
Sabda menyerahkan sepiring mie goreng pada Aruna yang duduk di jok depan mobil. pintu Mobil terbuka lebar kemudian Sabda menarik satu kursi plastik dan duduk di dekat Aruna. Mereka terlihat sangat manis dengan kondisi seadanya.
"Kenapa Mas Sabda bilang aku istrinya Mas?" tanya Aruna saat mereka hendak menikmati makan makan.
"Keadaan Mas yang tidak mengenakan kemeja apalagi bersama gadis cantik, pasti membuat mereka berfikir yang enggak- enggak." jelas Sabda membuat Aruna menatap lekat wajah Sabda untuk menjelaskan lebih dalam.
"Pasti kita dikira sudah melakukan hubungan yang seperti itu-tu...." lanjut Sabda sambil menaik turunkan kedua alisnya.
"Cepat di makan! Pasti dari tadi siang belum makan?" tebak Sabda mulai menyuap mie ke dalam mulutnya.
"Iya, Mas." jawab Aruna singkat. Meskipun berusaha menutupi rasa gugupnya, tetap saja Sabda masih melihat Aruna yang malu- malu dan salah tingkah.
"Sejak siang tadi kamu terlihat pucat. Tapi, kenapa masih memaksakan diri untuk pergi?" tanya Sabda membuat Aruna memelankan kunyahannya.
"Mamaku tinggal sendiri. Jadi harus cepat sampai, untuk menemani Mama." jelas Aruna. Meski hatinya berperang antara ego dan naluri, tapi tetap saja rasa tidak tega itu ada.
Mereka menikmati makan malam sederhana tapi terasa lezat karena perut yang memang sudah sangat lapar. Perkelahian tadi siang membuat semuanya kacau. Termasuk melupakan makan siang meski tenaga mereka sudah terkuras untuk baku hantam.
"Kenapa tidak dihabiskan? Kamu tidak suka mie?" tanya Sabda saat makanan yang ada di pangkuan Aruna hanya dimakan separo.
"Aku suka mie, tapi porsinya terlalu banyak untuk yang ini." jawab Aruna tak biasa. Gadis itu memang merasa canggung pada Sabda karena kejadian tadi. Rasanya, dia sudah kehilangan harga dirinya karena pelukan lelaki itu terus membayang.
Sabda hanya tersenyum miring, dia bukan anak remaja lagi yang tidak mengerti perasaan gadis yang ada di dekatnya. Sungguh, rasanya dia begitu gemas melihat wajah cantik yang membuat nano- nano perasaannya.
"Apa kita perlu mampir untuk periksa ke dokter?" tawar Sabda.
__ADS_1
"Nggak usah, Mas. Aku hanya ingin cepat sampai dan bertemu Mama Hesti." jawab Aruna, dia akan lebih baik jika sampai lebih cepat dan berpisah dengan lelaki di depannya.
"Baiklah, tunggu sebentar!" Lelaki itu kemudian bangkit meletakkan bekas makan mereka di pinggir tikar pembeli. Sedangkan Aruna masih duduk di dalam mobil dengan lampu menyala.
Setelah membayar tagihannya, Sabda langsung berjalan untuk duduk di belakang kemudi. Tangannya mematikan lampu mobil.
"Masih kuat, kan, untuk sampai ke tempat calon mertua, Mas?" tanya Sabda kemudian menghidupkan kembali mobilnya. Dia memang tidak menunggu jawaban Aruna. Karena dia yakin Aruna pasti protes atas sebutan calon mertua untuk mamanya.
Aruna hanya mendesah, entah harus menjawab apa untuk semua kalimat lelucon Sabda.
Sejak awal, banyak dilema yang ada di benaknya saat dia masuk ke dalam mobil Sabda. Tidak ingin pergi bersama Sabda, tapi keadaan seperti memaksa untuk bersama lelaki itu. Bagaimana dia akan menjelaskan tentang Sabda pada Mama Hesti? Sejak awal itu yang dia pikirkan. Tapi apa jadinya,jika dia tetap naik kereta dengan kondisi kesehatan yang menurun.
