Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Ngerjain Aruna


__ADS_3

Setelah kembali, Aruna di sambut dengan berbagai macam pekerjaan yang mengganggu. Dengan rasa lelah Aruna berjalan menghampiri Nina yang masih duduk di belakang meja kasir.


"Bagaimana pesanan yang kemarin pas aku nggak ada, Nin?" tanya Aruna yang berdiri di depan Nina.


"Semua sudah beres, kemarin Bu Rosa bajunya sudah diambil. Katanya sudah pas." ujar Nina menjelaskan.


"Alhamdulillah, terima kasih, Nin, kamu memang bisa diandalkan." ujar Nina kemudian meletakkan bobot di sofa yang biasa digunakan oleh tamu.


Aruna memijit kepalanya, kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merasa pusing dan lapar.


"Ting... " Sebuah notifikasi pesan di ponselnya membuat Aruna beranjak untuk mengambil ponsel yang tergelak di meja depannya.


'Sudah makan? Bagaimana jika makan siang bersama?'


Pesan dari Sabda membuat Aruna menoleh pada dinding kaca yang tembus pandang hingga kafe sebelah. Terlihat Sabda duduk di pojok kafe seperti biasa dan menatap ke arah butik.


Aruna tidak membalas pesan dari Sabda. Dia tahu lelaki itu jika sudah ada maunya pasti sulit untuk di cegah. Aruna merasa enggan berdebat atau menghadapi Sabda yang selalu ngotot.


"Mbak Runa, kemarin Mas Abimana datang. dia nanyain, Mbak!" ujar Nina membuat Aruna menoleh ke arah Nina.


"Mas Abi cerita mau ngapain, Nin? Terus kamu bilang apa?" tanya Aruna dibuat penasaran.


"Ya, aku bilang Mbak Runa pulang ke rumah orang tuanya. Mamanya sakit. Kata Mas Abi,dia ingin bicara." ujar Nina.


Sejenak Aruna tertegun, dia mengingat kembali saat banyaknya panggilan tak terjawab, tapi Aruna juga merasa janggal kenapa tidak ada pesan masuk. Biasanya Abimana akan mengirim pesan jika Aruna tidak mengangkat panggilannya.


Aruna terkesiap saat melihat sosok yang membuka pintu kaca, pintu utama butik. Lelaki, bertubuh tinggi tanpa ekspresi senyum sama sekali itu berjalan mendekat ke arahnya. Sabda kini menghampiri Aruna.


"Bisa kita bicara sebentar?" tanya Sabda dengan kalimat dan intonasi yang terdengar formal.


"Hmmm... ada apa, Mas?" tanya Aruna, dengan salah tingkah, sesekali menatap Nina yang tertangkap Aruna mencuri pandang.

__ADS_1


"Mama meminta kamu untuk datang. Katanya, baju Mama masih kurang longgar." ucap Sabda setelah mencari alasan yang tepat membawa Aruna datang menemui Mama Rosa.


"Masak?" Aruna kaget. Bakal merepotkan jika memang kurang longgar. Akan lebih aman jika terlalu longgar.


"Nin, katanya semua pesanan sudah beres? Kenapa ini masih ada yang kurang longgar." Wajah tegang Aruna membuat suasana menjadi serius. Jika ada permasalah order, sementara masalahnya karena kurang longgar memang membuat Aruna panik. Takutnya memang tidak bisa ditambah besar.


"Kemarin katanya udah pas, Mbak." jawab Nina yang juga merasa bersalah.


"Kok bisa ya, Nin? Apa aku kemarin salah ukur? Salah nulis angka?" Aruna tidak bisa menyembunyikan rasa paniknya karena bahan yang digunakan untuk membuat dressnya Bu Rosa permeter sudah mencapai jutaan rupiah, sementara waktu juga sudah sangat mepet tidak mungkin mengganti dress itu.


"Sebaiknya, Mbak Runa, lihat berapa centi kurang longgarnya. Atau Nina hubungi saja Bu Rosa?" tanya Nina.


"Aku lihat dan ambil bajunya saja." Aruna pun gegas berdiri, dia mengambil tasnya dan siap untuk ke rumah Bu Rosa.


Sabda tersenyum tipis saat ada kesempatan bisa mengajak Aruna. Dia selalu saja mencari akal, karena Aruna meminta untuk dirahasiakan dulu hubungan mereka.


