
Aruna berhenti sejenak di antara jajaran mobil pengunjung kafe. Tangannya memegang perutnya yang terasa kaku dan sedikit nyeri.
"Aruna..." suara Sabda membuatnya menoleh. Lelaki itu berlari mengejarnya.
"Run, aku akan menjelaskan semuanya. Aku tidak pernah...." Kalimat Sabda menggantung.
"Perut bagian bawahku kram, Mas." Ketakutan kembali menyerah sepasang suami istri itu. Iya, trauma kehilangan calon bayi pertamanya membuat keduanya panik.
"Tenang, Run." lirih Sabda yang langsung menggendong Aruna menuju mobilnya. Sabda merubah posisi jok agar Aruna merasa nyaman sebelum melajukan mobilnya menuju klinik bersalin.
"Aku hanya merasa kram, Mas. Bukan, akan melahirkan." ucap Aruna, saat melihat wajah tegang Sabda dan peluh yang melembabkan dahi pria itu.
Sabda tidak menjawab. Dia terus saja menatap ke depan dan melajukan mobilnya dengan hati- hati menuju klinik.
Mobil berhenti di parkiran, Sabda kembali menggendong Aruna, meskipun istrinya merasa enggan karena itu mengundang perhatian orang di sekitar.
Masih menggendong Aruna, Sabda masuk menerobos melewati meja resepsionis, hingga membuat orang yang berjaga mengikutinya ke arah ruang praktek dokter Anggraini.
"Sebentar, Pak!" ucap bagian resepsionis menahan Sabda menerobos. Wanita itu mengetuk pintu ruangan dokter yang ternyata masih ada satu pasien yang masih berkonsultasi.
"Maaf, Dok ! Pak Sabda ..." belum selesai bicara Sabda masuk ke dalam ruangan itu dan membuat dokter Anggraini beranjak berdiri.
"Istri saya merasa kram, Dok." sela Sabda dengan panik.
Dokter anggraini mempersilahkan Sabda membaringkan Aruna di ruang USG. Beliau melanjutkan menulis resep pada pasien yang hampir selesai ditanganinya.
Melihat kepanikan Sabda dokter Anggraini bergegas melihat keadaan Aruna setelah pasien yang baru saja dia tangani keluar dari ruangan.
"Kenapa dengan Ibu Aruna, Pak Sabda?" tanya dokter Anggraini seraya memeriksa denyut nadinya sedangkan asisten dokter mengoleskan cairan untuk USG.
"Perutnya kram, Dok. Saya takut terjadi sesuatu." jawab Sabda masih dengan suara panik.
"Sebentar kita USG dulu." jelas dokter Anggraini.
__ADS_1
Sabda pun segera duduk sambil memperhatikan layar monitor. Lelaki yang sesekali melihat istrinya itu pun mempertajam pendengarannya ketika dokter Anggraini memberi penjelasan tentang kondisi Aruna.
"Bagaimana jika Ibu Aruna istirahat dulu di klinik sampai rasa tegangnya mereda. Ibu Aruna mengalami kontraksi." ucap Dokter Anggraini seraya kembali duduk di mejanya.
"Saya ngikut saja, Dok. Yang penting anak dan istri saya mendapatkan yang terbaik." jawab Sabda ditanggapi oleh dokter Anggraini dengan senyuman.
Setelah infus terpasang, perawat meninggalkan, ruangan yang bernuansa putih itu.
"Jangan berfikir macam- macam, Run." ujar Sabda sambil berjalan mendekati Aruna yang sudah berbaring.
"Dia menelponku dan mengirimkan foto itu. Itu bukan foto editan, Mas." jawab Aruna. Tatapannya menerawang jauh.
"Itu bukan editan tapi bukan seperti yang wanita itu katakan." mendengar jawaban Sabda, Aruna menoleh ke arah lelaki yang kini berdiri di sampingnya.
"Iya, saat itu aku pergi ke apartemen Bagas berkumpul sama teman-teman yang lainnya. Tapi saat pulang, aku bertemu dengannya di lift." jelas Sabda, tatapannya seolah ingin meyakinkan jika semua yang dia ucapkan memang benar.
"Assalamu'alaikum..." suara itu membuat Aruna dan Sabda menoleh. Mama Rosa sudah berjalan mendekati Aruna.
"Kenapa kamu, Run? Bagaimana dengan bayinya?" Mama Rosa sejak dikabari Sabda, tentang keadaan Aruna pun langsung panik.
"Kontraksi, Ma. Tapi, ini rasanya sudah lebih baik." jawab Aruna tidak ingin Mama Rosa terlalu khawatir.
"Untunglah tidak apa- apa. Seharusnya kamu bilang sama Mama jika wanita itu mengusikmu." ucap Mama Rosa sambil melirik Sabda. Rosa selalu menyalahkan Sabda jika berhubungan dengan Aninditha.
"Apa kamu masih berhubungan dengan wanita itu?" tanya Rosa pada Sabda, dia hanya ingin mendengar sendiri pengakuan Sabda meskipun dia sudah tahu jika putranya tak lagi berhubungan dengan Aninditha.
