
"Kamu yakin ikut Mas tinggal di daerah proyek? Di sana sangat pelosok, Sayang." ucap Sabda saat mobil yang dikendarai Nanang kini melaju menuju daerah proyek. Nanang baru saja menjemput mereka dari bandara.
"Nggak apa- apa, percuma juga jika aku kesini jika ujung-ujungnya kita tetap berjauhan, Mas." balas Aruna.
Wanita yang kini perutnya terlihat semakin besar dari sebelumnya itu, masih ngotot untuk ikut di daerah terpencil. Padahal, Sabda sudah menyiapkan rumah dan sebagainya di kota untuk Aruna, agar istrinya mendapatkan tempat yang nyaman.
"Baiklah, kalau itu maumu, Sayang." jawab Sabda. Mobil melaju dengan santainya satu persatu Sabda menceritakan tentang kota yang kini di laluinya.
"Kota di daerah sini ya dekat dermaga, itu pun tidak terlalu ramai." Sabda menunjukkan beberapa tempat yang memang cukup ramai, meski tak seramai kota asal mereka. Aruna hanya mengangguk dia masih menikmati perjalanan ini.
"Tapi udara masih bersih dan jalan tidak semacet di tempat kita. Hotel pun sudah ada lo, Sayang. Meskipun tidak standar hotel berbintang tapi cukup ramai, karena keindahan alam pulau di sini menarik wisatawan khususnya mereka yang menang hobby nge-trip." jelas Sabda lelaki itu seperti guide untuk Aruna, meskipun baru beberapa bulan mengenal pulau ini dia sudah terdengar fasih menceritakan.
"Selain keindahan alam, cewek di sini juga cantik-cantik, Bu Sabda." goda Nanang membuat Aruna menatap suaminya.
"Si Nanang yang mulai menyeleksi, Run." jawab Sabda.
"Santai Bu Sabda, Pak Sabda udah bucin akut sama Bu Sabda. Jadi jangan khawatir! Saya saja yang baru pacaran tidak tertarik sama gadis sini, takut kalau mau ketemu mertua perjalanannya susah." Nanang memang pintar sekali mencari topik obrolan untuk lebih mengakrabkan.
"Oh begitu, Mas Nanang." jawab Aruna. Dia melihat Sabda masih sama, tidak ada yang berbeda dari suaminya.
"Untuk fasilitas pendidikan dan kesehatan di sini sudah lumayan bagus, Run. Tapi, saat mendekati hpl kita akan balik saja ke kota kita. Mas tidak ingin ambil resiko." ujar Sabda. Bahkan, dari awal dia memilih dokter dan klinik terbaik untuk istri dan anaknya.
Perjalanan sudah hampir dua jam mereka lalui. Satu jam berikutnya mereka akan melewati hutan dan tanah kosong yang sepi.
"Tidur saja jika kamu lelah, Run!" ucap Sabda seraya tangannya merangkul bahu kecil Aruna dan sedikit menariknya agar Aruna bersandar di dadanya.
"Jangan ngiri, Nang! Makanya cepat disahkan, biar bisa dibawa kemana-mana." ledek Sabda saat memergoki Nanang yang mengintip dari spion mobil.
Lelaki hitam manis yang masih memegang kemudi itu terkekeh dan salah tingkah karena ketangkap basah oleh bosnya.
__ADS_1
Entah berapa menit Aruna memejamkan mata. Tiba-tiba saja mereka sudah sampai di sebuah pemukiman yang memang di buka untuk proyek yang saat ini Sabda jalani.
"Ayo, kita turun!" ajak Sabda saat Nanang menghentikan mobilnya di depan rumah yang akan menjadi tempat tinggal mereka yang baru.
Aruna keluar dari mobil, wanita itu mengedarkan pandangannya ke seluruh alam. Senja yang berbeda dan tidak pernah dia dapatkan di kota. Mereka berada di tengah hutan dan suara lirih dari deburan ombak membuat riuh yang begitu indah di dalam hati.
"Selamat datang, Bu Sabda." sapa Mbak Yuni dan Bu Sulis yang bekerja di bagian dapur itu sengaja menyambut kedatangan Aruna.
"Terima kasih, Bu." jawab Aruna. Wanita hamil itu tersenyum dan kemudian menyalami dua wanita itu.
Di sana memang tidak banyak kaum wanitanya, hanya tiga orang saja yang mana semua penduduk asli. Tugas mereka adalah memasak dan membersihkan rumah yang jadi pemukiman sementara.
"Semoga kerasan tinggal di sini, Mbak." Mbak Yuni mengubah panggilan untuk Aruna, dia merasa wanita yang menyandang istri bosnya itu masih terlalu muda.
"Terima kasih, Bu." jawab Aruna.
