
Hari ini Sabda begitu bersemangat, tinggal menghitung hari dia akan pulang dan bertemu istrinya. Menggengam rasa rindu untuk wanita yang kini mengandung calon anaknya itu begitu berat.
Kali ini mereka berlima sedang meninjau perkembangan proyek. Arslan, Sabda, Nanang, dan dua investor yang memang mendanai pembuatan resort dan memodifikasi keindahan alam untuk menjadi icon di pulau ini.
"Kita hanya memanfaatkan sungai, air terjun, dan pantai untuk sedikit di poles agar bisa digunakan dengan lebih nyaman dan indah." pinta salah satu investor yang bernama Gerald.
"Iya, kita akan merenovasi tanpa merusak keaslianya." sambung Arslan, dia faham apa yang dimaksud dengan Gerald, karena keadaan alam di sinilah yang akan membuat daya tarik para tamu untuk mengunjungi resort yang sedang mereka bangun.
Sabda yang memang pemula, dia masih menjadi pendengar yang baik. Sesekali dia menyahut jika itu tentang bagiannya.
"Pak Sabda, pasti sangat kesepian jika tinggal di sini bersama pekerja." ucap Gerald mencoba mengakrabkan perkenalan mereka.
Kelima orang itu kini berjalan menjauh dari proyek dan menghampiri mobil mereka yang terparkir di tempat yang teduh.
Sabda hanya tersenyum, kedewasaan membuatnya lebih hati- hati dalam bersikap dan berbicara.
"Sebenarnya saya sudah menawarkan Pak Sabda untuk tinggal di kota, sesekali saja beliau memantau proyek karena ada Mas Nanang sebagai wakilnya.Tapi menurut beliau, masih banyak yang harus dipelajari tentang bidang yang baru saja beliau geluti ini." sambung Arslan yang sudah beberapa kali terlibat percakapan dengan Sabda dan merasa sedikit saling mengenal Sabda.
Kali ini Arslan datang sendiri tidak ditemani Alena. Karena putri kedua mereka sedang demam sehingga membuat Alena memilih tinggal bersama putrinya.
"Gadis pedalaman cantik- cantik Pak Sabda. Mereka dikenal sangat polos. Tidak ada masalah kan, jika sedikit bermain- main?" goda Gerald membuat Sabda tersenyum hambar.
"Istri saya sedang hamil, Pak Gerald. Tidak mungkin saya melupakan istri saya yang pasti selalu menunggu saya pulang." sahut Sabda. Kalimatnya memang halus, tapi sebagai bentuk penolakan yang cukup keras.
"Wah, Pak Sabda termasuk tipe pria yang bucin ya!" tawa Gerald terdengar begitu renyah. Dia seolah menertawakan Sabda. Tapi lelaki yang saat ini membuka kacamata hitamnya itu pun tidak terpengaruh sama sekali. Sabda hanya tersenyum sumbang.
"Baiklah, saya akan pamit dulu. Putri kecilku sedang sakit, Alena pasti sangat repot untuk menjaganya." pamit Arslan. Lelaki itu kemudian menyalami rekannya sebelum berjalan masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Sedangkan, Gerald dan satu rekan yang ikut bersamanya pun ikut pamit. Pengusaha muda itu akan memilih langsung ke kota saja agar mendapatkan kemudahan fasilitas hidup.
Setelah orang-orang itu menghilang dari pandangannya, Sabda masuk melangkah masuk diikuti Nanang. Satu rumah yang cukup bagus dari rumah yang lainnya ditinggali Sabda dan Nanang.
__ADS_1
"Pak Sabda tidak marah dengan ucapan Pak Gerald?" tanya Nanang saat melihat Sabda mengambil segelas air putih.
"Kenapa harus marah?" tanya Sabda kemudian meneguk air di dalam gelas itu hingga tandas.
"Setiap orang punya prinsip masing-masing, jika ada sesuatu kita yang akan merasa rugi sendiri, kehilangan sendiri, aku tidak mau seperti itu." ucap Sabda saat melihat menatapnya penuh selidik.
"Yang penting besok aku bertemu istriku. Benar kata Dilan, Nang. Jika rindu itu berat." ujar Sabda kemudian masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan keberangkatannya besok.
###
Aruna sedikit terlambat menjemput Sabda. Wanita yang mengenakan dress bermotif floral itu pun berjalan tertatih masuk ke dalam ruang tunggu.
