Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Suap- Menyuap


__ADS_3

Awalnya Aruna merasa dirinya masih kelelahan setelah resepsi, tapi sudah dua minggu berlalu tapi dia merasa tubuhnya tak kunjung merasa lebih baik. Bahkan, saat ini dia merasa malas makan.


Hari ini dia rasanya percuma pergi ke butik. Di butik dia hanya rebahan di sofa. Dia benar-benar tidak ingin melakukan apapun.


"Mbak Runa, wajahnya pucat sekali." ujar Amanda saat melihat Aruna keluar dari ruangannya dengan wajah lesu.


"Aku nggak enak badan, Nda." jawab Aruna kemudian dia kembali duduk di sofa tamu. Tepatnya hanya perpindahan tempat untuk sekedar duduk saja.


"Bisa pesankan aku jus orange di sebelah?" tanya Aruna yang berfikir dirinya memang butuh minuman segar dan tambahan vitamin.


"Aku chat pegawai sana, Mbak." Manda memang selalu berfikir praktis.


Gadis itu langsung mengambil ponselnya. Memesan dua orange jus. Tapi setelah itu dia melihat dan membaca pesan dari Nina, jika dia tidak lagi mampir di butik karena ibunya sedang sakit.


"Mbak Runa, apa periksa saja ke dokter. Mungkin saja kelelahan setelah resepsi atau mungkin kelelahan dikerjain Mas Sabda." goda Manda, bocah itu gayanya memang sok tahu tentang hubungan suami istri, tapi kenyataannya pacaran saja dia tidak pernah. Sebatas ceplas-ceplos.


"Kamu masih kecil jangan mikir macam- macam. " Dengan wajah yang masih memerah Aruna mengomeli Amanda.


"Mbak Runa, ini lucu... " lanjut Amanda membuat Aruna hanya menggelengkan kepala. Gadis cerewet itu selalu ada yang dibahas jika diteruskan. Tanpa sehari saja dia tidak masuk rasanya ada yang kurang di butiknya.


"Beneran. Kalau lihat dari sudut pandang orang awam, Mbk Runa orangnya cantik, kalem, dan suka mengalah, tapi kalau diterawang dari kacamata paranormal, bisa diprediksi Mbak Runa ini orangnya Keras kepala, tegas dan ... " kalimat Amanda menggantung, dia tersenyum terlebih dahulu sebelum melanjutkan kalimatnya.


"Apa?" Aruna yang awalnya malas meladeni Amanda pun bertanya balik.


"Cerewet!" lirihnya.


"Ampun... ampun, Mbak. Aku hanya bicara jujur!" lanjut Amanda, kedua telapak tangannya menyatu di dada dan wajahnya pun tersenyum jahil membuat Aruna semakin merengut.


Gurauan mereka terhenti saat salah satu pegawai cafe masuk ke dalam butik dengan membawa dua cup orange jus.


"Berapa, Ren?" tanya Amanda pada Rendy pegawai kafe yang mengantar pesanannya.

__ADS_1


"Tiga puluh ribu." jawab pemuda bertubuh kurus itu.


"Ambil uang butik saja, Nda! Nanti bilang sama Mbak Nina." titah Aruna, agar Amanda mengambil uang di meja kasir.


"Aku traktir saja, Mbak!" jawaban Amanda membuat Aruna menatap gadis itu penuh dengan rasa heran sekaligus tidak enak.


"Kembaliannya buat kamu saja, Ren." ujar Amanda menyerahkan uang lima puluh ribuan


Melihat kelakuan Amanda, Aruna semakin


merasa semakin tidak percaya.


"Kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan, Nda? Sebentar lagi kamu KKN dan kamu butuh biaya banyak, lo." ucap Aruna mengingatkan, dia tahu gaji di butik hanya cukup untuk membayar kos dan biaya bulanannya saja. Dia tidak ingin Amanda keteteran soal keuangannya nanti.


"Santai, Mbak Runa! Aku sama Mbak Nina habis dapat uang jajan dari Mas Sabda." jawab Amanda spontan hingga membuat Aruna melotot.


Gadis itu langsung membekap mulutnya. Tidak seharusnya dia mengatakan itu pada Aruna karena Sabda sudah berpesan jangan sampai Aruna tahu.


