
Perjalanan panjang akan mereka lalui, Aruna masih terdiam di dalam mobil. Meskipun tidak ada kedekatan antara dirinya dan Mama Hesti tetap saja dia merasa cemas dengan keadaan wanita itu.
"Cinta dan Sayang itu memang begitu aneh." gumam Aruna dalam hati, merasakan hatinya yang gundah padahal dia merasa tidak sayang pada wanita yang sudah belasan tahun merawatnya.
Aruna yang terus termenung membuat dia tidak menyadari jika Sabda terus saja memperhatikan. Lelaki itu masih dengan perasaan yang sama, meskipun beberapa ultimatum untuk memberi jarak sudah dilayangkan gadis di sebelahnya
"Orang tuanya sudah menjadikan Aruna gadis yang tumbuh dengan baik. Gadis yang tegas dan penuh prinsip." Sabda bermonolog dalam hatinya dan terus mengagumi Aruna.
Dia memang merasa sangat lucu dengan kejadian tadi siang, bahkan dia mulai merasa malu dengan diri sendiri karena tidak mampu mengendalikan rasa cemburunya. Ternyata usia yang sudah matang tidak lantas membuat seseorang terus dalam keadaan waras.
Sabda kembali meraba wajahnya yang lebam di daerah rahang. Dia baru merasakan nyeri di sana.
"Masih sakit ya?" suara lembut itu membuat Sabda menoleh, kemudian tersenyum. Senyum yang jarang Sabda hadirkan untuk siapapun.
"Ah dia masih memperhatikan keadaanku." pekik Sabda dalam hati. Dia merasa senang.
"Sedikit." jawab Sabda seperti menggambarkan perasaannya yang malu tapi bahagia saat ini.
Aruna kembali terdiam. Pertanyaannya seolah menjeda keheningan diantara pekat malam. Padahal lelaki itu berharap ada kalimat lain yang keluar, seperti kalimat perhatian lainnya.
Tapi, ternyata harapannya lenyap begitu saja saat melihat Aruna kembali memalingkan pandangannya ke luar jendela.
"Gadis yang begitu menantang untuk di dapatkan." kembali lagi Sabda bergumam.
Lelaki itu mulai memutar musik di audio mobilnya. Jalan yang sunyi ditambah Kebungkaman keduanya membuat suasana terasa seyap.
Sebuah lagu 'Know Me' mengisi kesunyian perjalanan mereka. Meskipun Aruna terlihat acuh, tapi lelaki itu tetap saja memperhatikan gadis yang terus memalingkan wajah darinya.
Ini kesempatan terakhir untuk bisa berdekatan dengan gadis yang sudah menarik perhatiannya. Aruna menggenggam perasaannya kuat hingga seseorang sulit untuk membacanya.
"Run, kamu kedinginan?" tanya Sabda dengan kedua dahi mengernyit, saat melihat Aruna mengelus lengan tangannya yang tertutup kain tipis.
"Sedikit, Mas." jawab Aruna tanpa menoleh ke arah Sabda. Dia sedang menahan rasa dingin yang hampir membuatnya menggigil.
"Run..." panggil Sabda sekali lagi.
__ADS_1
"Iya... " masih dijawab Aruna tanpa menoleh.
"Coba menghadap ke sini!" titah Sabda mulai curiga jika gadis itu sedang menangis. Bagi, Sabda perempuan kan memang mudah menangis.
"Runa... " panggil Sabda saat Aruna masih tak bergeming.
"Ciiitttt..." Sabda mengerem mobilnya secara mendadak hingga membuat tubuh mungil Aruna terdorong ke depan. Sabda merasa kesal saat tak ada respon apapun dari Aruna.
Pinggiran kota menuju rumah Aruna memang tergolong jalur yang sepi. Bahkan, rumah penduduk yang berjarak jauh antara satu sama lain pun terlewati. Kini mereka berada di posisi tenggang yang sangat sepi.
"Runa... kamu kenapa?" tanya Sabda panik tangannya menyentuh tubuh yang bergetar kuat. Kemudian, Sabda memindahkan tangannya di dahi Aruna yang terasa hangat.
Aruna menggigil, tangannya saling memeluk tubuhnya sendiri dengan sangat erat. Bahkan, kini kedua rahangnya mengatup begitu kuat dengan suara mengerang lirih.
"Di-ngin, Mas. " ucapnya terjeda. Dia kesulitan untuk berbicara.
Mendengarnya Sabda terlihat gugup, dia bingung apa yang mesti dia lakukan. Tidak ada selimut, dia langsung mematikan AC mobil.
Sejenak, dia memperhatikan Aruna yang tidak ada perubahan, lelaki bertubuh tinggi itu langsung keluar dari mobil berjalan memutar dengan tangan melepas kancing kemeja yang dia kenakan.
Sabda menunduk di depan pintu mobil di dekat Aruna. Tangannya menyelimutkan kemejanya yang tidak seberapa tebal itu dan terpaksa memeluk tubuh mungil Aruna.
