
Hesti mengerjapkan mata, pandangannya kini tertuju pada dua orang yang masih tertidur pulas. Wanita itu menatap sejenak dua orang yang terlihat saling melengkapi itu. Betapa senangnya dia saat melihat Aruna sedekat itu dengan cowok. Dia yakin Aruna bersama kekasihnya.
Sabda tidur dengan posisi duduk, sementara Aruna sudah berbaring dengan kepala bertumpu pada kedua paha lelaki yang tangannya menahan kepala Aruna agar tetap pada posisi nyaman.
"Ehm... "
"Ehm.... " Dua kali Hesti berdehem membuat Aruna membuka mata sejenak dengan kesadarannya yang belum pulih benar.
"Ehm... " Dehemam ketiga kali dari mamanya membuat Aruna terhenyak kaget. Dia baru tersadar jika kepalanya berada di pangkuan Sabda.
"Mama sudah bangun? " ujar Aruna langsung bangkit. Terlihat jelas wajah Aruna yang sudah merona dan sikapnya yang terkesan canggung.
Pergerakan Aruna membuat Sabda juga membuka matanya, dia pun tersenyum menyambut tatapan ramah Hesti.
"Selamat pagi, Tante." sapa Sabda kemudian berdiri dan mendekat untuk menyalami wanita yang masih terlihat lemah.
"Kamu pacarnya Aruna, ya?" tanya Hesti.
"Iya, Tan." Baru saja Aruna membuka mulutnya dan akan menjawab pertanyaan Mama Hesti, Sabda langsung mensabotasenya.
"Sebaiknya kalian Salat Subuh dulu!" titah Hesti, dia ingin mengajukan banyak pertanyaan dengan suasana yang lebih santai.
"Baiklah, Tante. Aku akan ke musala." pamit Sabda. Sebenarnya, sudah lama dia tidak pernah salat, tapi demi calon mertua tak ada salahnya untuk memulai. Pikirnya, kemudian menghilang dari ruangan bernuansa putih itu.
"Kamu tidak Salat, Run?" tanya Hesti membuyarkan lamunan Aruna. Saat gadis itu menatap kemana menghilangnya punggung lelaki yang membuatnya heran.
"Aku tidak Salat, Ma. Tapi, aku akan mandi dulu. Dari kemarin aku belum mandi." Aruna langsung meninggalkan mamanya, dia membawa tas yang berisi pakaian yang sempat dia bawa dari rumah.
Hesti hanya menggelengkan kepala. Dia tahu kebiasaan Aruna yang malas mandi dan jika sudah tidur sulit untuk bangun.
Kedatangan Aruna memang membuatnya bahagia. Itu artinya gadis yang kecantikannya mewarisi bundanya itu masih menganggap dirinya, meskipun tidak ada pelukan hangat dari putri yang dia besarkan setelah kepergian ayah dan bundanya.
__ADS_1
Setelah dokter visit dan menyatakan kondisi Mama Hesti udah mulai stabil, Aruna merasa lega. Kemungkinan besok sudah bisa dibawa pulang.
"Kenapa Mama tidak mengabari Aruna saat sakit. Siapa juga yang ngantar Mama ke rumah sakit?" tanya Aruna begitu penasaran. Di rumah tidak ada siapapun kecuali Bi Narti yang datang paruh waktu untuk membantu Hesti.
"Tante Lidya yang membawa Mama. Mama pikir Mama akan menyusul ayahmu. Tapi ternyata Mama masih bisa melihat putri Mama membawa calon suaminya." sindir Mama Hesti kemudian melirik Sabda yang sudah tersenyum ke arahnya.
"Terima kasih, Tante. Jika Tante memang merestui, saya ingin melamar Aruna secepatnya. " Kalimat Sabda meluncur begitu saja seperti roket.
Seketika itu pula, Aruna membelalak kaget, dia tidak menyangka Sabda akan mengatakan itu di hari pertama bertemu keluarganya dan itu pun tanpa persetujuannya.
"Benarkah? Jika serius,Tante ingin kamu membawa keluargamu untuk meminang putri Tante. Dia satu-satunya putriku yang sangat berharga." lanjut Hesti. Ungkapan tulus Hesti tentang Aruna meski Aruna tidak akan percaya jika Hesti tulus menyayanginya.
"Baiklah, minggu depan saya akan membawa Mama ke sini untuk melamar Aruna." tegas Sabda. Lelaki yang merasa ketiban bulan itu pun melirik Aruna dan tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa kalian tidak bertanya dulu padaku? Ini tentang hidupku." protes Aruna, dia merasa ini tidak adil karena membicarakan soal lamaran untuknya tanpa persetujuan darinya.
Hesti masih terdiam, dia memang butuh bicara empat mata pada putrinya. Tapi, dia yakin jika Aruna mempunyai rasa cinta pada lelaki yang kini berdiri di dekatnya dengan senyum yang masih tersungging di bibir.
