
Aruna mengerjapkan kedua matanya yang sempat terpejam hampir setengah jam. Pandangannya mengedar meneliti setiap detail ruangan yang berwarna putih.
"Mas... " panggil Aruna saat melihat Sabda masih duduk di sebelahnya dan seorang dokter di bantu perawat yang baru saja memeriksanya.
"Iya, Sayang." Sabda langsung berdiri, mendekati istrinya yang masih bingung.
"Ibu Aruna, selamat ya! Semoga kehamilan kali ini lancar sehat bayi dan ibunya." ucap Dokter Anggraini dengan senyum merekah. Dokter itu pula yang lima bulan lalu melakukan kuretas pada Aruna.
"Hamil, Dok? Mana mungkin?" sanggah Aruna dengan rasa tidak percaya. Dia sendiri yang selalu mengingatkan Sabda untuk menggunakan pengaman saat mereka berhubungan.
"Iya, Ibu Aruna saat ini hamil lima minggu." jelas Dokter Anggraini.
"Jadi saya harapkan jangan terlalu lelah dan stress. Jangan lupa, minum vitaminnya yang teratur." lanjut Dokter Anggraini sebelum meninggalkan ruangan Aruna. Iya, Aruna disarankan untuk beristirahat terlebih dahulu, sampai berasa lebih baik.
Aruna masih tidak mengerti, setelah kepergian dokter dan perawat, wanita itu sempat termenung dengan rasa tidak percaya.
"Bagaimana bisa?" gumam Aruna dengan sangat lirih. Kemudian menatap Sabda dengan sorot mata menuduh.
"Mas, bagaimana bisa?" tanya Aruna dengan perasaan yang begitu entah. Ada rasa bahagia dan juga belum siap dengan semuanya.
"Maafkan, Mas! Mas hanya tidak ingin kita berpisah." ucap Sabda. Meskipun merasa bersalah saat melihat rasa kecewa di wajah Aruna, tapi tidak bisa dipungkiri jika saat ini rasa bahagia di hatinya begitu membuncah. Ada titisannya yang sekarang tumbuh di perut istrinya.
"Maksudnya apa, Mas?" desak Aruna, dia merasa sangat kesal dengan Sabda.
Ah, laki-laki itu memang bisa melakukan apa saja demi bisa mewujudkan keinginannya. Aruna sangat faham siapa Sabda. Tapi tidak menyangka, jika Sabda bisa membuatnya kembali hamil secepat ini dan tanpa persetujuannya.
"Kita dua kali melakukan tanpa pengaman. Mas sengaja mengeluarkan di dalam lebih dulu, selebihnya sesuai permintaanmu untuk keluar di luar." lirih Sabda sambil menatap ragu Aruna. Padahal sebelumnya dia juga sudah melubangi alat kontrasepsinya juga.
"Keterlaluan, Mas. Kamu sangat keterlaluan." pekik Aruna dengan memukul - mukul lengan Sabda. Aruna yang biasa tenang, akhir- akhir ini lebih sering histeris.
"Maaf! Mas hanya tidak ingin berpisah denganmu, Sayang. Dan Mas ingin membuat kamu kembali hamil." ujar Sabda dengan wajah yang berbinar bukan lagi rasa bersalah. Lelaki itu menggenggam tangan istrinya dan kemudian mencium satu tangan Aruna yang tidak diinfus itu.
__ADS_1
Mendengar pengakuan Sabda, Aruna begitu kesal. Aruna ingat mereka melakukan tanpa kontrasepsi juga karena persediaan yang sudah habis.
Tapi, satu sisi lainnya, Aruna merasa bahagia, ada kehidupan lain di dalam perutnya. Rasa bahagia yang begitu sulit untuk di ceritakan.
"Sudah Mas bilang, Mas akan berjuang, Run." Sabda mengecup kening istrinya. Tapi Aruna hanya memalingkan wajah menyembunyikan rona di wajahnya.
"Mas akan menjaga kalian. Mas tidak akan mengulangi kesalahan yang sama." lanjut Sabda, dia sangat bahagia dan banyak berharap dalam kehamilan Aruna saat ini.
"Mas, aku ingin pulang. Nggak mau lama- lama di sini!" pinta Aruna. Dia paling enggan di rumah sakit, apalagi dia sebagai pasien. Aruna sangat takut dengan jarum suntik.
"Iya, Mas akan menemui dokter dan menyelesaikan administrasinya." ucap Sabda kemudian keluar meninggalkan Aruna yang masih tidak percaya jika dirinya kembali hamil.
