Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Aruna sakit


__ADS_3

Tita memeluk Aruna. Sudah lama mereka tidak bertemu karena kesibukan masing-masing. Saat ini, Aruna sedang menyiapkan fashion Show untuk produk butiknya yang akan di selenggarakan di sebuah mall hingga dia membuat janji bersama Tita.


"Apa kabar, Run? Kangen banget." ucap Tita saat mereka saling berpelukan.


"Baik. Kamu sendiri gimana, Ta. Calon pengantin harus jaga bentuk badan, lo! Jangan gendut-gendut!" goda Aruna membuat Tita mengerucutkan bibir. Tita memang paling takut dengan gendut.


"Arunaaaa...., aku mulai rajin nge- gym sekarang." jawab Tita. Dia memang mulai menjaga badannya. Aruna pun hanya menanggapi sahabatnya itu dengan senyuman. Dia hanya bermaksud menggoda Tita.


Mereka pun akhirnya mencari tempat duduk di sebuah resto yang ada di dalam mall. Mereka sepakat hanya memesan minum karena tidak punya banyak waktu. Sesekali Aruna melirik jam yang ada di pergelangan tangannya, dia nggak mau pulang terlambat dari pada Sabda.


"Bagaimana hubunganmu dengan Mas Sabda?" tanya Tita dengan hati-hati.


"Aku memilih untuk bertahan, Ta. Entahlah, terkadang aku merasa konyol karena masih mau bertahan dengan Mas Sabda. Tapi, aku memang mencintainya." ucap Aruna dengan wajah serius.


"Bagaimana hubungan Mas Sabda dengan wanita itu?" Tita kembali bertanya. Dia sebenarnya masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan pernikahan sahabatnya ini.


"Aku juga tidak tahu. Aku seperti tidak ingin tahu tentang mereka. Saat ini aku hanya ingin tenang dulu! Dan aku hanya memberi Mas Sabda satu kesempatan. Hanya sekali!" lanjut Aruna membuat Tita mengangguk pelan. Wanita itu kemudian menyesap jus yang ada di depannya.


"Kemarin aku melihat wanita itu? Dia sekarang terlihat lebih cantik." ucap Tita. Anin memang seseorang yang cukup stylish.


"Aku tidak peduli, Ta. Jika memang Mas Sabda masih tergoda terserah saja. Aku yang akan menyerah. Aku mau bertahan dengannya karena aku merasa dia juga mau berjuang untuk mempertahankan hubungan ini." lanjut Aruna. Dia memang masih sangat mencintai Sabda, tapi pernah terluka karena pengkhianatan membuat cinta itu tak lagi sempurna.


Saat senja berada di ufuk barat, mereka akhirnya mengakhiri temu kangen karena Aruna ingin secepatnya sampai di rumah. Dia tidak ingin pulang terlambat.


Sepulang bertemu Tita, Aruna merasa kepalanya sangat berat dan badanya pun sangat lelah hingga akhirnya dia tertidur hingga hampir magrib.


"Astagfirullah..." Aruna terkaget saat suasana di luar terlihat sudah petang. Dia kemudian bangkit saat melihat jam menunjukkan pukul enam sore. Tapi, lampu kamar sudah menyala membuatnya mencoba mengingat apa yang dia lakukan sebelum tertidur. Dia merasa sebelum tidur belum menyalakan lampu.


"Sebaiknya aku mandi dulu, keburu Mas Sabda pulang!" gumam Aruna bermaksud untuk berdiri. Tapi kepalanya langsung berdenyut membuatnya segera berpegang pada kepala ranjang.

__ADS_1


"Ahh..." desah Aruna.Dia kembali duduk dengan memegang kepalanya yang serasa berputar- putar.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Sabda yang baru saja membuka pintu kamar. Gegas dia menghampiri Aruna yang masih duduk di pinggir tempat tidur.


Melihat kehadiran Sabda Aruna pun terkejut, dia tidak menyangka jika Sabda pulang lebih awal.


"Mas sengaja pulang lebih awal." ucap Sabda kemudian menghampiri Aruna.


"Kepalaku sakit, Mas. Mungkin karena tidur sore." ujar Aruna.


"Mas buatin teh hangat ya?" tawar Sabda dijawab oleh Aruna dengan anggukan. Sebelum pergi ke dapur. Sabda membantu Aruna untuk kembali rebahan.


