Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 43


__ADS_3

Aruna masih menyiapkan sarapan pagi ini. Kesibukan Sabda membuatnya berfikir untuk lebih mengurangi sedikit aktifitasnya di butik. Dia memilih mencari celah untuk menikmati kebersamaan bersama Sabda. Lelaki yang sekarang lebih sering menenggelamkan diri dengan pekerjaannya itu membuat Aruna mengalah.


"Mas, sarapan dulu! Aku sudah memasak makanan kesukaanmu." ucap Aruna saat melihat Sabda menyeruput kopinya dengan sedikit tergesa.


"Mas bisa telat, Sayang." jawab Sabda. Aruna kemudian menyiapkan sarapan untuk Sabda di piring.


"Aku nggak mau typus Mas Sabda kambuh lagi." omel Aruna. Dia memang sedikit memaksa Sabda.


Lelaki itu mendengus kesal, saat istrinya sudah mengomel. Tapi, dia enggan berdebat di pagi ini. Terkadang, Aruna memang cerewet seperti wanita kebanyakan.


Tidak ada obrolan sama sekali, seperti pagi yang biasa terlewatkan sebelumnya. Sejak kantor baru, Sabda memang terlihat sangat sibuk.


Sabda masih menatap ponselnya sesekali mengetik untuk memberi balasan. Hingga dia tidak menyadari jika istrinya memperhatikannya sejak tadi.


Melihat Sabda seperti itu, Aruna hanya tersenyum hambar kemudian menundukkan wajah seolah menghitung jumlah nasi yang ada di piringnya.


"Mas, berangkat dulu." Sabda langsung berdiri dengan tergesa menghampiri Aruna. Setelah istrinya mencium punggung tangannya, lelaki itu kemudian mendaratkan ciuman di puncak kepala Aruna.


Dengan melihat langkah Sabda yang terlihat tergesa, Aruna menyandarkan punggungnya di kursi. Tangannya menyusut kedua sudut mata yang sudah mengembun.


"Mungkin, Mas Sabda memang sibuk, Aruna. Jadi lakukanlah peranmu sebaik mungkin! Menjadi istri yang baik dan menjaga hubungan ini dengan kuat." Aruna bermonolog dengan pikirannya.


Terkadang apa yang dipikirkan logika memang tak sejalan dengan apa yang sedang dirasakan hati. Aruna berusaha sebaik mungkin menghibur diri, meletakkan semua beban tapi kenyataannya perasaan wanita yang menangis itu masih saja rapuh.


Berdiri diantara ketidaknyamanan dalam sebuah hubungan membuat Aruna menggenggam perasaan dan emosinya agar tidak semakin memperburuk keadaan.


Dia butuh waktu untuk bisa mengerti dan memberikan kelonggaran pada hubungan yang baru seumur jagung itu.


Aruna bergegas membersihkan sisa makanan dan meja karena dia akan segera pergi ke butik.


Wanita yang merasa tubuhnya mengeluarkan keringat dingin itu berhenti sejenak dari pergerakannya. Aruna mencoba menyeimbangkan tubuhnya.

__ADS_1


Semakin ke sini, dia merasa tidak nyaman dengan kondisi tubuhnya. Sepertinya dia memang harus melakukan pemeriksaan sebelum adanya penyakit yang menggerogoti kesehatannya.


###


Di butik berdiri Abimana di depan meja kasir. Lelaki itu baru saja mengirimkan pesanan kain di butik ini.


"Mas Abi, sudah saya transfer pembayarannya." Nina sudah melakukan transaksi. Kini dia mengirimkan bukti pembayaran ke ponsel Abimana.


"Oke, Nin. Oh ya, apa kabar Aruna?" tanya Abimana sudah lama dia tidak mengetahui kabar Aruna.


"Baik sepertinya, Mas. Mbak Runa, sekarang banyak di rumah sesuai permintaan Mas Sabda. Tapi hari ini, Mbak Aruna, akan ke sini. Tadi sempat mengabari." jelas Nina. Belum sempat Abimana menanggapi Nina.


Sosok yang ingin dilihatnya kini masuk ke dalam butik. Abimana menatap Aruna penuh dengan kekaguman. Jilbab yang membingkai wajah cantiknya membuat Abimana semakin sulit mengelakkan pesona wanita yang sudah menjadi milik orang lain.


"Apa kabar, Mas Abi?" tanya Aruna menyapa orang yang sudah lama tidak nampak di depannya.