"Maaf ya, Bu. Kami masuk dulu!" sela Sabda. Dia tahu Aruna lelah dan jika tidak diakhiri dalam basa basi diantara mereka, Aruna pasti akan merasa sungkan mengakhiri obrolan bersama dua wanita yang menatap kagum pada Aruna.
"Kita hanya menggunakan kipas angin. Di sini kita masih pakai ganset. Minggu depan, urusan listrik baru dipasang dari pihak pemerintah." jelas Sabda. Dia hanya merasa khawatir, Aruna tidak nyaman karena hawa gerah dan suasana tidak seterang di rumah.
"Tidak apa- apa, Mas." jawab Aruna. Sebelum menikah dengan Sabda kehidupannya pun biasa saja. Dia hanya gadis yang tengah berjuang untuk penghidupan yang jauh lebih baik. Meskipun, sebenarnya Aruna bukanlah juga dari keluarga miskin.
"Kalau ingin makan sesuatu ketika Mas tidak ada, bilang saja sama Mbak Yuni atau Bu Sulis." ujar Sabda kemudian membuka kemejanya.
Hawa gerah memang sering membuat tidak nyaman. Tapi mereka harus menunggu waktu- waktu tertentu untuk menggunakan listrik.
Suara jangkrik terdengar saling bersahutan. Setelah Salat Isya berjamaah, Aruna mulai menyalakan kipas angin.
"Mas jendelanya dibuka saja, ya!" pinta Aruna saat dirinya sudah merasa sangat gerah. Ternyata menyesuaikan diri tak semudah yang dia bayangkan.
__ADS_1
"Tapi, nyamuknya banyak, Sayang!" jawab Sabda. Sambil tersenyum, dia tahu Aruna sudah merasa tidak nyaman.
Selesai mengganti baju kokonya dengan kaos, Sabda membuka jendela yang ada di sebelahnya.
"Alhamdulillah, serasa angin surga." Angin laut yang bertiup begitu kencang membuat Aruna yang sudah berkeringat merasa lega.
"Bagaimana, masih ingin di sini atau di kota yang ada ada AC- nya?" goda Sabda kemudian mendekat ke arah Aruna yang sudah mengenakan daster tak berlengan. Kulit putih Aruna begitu menggoda pandang Sabda.
"Di sini saja, Mas. Kita kan disini cuma sebentar, lagian minggu depan sudah ada listrik." ujar Aruna kemudian menyandarkan tubuhnya di sofa panjang yang kemarin baru di beli Sabda dari kota.
"Pak- Pak Sabda, orang kampung membuat masalah lagi!" suara Nanang terdengar panik, setelah lelaki itu mengetuk pintu kamar Sabda berulang kali.
"Iya, aku ke sana." teriak Sabda menjawab pertanyaan Nanang. Lelaki itu langsung mengambil jaket kulitnya dan menutup kembali jendela.
"Jangan dibuka dan jangan keluar kamar sebelum Mas pulang." ujar Sabda.
Wajah Sabda yang berubah tegang membuat Aruna juga merasa panik. Wanita itu, hanya tahu jika ada yang menentang proyek di daerah pemukiman mereka.
"Mas, hati- hati." pesan Aruna membuat Sabda yang akan melangkah keluar menoleh ke arah istrinya. Lelaki itu melihat wajah Aruna yang terlihat cemas.
"Tenang, bukan masalah serius." Sabda berusaha menenangkan Aruna. Dia tidak ingin ketegangan ini membuat masalah pada kehamilan istrinya.
Aruna mengangguk meskipun dia belum bisa menenangkan hati sepenuhnya. Dia hanya mencemaskan jika penduduk di daerah sini masih primitive seperti suku-suku pedalaman yang membahayakan suaminya.
Waktu terus bergulir hingga pukul sebelas malam, tapi Sabda belum juga kembali membuat Aruna semakin cemas memikirkannya. Ponsel tidak berfungsi, bahkan dia tidak berani keluar kamar karena Sabda sudah melarangnya. Rasanya Aruna sudah tidak tahan lagi dengan kecemasan di hatinya.
Entah sudah berapa kali dia melirik jam yang menggantung di dinding kamar, tapi belum juga mendapatkan tanda tanda suara kendaraan yang datang. Bahkan, suara jangkrik yang semakin terdengar semakin nyaring diantara suasana sepi.
Aruna terus berjalan mondar-mandir di dalam kamar dan masih dengan kecemasan yang sama.
__ADS_1
"Tok...tok... tok.." suara ketukan diiringi suara handle pintu yang bergerak membuat Aruna terkesiap dan menoleh.
"Mas Sabda?" panggil Aruna begitu ragu dengan jantung yang berdetak dan ingin meloncat saja.