Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Undangan


__ADS_3

Luka yang lama tertutup itu seolah kembali segar, ketika dirinya melihat kembali wajah wanita yang pernah mengkhianatinya. Rosa tertegun menatap keluar jendela mobil, perasaan patah hati ternyata tidak hanya milik mereka yang masih muda tapi dirinya yang sudah berumur pun masih merasakan hal yang sama.


"Bu Rosa, baik- baik saja?" tanya sopir. Iya, kali ini Rosa membawa sopir yang berbeda. Dia ajudan yang selama ini Rosa percaya.


"Iya, saya baik- baik saja. Langsung, ke rumah anak saya saja!" ujar Rosa. Dia masih enggan pulang ke rumah. Meskipun, sudah merubah semua interior rumah, tapi dia yakin jika saat ini dirinya melihat sudut di mana ketika dia melihat suaminya bercinta dengan gadis itu dengan begitu bersemangat, hatinya masih terasa sakit.


Menggenggam perasaan terluka hingga bertahun-tahun dan menyimpannya rapat agar tidak melukai putranya, justru itu seperti menggenggam perasaan yang sudah meradang.


Dulu, Rosa tidak ingin, Sabda terluka. Dia tidak ingin putranya membenci papanya. Dia tidak ingin rumah tangganya hancur. Dia akan tetap menyimpannya, menggenggam kuat perasaannya dan akan menutup aib itu untuk selamanya.


"Bu Rosa, ini sudah sampai." ujar sang sopir. Rosa yang sempat melamun, teringat kembali akan loncatan- loncatan peristiwa masa lalu yang seperti mengejar dalam ingatannya.


"Kamu pulang saja! Nanti, jika saya sudah ingin pulang atau butuh kamu. Saya akan menghubungimu." titah Rosa sebelum dia turun dari mobil.


Rosa membuka kaca mata hitamnya, kemudian mengusap matanya yang sempat basah. Wanita yang selalu tampil elegant itu pun akhirnya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamu'alaikum..." ucap Rosa saat masuk ke dalam rumah.


"Waalaikum salam... " jawab Sabda dan Aruna di ruang tengah. Sabda sedang membenarkan posisi Aruna agar istrinya bisa tiduran dengan nyaman.


"Kapan kalian pulang?" tanya Rosa yang kemudian memilih duduk di dekat menantunya, setelah meminta Bu Ninik untuk membuatkannya teh manis.


"Baru saja, Ma. Dokter sudah memeriksa kembali keadaan Aruna dan bayinya." jelas Sabda. Di pun memilih untuk duduk di dekat kaki istrinya.


"Mama dari mana?" tanya Sabda saat melihat wajah mamanya berbeda dari biasanya.


"Dari kumpul sama teman- teman, Mama." jawab Rosa masih menutupi semuanya. Sabda pun tidak melanjutkan pertanyaannya, dia tahu mamanya sedang berbohong.


"Kondisimu bagaimana, Run?" tanya Rosa.


"Sudah lebih baik, Ma." jawab Aruna, senyum tulus terukir di sudut bibir mungil Aruna. Hari ini, dia merasa jauh lebih baik.


"Mama tahu kamu wanita yang kuat, tapi belajarlah untuk tegas dan jangan terlalu naif." ucap Rosa. Dia berharap Aruna bisa belajar dari semua yang sudah terjadi.

__ADS_1


"Sekarang banyak perempuan yang tidak punya perasaan, tidak tahu diri dan egois. Mereka yang lebih menyukai suami orang itu tidak akan peduli apapun, apalagi memikirkan perasaan orang lain. Dia juga tidak merasa bersalah. Mama harap kamu bisa lebih hati- hati. Jangan biarkan wanita lain manapun masuk ke dalam keluargamu." lanjut Rosa.


Wanita yang kini menyesap teh manisnya itu begitu trauma dengan masa lalunya. Membawa gadis yang terlihat polos dan berniat menguliahkannya, malah berakhir dengan pengkhianatan.


"Iya, Ma." Aruna menatap Rosa dengan begitu dalam. Dia bisa melihat, beliau sangat berbeda, ada semburat kesedihan di ceruk matanya.


"Mama baik- baik saja, kan?" selidik Aruna dengan rasa penasaran.


"Iya, Mama terlihat lelah." sahut Sabda menimpali.


"Kamu juga, Da. Tulislah cerita yang baik untuk hidupmu, kelak ketika kamu tiada, anak-anak kalian akan mengingatmu sebagai ayah terbaik dan sosok suami panutan."


"Apa yang bisa ditinggalkan orang yang sudah tiada. Hanya sebuah cerita, tidak lebih dari itu." lanjut Rosa. Aruna dan Sabda menatap Rosa dengan perasaan aneh. Wanita yang selalu bersemangat itu terlihat sangat lelah.