"Nggak pernah, Ma. Sumpah, Sabda sudah tidak ingin bertemu dengan wanita itu. Bahkan, jika harus ada urusan dengan pekerjaan, Sabda akan meminta Andrean atau Fadhil mewakilinya." jelas Sabda, Dia tak ingin mamanya kembali murka seperti dulu kala saat dirinya mengejar Aninditha. Beliau pernah dengan tegas mengusir Sabda mesti pada akhirnya meminta putranya kembali pulang.
###
Dengan kaca mata hitam dan hand bag di tangannya, Rosa berjalan menuju unit apartemen yang sudah diinformasikan oleh orang bayarannya.
"Ting..tong..." Sekali saja dia memencet bel, pintu sudah terbuka.
__ADS_1
Wanita muda yang pernah menorehkan luka di hatinya itu terlihat terkejut di depan pintu. Ya, wajah ayu milik Aninditha itu tidak bisa menyembunyikan rasa kagetnya.
"Kenapa tidak mempersilahkan masuk tamu? Apa kamu masih sama, tidak punya adab dan sopan santun?" ujar Rosa. Melihat wajah itu seperti memutar kembali adegan panas suaminya dengan gadis remaja yang sudah dia pungut itu.
"Silahkan, masuk!" ujar Aninditha dengan suara berat. Baginya Rosa masih sama seperti dulu, aura mencekam terasa sama saat wanita itu mengusirnya dari rumah.
"Rupanya, kamu berhasil hidup enak meskipun dari hasil jual diri." sindir Rosa dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruang apartemen yang terbilang mewah. Rosa memang sudah menyelediki Aninditha.
"Berhentilah menghinaku, Tante. Aku bukan Aninditha yang dulu, yang takut dengan ancaman Tante Rosa." sahut Anin dengan rasa marah. Dia merasa Rosa selalu menganggapnya seperti sampah setelah kejadian Rosa memergokinya bersama suaminya.
"Aku memang tidak bermaksud menakutimu. Tapi, aku datang untuk memberitahumu tentang posisimu yang tak lain hanya sampah yang menebarkan bau busuk dimana- mana." timpal Rosa. Dia seperti melampiaskan amarahnya yang sudah bertahun-tahun di pendam.
Menggenggam Rasa marah dan terluka karena perselingkuhan suaminya dan gadis yang dia bawa dari kota lain membuatnya tidak bisa melupakan sakitnya semua itu. Pengkhianatan itu terjadi di rumahnya dengan mata kepalanya sendiri.
"Tidak hanya aku yang bersalah. Tapi, Om haris juga yang merayuku. Bahkan, suami Tante yang mengambil keperawananku." balas Aninditha.
"Itu memang benar, suamiku memang sudah membeli keperawananmu. Kamu bisa hidup mewah, seorang mahasiswi pungutan selalu tampil dengan barang puluhan hingga ratusan juga."
"Andai kamu tahu, bisa saja uang itu tidak ada harganya jika tidak ada yang menjual bongkahan daging haram itu." jawab Rosa dengan begitu sadis.
"Jika Tante hanya ingin menghinaku, pergilah! Aku tidak ada urusannya dengan Tante Rosa!" Anindhita sudah tidak tahan dengan penghinaan Rosa. Wanita itu memang berbeda dengan Aruna. Rosa mempunyai sifat yang cukup arogan.
"Aku memang tidak ingin berlama-lama denganmu! Aku hanya ingin memperingatkanmu jangan ganggu Aruna. Dia tidak hanya menantuku, tapi dia sudah seperti putriku sendiri." Suara tegas itu penuh penekanan. Wajah Rosa kini terlihat begitu serius membuat auranya terlihat mencekam.
"Jauhi Sabda! Aku bisa melakukan apa saja! Tidak hanya mengusir paksa keberadaanmu dari sini. Tapi, aku bisa membuatmu jadi gelandangan atau kalau perlu menghilangkan keberadaanmu di dunia ini. Seorang Ibu bisa melakukan apa saja. Kamu tahu, kan, seperti apa aku? Ya seharusnya kamu tahu!" ujar Rosa.
"Karena aku tahu bagaimana posisimu, kekuatanmu, dan siapa yang ada di dekatmu. Kuharap kamu mengerti." lirih Rosa dengan mendekatkan wajahnya pada wajah tegang Aninditha.
Rosa kemudian keluar dari apartement itu dan disambut satu orang yang sudah lama menjadi ajudannya.
Rosa adalah wanita kuat dengan kecerdasan luar biasa tapi pernah tak berdaya karena perasaannya yang terluka karena sebuah pengkhianatan dari dua orang yang dia sudah dia percaya.
Aninditha terduduk lemah di sofa. Dia sangat mengenal Rosa, jika wanita itu mendatanginya berarti dia sudah tidak main- main lagi. Dan Wanita itu bisa saja mewujudkan apa yang dia katakan.
__ADS_1