"Mas Sabda bisa antar aku, kan? " tanya Aruna menghampiri Sabda. Lelaki itu sebenarnya merasa bersalah saat melihat wajah Aruna yang tegang dan panik.


"Selamat siang, Pak Sabda." sapa security saat Sabda melewati pos security. Lelaki yang terlihat serius itu pun hanya membalas dengan mengangguk.


Sedan yang berbeda merk dengan produk yang dijualnya itu pun keluar dengan lalu lintas yang sedang diatur security dan berlahan menghampiri Aruna yang langsung masuk ke dalam mobil.


"Duduk di depan!" titah Sabda saat melihat Aruna akan membuka pintu belakang. Aruna langsung menuruti Sabda agar tidak terjadi perdebatan panjang.


"Banyak orang yang lihat aku masuk mobilnya, Mas Sabda." ujar Aruna.


"Apa masalahnya, Run? Sekarang atau nanti orang juga bakal tahu." jawab Sabda kembali fokus pada kemudi saat mobil mulai melaju di jalan yang cukup ramai.


Perjalanan yang sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya butuh lima belas menit dengan kecepatan rata-rata 80km/ jam.


Gerbang otomatis terbuka, di sambut security yang menghampiri mobil Sabda.

__ADS_1


"Mas Sabda, selamat siang." ucap security dengan rasa kaget saat melihat Sabda pulang. Entah kenapa lelaki yang sudah bekerja puluhan tahun di rumah ini ikut merasa haru.


"Aku ingin bertemu, Mama." jawab Sabda yang dijawab anggukan security itu.


Aruna begitu terpana saat melihat bangunan megah yang cukup artistik itu. Rumah yang punya desain unik dan nyaman dari luar, membuat Aruna beralih menatap Sabda.


"Siapa Sabda Megantara? " pertanyaan itu menyelimuti otaknya saat ini. Tapi, Aruna tidak lagi bisa menanyakan apapun.


"Ayo, Run!" Sabda membukakan pintu mobil untuk Aruna, setahu Sabda, Aruna masih bingung dengan kesalahan pada baju mamanya.


Aruna keluar, kemudian Sabda menggenggam tangannya yang sudah terasa dingin. Kali ini banyak hal yang membuat Aruna gugup, selain masalah baju, posisinya yang akan bertemu calon mertua dan latar belakang Sabda, membuatnya kehilangan rasa percaya diri.


Pintu sudah terbuka lebar, wanita setengah baya dengan daster rumahan menyambut, " Mas Sabda, Ibu sudah menunggu di belakang." sambut Bi Asti dengan senyum sumringah. Wanita itu kemudian melihat Aruna yang berdiri si samping Sabda kemudian kembali tersenyum ramah.


Sabda langsung menarik Aruna untuk masuk ke dalam. Ruangan yang cukup mewah dan modern dengan dinding kaca yang tembus pandang. Langkah mereka terdengar menggema keseluruhan ruangan membuat Rosa menyambut kedatangan mereka.


"Selamat siang, Sayang!" Rosa langsung memeluk tubuh putranya yang begitu tinggi. Kemudian menatap wajah yang mirip dengan mendiang papanya itu dengan begitu dalam.


"Sabda membawa Aruna, Ma." ujar Sabda membuat Rosa menoleh ke arah gadis di sebelah putranya.


"Selamat datang, sayang." Rosa langsung memeluk Aruna. Dia memang sudah mengenal Aruna tapi hanya sebatas pelanggan butik Aruna.


"Ayo kita makan dulu, biar bicaranya lebih santai." ujar Rosa menarik lengan Aruna menuju meja makan diikuti oleh Sabda.


"Bu Rosa, katanya dress kemarin kurang longgar ya!" Belum sampai Aruna duduk,gadis itu menanyakan kegelisahan hatinya.


"Nggak kok, pas banget, dan nyaman. Terima kasih ya, saya suka modelnya." jelas Rosa, terpancar kepuasan dalam binar wajahnya.


Aruna menatap bingung, membuat Rosa penasaran. Rosa pun mengikuti tatapan kesal Aruna yang tertuju pada Sabda yang tersenyum tipis.


"Pasti ulah Sabda, Ayo kita makan sekarang." ajak Rosa dengan meminta duduk Aruna.

__ADS_1


"Pesan Whatsapp Sabda tidak dibalas, Ma." adu Sabda membuat Rosa hanya menggelengkan kepala. Sabda memang keras kepala, lelaki yang kini ikut duduk itu memang sulit menerima penolakan.


__ADS_2