"Baik. Kamu bagaimana?" balas Abi yang masih menatap wanita yang mengalihkan pandangan darinya. Dia bisa mengerti, mungkin itu karena Aruna sudah menikah.


"Hmmm... aku masih ada janji. Aku duluan ya!" ujar Abimana setelah melirik jam yang ada di pergelangan tangannya.


Ada rasa bersalah Aruna pada lelaki yang kini membuka pintu utama dan berjalan keluar. Tapi, dia yakin Abimana lelaki yang baik. Bertahun-tahun dia berteman dengannya jadi Aruna sangat mengenal lelaki itu. Dia berharap jika lelaki yang sempat dia kecewakan menemukan gadis yang jauh lebih baik.


"Oh ya Nin, apa daftar pesanan sudah di siapkan?" tanya Aruna pada Nina yang lebih banyak menghandle siklus butik.


"Sudah mbak, pesanan baru sudah aku siapkan di meja Mbak Aruna. Dan Mbak Aruna bisa mengecheck pesanan yang baru selesai diproduksi sebelum aku siapkan untuk diambil." jawab Nina. Gadis itu begitu bersemangat setelah kebijakan yang Aruna berikan pada dua orang karyawan, Nina dan Amanda.


"Baiklah, aku akan melihatnya sekarang." Aruna pun beranjak pergi, terlihat wanita itu berjalan menuju tangga.


"Mbak Runa!" pekik Nina hingga membuat beberapa pelanggan dan pegawai baru mereka menoleh.


Nina berlari menghampiri Aruna yang sudah tergeletak di bawah tangga. Nina disusul pegawai baru mendekati Aruna.

__ADS_1


Di dalam butik semua orang menjadi panik, di sana cuma ada perempuan. Dengan susah payah mereka mengangkat Aruna hingga masuk ke dalam ruangan.


Nina mengatur suhu AC dan kemudian melepas jilbab Aruna sebelum memberikan Aruna minyak kayu putih di sekitar hidungnya. Untung saja, ada dokter yang baru saja berkunjung di butiknya.


Aruna mengerjapkan mata memindai pandangannya pada sekitar. Dia mulai tersadar jika dirinya sedang berada di dalam ruangannya.


"Sebaiknya, Mbak Aruna periksa dulu ke dokter Obgyn." ucap dokter Rika yang memperkirakan Aruna hamil karena beliau sempat menghadiri pesta pernikahan Aruna dan Sabda.


"Hamil?" lirih Aruna. Kaget dan bahagia, dua rasa itu yang membuatnya tipis kali ini.


"Saya tidak membawa peralatan untuk pemeriksaan. Jadi lebih baik Mbak Aruna pastikan kondisi kesehatan Mbak, ke dokter praktek." jelas dokter Rika. Dokter itu kemudian memilih keluar, dan kembali ke tujuan awal yaitu melihat contoh koleksi butik sebelum dia memesan.


Aruna dengan semangat membuka tasnya mencari keberadaan benda pipih miliknya, berniat menghubungi Sabda. Dia yakin Sabda akan senang mendengarnya.


[Mas Sabda, sibuk?]


Aruna mengirim. pesan saja, takutnya jika langsung menelpon Sabda pada situasi sedang meeting atau menemui tamu penting. Kantor baru yang sudah menyita perhatian suaminya.


[ Hari ini, Mas, sibuk, Run. Mungkin akan sampai rumah sehabis maghrib]


Aruna membaca balasan Sabda dengan rasa kecewa. Tapi, dia berusaha mengerti, jadi dia memutuskan untuk pergi ke dokter sendirian saja.


Aruna akan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. Dia ingin segera sampai di klinik dan mengetahui secara pasti kondisi kehamilannya.


Deg...


Jantungnya seperti diremas begitu keras. Hingga bulir keringat dingin kembali keluar dari tubuh ringkih itu. Dia melihat Aninditha dan Sabda saat menunggu taxi sedang dia pesan.


Tubuhnya merasa panas dingin dengan nafas tidak beraturan saat melihat Sabda sedang makan siang berdua bersama perempuan itu, Aninditha.


Sedekat apakah mereka sekarang? Pertanyaan itu yang kini memenuhi otaknya. Seketika rasa cemburu kembali membakarnya.

__ADS_1


Namun, Aruna memilih untuk berlalu begitu aja. Hatinya terasa nyeri saat melihat kebersamaan mereka, tapi meskipun begitu dia tidak akan membuat kericuhan yang hanya akan mempermalukan dirinya saja.


__ADS_2