Deg
Aruna tersentak kaget saat Sabda sedikit memutar tubuh mungilnya dan tangan besar itu memeluknya dari belakang.
"Maaf." lirih Sabda terdengar di telinga Aruna. Aruna memang umurnya jauh di bawahnya, tapi cara dia menjaga harga dirinya membuat lelaki itu begitu menghargainya.
Berlahan Sabda menggeser tubuh mungil itu untuk meringsek ke dalam dan dia pun duduk di sebelah Aruna dengan posisi masih memeluk.
Tidak hanya Sabda yang merasa dilema, tapi terlebih Aruna. Pertama kali seorang lelaki memeluknya begitu erat dan tubuhnya meringsek pada tubuh tegap Sabda.
Rasa yang membuat Aruna semakin terbungkam, rasa berdosa, rasa bersalah, rasa nyaman dan ternyata tubuh itu mampu menghangatkan tubuhnya. Rasa dingin berlahan mereda membuat Aruna sedikit menggerakkan tubuhnya agar Sabda merenggangkan pelukannya.
"Sudah lebih baik?" bisik Sabda membuat Aruna mengangguk cepat. Hembusan nafas lelaki itu terasa hangat menerpa ujung kepalanya. Tapi, Sabda belum juga meregangkan pelukannya. Lelaki itu juga tidak menyadari rasa nyaman yang tercipta.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" lanjut Sabda kemudian dijawab gelengan kepala Aruna.
Perasaan Aruna bertambah tidak karu-karuan. Tubuhnya terasa panas dingin, selain sakit, itu karena jantungnya yang jedag jedug tidak beraturan.
Sekali lagi Aruna melakukan pergerakan, dia ingin sekali melepaskan lengan kokoh yang mendekapnya kuat, tapi lidahnya terasa kelu. Dia seperti terhipnotis dengan keadaan.
"Kita akan cari makan dulu." Berlahan Sabda melepas pelukannya, tapi masih membiarkan kemejanya melekat di tubuh Aruna.
Mobil kembali melaju tanpa AC. Sesekali mata tajamnya melirik Aruna, lelaki itu juga mencari tempat makan yang paling dekat.
"Aku jarang menggunakan mobil, jadi aku tidak selalu membawa baju ganti." ujar Sabda. Aruna hanya terdiam dan mengangguk, dia ingat baju yang dia bawa tapi semua itu hanya satu dress dan sepasang piyama. Dia juga lupa membawa jaket.
Butuh waktu sepuluh menit dengan jarak sekitar tiga kilometer mereka baru menemukan pedagang yang mangkal di trotoar.
Sabda kemudian turun dari mobilnya dengan kondisi shirtless, tubuh berototnya dengan postur tinggi maksimal langsung mengundang kekaguman beberapa pasang mata terutama kaum hawa.
Sekali lagi Sabda tidak peduli, dia kemudian melihat apa yang dijual pedagang yang mangkal dengan gerobaknya itu. Setelah itu, menemui Aruna yang masih duduk di dalam mobil.
"Mie goreng, mau?" tanya Sabda yang masih dijawab dengan anggukan Aruna.
"Oh ya, aku akan ke toko baju di seberang barangkali ada jaket yang bisa kamu pakai." ujar Sabda sambil menunjuk sebuah toko baju di sebrang jalan.
"Aku ikut, Mas!" pinta Aruna yang merasa miris jika sendiri di dalam mobil.
Sejenak Sabda berfikir, kemudian melihat di sekitar. Beberapa pemuda yang memperhatikan mobilnya sejak tadi membuat Sabda memilih untuk mengiyakan permintaan Aruna.
"Mau aku gendong?" goda Sabda yang melihat tubuh lemah Aruna.
"Malu, Mas." jawab Aruna kemudian wajahnya terlihat merona membuat Sabda tersenyum girang. Meski kali ini Sabda menjadi tontonan karena keadaannya tanpa baju atasa, tapi hatinya merasa senang. Ah, dia kembali berharap pada gadis yang terlihat malu- malu bersamanya ini.
"Mas Sabda pakai saja kemejanya. Aku sudah lebih baik." Aruna membuka kemeja dan Sabda mengenakan kembali kemejanya.
Meskipun Aruna mengatakan jika lebih baik, tapi tubuhnya masih nampak gemetar dan pucat. Aruna juga masih merasa demam, hal itu yang membuat Sabda merangkul tubuh Aruna. Sabda takut Aruna akan tiba- tiba ambruk.
"Ayo." Sabda menggandeng tangan dingin Aruna menghampiri pedagang mie jawa yang sejak tadi melihatnya dengan tatapan ... entah.
__ADS_1
"Oh ya, istri saya minumnya teh hangat, Pak. Dan satunya es jeruk." Sabda sengaja mengeraskan suaranya agar beberapa orang yang menatapnya curiga tidak lagi berfikir negatif.