"Ayo, Run, kita cari makan di depan!" ajak Sabda. Aruna yang ingin bicara pada Sabda pun mengikuti Sabda.
"Mas Sabda tidak balik? Bagaimana dengan pekerjaan Mas? " tanya Aruna saat mereka berjalan bersama menelusuri koridor rumah sakit.
"Mas, akan menunggumu di sini. Kita akan balik bersama." ujar Sabda.
"Untuk pekerjaan, Mas bisa handle dari sini. Nggak harus ngantor." jawab Sabda.
Aruna terdiam, dia tahu Sabda bekerja di showroom mobil, gadis itu hanya tahu jika Sabda mendapat posisi yang lumayan bagus. Tapi, dia tidak tahu jika lelaki di sebelahnya adalah owner dari showroom itu.
"Apa, Mas, serius dengan apa yang, Mas,bicarakan dengan Mama?" tanya Aruna dengan menghentikan langkahnya meyakinkan kembali jawaban Sabda.
"Tentu saja." jawab Sabda dengan singkat, tapi lelaki itu juga menghentikan langkahnya kemudian menatap begitu dalam gadis di depannya.
__ADS_1
"Apa, Mas, benar- benar mencintaiku?" Aruna kembali meyakinkan dirinya. Tapi Sabda hanya terkekeh kemudian meraih bahu tersebut dan mengajaknya untuk kembali melangkah.
"Lelaki seumuran, Mas, tidak lagi melulu bicara tentang cinta yang membabi buta. Lelaki seperti Mas juga butuh perempuan yang bisa dipercaya dan bisa menjadi seorang ibu dan istri yang baik." jawab Sabda. Jari-jari besar Sabda sudah menggenggam jemarinya dengan erat.
"Mas Sabda belum mengenalku seperti apa,Kan?." lanjut Aruna.
"Melihatmu seperti apa, Mas sudah merasa sangat mengenal latar belakangmu. Bagi Mas, kamu wanita yang mas butuhkan untuk menemani, Mas, menjalani hidup Mas." Sabda menarik tangan Aruna untuk segera menyebrang, kemudian masuk ke dalam sebuah rumah makan.
Mereka memilih meja yang ada di dekat jendela kaca. Meskipun banyak pengunjung, tapi suasana di dalamnya cukup tenang dengan lantunan musik yang terdengar mendayu.
Seorang pramusaji menyodorkan beberapa daftar menu dan keduanya memilih nasi bakar dengan varian berbeda untuk makan siang.
"Apa semua pertanyaanmu merupakan tanda jika kamu mau menerima lamaranku?" tanya Sabda meyakinkan untuk sekali lagi.
"Jika orang tua, Mas, setuju dengan hubungan ini." ujar Aruna. Obrolan mereka terjeda karena pramusaji yang sudah membawa pesanan keduanya.
"Mama pasti setuju. Dengan datang ke butikmu, Mas, yakin jika Mama sudah mencari tahu siapa dirimu." jelas Sabda.
"Jika pun Mama tidak setuju, aku cukup dewasa untuk menentukan pilihanku." lanjut Sabda. Dia kemudian memberikan satu suapan nasi bakar pilihannya pada Aruna.
" Banyak yang lihatin kita, Mas." ujar Aruna setelah menerima suapan dari Sabda. Dia tidak menyangka jika hubungannya dengan Sabda akan berakhir seperti ini. Aruna sudah tak bisa mengelak lagi akan perasaannya pada lelaki yang kini tak mampu melenyapkan senyum di bibir tipisnya.
Makan siang ini sungguh berasa istimewa tidak hanya untuk Sabda tapi juga Aruna. Rasa yang tergenggam selama ini pada akhirnya dia labuhkan pada lelaki yang selama ini dia hindari.
"Tapi kita rahasiakan dulu, ya! Aku merasa tidak enak dengan Mas Abi. Selama ini dia selalu baik padaku." pinta Aruna.
"Sampai kapan? Mas, Sebenarnya malah ingin saat ini dia tahu jika kamu memilih, Mas."
"Masalahnya bukan tentang pilih memilih, Mas. Tapi lebih menjaga perasaan saja."
"Jika bisa memilih, tentu saja aku akan memilih Mas Abi." lanjut Aruna saat melihat Sabda menatapnya tajam. Gadis yang saat ini tersenyum dengan sejuta pesona itu sedang ingin menggoda Sabda yang posesif.
__ADS_1
"Jangan katakan itu, sayang! Mas bisa gila jika kamu menjadi milik lelaki lain." lirih Sabda. Kedua tangannya menjulur, menggenggam jemari mungil milik Aruna yang terasa dingin. Sekali lagi, gadis itu menunjukkan kegugupannya tanpa bisa di kendalikan lagi.