
Mama Rosa Pov
Aku bahagia sekali setelah tujuh tahun, dan hari ini pertama kalinya Sabda mengawali untuk menelponku. Aku berharap, hubunganku dengan putra tunggalku akan segera membaik.
Apalagi kabar dia ingin menikah, itu artinya luka karena cinta di masa lalunya sudah mulai terkikis. Terkadang aku merasa bersalah atas patah hatinya. Tapi, aku tidak bisa untuk berdiam terus, seolah keadaan tidak memberiku pilihan.
Aku kembali menatap rumah yang pernah jadi impianku dan saksi cintaku bersama Mas Haris. Rumah yang sudah beberapa tahun serasa mati sejak kejadian yang bagiku sangat mengerikan dan menyakitkan.Tapi, biar saja aku tutup rapat agar luka itu berhenti di dalam hatiku saja. Tidak lagi melukai putra kesayanganku.
Author Pov
Rosa yang tadinya duduk di taman yang ada di belakang rumahnya pun segera bangkit. Setiap kali mengingat serpihan luka di hatinya, dia segera menutupnya kembali. Tidak ingin mengingatnya lebih dalam, karena bisa membunuhnya berlahan.
Wanita yang terlihat begitu tegar itu tidak ingin lemah. Dia harus tetap bertahan demi Sabda. Berjalan terus ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.
###
Malam ini Hesti begitu senang, dia bisa menghabiskan waktu bersama Aruna dan Sabda. Setelah makan malam dan melihat sebentar, Hesti pamit untuk ke kamar terlebih dahulu.
"Jangan lupa tidur di kamar Mama ya, Run! Besok kamu sudah balik lagi!" Hesti kembali mengingatkan putrinya. Sementara Aruna hanya mengangguk. Dia masih membereskan sisa makan malam mereka.
"Kenapa Bi Narti tidak menginap saja di sini? Kan, bisa menemani Mama Mertua." ujar Sabda saat melihat Hesti yang sebenarnya masih lemah.
"Bi Narti sebenarnya sudah tidak diizinkan bekerja oleh keluarganya, tapi Bi Narti tidak bisa meninggalkan Mama sendirian. Bi Narti bilang, jika keluarga kami sudah banyak berjasa pada keluarganya." ucap Aruna, dia membawa piring kotor ke belakang.
Sabda hanya manggut- manggut. Kemudian meraih ponselnya dan berbalas pesan pada Andrean yang melaporkan kondisi kantor tanpa kehadirannya. Ya Andrean memang bisa diandalkan, bahkan Sabda pernah berfikir untuk membuka anak cabang di lain kota.
"Mas, kita baliknya pagi ya? Aku masih harus persiapan. Lusa, temanku ada yang tunangan." ucap Aruna setelah membereskan piring.
"Berarti kamu nggak bisa ikut Mas ke acara temannya, Mas?" Sabda berharap Aruna mau menemaninya. Dia sebenarnya enggan ikut ke acara seperti itu jika saja jika bukan karena Bagas sahabat dekatnya.
"Bukan tidak mau, Mas. Tapi, yang bertunangan sahabat terdekatku. Otomatis aku juga ikut seperti tuan rumah. Tapi, liat saja nanti jadwalnya bentrok apa tidak." Aruna merasa serba salah. Tapi, dia tidak akan melewatkan pertunangan Tita, meskipun berat untuk menolak Sabda.
__ADS_1
"Mas, aku ke kamar Mama, dulu ya! Aku sudah menyiapkan selimut buat Mas Sabda di kamar tamu." jelas Aruna kemudian melangkah menuju kamar Hesti, tapi Sabda langsung menyekal tangan kecil itu.
"Nggak ada kecupan tidur untuk, Mas?" tanya Sabda dengan menggedikkan kedua alisnya.
"Mas, jangan membuatku paranoid jika berdekatan dengan Mas." desah Aruna, kemudian meronta melepaskan tangannya.
Sementara, Sabda malah tergelak melihat tingkah Aruna. Wajah cemberut membuat lelaki itu merasa gemas. Aruna memang sudah membuatnya banyak tertawa.
Setelah mengetuk beberapa kali pintu kamar Hesti, Aruna pun membukanya. Wanita paruh baya itu malah masih duduk bersandar di kepala ranjang.
"Kenapa belum tidur, Ma?" tanya Aruna kemudian duduk di pinggir ranjang.
"Mama menunggumu, Run." jawab Hesti.
"Apa yang ingin Mama bicarakan?" tanya Aruna menatap tajam wanita yang tubuhnya terlihat semakin kurus. Hesti memang terkena diabetes dan tekanan darah tinggi, hingga kecantikannya kini mulai memudar.
