Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Pingsan


__ADS_3

"Apa yang membuat kamu bisa bertahan. Padahal jelas- jelas Mas Sabda seperti itu, Run." tanya Tita saat mengantar Aruna pulang.


Mobil berwarna putih itu membelok ke arah komplek dengan begitu tenang. Pertemuan mereka yang rencananya sebentar ternyata jauh dari perkiraan. Tita mengajak Aruna melihat suasana di luar agar Aruna bisa melupakan sejenak kesedihannya.


"Yang pasti selain adanya calon baby-mu, Run? Atau kamu takut apa kata orang? " lanjut Tita yang masih menatap jalan di depan.


Aruna menggeleng," aku mencintai Mas Sabda. Memang terkesan berlebihan bagi orang yang tidak merasakan apa yang sedang dirasakan seseorang yang berada pada batas antara berpisah atau bertahan. Karena sekali mengambil keputusan aku tidak akan menoleh ke belakang lagi dan aku tidak akan menyesali." jawab Aruna. Tita bisa mengerti, setiap orang menikah pasti tidak terpikirkan untuk berpisah.


Tita menghentikan mobilnya tepat di depan rumah paling bagus di antara jajaran rumah dengan model berseragam itu.


"Run, jika ada apa-apa, jangan ragu untuk menghubungi aku. Aku pasti akan senang hati membantumu." ucap Tita membuat Aruna tersenyum. Setidaknya dia merasa tidak sendiri menghadapi semuanya. Aruna yang awalnya tidak ingin menceritakan masalah keluarganya, akhirnya harus curhat dengan Tita. Tita sudah telanjur tahu semuanya, jadi tidak ada alasan lain menutup aib keluarganya pada orang lain.


"Terima kasih, ice creamnya." ucap Aruna pada Tita. Saat dalam perjalanan pulang, Tita membelikan Aruna ice cream yang di dominasi dengan coklat. Sedari tadi Aruna hanya memakan sesuatu yang berbau coklat.


"Sama-sama." jawab Tita. Gadis itu akhirnya meluncur dengan mobilnya meninggalkan Aruna yang masih berdiri melihat kepergiannya.


Aruna sedang mengumpulkan segenap tenaga untuk bisa bersandiwara di depan Sabda jika dirinya memang dalam kondisi baik- baik saja. Tidak ada yang berubah dari seorang Aruna, meski Sabda mengabaikannya.


Terlihat mobil Sabda sudah berjajar dengan motornya di dalam garasi. Itu artinya Sabda sudah pulang.


Aruna berjalan dengan membawa ice cream di tangannya dan satu kotak makanan. Ternyata, Sabda sudah membuka pintu saat dia hampir saja membukanya.


"Run, dari mana? Mas telpon balik tidak aktif." cecar Sabda. Melihat wajah lelaki di depannya terlihat panik, Aruna hanya tertawa keras di dalam hatinya.


Suaminya terlalu pandai untuk berpura -pura. Padahal sebelumnya nomer dirinya yang tidak aktif.

__ADS_1


"Batreku lowbatt, Mas." jawab Aruna


"Terima kasih sudah mengingat aku, Mas. setidaknya, Mas Sabda, tidak lupa jika aku masih ada." lanjut Aruna kemudian mencium punggung tangan Sabda dengan begitu takdzim. Sabda yang mendengar jawaban aneh dari istrinya hanya tertegun menatap Aruna yang berlalu.


"Mas Sabda sudah makan?" tanya Aruna menoleh pada suaminya yang sudah membuntut di belakang langkahnya.


"Belum. Mas, menunggu kamu." jawab Sabda menatap istrinya yang begitu tenang. Tapi ketenangan itu jelas seperti memberi jarak padanya.


"Ayo kita, makan!" ajak Aruna. Dia tidak lagi berganti baju. Dia langsung mengambil piring dan meletakkannya di meja, menata makanan yang sempat dia beli dari luar.


"Kamu nggak makan, Run?" tanya Sabda saat melihat Aruna menata satu piring makanan. Dia kemudian duduk dengan sekotak ice cream coklat yang rasanya ingin dia habiskan jika bisa mendinginkan perasaan.


