Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Datang ke Showroom


__ADS_3

Aruna berjalan memasuki Showroom dengan senyum melekat di wajahnya. Di depan, dia menolak security yang akan mengantar dirinya menuju ruangan Sabda.


Semua orang di kantor sudah tahu jika Aruna adalah istri dari Sabda Megantara, orang nomer satu di kantor ini. Hingga dia seolah mendapatkan perhatian dan perlakuan khusus.


"Selamat siang, Mbak Aruna." sapa Fadhil yang kebetulan melihat kedatangan Aruna.


"Selamat siang juga, Pak. Mas Sabdanya ada, kan?" jawab Aruna dengan ramah. Dia bahkan berbasa basi menanyakan keberadaan suaminya.


"Sepertinya Pak Sabda masih di ruangannya. Mbak Aruna silahkan langsung ke sana. Apa perlu saya antar ke sana?" ujar Fadhil. Stelah mengucapkan terima kasih dan membuat penolakan, Aruna langsung melangkah menuju ruangan Sabda.


"Eh, bengong." Suara Andrean membuyarkan lamunan Puspita yang masih menatap kepergian Aruna menuju ruangan Sabda.


Sejak tadi dia memang memperhatikan Aruna. Puspita tidak menyangka jika gadis seperti Aruna bisa menaklukkan hati Sabda yang selama ini dingin.


"Nanti malam kita closing akhir bulan, jadi bagaimana penjualan bulan inji?" tanya Andrean pada Puspita, sekilas Andrean memang memperhatikan penjualan counter tetap jadi primadona dari pada penjualan sales lapangan.


"Sip, Pak. Meskipun banyak juga yang masuk karena bantuan makelar. Tapi, setidaknya bisa mendongkrak penjualan kita bulan ini." ucap Puspita membuat Andrean tersenyum puas.


"Bulan depan peresmian, kantor cabang baru. Kamu nggak ingin pindah ke sana. Barangkali kamu bisa dipromosikan jadi supervisor." tawar Andrean. Penjualan counter di kantor ini selalu menduduki yang teratas. Puspita memang bisa diandalkan


"Nggak, Pak. Aku nyaman di sini meskipun masih jadi sales counter." jawab Puspita, dari sisi financial penjualan yang dia lakukan membuat penghasilannya setiap bulan lebih dari cukup. Dan posisinya yang sekarang lebih santai karena tidak perlu mengurusi banyak anak buah.


Seperti karyawan atau tamu lainnya, Aruna mengetuk pintu ruangan Sabda dan kemudian membukanya.


"Assalamu'alaikum, Pak Sabda, bisakah saya masuk?" goda Aruna, sambil tersenyum di tengah pintu yang terbuka.


"Sayang... Kemarilah!" ucap Sabda dengan menghentikan pekerjaannya dan menyandarkan tubuh pada kursi. Dia sangat senang melihat kehadiran istrinya di tengah rasa lelah karena ketegangan menyelesaikan pekerjaan.


"Mas, aku membawa makan siang." ucap Aruna setelah menutup kembali pintu ruangan Sabda.


Wanita yang selalu memberikan kesan anggun bagi setiap mata yang melihatnya itu pun melangkah menghampiri Sabda di mejanya.


Sabda menggeser tubuh Aruna tepat di depannya, lelaki itu melingkarkan kedua lengannya di pinggang kecil Aruna.

__ADS_1


"Kita makan bareng." jawab Sabda masih menatap Aruna tanpa berkedip.


"Aku memesan Rice bowl dengan Ayam saus mentega. Tidak apa, kan?" tanya Aruna membuat Sabda tersenyum.


Dia selalu mengatakan pada Aruna jika dia bukan pemilih makanan. Tapi, istrinya selalu saja meyakinkan jika dirinya tidak terpaksa menerima pilihannya.


Sabda melayangkan ciuman pada perut rata Aruna sebelum dia berdiri dan menarik Aruna untuk duduk di sofa.


Sabda melipat baju di bagian lengannya hingga ke siku, sementara Aruna menyiapkan makanan di meja.


"Terima kasih, Sayang." ucap Sabda sebelum menyendok makanan. Terima kasih untuk semuanya terlebih Aruna yang memperhatikannya meskipun terkadang cenderung lebih cerewet.


"Mas, lusa Mama Hesti akan sampai di sini. Aku sudah meminta Mama untuk naik Grab atau taxi, tapi Mama menolak. Mama memaksa naik kereta, Mas." ucap Aruna.


Sebelum datang ke kantor Sabda, Aruna memang baru saja menelpon Mama Hesti. Tapi, justru perdebatan alot terjadi karena keduanya sama sama keras kelapa.


"Aku hanya khawatir, Mama naik turun kendaraan, sementara kondisi Mama tidak stabil, belum lagi nanti menghadapai resepsi yang pasti melelahkan." keluh Aruna membuat Sabda tersenyum.