"Ya ampun, Manda. Apa jadinya jika kamu jadi pejabat?" gerutu Aruna, dia merasa heran dengan kelakuan ketiga orang itu. Dua anak buahnya dan suaminya. Saling suap menyuap.


"Kita juga punya tugas untuk memperhatikan Mbak Runa jangan sampai kelelahan tapi butik tetap berjalan lancar. Ya anggap saja insentif dari Mas Sabda gitu." jelas Amanda masih membujuk Aruna. Yang membuat Aruna greget bukan karena Sabda memberikan uang saku, tapi karena mereka pasti ada sesuatu di belakangnya.


Aruna hanya mendesah, kenapa Sabda seperti itu? Dia juga mengingat kelakuan dua anak buahnya itu saat dia akan mengangkat satu yard kain. Mereka bergegas mengambil alih, agar dirinya tidak kelelahan. Berlebihan sekali, padahal sebelumnya hal itu sering Aruna lakukan.


###


[Mas aku tidak masak. Di rumah cuma ada rica-rica ayam. Jika Mas ingin makan yang yang lain aku pesankan]


Aruna mengirim pesan pada Sabda. Dia masih enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Setelah Salat Magrib, Aruna memutuskan untuk membaringkan tubuhnya.


[Mas, pulang agak malam. Anak- anak ngajak ngumpul karena bulan kemarin penjualan kami lebih dari target yang ditentukan]

__ADS_1


[ Jika kamu mau tidur. Tidur dulu saja]


Dua pesan, Sabda kirim sekaligus. Dia sedang berada di karaokean untuk mentraktir beberapa sales untuk merayakan keberhasilan penjualan bulan lalu.


Malam ini, pertama kalinya Sabda pulang malam setelah mereka menjadi suami istri.


Aruna merasa asing di kamar ketika tidak ada Sabda menemaninya. Tapi, matanya sudah merasa ngantuk. Dengan setengah sadar dia melihat jam masih pukul delapan malam.


Tengah malam, Aruna merasakan pergerakan di sebelahnya. Dia membuka matanya dan ternyata sabda sudah pulang. Lelaki dengan aroma aneh itu pun menatapnya berbeda.


"Mas, sudah pulang?" tanya Aruna dengan suara serak karena baru bangun tidur. Sabda berbaring dengan satu menjadi tumpuan kepalanya.


"Iya, Sayang." jawabnya kemudian mencium kening Aruna.


"Mas, minum?" selidik Aruna. Tidak ada yang berbeda dari Sabda. Dia hanya merasa Aroma nafas Sabda tercium berbeda.


"Cuma sedikit! Karena dipaksa anak-anak." lanjut Sabda. Tangannya dengan jari- jari besar itu sudah kemana- mana.


Hampir dua bulan menjadi istri Sabda, Aruna sudah tahu, jika lelaki di sebelahnya tengah menginginkannya. Sorot mata penuh damba membuat Aruna tersenyum.


"Mas, nggak sampai mabuk, kok!" bujuk Sabda. Dia sudah sangat menginginkan Aruna saat ini juga. Mesti dengan berat kali ini dia akan menuruti keinginan Sabda.


Tetap saja Aruna berusaha memberikan yang terbaik untuk suaminya. Berusaha memberikan apa yang menjadi hak dari suaminya dengan sempurna.


Malam ini mereka melalui malam panas ini dengan penuh gelora. Lelaki itu tidak memberikan Aruna celah untuk mengurai ketegangan dan rasa lelah karena percintaan itu hingga Sabda benar-benar merasa puas.


"I love you, sayang." Sabda mengecup kening basah wanitanya dan kemudian menjatuhkan tubuhnya disamping Aruna serta memeluk istrinya dengan posesif.


"I love you, to." gumam Aruna begitu lirih ketika menjawab kalimat Sabda.


Percintaan mereka yang begitu panas dan penuh gelora membuat tubuh Aruna seperti tak bertenaga. Sabda memang selalu membuat Aruna kewalahan saat menghadapi hasrat untuk berc*ntanya.

__ADS_1


"Aku akan mandi dulu, Mas." ucap Aruna saat berusaha mengangkat tangan Sabda yang berada di perutnya. Tapi, lelaki itu malah mengeratkan pelukannya hingga Aruna memilih untuk diam.


"Sebentar lagi, Mas masih ingin memelukmu." bisik Sabda. Dia masih memejamkan mata dan menikmati kepuasan yang baru saja dia reguk.


__ADS_2