"Sabda tahu, Ma. Sabda tidak akan mengulang kesalahan yang sama." Sabda merasa mamanya mengungkit kembali kesalahannya bersama Aninditha. Tapi, dia tidak memungkiri apa yang dikatakan mamanya memang benar.


Sore itu menjadi penuh kekeluargaan. Rosa menjadi sosok ibu yang dekat engan putra dan menantunya. Jika saja sejak dulu, dia bisa sedekat ini dengan keluarga, dirinya mungkin tidak akan menemukan pengkhianatan dari suaminya. Rosa menyadari, jika dirinya punya andil salah dengan cerita masa lalu yang menciptakan noda dalam keluarganya.


"Kapan kita jenguk Mbak Runa?" tanya Amanda pada Nina yang lagi sibuk menulis lagu laporan keuangan.


"Nanti sore saja, ya!" sahut Nina masih fokus dengan laptop yang ada di depannya.


Melihat Nina yang masih sibuk mengetik, Amanda memilih untuk melihat stock beberapa mukena yang perkiraan akan ramai menjelang bulan puasa.


Amanda berjalan melewati pintu utama, pintu kaca dengan jendela serba kaca membuatnya melihat dengan jelas seseorang yang tengah berjalan masuk.


Abimana bersama seorang wanita. Dia pernah melihat wanita itu kalau tidak salah.


"Selamat datang, Mas Abi." sapa Amanda saat Abimana masuk dan menarik lengan seorang wanita bertubuh langsing dan berkulit putih.


"Arunanya ada?" tanya Abimana pada Amanda yang menatapnya dengan seksama.


"Mbak Arunanya nggak datang, Mas." jawab Amanda. Gadis itu sedang menerka-nerka siapa wanita cantik yang kini bersama Abimana.

__ADS_1


"Loh aku kira dia akan datang." sahut Abimana terlihat kecewa. Sedangkan, Amanda masih meneliti gadis cantik di depannya.


"Tolong berikan undangan ini pada Aruna ya! Aku harap dia bisa datang." ujar Abimana menyerah undangan pertunangannya dengan Mariska pada Amanda.


"Mas Abi akan tunangan?" pertanyaan refleks Amanda membuat Abimana menatapnya aneh.


"Iya, memang kenapa?" timpal Abimana membuat Amanda sadar pertanyaan terlalu konyol.


Gadis itu tertawa sumbang memikirkan ketololannya. Jelas saja akan bertunangan, datang ke butik juga untuk memberikan undangan.


"Nggak apa- apa. Selamat ya Mas Abi, semoga lancar." jawab Amanda menghilangkan kecanggungannya.


"Berarti kita pulang, nih, Bi?" ujar Mariska yang sedari tadi hanya terdiam. Dia sebenarnya merasa enggan jika harus meminta maaf pada Aruna, tapi itu persyaratan dari Abimana untuk mau bertunangan dengannya.


"Iya, tapi kamu harus minta maaf pada Aruna sebelum pertunangan kita." jawab Abimana.


Amanda yang mendengar itu merasa bingung, entah hubungan apa yang sedang mereka jalani. Tapi, Amanda yakin tidak secepat itu lelaki berwajah oriental itu melupakan Aruna.


"Abi, kita pulang yuk!" Mariska merasa malu dengan kalimat Abimana barusan. Apalagi menyadari tatapan Amanda yang penuh dengan selidik.


"Aku, balik dulu, Nda. Kapan main ke rumah? Arimbi kesepian." ucap Abimana berbasa basi pada Amanda.


"Kapan- kapan, Mas. Aku masih belum sempet ke rumah hehehe..." sambut Amanda dengan salah tingkah.


Nina yang dari jauh melihat percakapan mereka pun merasa penasaran. Dia tahu benar siapa gadis yang bersama Abimana lantaran Mariska pernah menjadi customer dia butiknya.


Gadis hitam manis itu berjalan menghampiri Amanda yang masih menatap kepergian Abimana. Dia pun menepuk bahu kecil Amanda, " Ih... jangan kayak orang patah hati gitu donk, Nda!" goda Nina.


"Siapa juga yang suka sama Mas Abi. Lagian aku tahu cinta Mas Abi masih untuk Mbak Aruna." jelas Amanda. Dia memang fokus pada kuliah dan nyari duit.


"Ada perlu apa mereka?" lanjut Nina.


"Ngasih undangan buat Mbak Aruna. Mereka akan tunangan." jawab Amanda. Gadis itu pun meninggalkan Nina untuk kembali mengecheck stok barang di etalase

__ADS_1


__ADS_2