. Sedangkan, Sabda memilih untuk berganti baju.


"Mas, mau makan malam dengan apa?" tanya Aruna setelah melepaskan jilbab dan meletakkannya di sandaran sofa. Dia sebenarnya merasa sangat lelah sekali.


"Apa saja, yang sudah di masak saja, Sayang!" jawab Sabda, dia melirik Aruna yang tersenyum lega. Lelaki itu bisa mengerti jika istrinya merasa lelah dan dia sendiri bukan tipe orang yang memilih makanan. Hanya siomay, dia paling tidak suka siomay.


Sabda berjalan mendekat ke arah Aruna. Lelaki itu memilih duduk di dekat istrinya. Disentuhnya perut istrinya. Ada sensasi sendiri bagi calon Papa itu.


"Bagaimana pekerjaan Mas Sabda?" tanya Aruna sambil menikmati elusan tangan Sabda di perutnya.


"Alhamdulillah lancar, hanya saja ada sebagian penduduk asli yang menentang pembangunan itu. Mungkin mereka takut alam di sana akan rusak." jelas Sabda dengan menatap wajah Aruna.


"Berapa lama Mas di rumah?" lanjut Aruna.


"Kenapa? Takut ke nikahan Tita sendirian?" tanya Sabda dengan mengusap rambut lurus Aruna yang mulai memanjang.


"Nggak juga, sih. Hanya ingin tahu saja."


jawab Aruna.


"Kamu ikut Mas, kan, Run? Biar Mas nggak kepikiran kamu." bujuk Sabda, meskipun sudah mempersiapkan semuanya, tapi dia belum mendapat jawaban dari Aruna.


"Iya, Mama bilang di suruh ikut saja. Takut Mas tergoda gadis di sana yang kata Mama cantik- cantik." Kalimat Aruna membuat Sabda menatapnya tajam. Semakin hari dia mulai mengenal watak Aruna yang sebenarnya keras.


"Mana sempat Mas melihat gadis- gadis. Di sana Mas jalannya sama Nanang terus, lihat kulit Mas sampai hitam." jawab Sabda sambil menunjuk kulit lengan tangannya yang berubah sedikit gelap.

__ADS_1


Mereka menghabiskan waktu dengan obrolan dan cerita Sabda tentang keadaan di pulau itu. Dia juga mengatakan akan di sini selama seminggu untuk memantau kondisi dan perkembangan showroom.


###


Sabda sudah mulai tidak sabar menunggu Aruna untuk turun. Tidak biasa wanitanya itu begitu lama untuk berdandan.


"Ayo, Run. Nanti kita akan datang terlambat!" teriak Sabda dari lantai bawah. Mereka akan menghadiri pesta pernikahan Tita dan Bagas.


Sabda tidak sabar lagi menunggu istrinya, dia pun memutuskan untuk naik ke atas menyusul Aruna yang masih di kamar.


"Sayang... Mama sudah berangkat dari tadi, lo!" ucap Sabda yang langsung masuk ke dalam kamar.


Dia menatap Aruna yang baru saja selesai berdandan. Tatapan terpesona Sabda berganti dengan protes karena make up yang terlihat mencolok.


"Nggak- kamu jangan pakai make up yang aneh seperti ini, Run." Sabda langsung mengambil tisu dan menghapus beberapa bagian wajah Aruna yang memberi kesan berlebihan.


"Ini baru trend, Mas." ujar Aruna berusaha mengelak, saat Sabda berusaha menghapus make up Aruna yang ternyata sangat susah.


"Siapa yang bilang? Dan untuk apa keliatan sexy di tempat umum?" cecar Sabda. Dia tidak akan membiarkan lelaki lain melihat istrinya dengan tatapan lapar.


"Agar Mas Sabda tidak melirik wanita lain." Kalimat Aruna menghentikan gerakan Sabda di wajahnya.


"Astaga, Sayang. Mas janji nggak akan mengulang kesalahan yang sama. Mas sayang sama kamu dan calon anak kita." ujar Sabda, dia memeluk tubuh mungil itu untuk selalu meyakinkannya.


"Mas, ayo kita berangkat! Katanya udah terlambat." Aruna kembali mengingatkan Sabda. Aruna masih belum ingin membahas soal perasaan. Rasa percaya itu sungguh sangat sulit untuk dipulihkan meski dia sudah berusaha keras.


Aruna beranjak mengambil tasnya, sedangkan Sabda masih menatapnya dengan penuh rasa yang entah. Ada sedikit penyesalan, rasa bersalah pada wanita yang mampu membuatnya takut untuk ditinggalkan.


Bagaimana bisa dia berpaling dari wanita secantik dan sebaik Aruna? Kegilaan yang pernah dilakukannya membuat Sabda tidak habis pikir.


"Ada yang salah dengan penampilanku, Mas?" tanya Aruna salah tingkah saat Sabda menatapnya begitu tajam.


"Kamu makin cantik dan seksi." ujar Sabda.


