Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 45


__ADS_3

Setelah rapat koordinasi tentang gathering family yang akan dilakukan pada bulan depan, Andrean menghampiri Sabda yang masih duduk di kursi pimpinan rapat.


"Banyak desas - desus yang sedang beredar di kantor. Apa Mas Sabda menjalin hubungan kembali dengan Aninditha?" tanya Andrean yang mulai mencemaskan Sabda. Dari dulu Andrean memang tidak menyukai Anin dan dia tahu seberapa kuat dulu Sabda mencintai gadis itu.


Andrean berani membahas masalah pribadi dengan Sabda setelah team yang ikut rapat sudah keluar ruangan dan hanya tinggal mereka berdua.


"Kami hanya berteman. Kami tidak ada komitmen atau hubungan khusus. Kebetulan dia banyak membantu kita, kan?" jawab Sabda dengan santai. Lelaki itu tidak percaya jika orang-orang di kantornya mempertanyakan hubungannya dengan Anin.


"Aku tidak akan bertanya jika aku tidak melihat kedekatan kalian." lanjut Andrean.


Pertanyaan Andrean mulai membuat Sabda menyadari sesuatu. Ternyata keakraban dirinya dan Anin membuat banyak pihak menyangka dirinya punya hubungan spesial dengan Anin.


"Aku harap seperti itu kenyataannya. Dia hanya sebuah masa lalumu, Mas." lanjut Andrean dengan panggilan pribadi, lelaki itu itu kemudian pergi meninggalkan Sabda yang termenung.


Saat ini, Sabda hanya merasa nyaman. Dari dulu Anin selalu membantu dan mengalah pada dirinya. Kedekatan mereka selalu terbentuk karena rasa nyaman. Hingga tidak butuh waktu lama membuat keduanya kembali akrab. Bahkan, Anin juga sering curhat tentang Sisil, putrinya yang mengidap kanker otak dan kegagalan rumah tangga wanita itu yang cuma seumur jagung.


[Pak Sabda, aku sudah di ruanganmu]


Sabda membaca pesan dari Anin. Sejak mereka kembali akrab , Aninditha memang memberikan nama panggilan 'Pak' untuk menghormati posisi Sabda di kantor.


[Tunggu sebentar]


Sabda membalas pesan Anin dan langsung keluar dari ruangan rapat menuju ruangan kantornya.


"Ceklek." Sabda membuka pintu ruangannya melihat Anin sudah duduk dengan menyandarkan kepalanya di sofa.


"Ada apa?" tanya Sabda kemudian menghampiri Anin dan duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Rasanya aku lelah." Anin bangkit dan menatap Sabda dengan mata berkaca-kaca.


"Ada masalah apa, Nin. Mungkin aku bisa membantumu." ujar Sabda, dia tidak tega saat melihat Anin yang sudah hampir menangis. Wanita itu seperti menyimpan sebuah beban berat.


"Sisil, dia harus kemo lagi dan aku butuh dana." ujar Anin dengan wajah sendu. Sabda melihat Anin sangat putus asa.


"Aku lelah. Sepertinya Tuhan tidak membiarkanku bahagia." lirih Anin dengan menitikkan air mata.


Wajah polos yang saat ini menangis di depannya membuat Sabda tidak tega. Tangan besar itu mengusap air yang terus saja menetes dari kedua mata dengan sorot penuh beban.


"Jangan menangis! Aku akan membantumu sebisaku." ucap Sabda membuat Anin menghentikan gerakan tangan Sabda yang sibuk mengusap air matanya.


"Benarkah?" ucap Anin dengan menggenggam lengan besar itu. Sabda merasa Anin yang sekarang memang sangat berbeda. Jika dulu, wanita di depannya itu sangat polos dan terlihat lugu.


"Aku akan mentransfer dua puluh juta untuk membantu pengobatan Sisil. Jadi jangan menangis lagi. Aku akan berusaha membantumu, Nin." lanjut Sabda.


Kedua orang yang terbawa dengan rasa yang tidak seharusnya itu tidak menyadari, jika di antara sela pintu yang terbuka itu sudah berdiri seseorang yang sudah menangis menyaksikan semuanya.


