
"Dua minggu lagi, Mas akan meninjau proyeknya. Kamu sementara tinggal bersama Mama dulu, ya!" ucap Sabda masih dengan memeluk tubuh mungil Aruna.
Setelah penyatuan keduanya, mereka sedang menikmati rasa lelah. Aruna tidur dengan kepala bertumpu pada satu lengan Sabda, memunggungi lelaki yang masih betah memeluknya.
"Mas, berapa lama di sana?" tanya Aruna, dia seperti enggan untuk ditinggal Sabda. Sekali lagi Aruna mengelus perutnya yang terlihat mulai menyembul. Kehamilan membuat dirinya berat jika Sabda jauh darinya. Biar bagaimanapun lelaki itu begitu perhatian, dia selalu tahu cara untuk membuatnya nyaman.
"Pertama di sana mungkin agak lama, bisa satu atau dua bulan. Mas sedang beradaptasi dengan pekerjaan baru." mendengar Sabda menjelaskan itu Aruna langsung berbalik. Awalnya, posisinya membelakangi Sabda, kini dia menghadap suaminya, menatap wajah yang kini tersenyum ke arahnya.
"Kenapa?" tanya Sabda, masih dengan mengusap pipi halus Aruna dengan jempolnya. Mata tajamnya tak ingin beralih dari wanita yang semakin hari terlihat lebih cantik karena tubuhnya yang semakin berisi.
Aruna hanya menggeleng. Ada yang mengganjal dalam benaknya. Jarak jauh dengan suami saat hamil tidaklah mudah bagi Aruna. Belum lagi, pikiran negatif lainnya. Meskipun, sudah membangun rasa percaya pada Sabda, wanita itu tetap saja merasa insecure setiap kali jauh dari Sabda.
"Nanti, Mas usahain bawa kamu jika sudah tahu medan di sana, terlebih fasilitas kesehatan." Sabda mempererat pelukannya. Dia juga berat jika berjauhan dengan istri yang sedang hamil. Tapi, keputusan sudah dia ambil dengan segala resiko dan konsekuensi yang ada.
####
Hari ini Sabda pulang lebih awal. Semua peralihan sudah mulai berjalan. Andrean dan Fadli, mereka kaki tangan yang diandalkan Sabda untuk mengurus Showroom.
Setelah beberapa minggu, Sabda sibuk dengan pekerjaan, hari ini Sabda meluangkan sejenak waktunya untuk mengantarkan Aruna periksa rutin kehamilan.
Mobil sedan berwarna hitam itu, berhenti tepat di butik Aruna. Sambil membuka kaca mata hitamnya, Sabda berjalan masuk ke dalam butik.
"Aruna ada?" tanya Sabda dengan nada datar. Lelaki itu memang selalu punya kemampuan untuk membuat seseorang merasa sungkan.
"Mbak Aruna- nya sedang keluar, Mas." jawaban Nina membuat Sabda mengernyitkan dahi. Tidak biasanya istrinya berpindah posisi tanpa meminta izin padanya.
"Tadi, seperti terburu-buru. Katanya ada yang penting." ucap Nina.
"Dia mau bilang kemana?" lanjut Sabda. Dia merasa cemas dengan keberadaan Aruna. Lelaki berhidung mancung itu mulai terlihat tegang. Sabda, dia selalu berpesan pada Aruna untuk tidak pergi sendirian.
"Yang pastinya nggak tahu, Mas. Tapi, sempat bilang taman Flamboyan." jelas Nina.
Sabda kembali keluar, lelaki itu masih mencoba untuk menghubungi Aruna meski tidak ada respon.
__ADS_1
Taman Flamboyan. Sebenarnya, Sabda terasa enggan pergi di daerah itu karena masih satu lingkungan dengan kanton Anin. Bahkan, dia tahu banyak karyawan dari beberapa instansi di sana memilih makan di sekitar taman.
"Kenapa nggak bilang sama Mas dulu, Run." gerutu Sabda dengan mempercepat laju mobilnya. Dengan menyalip beberapa pengendara lain, Sabda masih mencoba menghubungi Aruna.
Memasuki area taman, Sabda memperlambat laju mobilnya, hingga dia memilih berhenti di pinggir jalan. Pandangannya mengedar mencari keberadaan istrinya.
Pandangannya menangkap seorang wanita yang sedang duduk di sebuah bangku besi sendirian. Terlihat, Aruna sedang menikmati es dawet yang lagi viral. Makanan di daerah taman bisa dikatakan lumayan enak, meski tempat mereka terlampau sederhana.
Sabda tersenyum, saat melihat Aruna dengan lahap menikmati makanannya. Di sebelahnya juga ada sebuah kota makanan berjajar rapi. Sabda berjalan mendekati istrinya yang terlihat begitu lahap.
Tapi, seketika langkahnya terhenti saat melihat rivalnya menghampiri istrinya dengan kaos dan sepatu sport. Dengan keringat yang masih membasahi tubuhnya Abimana terlihat selesai olahraga.
"Mungkinkah mereka pergi bersama atau sudah mengatur janji." gumam Sabda. Hatinya kembali panas. Apalagi Aruna tidak mengatakan posisinya dimana.
Nampak Abimana mengambil duduk disebelah Aruna. Meskipun, masih dipisahkan beberapa kotak makanan tapi rasanya Sabda tidak rela jika Abimana berdekatan dengan istrinya.
Sabda mulai melangkah, Aruna dan Abimana tidak menyadari jika Sabda berjalan mendekat dari arah belakang mereka.
"Kelihatannya enak sekali." lanjut Abimana membuat Sabda kembali menghentikan langkahnya, posisinya di bawah pohon besar di belakang mereka.
"Kenapa tidak meminta suamimu? Biasanya suami akan dengan senang hati mencarikan makanan yang diinginkan istri yang sedang ngidam." Abimana tidak berkedip melihat wanita disebelahnya yang begitu antusias dengan es dawet dan siomay.
"Aku pinginnya tiba-tiba, Mas. Jadi tidak sabar untuk menunggu Mas Sabda." jawab Aruna masih dengan tersenyum manis.
Sabda yang ada di sebalik pohon itu menjadi geram. Dia tahu cara lelaki itu mendekati wanita bersuami.
"Kurang ajar." gumam Sabda dengan mengepalkan tangan.
"Maaf, Mas! " terdengar suara Aruna membuat Sabda melihatnya. Aruna sedang menahan tangan Abimana yang akan mengusap sisa makanan di dekat bibirnya.
Wajah Sabda seketika memerah melihat adegan itu, emosinya sudah di ubun-ubun. Tapi, dia akan melihat dulu kelanjutan adegan yang hampir membuatnya lepas kontrol.
Sore itu menjadi saksi pergulatan hebat emosi dan logika lelaki yang masih menguntit di balik pohon. Dia sudah mati-matian untuk menahan rasa cemburu yang akan meledak begitu saja. Aruna dia hanya ingin tahu seperti apa cinta Aruna.
__ADS_1
"Maaf, Run." jawab Abimana dengan salah tingkah. Sedikit rasa malu karena Aruna memang sudah menjaga batasan yang begitu jauh dengannya.
"Apa kamu bahagia dengan suamimu?" tanya Abimana.
"Aku sangat bahagia. Mas Sabda baik dan perhatian, Mas." jawab Aruna. Dia tidak perlu menceritakan pergolakan batin setiap kali teringat pengkhianatan suaminya. Aruna merasa cukup dia saja yang menggenggam perasaan itu.
"Tapi, dia pernah mengkhianatimu." lanjut Abimana. Lelaki itu memang masih berharap pada Aruna. Dia akan menerima apapun keadaan Aruna.
Aruna berhenti menyuap. Dia memang naif, tapi dia tidak bodoh, yang tidak bisa mengerti arti kalimat Abimana.
"Setiap orang punya cerita masing-masing. Begitupun, aku dan Mas Sabda. Terkadang, aku harus berperan sebagai istri yang penuh dengan rasa cemburu dan ingin memiliki sepenuhnya. Terkadang, aku harus menjadi diriku sendiri untuk meninggalkan cerita yang baik karena kelak semua akan dipertanggung jawabkan masing-masing." jelas Aruna masih tersenyum.
Hati Abimana seolah tercubit mendengar penuturan Aruna. Begitu besar cintanya pada Sabda, hingga dia mampu memaafkan kesalahan besar lelaki yang menjadi rivalnya itu. Dia sangat cemburu, dan ternyata dia masih belum bisa mengikhlaskan Aruna.
Abimana menatap penuh kagum pada wanita yang di sebelahnya. Wajah mungil dan cantik, ternyata hanya sebuah manipulatif saja. Aruna terkesan sangat dewasa dengan pemikirannya.
"Beruntung sekali dia yang mendapatkanmu, Run." gumam Abimana dalam hati. Tatapannya menerawang jauh ke depan.
"Ehm... ehm... " Suara deheman itu membuat Aruna dan Abimana menoleh pada sosok yang sudah berdiri tegap di belakangnya.
"Mas Sabda." Aruna gelagapan saat melihat Sabda yang tiba-tiba muncul. Dia mulai resah takut suaminya akan mengamuk atau marah kepadanya.
"Sayang, Mas sudah membuat janji dengan dokter kandungan." ujar Sabda. Dia mengusap pundak kecil Aruna yang masih mendongak menatapnya.
"Oh iya, aku lupa." Aruna langsung membereskan makanannya. Dia ingin cepat- cepat pergi karena takut Sabda akan bersikap Arogan.
Aruna melihat wajah Sabda yang masih memerah. Apalagi dia bertemu Abimana ditempat umum tanpa meminta izin terlebih dahulu pada Sabda. Tapi, bertemu Abimana di sini memang tidak Aruna sengaja.
"Biar Mas yang bawa." ucap Sabda sambil mengambil alih kotak makanan dari tangan Aruna.
"Pergi ke mobil lebih dulu!" titah Sabda, membuat Aruna semakin meragu. Dia tidak ingin terjadi keributan di tempat umum.
"Mas, aku bisa jelaskan!" lirih Aruna dengan wajah panik. Padahal dia tidak sengaja bertemu Abimana.
__ADS_1
Nb: Yuk komen! Diakhir cerita bakal ada doorprize untuk yang beruntung memberi komen dan top fans-nya.
Menggenggam rasa akan memilih komentar readers dari undian ya... dan top fans - terbanyak