Mobil meluncur dengan kecepatan tinggi dengan kondisi AC yang sengaja dimatikan. Sabda yang merasa sedikit tersiksa karena hawa yang cukup gerah, tapi semua demi wanita kesayangan yang kini ada di sampingnya.
"Mas Sabda bisa mengantarku ke rumah sakit islam Aisyah, jika Mas Sabda ingin istirahat, Mas, bisa menginap di hotel karena malam ini aku tidak pulang ke rumah." Aruna memang merasa sungkan dengan mamanya jika Mama Hesti melihat Sabda datang bersamanya.
Pukul delapan malam Akhirnya mereka sampai di parkiran rumah sakit. Aruna langsung keluar dari mobil, di susul Sabda yang mengambil tas baju milik Aruna.
"Kita akan masuk bersama." ujar Sabda.
Keduanya melangkah menuju administrasi untuk menanyakan ruangan Mama Hesti. Setelah mendapatkan informasi keduanya berjalan dengan tergesa menelusuri koridor rumah sakit menuju Ruangan VIP no. 17.
Berlahan Aruna membuka pintu rumah sakit itu. Terlihat wanita yang dudah lama tidak dilihatnya terlihat pucat dan lesu itu berbaring sendirian.
Ada perasaan iba dalam diri Aruna meskipun dia selalu bentrok pada Mama Hesti. Aruna berjalan mendekat, meskipun begitu dia tetap menjaga gerakannya agar tidak membangunkan Mama Hesti. Kemudian di susul Sabda menghampiri Aruna.
__ADS_1
"Mas Sabda bisa meninggalkan aku untuk istirahat di hotel! Terima kasih untuk bantuannya." lirih Aruna sedikit berbisik.
"Aku akan menemanimu di sini!" tegas Sabda, dengan meletakkan tas Aruna di lemari kecil yang ada di ruangan inap itu.
"Kenapa?" tanya Sabda saat dia tidak mendengar jawaban apapun. Aruna kini hanya menatapnya tajam membuat tersenyum tipis dan berdiri di dekat Aruna.
"Kamu sendiri tidak sehat. Bagaimana bisa aku meninggalkan kalian yang sama- sama sakit." lanjut Sabda posisi keduanya saling berhadapan.
"Aku biasa seperti ini saat menstruasi dan tekanan darah yang rendah." jelas Aruna tapi tidak digubris Sabda.
Sabda memang keras kepala, membuat Aruna tidak bisa berkata lagi untuk memaksa lelaki itu. Sabda sendiri merasa tidak mungkin meninggalkan Aruna.
"Istirahatlah dulu, sebelum calon mertua Mas bangun." lanjut Sabda kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin mengganti kemeja yang tadi siang dia pakai dengan kaos yang baru dia beli bersamaan dengan membeli jaket Aruna.
"Sebaiknya kamu istirahat, Run. Camernya Mas, mungkin terkena obat hingga terlelap seperti itu." bujuk Sabda pada Aruna yang terlihat masih berdiri di dekat bed. Setelah mandi Sabda masih mendapati Aruna berada di dekat mamanya.
"Jika kamu belum sehat betul, aku tidak akan pulang." desak Sabda.
Dengan lemah Aruna duduk di sofa yang sama dengan Sabda. Tapi gadis itu masih mengambil jarak diantar mereka.
Sabda hanya tersenyum tipis melihat kelakuan Aruna. Lelaki yang menatap layar ponselnya itu hanya melirik dengan senyum masih melek dibibir tipisnya.
Tidak butuh waktu lama Aruna memang sudah memejamkan mata. Sabda memang sudah tahu jika Aruna sangat mudah untuk tidur.
Setelah menunggu Aruna benar benar terlelap Sabda menggeser tubuhnya mengangkat kepala wanita kesayangannya itu dan menjadikannya bantalan kepala Aruna. Jika masih tersadar Aruna pasti akan menolak dengan keras.
__ADS_1
"Masih sedikit demam." gumam Sabda lirih, tapi membuat Aruna menggeliat spontan mencari posisi nyaman.
"Astaga... ini musibah apa berkah?" Sabda kembali mengeram pelan, saat lengan kecil Aruna melingkar di dada bidangnya, sementara kepala gadis itu bertumpu pada lengan kokoh lelaki yang merasa jantungnya berdetak tak karuan.