Aruna membekap mulutnya saat ingin berteriak dan meraung. Wanita yang berusaha mengendalikan dirinya itu sedang melihat kedua orang yang saling berpelukan dan memberikan rasa nyaman.


Hatinya merasa sakit, seolah ribuan sembilu telah menghujam begitu kuat di dalam sana. Rasa sakit seolah membuatnya sulit bernafas, hingga berkali-kali dia berusaha meraup oksigen sebanyak mungkin.


Bahunya bergetar hebat dengan isak tangis yang tidak bisa dia tahan. Wanita yang merasa limbung itu mencari pegangan untuk tetap mampu berdiri. Berlahan, Aruna mencari sandaran untuk bisa menahan tubuhnya yang terasa lemah dan tidak bertenaga.


Beberapa menit berlalu, dia baru bisa menguasai dirinya. Wanita yang berlahan membawa langkahnya menjauh dari ruangan itu mengusap air mata yang seperti tidak ada habisnya. Untung saja kantor sudah sepi karena sudah waktunya para karyawan untuk pulang.


Sekuat tenaga Aruna membawa langkahnya untuk kembali ke butik. Kain jilbab yang menjuntai di dadanya dia gunakan untuk menutup sebagian wajah sembabnya agar tidak terlihat orang lain jika dirinya sedang menangis.

__ADS_1


"Mbak Runa." lirih Amanda tidak dihiraukan Aruna. Langkah gadis mungil itu begitu cepat hingga tidak menyadari jikan seseorang sudah menyapanya.


Gadis yang sedang merapikan koleksi baju yang ada di etalase dibuat bengong dengan sikap Aruna. Bahkan cara Aruna menutup pintu yang terdengar keras itu tidak seperti biasanya.


Amanda melangkah mendekati ruangan Aruna. Saat mendengar isak tangis yang terdengar lirih, Amanda menghentikan langkahnya. Dia tidak berani ikut campur hingga dalam urusan Aruna. Tapi, terus terang saja gadis berwajah bulat itu merasa khawatir dengan keadaan bosnya itu.


Amanda masih berdiri di depan ruangan Aruna tanpa tahu apa yang harus dia lakukan. Hingga berlahan pintu terbuka dan Aruna keluar dengan kulit wajah basah, Amanda yakin jika bosnya itu berusaha menghilangkan jejak tangis dengan membasuh wajah putihnya.


"Nda, aku pulang dulu, ya! Jika Mas Sabda ke sini bilang saja aku naik taxi." pesan Aruna pada Amanda yang menatapnya penuh selidik. Gadis itu hanya mengangguk, dia tidak berani banyak bertanya.


####


Aruna berdiri di dekat jendela kamar. Pikirannya terus melayang pada kejadian sore tadi di kantor Sabda.


Hatinya begitu gamang, hingga dia tidak menyadari jika Sabda sudah berdiri di belakangnya mendekat kedua bahu kecil istrinya.


Aruna memejamkan matanya, bayangan tubuh yang saat ini memeluknya sudah memberi nyaman pada wanita lain. Ingin sekali dia menangis. Tapi sekuat tenaga dia merasakan hati dan pikirannya agar tetap tenang meski kenyataannya dia hampir saja kehilangan kesabarannya.


"Ada apa, Run?" tanya Sabda kemudian membalikkan tubuh mungil itu agar menghadapnya.


Aruna menatap wajah di depannya hingga dia bisa melihat sorot mata mendamba dari suaminya. Iya, dia sudah hafal dari cara Sanda menatapnya memberi sentuhan yang memang terasa berbeda.


"Aku baik- baik saja, Mas." jawab Aruna, dia memaksakan senyum untuk menutupi perasannya.


"Aku menginginkannya, Sayang." ucap Sabda dengan suara berat. Tanpa menunggu jawaban Aruna dia membawa istrinya untuk menikmati surga dunia.


Aruna tak bisa mengelak dari keinginan Sabda. Saat ini dia hanya ingin melayani suaminya sebisa mungkin, memberikan hak yang sudah menjadi kewajiban istri yang diberikan pada suami meski hatinya merasa gamang, karena tubuh yang kini mendekapnya dan membawanya mengarungi nirwana itu juga sudah memberi kenyamanan pada wanita lain.

__ADS_1


__ADS_2