Setelah beberapa menit Sabda masuk dengan membawa teh hangat. Lelaki itu memperhatikan wajah Aruna yang terlihat pucat.


"Minum dulu, Sayang!" ucap Sabda. Kemudian membantu Aruna untuk menegakkan tubuhnya.


"Makanya minumnya jangan lihat ke arah Mas. Jadi terlalu manis, kan?" jawab Sabda sambil terkekeh. Dia memang tidak pandai meracik teh.


"Kamu sudah, Mens?" tanya Sabda.


"Aku nggak hafal jadwal mensku. Emang kenapa? Jangan harap aku hamil saat ini." ucap Aruna. Dia belum siap untuk hamil, makanya setiap mereka melakukan hubungan badan, dia pasti akan mengingatkan Sabda untuk menggunakan pengaman.


"Ya, Mas tahu. Makanya jangan terlalu lelah bekerja." sahut Sabda.


Aruna tidak menjawab lagi, takut Sabda akan kembali protes dengan event fashion show yang akan diselenggarakan lusa. Dari awal, Sabda selalu keberatan jika Aruna akan terlalu terforsir dengan pekerjaannya.


Aruna melipat mukenanya. Sementara, Sabda kini tengah berdiri dan akan mengganti baju koko dengan kaos rumahan.


" Run...!" Betapa kagetnya Sabda saat melihat Aruna luruh di lantai. Lelaki itu langsung menghampiri Aruna yang tidak sadarkan diri.

__ADS_1


"Aruna... " Sesekali Sabda menepuk pipi istrinya. Tapi, belum juga ada reaksi.


Lelaki yang kini dilanda rasa panik itu akhirnya mengangkat tubuh istrinya dan akan membawanya ke klinik.


###


Anin tertegun di kamar mandi, bagaimana mungkin ini terjadi. Dia kembali merenungi nasibnya. Masa lalu yang kelam bersama Om Haris kembali membayangi hidupnya.


Sejak kesepakatannya dengan Royan dan beberapa uang yang ditransfer lelaki itu, Anin seperti terikat dengan Royan.


Sebenarnya dia hanya ingin menutup semua kisah kelamnya dengan Om Haris, yaitu ayah Sabda. Dulu dia sempat terlena dengan Haris ketika belum mengenal Sabda. Haris yang begitu perhatian dengannya dan tidak sayang menggelontorkan banyak uang untuk memenuhi kehidupannya yang hedonis.


Sementara, Rosa memang sering keluar kota untuk menangani proyek, membuat keduanya bebas untuk menjalin hubungan asmara dalam satu atap. Rosa memang tidak pernah memikirkan sejauh itu karena menurutnya Anin seumuran dengan Sabda. Niatnya membawa Anin masuk menjadi bagian dari keluarganya, agar Sabda bisa dekat dengan gadis yang dia anggap polos itu.


Anin keluar dari kamar mandi dengan wajah muram. Dia menghampiri Sisil yang sudah lama menunggunya.


"Ma, sisil mau bobok di rumahnya Tante Ana ya?" ucap Sisil. Gadis itu memang lebih dekat dengan Ana, karena Anin memang terlalu sibuk bekerja dan mengejar dunianya.


"Iya. Ayok, Mama antar ke rumah Tante Ana dan nanti Sisil bobo di sana sampai Mama jemput ya." ucap Anin dengan lembut. Dia terpaksa menitipkan Sisil lagi kepada Ana karena hanya Ana seseorang yang dekat dengan Sisil.


Wanita itu mengantar Sisil dengan mengenakan baju kantoran. Rencananya, dia akan ke kantor terlebih dahulu dan mengambil cuti untuk beberapa hari. Dia akan menebus semua yang sudah diberikan Royan.


"An, aku titip Sisil ya! Jika ada apa-apa dengan kesehatan Sisil langsung hubungi dokter ya." ucap Anin saat Ana menemuinya di teras.


"Iya, Mbak. Tapi, Mbak Anin mau kemana?" tanya Ana.


"Aku ada urusan keluar kota sampai 2-3 harian." jawab Anin. Dia tidak bisa menceritakan masalah hubungannya dengan Royan pada Ana.


"Baiklah, hati-hati, Mbak." jawab Ana setelah Anin keluar dan meninggalkan Sisil bersama Ana.

__ADS_1


__ADS_2