"Mama hanya ingin minta maaf. Setidaknya jika Tuhan memanggil Mama ada sedikit beban Mama yang telah terangkat, meski mungkin dosa Mama sulit untuk terampuni." Mendengar kalimat Hesti Aruna hanya menatapnya tajam menunggu kalimat selanjutnya, dia belum mengerti maksud semuanya.
"Mungkin kamu membenci Mama karena sudah ada diantara kebahagian kalian. Tapi, maafkanlah kesalahan, Mama! Mama juga sama menderitanya seperti kalian." ujar Hesti matanya mulai berembun.
"Seperti yang di katakan Ayahmu. Beliau terpaksa menikahi Mama karena saat itu Mbak Arini sudah divonis leukimia. Saat itu Mbak Ariani tahu Mama Hesti adalah cinta pertama Ayahmu. Hingga suatu saat Bunda Arini datang pada Mama agar mau menikah dengan Ayahmu dan merawatmu." jelas Hesti.
"Tetap saja Mama Hesti bisa menolaknya saat itu. Mama seharusnya mengerti bagaimana perasaan Bunda." sangkal Aruna dia kembali merasa sedih. Dan terlebih kecewa karena ayahnya juga setuju dengan hal itu.
"Untuk kesekian kalinya Mama minta maaf! Kesalahan Mama yaitu terjebak cinta masa lalu. Mama tidak bisa berhenti mencintai Ayahmu." lirih Hesti. Matanya berkaca-kaca mengingat kisah masa lalu, tidak ada yang bahagia, semua seperti dalam dilema.
"Tapi Mama tulus menyayangimu, Run. Mama ingin kamu selalu mendapatkan yang terbaik. Hingga Mama menerima kesepakatan dari bundamu jika Mama tidak akan melahirkan bayi lagi." Mendengar kalimat Hesti membuat Aruna sedikit terperangah tidak percaya.
"Kamu boleh tidak percaya tapi itulah kenyataannya." Aruna kembali menatap Hesti dengan perasaan yang entah..
"Jika kamu belum bisa memaafkan Mama. Setidaknya berikanlah Mama pelukan sekali saja." pinta Hesti dengan suara parau. Air matanya sudah tak mampu dibendungnya.
__ADS_1
Aruna masih terdiam, kemudian Aruna berfikir sejenak, katanya hal terindah bagi seorang wanita adalah melahirkan seorang anak yang lucu.
Aruna menoleh ke arah wanita yang dia akui memang selalu memberikan banyak hal tanpa banyak meminta kecuali memintanya menikah.
"Mama... Aruna sayang, Mama." lirih Aruna saat menghambur memeluk Hesti.
Seketika Hesti tergugu, bahkan dia tak mampu berucap sepatah katapun dalam pelukan Aruna.
"Mama, jangan menangis! Aruna akan merasa sangat bersalah nanti." lirih Aruna, dia merasa ini tidak adil buat Hesti. Selama ini dia selalu bersikap dingin pada Mama tirinya itu.
"Mama sayang Aruna. Putri Mama yang paling cantik dan keras kepala."
"Seperti, Mama." Mendengar jawaban Hesti tersenyum diantara tangisnya. Tangannya membelai pipi halus Aruna. Meskipun, tak ada gambaran wajahnya dalam wajah cantik Aruna, tapi gadis itu punya sedikit sifat yang mirip dengannya.
Sudut mata Aruna mengeluarkan setetes air, saat menyadari banyak cinta dan pengharapan untuknya.
"Sekarang Mama istirahat ya! Mama harus sehat, jangan tinggalkan Aruna sendiri. Aruna tidak punya siapa-siapa lagi. Nanti Aruna kembali lagi setelah membereskan barang yang besok Runa bawa." ucap Aruna.
Hesti pun menurut. Wanita itu merasa lega. Sulit untuk menjelaskan semuanya selama ini pada Aruna yang terus menghindar darinya.
Aruna keluar dari kamar Hesti menuju ke belakang. Dadanya rasanya sesak karena rasa yang bercampur aduk.
"Run... " Sabda yang memang masih duduk di ruang tengah dengan ponselnya pun menyapa, saat melihat Aruna keluar dari kamar mamanya dengan wajah sendu.
"Mas Sabda, belum tidur?" tanya Aruna dengan menatap lelaki yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Mas ingin jalan- jalan. Mau temani, Mas? " tanya Sabda membuat Aruna terdiam dan menatap penuh tanya.
"Aku saking jarang keluar malam, Mas." jawab Aruna. Sungguh moodnya lagi males kemana- mana.
"Mas janji nggak bakal nakal. Sumpah! Mas Janji! " Sabda berulang kali meyakinkan.
__ADS_1
"Kita jalan kaki saja!" lanjut Sabda.
"Baiklah tapi jangan macam-macam." Sabda tersenyum saat merasa gadis di depannya selalu insecure saat bersamanya.