Setelah satu botol infus habis, akhirnya mereka bisa pulang. Di dalam mobil, Sabda terus saja melirik Aruna yang sama sekali tak ingin menoleh ke arahnya. Wanita itu sangat kesal, setiap melihat wajah bahagia Sabda.
"Sayang, kamu mau makan apa? Bilang sama, Mas." tanya Sabda. Dia ingin merasakan bagaiman menuruti keinginan istri yang hamil.
"Aku nggak ingin apapun." jawab Aruna singkat. Padahal dia ingin sekali makan siomay.
"Kamu tidak menginginkan bayi itu?" tanya Sabda.
Dia tahu, tidak mungkin Aruna tidak menginginkannya. Lelaki itu bisa melihat dengan cara Aruna mengelus lembut perutnya dan kemudian tersenyum samar.
"Asal bapaknya tidak memperhatikan wanita lain sudah cukup bagiku." jawab Aruna membuat Sabda mendesah. Dalam hatinya, Sabda sangat kesal karena Aruna selalu menyindirnya.
"Nggak akan lagi, Sayang." Sabda kembali mengecup tangan Aruna. Dia hanya meyakinkan istrinya jika itu tidak akan terjadi lagi. Dia akan menjaga keduanya dengan baik.
"Aku ingin siomay." Sabda menghentikan mobilnya padahal beberapa meter lagi mereka sampai rumah.
"Kenapa nggak dari tadi, Run?" keluh Sabda.
Sabda kembali memutar balik mobilnya, dia ingat di depan komplek ada penjual siomay dan batagor. Tapi saat akan menghentikan mobilnya, Aruna mencegahnya.
__ADS_1
"Aku ingin yang ada di jalan veteran yang mangkal dekat kampus itu, Mas." pinta Aruna membuat Sabda menatapnya, dia merasa Aruna seperti mengerjainya, menginginkan sesuatu tiba-tiba dan harus di tempat tertentu.
"Kalau tidak mau ya sudah, balik rumah saja." ucap Aruna dengan wajah cemberut.
"Iya-ya, kita ke sana." ucap Sabda langsung melajukan mobilnya ke jalan veteran, tempat para mahasiswa nongkrong.
Sabda melirik jam yang ada di pergelangan tangannya. Pukul sembilan lebih, dia berharap penjualnya masih jualan. Rasanya dia mulai panik, jika sudah habis pasti Aruna akan kecewa.
Suasana yang cukup berbeda. Di daerah yang mayoritas mahasiswa, jam segini memang masih sangat ramai. Sabda menghentikan mobilnya di depan penjual siomay yang masih ada beberapa anak muda yang nongkrong.
"Bang, silahkan ini ada bangku!" tawar salah satu cowok yang datang membawakan bangku untuk Sabda dan Aruna yang sedang mengantri.
"Terima kasih." Sabda langsung meminta Aruna untuk duduk.
"Adiknya cantik. Boleh kenalan, Bang?" Mendengar kalimat lelaki dengan perawakan tinggi dan wajah yang lumayan tampan itu membuat Sabda menatapnya tajam.
"Dia istriku!" ketus Sabda. Dia mulai kesal.
"Maaf, Bang. Saya kira adiknya." cowok itu berlahan mundur. Terlihat, dia kembali bersama gerombolan teman- temannya.
"Keterlaluan." gerutu Sabda dengan melirik kesal cowok tadi. Sedangkan Aruna hanya senyum-senyum melihat Sabda yang tidak terima. Tapi, memang selisih umur mereka yang sepuluh tahun membuat perbedaan usia yang terlihat begitu kentara.
"Maaf, Mas tinggal satu porsi." suara penjual itu pun membuat Sabda mengambil dompet dan mengambil uang lima puluh ribuan.
"Kembaliannya buat bapaknya saja! " ucap Sabda kemudian mengajak Aruna untuk kembali masuk ke dalam mobil.
Sabda mengemudikan mobilnya masih dengan wajah kesal. Dia kembali membenarkan posisi spion agar bisa melihat wajahnya dengan teliti.
"Makanya, jika Mas membuangku, masih ada banyak cowok yang masih mau memungutku. Masih muda, masih kencang dan setidaknya tidak menyusahkan karena punya kerjaan yang layak." Kalimat Aruna mengalihkan pandangan Sabda dari jalan dan kini tertuju padanya. Aruna memang bermaksud menyindir Sabda yang pernah terlena dengan wanita yang sembilan tahun berada di atasnya. Anin memang berusia hampir sama dengan Sabda.
"Nggak akan, tidak akan pernah dan jangan ngarep!" ucap Sabda dengan suara dingin. Lelaki itu mengulurkan satu tangannya untuk menggenggam jari- jari kecil istrinya. Sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan Aruna pergi dari sisinya.
__ADS_1