"Pasti kamu habis berdebat sama Mama, kan?" tebak Sabda yang dijawab anggukan Aruna.


"Mas yakin, Mama akan mau?" Mendengar pertanyaan Aruna Sabda hanya tersenyum dan menyelesaikan makan siangnya hanya tinggal beberapa suap saja.


"Membuatmu menikah denganku saja mau, apa susahnya membujuk Mama mertua." ujar Sabda setelah menyelesaikan makan siangnya.


Lelaki itu menoleh ke arah Aruna yang masih menatapnya dengan penuh tanya. Kemudian merangkul wanita itu, " Mas sudah mengaturnya, Sayang." lanjut Sabda meyakinkan Aruna. Istrinya memang tidak akan meminta hal yang sekiranya merepotkan dirinya, tapi Sabda tidak akan membuat keluarga Aruna kerepotan karena resepsi akan diadakan di sini.


###


Abimana termangu menatap dua lembar undangan yang tergeletak di meja makan. Dia hanya terdiam, menikmati kopinya yang terasa hambar. Mau terima atau tidak, kenyataannya wanita terkasihnya akan menikah dengan lelaki lain.


"Bang Abi datang tidak ke pernikahan Mbak Runa." Suara Arimbi membuyarkan Abimana dari lamunannya.


Lelaki itu sebenarnya enggan menjawab pertanyaan adiknya, tapi karena tatapan Arimbi yang seolah menagih jawaban akhirnya Abimana menggeleng.

__ADS_1


"Tidak" jawabnya singkat. Mama Nuri yang biasa bersikap dominan cuma membungkam dan menatap putranya sekilas. Dia tidak akan menambah kekacauan seperti janjinya pada Hendra suaminya.


"Papa setuju, Bi. Sebaiknya kamu memang tidak usah datang." ujar Hendra dia tidak tega melihat putranya yang putus asa itu bertambah terpuruk melihat situasi di pesta.


Abimana pun segera pergi setelah melirik pergelangan jam yang ada di pergelangan tangannya. Lelaki itu kini berubah menjadi pendiam setelah patah hati yang dia rasakan.


Meskipun rasa kecewa membuncah tapi lelaki yang saat ini meluncur pergi dengan mobilnya itu tidak dapat menyalahkan siapapun.


Jodoh... mungkin gadis yang dia cintai belum berjodoh dengannya. Dan menikah bukan akhir untuk hidupnya. Sepanjang perjalanan dia hanya memikirkan bagaimana menjalani kehidupan di depan dengan lebih baik. Itu hanya sebatas niat, karena saat ini tetap saja Aruna mempengaruhi hidupnya.


Abimana menghentikan mobilnya saat dia melihat seorang gadis yang sedang berdiri di pinggi jalan. Lelaki itu memilih untuk berhenti di depannya.


"Kamu Amanda yang bekerja di butik Aruna?" Karena sangat yakin gadis itu pegawai Aruna, Abimama pun memutuskan untuk menyapanya.


"Iya Mas Abi." jawab Amanda yang sudah hafal Abimana.


"Ngapain di sini?" lanjut Abimana.


"Nunggu angkot, Mas. Mau pulang." jawab Amanda.


"Masuklah aku akan mengantarmu!" titah Abimana membuat Amanda mengernyitkan kening. Dia merasa ragu lelaki yang pemilik pabrik kain dan baik itu mau memberinya tumpangan.


"Ayo, jika sudah petang kamu akan kesulitan mendapatkan angkot." ujar Abimana. Selain petang, mendung pun menguasai kota saat ini. Amanda akhirnya masuk ke dalam mobil. Berlahan, Abimana melakukan mobilnya.


"Rumahmu, mana?" tanya Abi.


"Kosku di jalan Kahuripan. Dekat dengan Masjid Fatahillah, Mas." jawab Amanda. Dia merasa sungkan berada satu mobil dengan Abimana. Gadis yang biasanya cerewet itu mendadak menjadi pendiam.


"Kami dari mana?" Abi mencoba mencairkan suasana setelah sekian menit mereka terdiam. Akan terasa aneh memang di dalam. mobil hanya diam saja tanpa saling bicara.


"Awalnya dari kampus, tapi tadi ngambil laptop yang diservice. " ujar Amanda, gadis itu juga merasa canggung berhadapan dengan seorang Abimana.


"Kamu kuliah juga?" Kali ini Abimana menoleh ke arah Amanda. Dia merasa heran karena sering melihat Amanda di butik.

__ADS_1


"Iya, Mas." jawab Amanda singkat.


Mereka kembali terdiam hingga Amanda menunjukkan letak Kos Melati. Abimana menghentikan mobilnya tepat di depan kos khusu putri, " Terima kasih, Mas." ujar Amanda langsung turun dari mobil. Begitu mobil meluncur gadis itu membuang nafas dengan lega.


__ADS_2