Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Kesal


__ADS_3

"Mas, belum mencobanya." ucap Sabda. Tapi, Aruna berlalu begitu saja tanpa menjawab Sabda.


Langkah kecilnya terlihat begitu tergesa, Aruna menapaki satu persatu anak tangga dengan menahan tangis. Hatinya terasa mencelos. Ada rasa sakit karena tidak dipedulikan sama sekali, sementara dia merasa tidak bersalah sama sekali.


"Aruna... " panggil Sabda saat melihat Aruna hanya terdiam dan melewatinya begitu saja.


Aruna pergi masuk ke kamar dan langsung tertuju ke kamar mandi. Dia hanya ingin menangis melampiaskan rasa kesalnya yang sudah dia tahan.


Kali ini Aruna berdiri di depan toilet menatap wajahnya yang sedang marah dan menangis. Perasaan kesal dan sedih bercampur tidak bisa dia tahan.


"Tok... tok... Run, buka pintunya." panggilan Sabda terdengar tapi dia enggan untuk menjawab.


"Atau Mas dobrak?" suara teriakan Sabda tetap tidak di gubris oleh Aruna.


Aruna memilih untuk membasahi wajah dan menghapus bekas air matanya. Tapi, wajah sembabnya memang tidak bisa dibohongi lagi.


"Bruk... " mendengar gebrakan pintu di tendang membuat Aruna menoleh. Dia tidak menyangka jika Sabda akan benar-benar melakukannya.


"Bruuughhhh.... " Aruna berjalan mendekat, dia akan keluar saja dari pada suaminya benar- benar merobohkan pintu itu.


"Aaaaaaawwww..." pekikan Aruna terdengar begitu nyaring saat pintu itu ambruk tepat dia depannya.


"Hampir saja... " ucap Aruna dengan mengelus dadanya. Terdengar helaan nafas yang cukup berat.


Sedangkan Sabda malah mematung, hampir saja jantungnya terasa copot saat melihat Aruna berdiri tidak jauh dari pintu yang sudah roboh itu.


Dia tidak bisa membayangkan jika istrinya yang sedang hamil terkena dobrakan pintu. Nggak- dia nggak bisa membayangkan itu. Sungguh, dia tidak sanggup.


"Sayang... kamu nggak apa- apa, kan?" tanya Sabda langsung menghambur untuk menghampiri istrinya. Dia meneliti dengan detail setiap inci tubuh Aruna.


"Apa tidak ada cara yang lebih sopan selain mendobrak pintu?" sarkas Aruna membuat Sabda kembali menatapnya.


"Mas cuma khawatir, karena kamu tidak menjawab panggilan Mas." jawab Sabda.


"Tidak usah berlebihan! Bukankah, Mas menganggap aku tidak ada?" Aruna berlalu keluar dari kamar mandi. Dia memilih untuk duduk di tepi ranjang dan menghadap ke luar jendela yang masih terbuka. Hatinya masih kesal.

__ADS_1


Suasana memang terlihat petang, mungkin ini sudah masuk waktu Salat Magrib. Tapi, mereka masih menghabiskan waktu dengan sebuah pertengkaran.


"Run maksudnya apa?" Sabda langsung berjongkok di depan istrinya.


Tangis yang berusaha Aruna tutupi akhirnya pecah. Dia tidak mampu menjawab pertanyaan Sabda karena mulai terisak. Meskipun beberapa kali dia menyusut air matanya secara bergantian, tetap saja air bening itu tidak mau berhenti mengalir di pipinya.


"Mas, sedang banyak kerjaan. Apalagi Mas harus mempelajari usaha yang baru dilimpahkan oleh Mama." ujar Sabda beralasan.


"Bukankah kamu yang meminta Mas untuk menerima permintaan Mama." lanjut Sabda. Meskipun banyak alasan yang dilontarkan lelaki itu, Aruna tidak lantas percaya dengan semua alasan itu.


"Run... "


"Aku tahu kok, Mas marah karena aku ngobrol sama Mas Abi. Tidak usah menggunakan alasan yang terkesan di buat-buat dan bertele-tele." lirih Aruna. Masih dengan sesenggukan.


Wanita itu berusaha bicara setenang mungkin. Tapi, entah kenapa dia tidak bisa mengendalikan emosinya, dia begitu sensitive dan setiap kali bisa saja meledak - ledak. Padahal biasanya juga dia paling bisa menahan emosi.


Sabda berjongkok menyamakan tingginya dengan tinggi istrinya. Lelaki itu menatap lekat manik mata coklat yang cukup indah itu.


Ternyata, se-sensitive itukah perempuan? Padahal sekuat tenaga dia menahan emosi dari tadi siang dan berlahan meredamnya agar tidak membuat istrinya menangis.


Aruna merasa terkadang pikiran lelaki di depannya itu sangat konyol. Dia tak habis pikir, entah menggunakan komponen apa Allah merangkai otaknya itu.


"Bagaimana Mas bisa berfikir seperti itu? Mas pikir aku wanita apa? Jika kita berpisah, aku pun tidak butuh lelaki lain untuk menggantikamu, Mas. Aku masih bisa hidup sendiri dengan anakku." ucap Aruna dengan wajah datar.


"Anak kita!" ralat Sabda kemudian mengelus perut Aruna yang sedikit menyembul tapi masih belum kentara.


"Apa benar kamu tidak akan menikah lagi jika berpisah dengan Mas." tanya Sabda hampir tidak percaya.


Sungguh Aruna merasa malas sekali menjawab pertanyaan Sabda yang tidak penting itu. Wanita hamil itu kemudian menghela nafasnya dengan lemah.


"Run... " panggilan Sabda seperti tuntutan dari semua pertanyaannya untuk Aruna.


"Tergantung... "


"Tergantung bagaimana?" desak Sabda, lelaki itu benar-benar ingin mendengar jawaban pasti dari istrinya.

__ADS_1


Aruna mendesah lagi, dia mulai geram. dengan pertanyaan yang terkesan Absurd. Tapi jika tidak dijawab, Sabda tidak akan berhenti mendesak.


"Tergantung, jika maut yang memisahkan aku akan memilih sendiri. Tapi, jika dikhianati aku akan mencari yang lebih baik dari Mas Sabda." jelas Aruna, membuat Sabda menatapnya sendu.


Padahal Aruna hanya mengutip prinsip hidup Nyonya Hans salah satu pelanggan butiknya saat mereka mengobrol. Sabda kembali disadarkan jika hanya satu kesempatan yang Aruna berikan untuknya memperbaiki kesalahannya.


Mereka mengakhiri perdebatan sore itu karena harus segera menunaikan Salat Magrib. Meskipun Sabda sudah bicara banyak tapi tetap saja tidak membuat Aruna kembali bersikap seperti biasanya. Wanita itu masih memilih untuk diam.


"Aku tadi tergoda dengan brownies yang kamu buat." ucap Sabda. Tapi, Aruna masih terdiam. Rasanya malas saja meladeni Sabda.


"Run... " panggil Sabda lagi. Entah berapa kali lelaki itu mencoba membangkitkan semangat bicara Aruna, tapi hasilnya nihil.


Setelah makan malam. Aruna memilih melihat TV dan Sabda pun membawa laptop dan ponselnya untuk berdekatan dengan istrinya.


"Kamu masih marah dengan Mas?" tanya Sabda setelah beberapa jam mereka berdiam dengan kegiatan masing-masing.


"Tidak." jawab Aruna singkat.


"Terus...???" lanjut Sabda.


Aruna menoleh, menatap Sabda yang ternyata masih menatap laptopnya. Dia masih diam tidak menjawab, hingga Sabda mengalihkan tatapannya ke arah istrinya yang ternyata sudah melayangkan tatapan tajamnya.


"Berhentilah membuatku kesal, Mas. Jika kamu tidak peduli, jangan pura-pura peduli!" Aruna menaruh remot TV yang semula dia pegang ke atas meja dengan kasar.


"Apa Mas pikir, Mas Sabda saja yang butuh diperhatikan, dimengerti dan diikuti semua kemauannya." Aruna bicara dengan menangis. Rasa kesal itu seperti bom waktu yang sedang meledak.


Sabda meletakkan laptopnya. Dia menatap Aruna dengan perasaan tidak percaya jika Aruna akan meledak seperti ini. Wanita di depannya saat ini sedang meluapkan emosinya.


"Aruna... " Sabda memeluk tubuh mungil itu, mencoba meredamkan emosinya. Tangannya mengelus bahu yang kini masih terguncang.


"Aku bukan perempuan murahan yang mudah sekali tergoda dengan lelaki lain. Aku berusaha menjadi istri yang baik, kenapa tidak dihargai? Aku tidak salah, tapi aku ingin salahkan, seolah olah itu kesalahan yang besar." Aruna masih menangis. Iya, dia kesal sekali dengan sikap Sabda yang kekanak-kanakan.


"Iya, Mas yang salah." ucap Sabda.


"Aku membuat kue, meski aku tidak ingin melakukannya. Semua itu agar bisa membuat kemarahan Mas mereda. Aku menunggu Mas, hingga bolak balik melihat pintu ruangan kerja. Tapi, aku benar- benar tidak dianggap. Padahal aku nggak salah." Aruna masih menangis, dia kesal dengan kelakuan Sabda yang cukup egois.

__ADS_1


__ADS_2