Pandangannya mengedar mencari sosok lelaki yang dia cari, tapi tidak ditemukan juga, padahal seharusnya pesawatnya sudah landing sejak tadi.
"Apa Mas Sabda tidak jadi pulang?" gumam Aruna begitu lirih.
Simpang siur orang yang berada di dalam ruang tunggu tidak Aruna pedulikan. Ada rasa kecewa saat tidak melihat keberadaan suaminya.
"Cari siapa, Mbak?" suara bariton itu seketika membuat Aruna menoleh. Dia memang sudah hafal siapa pemiliknya.
"Apa kabar, Sayang?" Sabda memeluk istrinya dengan begitu erat. Lelaki itu seolah melampiaskan rasa rindunya yang sudah tertahan lama.
"Baik, Mas." jawab Aruna. Dia tidak mampu lagi berkomentar.
"Apa kabarnya yang di perut?" lanjut Sabda saat meregangkan pelukannya, memberi jarak diantara mereka. Lelaki itu menatap wajah cantik istrinya dan kemudian beralih pada perut yang terlihat menyembul dari balik dress yang membalut dengan begitu anggun.
"Baik, Mas." jawab Aruna.
Jawaban yang sama dan hanya sekedarnya membuat Sabda tahu jika istrinya salah tingkah.
"Ayo kita pulang!" Dengan ransel di punggung, Sabda merangkul wanita mungil itu melangkah keluar untuk mencari taxi. Dia sengaja meminta Aruna untuk naik taxi saja.
__ADS_1
"Kenapa kamu jadi malu- malu, Run? Apa ada yang beda dari Mas?" tanya Sabda saat mereka duduk di bangku belakang mobil taxi. Tangan berotot itu masih merengkuh bahu kecil istrinya. Sabda seolah tidak mau melepasnya meski sedetik.
"Mas Sabda terlihat lebih hitam." jawab Aruna membuat Sabda terkekeh.
"Hotel Angela, Pak." ucap Sabda meminta sopir taxi berhenti di hotel berbintang empat yang paling dekat dengan posisinya.
"Loh, kenapa harus ke hotel, Mas? Mama sudah menunggu Mas Sabda." ucap Aruna belum tahu tujuan suaminya mampir terlebih dahulu.
"Ada urusan sebentar. Ada yang harus di selesaikan, Sayang." jawab Sabda.
Mereka turun dari taxi. Sabda masih menuntun Aruna masuk ke dalam hotel dan yang membuat Aruna bingung kenapa juga harus check in jika harus menemui tamu.
"Ayo masuk!" Sabda menarik Aruna untuk masuk dan menutup pintu kamar hotel.
"Kemarilah! Kenapa malah duduk di sofa?" ucap Sabda, dia langsung meletakkan ranselnya dan melepas hodie yang dia kenakan.
"Mas kangen kamu!" Sabda membuka jilbab Aruna, kemudian mendaratkan ciuman di bibir ranum milik istrinya.
Aruna mulai mengerti ketika menatap sorot mata Sabda yang penuh damba. Dia bisa melihat Sabda yang sudah menginginkan lebih dari ciuman.
Mereka berdua menghabiskan waktu sore harinya dengan melampiaskan rasa rindu yang sudah menggebu.
Hasrat dan gairah yang tertahan cukup lama membuat Sabda seolah ingin menghabiskan istrinya dalam gelora kenikmatan percintaan mereka jika saja dia tidak mengingat jika Aruna sedang hamil.
"I love you, Aruna!" Seketika Sabda langsung Ambruk di samping Aruna yang masih terengah. Lelaki itu memilih memejamkan mata, menikmati sisa-sisa kenikmatan dari percintaan yang baru saja mereka lakukan.
"I love you to, Mas sabda." lirih Aruna tanpa terdengar oleh Sabda.
Aruna melirik Sabda yang terpejam di sebelahnya. Dia bisa merasakan hasrat suaminya yang begitu menggebu tapi masih tertahan.
"Mau kemana?" tanya Sabda menahan tubuh Aruna yang akan beranjak. Lelaki itu mempererat pelukannya meski matanya masih terpejam.
__ADS_1
"Aku akan membersihkan diri dulu, Mas." jawab Aruna.
"Sebentar saja, Run! Mas masih kangen." Mendengar kalimat Sabda Aruna kembali terdiam. Dia membiarkan Sabda menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan.