Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Sakit


__ADS_3

"Semalam, Mas, kemana? Kenapa sampai malam dan pulang-pulang dengan kondisi setengah waras." tanya Aruna sambil memberi makan ikan di kolam belakang rumahnya sendiri.


Setelah Salat Subuh Aruna langsung pergi ke rumahnya. Meskipun semalam dia melayani Sabda dengan sempurna tapi rasa kesalnya masih tersisa karena kelakuan Sabda.


Sabda tidak langsung menjawab. Lelaki yang sudah merasa tak enak hati itu pun memilih untuk duduk di sebelah istrinya.


Matanya menatap Aruna yang seolah tak peduli. Padahal semalam dia yakin Aruna merasakan hal sama seperti yang dia rasakan.


"Kenapa tidak menjawab?" tanya Aruna tapi tatapannya masih sibuk melihat ikan yang berlari kesana kemari.


"Janji, jangan marah ya!" pinta Sabda. Lelaki itu sudah tahu jika Aruna pasti akan marah mendengarnya.


Aruna menoleh menatap suaminya yang masih tidak mau mengatakan langsung. Tatapannya semakin tajam saat dia harus menunggu lagi untuk mendapat kejujuran Sabda.


"Anak-anak mengajak ke karaoke." lirih Sabda, lelaki itu menatap tajam Aruna karena menunggu reaksi istrinya yang masih tak bergeming.


"Sayang, jangan marah, ya!" Sabda masih membujuk Aruna. Dia tahu, diamnya Aruna karena masih marah dengannya.


Mereka terdiam dengan menatap ikan- ikan yang berwarna warni. Hingga akhirnya Sabda tidak tahan, dia kembali menoleh ke arah Aruna sedikit mencondongkan tubuhnya.


"Run... " panggil Sabda sedikit gelisah saat melihat mata indah itu berkaca-kaca.


"Maafin, Mas." ucap Sabda dengan menggenggam tangan dingin istrinya. Pikiran Aruna sudah membayangkan pemandu karaoke adalah wanita wanita dengan pakaian seksi dan entah.... dia tak bisa memikirkan hal itu lagi.


"Mas, main perempuan ya? Di sana banyak wanita cantik dan seksi." akhirnya Aruna bersuara, mengungkapkan apa yang sedang dia pikirkan.


"Sayang, mas masuk room yang nggak ada pemandunya. Tanya saja sama Andrean." jelas Sabda tapi Aruna masih tidak bergeming. Tangannya bergerak menyusut air yang keluar dari sudut matanya.


"Anak-anak memang memilih room yang lengkap dengan pemandunya. Tapi, di room-nya Mas dan andrean serta beberapa orang yang lainnya tidak ada perempuan di sana. Kita masih membahas pekerjaan meski dengan santai. Tapi, Mas memang sedikit minum." jelas Sabda.


Aruna menatap tajam lelaki di depannya, wanita itu seola mencari kebenaran dengan apa yang diucapkan suaminya.


"Mas, nggak sampai mabok, kok!" Sabda berusaha meyakinkan istrinya. Tapi, itu justru yang membuat Aruna bertambah kesal. Dia yang hampir bisa menerima alasan Sabda malah kembali dirundung rasa kesal karena pengakuannya. Mana mungkin minum alkohol tidak mabuk? Itu yang ada dalam ekspektasi Aruna.


"Bagaimana tidak mabok? Jelas saja minum." gerutu Aruna yang kemudian beranjak dari tempat itu. Dia merasa tidak perlu memperdebatkannya lagi karena pada dasarnya Sabda akan tetap nge- les.


"Sayang, maksudnya nggak mabok parah. Aku masih bisa mikir. Nyatanya masih bisa pulang sendiri dan... " kalimat Sabda menggantung, dia menunggu reaksi dari Aruna yang masih terlihat cuek.

__ADS_1


"Masih bisa berc*nta denganmu hingga beberapa ronde." lanjut Sabda dengan mengeraskan suaranya.


Aruna berhenti kemudian berbalik melotot ke arah Sabda yang kini berdiri di belakangnya. Dalam hati Aruna ingin sekali menyumpal mulut tidak tahu adab itu. Suara Sabda yang sengaja dikeraskan bisa saja didengar tetangga sebelah.


"Maaf ! Mas, sungguh minta maaf." bujuk Sabda dengan melangkah mendekati istrinya.


Tapi, Aruna malah kembali melangkah menjauh.


Aruna berhenti sejenak, kepalanya berdenyut kemudian terasa berputar hingga membuat wanita yang saat ini terlihat pucat itu pun memilih mencari tempat duduk yang paling dekat.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sabda saat melihat wajah pasi Aruna sedikit meringis.


Sabda memperhatikan dengan teliti wajah Aruna. Wajah itu terlihat pucat sekali dengan sorot mata yang lesu apalagi saat melihat Aruna memegang kepala dengan kedua tangannya. Dia yakin, Aruna pasti merasakan sakit kepala.


"Kita ke dokter, yuk!" bujuk Sabda tapi dijawab gelengan oleh Aruna membuat Sabda berjongkok menyamakan tingginya dengan Aruna yang masih duduk di kursi meja makan.


"Sayang, kamu sakit dan harus ke dokter!" bujuk Sabda sekali lagi. Melihat kondisi istrinya, Sabda menjadi panik.


"Aku hanya kurang istirahat." jawab Aruna. Padahal dia juga takut jarum suntik.


Sejenak Sabda terdiam. Dia mulai belajar mengenali Aruna dari sisi emosinya. Wanita yang selalu berusaha menahan emosi, tapi sekali meledak akan seperti boom waktu.


"Maafin, Mas." gumam Sabda. Dia tidak ingin lagi mengeluarkan kalimat lainnya yang bisa saja memperpanjang masalah, karena kenyataannya dia memang salah.


Mereka saling diam, hingga wajah Aruna memerah dengan mata kembali berkaca-kaca.


"Maafin, Mas." Sabda merengkuh Aruna dalam pelukannya. Sabda mengerti jika ternyata istrinya tidak sedang berpura-pura, meski sedikit berlebihan.


Meski merasa kesal dan marah, tetap saja bagi Aruna pelukan lelaki yang membuat dirinya emosi itu, masih memberikan rasa nyaman. Sabda Megantara, dia berharap lelaki itu akan menghapus rasa sakit karena broken home.


###


Sebuah Sedan mewah berwarna silver berhenti tepat di depan rumah Sabda. Wanita dengan tampilan elegant itu turun dari mobil dengan melihat situasi di sekitarnya.


Mama Rosa yang tadinya ingin menemui menantinya di butik tapi Aruna malah tidak datang ke butik. Kemudian, mampir ke showroom tapi ternyata Sabda pulang lebih awal. Hal itu yang membuat Mama Rosa langsung meluncur ke rumah Sabda.


Senja yang menunjukkan warna yang cukup indah membuat sore ini begitu berbeda. Mama Rosa memencet bel ditemani sang sopir yang membawa beberapa bingkisan parsel untuk menantunya.

__ADS_1


"Mama... " gumam Sabda kemudian melangkah cepat untuk membukakan pintu gerbang.


"Aruna mana? Pas mampir ke butik katanya Aruna sakit." Mama Rosa pun melangkah masuk diikuti Sabda.


"Iya, katanya masuk angin dan kecapekan." jawab Sabda.


"Kamu sudah panggil dokter?" tanya Mama Rosa dengan terus melangkah masuk ke ruang tengah.


Aruna yang semula berbaring di sofa pun berusaha bangkit untuk menyambut mertuanya, "Sudah- sudah tiduran saja. " ucap Rosa kemudian duduk di samping Aruna.


"Sudah makan?" tanya Rosa.


"Nggak mau makan, Ma. Katanya nggak enak semua." jelas Sabda yang kebingungan karena Aruna sulit diatur.


"Mama bawa apa?" tanya Aruna basa- basi. Padahal dia melihat cake dengan taburan coklat yang melimpah.


"Ada cake. Kamu mau?" tanya Rosa.


"Boleh, Ma." Rasanya Aruna memang ingin makan yang berbau coklat.


Aruna bangkit sementara Rosa membuka bingkisan yang dia bawa tadi. Untung saja dia sempat mampir di toko kue langganannya.


Dalam hati wanita itu berharap menantunya akan segera hamil. Tapi, dia tidak mau bertanya saat ini takut akan menyinggung perasaan anak dan menantunya.


"Kami ingin makan apa?" tanya Rosa saat melihat Aruna mulai menikmati kuenya.


"Ingin Krengsengan yang ada di jalan hayam wuruk itu, Ma." spontan Aruna mengatakan nya.


"Sabda tunggu apalagi?" Kali ini Rosa memberi perintah.


"Jauh banget itu, Ma." protes Sabda.


"Di jalan Pattimura saja, ya!" tawar Sabda membuat Aruna langsung menggeleng.


"Kalau kamu tidak mau biar Mama yang pergi. Rosa tidak ingin berdebat lagi jika putranya tidak mau pergi.


" Baiklah, aku pergi dulu. Mama jagain Runa dulu." Sabda langsung keluar dengan motornya. Jalan Hayam- wuruk lumayan jauh untuk satu bungkus makanan. Sabda, merasa Aruna ganti mengerjainya karena kejadian kemarin malam.

__ADS_1


__ADS_2