Aruna tak ingin menanggapinya, dia memilih menarik lengan Sabda untuk segera berangkat. Sabda terkekeh, tiba-tiba dia teringat saat dia mendekati Aruna untuk pertama kalinya.


Pernikahan Tita memang sangat mewah. Karena persiapan yang matang, dan kedua keluarga mempelai adalah orang yang cukup berada, makan wajar saja jika pesta mereka di selenggarakan cukup meriah dengan tamu undangan dari kalangan menengah ke atas.


Dia sana, Sabda bertemu dengan teman- temannya yang juga teman Bagas dan Aruna juga bertemu dengan banyak temannya bersama Tita.


Aruna juga sempat bertemu dengan Abimana yang datanya bersama dengan Mariska. Aruna bisa melihat gadis itu begitu posesif pada Abimana.

__ADS_1


"Dia datang bersama pasangannya." ujar Sabda memberitahu Aruna. Melihat Abimana, Sabda tidak membiarkan Aruna jauh darinya walaupun semenit.


"Iya aku tahu, Mas. Bahkan, aku senang Mas Abi mendapatkan wanita yang sangat mencintainya." ucap Aruna. Sabda melihat Aruna berkata tulus membuat lelaki itu semakin kagum pada ketulusan hati istrinya.


Hampir satu jam lebih acara berlangsung, berbagai sesi acara sudah terlewatkan dan yang terakhir life musik dari artis ternama pun dimulai.


"Mas, aku cari angin dulu, ya! Aku benar-benar merasa gerah." ucap Aruna. Sabda pun mengangguk, banyaknya tamu undangan membuat pendingin ruangan itu tidak berfungsi dengan baik.


Aruna berjalan keluar gedung dengan membawa kipas kecil yang setia berada di dalam hand bagnya. Sejak hamil, benda kecil itu selalu dia bawa saat bepergian.


Wanita mungil yang mengenakan dress berbahan satin velvet yang dipadu dengan batik yang senada dengan yang dikenalkan Sabda itu berjala keluar.


Suasana di luar berbanding balik dengan di dalam. Angin bertiup sepoi mendinginkan keringat yang sempat membasahi tubuhnya.


Aruna tersentak kaget, saat tak sengaja di bertatap muka dengan Aninditha. Wanita itu, entah kenapa setiap kali dia sering bertemu dengannya. Kali ini, Aruna tak ingin berbasa basi lagi. Dia melewati begitu saja wanita yang menatapnya tajam dan memilih tempat yang sedikit menjauh dari sosok itu.


Aruna berdiri di dekat pilar penyangga gedung yang cukup tinggi. Tubuh mungilnya tertutup Vas bunga besar yang terletak di dekat pilar. Mungkin orang akan kesulitan untuk melihatnya tapi dia bisa melihat semua orang yang berjalan di depan gedung.


Hembusan angin malam berhasil mendinginkan tubuhnya, dia sempat berniat untuk kembali masuk ke dalam gedung setelah beberapa menit berada di luar.


Tapi, wanita yang masih bersembunyi di balik pilar dan vas besar itu melihat Sabda keluar dari gedung, mungkin mencari dirinya. Terlihat olehnya lelaki itu mengedarkan pandangannya. Kemudian kembali berjalan hingga pria itu bersitatap dengan mantan pacarnya itu, Aninditha.


Aruna bisa melihat keterkejutan Sabda saat bertemu Anin. Tapi, kali ini dia hanya ingin jadi penonton aja dari kejauhan.


Sabda melewatinya begitu saja dan berjalan ke arahnya, tapi Aruna segera mengeluarkan ponselnya seolah dia sedang sibuk berselancar di dunia maya. Wanita itu memilih berpura-pura tidak melihat apapun.


"Sayang..." panggil Sabda membuat Aruna menoleh dan kemudian tersenyum.


"Mas sudah mencarimu kemana-mana tapi ternyata kamu berada di sini. Kita bisa pulang terlebih dahulu jika kamu merasa lelah." lanjut Sabda.


"Kita pulang saja, Mas. Aku udah nggak nyaman." jawab Aruna kemudian memasukkan ponselnya dalam tas.


"Tadi Mas sempat bertemu dengannya. Sepertinya dia menunggu seseorang di dalam." ujar Sabda, membuat Aruna tersenyum.


Cerita itu yang memang di tunggu Aruna. Dia tidak ingin Sabda menyimpan apapun termasuk pertemuannya dengan wanita itu.


Akhirnya, mereka memilih pulang lebih awal. Sabda merangkul bahu Aruna saat berjalan menghampiri mobil mereka di parkiran. Dan di sanalah Aruna melihat Anindhita dan Royan berciuman mesra diantara sela- sela mobil.


Aruna membekap mulutnya yang hampir saja memekik. Keduanya kemudian bertukar pandangan dan kemudian saling melempar senyum.


"Royan sedang mengelabui istrinya di dalam." bisik Sabda sambil menarik Aruna untuk segera masuk ke dalam mobil.

__ADS_1


__ADS_2