"Aku sudah makan dengan Tita." jawab Aruna tanpa melihat Sabda. Entah kenapa melihat Aruna yang seperti itu, Sabda merasa cemas.


"Jangan terlalu banyak makan ice cream, Run. Nanti bisa sakit." lanjut Sabda. Lelaki itu hanya melihat Aruna tersenyum dengan wajah menunduk. Dia merasa Aruna seperti enggan melihatnya.


Baru saja Sabda menyelesaikan makan malam, ponsel yang ada di depannya berdering. Dia melirik Aruna yang menatapnya.


"Angkat saja, Mas!" ucapan Aruna membuat Sabda berdiri dan menerima panggilan yang Aruna juga tahu dari wanita itu.


Aruna tersenyum sinis, menertawakan dirinya yang tidak dianggap sama sekali oleh suaminya. Untuk apa lagi keberadaannya di sini? pikir Aruna.


"Run, Mas, pergi dulu ya!" ucap Sabda saat mendapati Aruna masih di tempat yang sama dan ekspresi yang sama.


"Lakukanlah sesukamu, Mas. Aku tidak akan pernah melarangmu sama sekali." ucap Aruna, membuat Sabda menatap Aruna terlihat dengan tatapan entah. Lelaki itu malah dibuat gelisah dengan sikap Aruna.

__ADS_1


"Run, kamu tidak marah, kan?" tanya Sabda masih berdiri di depan Aruna dengan kunci mobil dan ponsel di tangan. Dia menunggu Aruna menatapnya.


"Apa Mas Sabda masih menganggapku?" tanya Aruna membuat Sabda mendengus. Lelaki itu masih belum melihat wajah istrinya. Tiba-tiba ada rasa bimbang dalam diri Sabda, saat mendengar sikap Aruna padanya.


"Runa... " kalimat Sabda menggantung. Ponsel Sabda kembali berbunyi. Anin kembali menelpon Sabda. Tapi lelaki itu tidak mengangkatnya.


"Aku sudah mengatakannya, Mas. Lakukanlah sebelum aku berubah pikiran." lanjut Aruna. Dia sudah menutup mata dan hatinya. Apapun keputusan Sabda, dia sudah mematikan rasanya.


Dia tidak akan menahan Sabda untuk bertahan. Dia tidak ingin mengikat raga lelaki itu jika hatinya masih terikat pada cinta masa lalunya.


Mendengar deru mobil yang semakin menjauh membuat Aruna menangis histeris. Hatinya tetap sakit meskipun dia sudah membulatkan tekat tapi tetap saja hatinya masih sakit. Kepergian Sabda kali ini seolah menyatakan jika dirinya memang lebih memilih wanita itu.


Tangan mungil itu menjulur dengan wajah bertumpu di atas meja. Semua tenaganya terasa lolos begitu saja. Bahkan, untuk mengeluarkan suara dia tidak mampu.


Aruna Pov


Inilah titik yang paling membuatku sakit. Iya, saat aku masih berharap Mas Sabda mempertahankan pernikahan ini, tapi kenyataannya dia memilih cinta masa lalunya.


Awal pernikahan yang seharusnya hanya ada kebahagiaan, tapi justru malah sebaliknya. Aku kesakitan sendiri, seseorang yang seharusnya merangkulku justru menenangkan wanita lain.


Aku tidak akan menahan Mas Sabda bukan karena aku tidak mau mempertahankan hubungan suci ini. Atau aku tidak tahu cara mengikat lelaki itu. Tapi, aku hanya ingin jika Mas Sabda kembali, maka dia akan benar-benar kembali dengan cintanya untukku. Tapi jika dia tak mampu meninggalkan masa lalunya maka aku akan melepasnya, biar saja dia meneruskan cinta yang belum usai. Aku tidak ingin hidup dihantui dengan cinta masa lalu suamiku yang belum usai.


Author Pov


Isakan tangis yang menggema di dalam rumah besar itu berlahan surut. Dia tahu menangis seperti apapun itu tidak akan merubah sesuatu. Ternyata bertahan seperti ini juga selalu membuatnya semakin sakit.

__ADS_1


Aruna berusaha mengangkat kepala dan ingin beranjak ke kamar, tapi pandangannya berlahan kabur bersamaan dengan kesadarannya yang mulai menghilang.


__ADS_2