
"Mas Sabda kalau mau pulang, pulang saja! Aku bisa sendiri." ucap Aruna setelah selesai ke kamar mandi.
Dia tidak akan lagi menahan Sabda. Mungkin dari dulu, dia tidak ingin pernah menahan Sabda. Tangannya masih sibuk menyisir rambut dan akan mengenakan kembali jilbab instan.
Ponsel Sabda berdering, Aruna meliriknya. Nama itu terlihat jelas. Hingga Aruna kembali tersenyum getir.
"Cintamu menelpon, Mas. Angkat saja, mungkin penting! Atau dia sedang merindukanmu! " sarkas Aruna membuat Sabda menatap tajam.
"Run, bukan seperti itu!" jawab Sabda. Dia merasa Aruna selalu memojokkannya. Tapi dia tidak akan mendebat lagi. Yang jelas, saat ini dia memang tidak punya komitmen atau hubungan sepesial dengan Anin.
Mendapat jawaban Sabda, Aruna terdiam. Entah kenapa, apa yang dikatakan Sabda tidak lagi berpengaruh padanya.
Hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Aruna sedang mempertimbangkan apa yang dikatakan Mama Rosa.
Dia sedikit bimbang, tapi untuk meneruskan pernikahannya dengan Sabda muncul beberapa bayangan. Sejauh mana hubungan mereka? Apakah mereka sudah bercumbu? Berhubungan layaknya suami istri? Sudah berapa kali mereka melakukannya?
Aruna menghela nafas. Dia tidak bisa membayangkan semua itu. Bahkan, untuk bertanya pun enggan, dia yakin hatinya masih terluka jika mendengar jawabannya. Karena, dia masih mencintai lelaki yang saat ini bersamanya.
Melihat Aruna yang sedang
memikirkan sesuatu, Sabda berjalan mendekati istrinya. Dia benar-benar tidak ingin melepaskan Aruna.
"Istirahat saja ! Mas, akan menunggumu." ucap Sabda dengan menarik selimut Aruna hingga ke perut.
"Run, tidak bisakah kamu memaafkan, Mas? Beri Mas kesempatan lagi untuk memperbaiki semuanya." pinta Sabda, tatapannya begitu mengiba hingga Aruna tak ingin melihatnya.
"Mas meminta kesempatan dan aku butuh waktu." ucap Aruna. Jika Sabda meminta sebuah kesempatan maka dia juga waktu untuk bisa memaafkan. Terluka berkali-kali hingga nyaris mati rasa membuat Aruna sulit untuk bisa menerima semua ini.
"Hatiku terlalu lemah dan terlalu lelah untuk bisa menerima ini, Mas." lanjut Aruna. Dia berusaha tidak menangis lagi.
"Maafkan, Mas, Run! " Hanya itu yang bisa dikatakan Sabda. Dia tidak ingin salah bicara lagi dan kembali melukai perasaan Aruna.
__ADS_1
POV Sabda
Bagaimana aku bisa kehilangan wanita secantik dan sebaik Aruna? Terlebih aku sangat mencintainya. Aku benar-benar takut kehilangannya. Rasanya beda saja ketika aku kehilangan Anin. Lebih sakit ketika Aruna meminta cerai padaku dan ingin pergi dariku.
Jika dia selalu bilang dia bisa gila karena bertahan denganku, tapi aku mungkin lebih gila saat aku kehilangannya. Tidak, aku tidak akan pernah melepaskannya.
Aruna memang sosok yang punya prinsip dan tegas. Dia sulit aku dapatkan. Bahkan, dia tak pernah menuntut apapun dariku. Iya, dia bisa menghadapi aku yang terlena dengan cinta masa laluku itu dengan begitu tenang. Bahkan, dia masih melayaniku dengan sangat sempurna. Dia juga tidak melabrak Anin yang aku kira, Aruna tidak akan sulit untuk bisa menemukannya.
Tapi, dia tidak melakukannya. Dia memilih menyiksaku berlahan. Situasi seperti ini benar-benar sudah menyiksaku.
Author Pov.
"Kamu tidak bisa tidur?" tanya Sabda setelah menunggu sekian menit tapi Aruna masih tidak menutup matanya.
"Iya, Mas. Besok aku sudah bisa pulang. Aku ingin pulang ke rumah Mama Hesti." ucap Aruna dengan menatap Sabda secara berlahan. Dia tetap ingin Sabda mengizinkannya karena dirinya masih berstatus istri Sabda.
"Mas yang akan mengantarmu. Mas juga ingin bicara dengan Mama Hesti." jawab Sabda. Aruna hanya terdiam, dia akan membiarkan Sabda yang akan mengantar pulang ke rumah Mama Hesti.
###
"Assalamu'alaikum... " ucap Aruna hingga munculah Mama Hesti.
"Waalaikum salam....Kenapa tidak memberitahu Mama jika kalian datang." ucapan Mama Hesti saat Aruna dan Sabda mengambil punggung tangannya.
"Aruna mau menginap, Ma." ucap Aruna.
Mama Hesti masih diam, dia hanya memimpin Sabda dan Aruna masuk ke dalam ruang tengah.
"Ma, ada yang ingin Sabda bicarakan dengan Mama." ucap Sabda saat Aruna melangkah menuju dapur. Dia akan membuatkan Sabda teh hangat.
Setelah Sabda menjelaskan semuanya Mama Hesti terdiam, hatinya seperti tidak rela putrinya diperlakukan seperti itu. Tapi, beliau tidak banyak berkomentar karena pada kenyataannya dia adalah wanita kedua dalam rumah tangga almarhum suaminya dan bunda Aruna.
__ADS_1
"Aku mencintai Aruna. Aku tidak ingin berpisah atau bercerai. Kami butuh waktu untuk bisa memulai semuanya. Jadi Sabda titip Aruna di sini." ujar Sabda. Dia juga mengatakan jika membiarkan Aruna pulang ke sini hanya karena ingin perasaan Aruna jauh lebih baik setelah kehilangan calon bayi mereka.
Mama Hesti sangat menyesalkan itu. Wanita itu juga berharap ingin menimang cucu. Memulai peran baru dengan generasi baru sebagai seorang Eyang.
"Silahkan minum, Mas." ucap Aruna dengan membawa secangkir teh hangat untuk Sabda.
Sejenak suasana menjadi hening. Mereka terdiam dengan pikiran masing-masing. Hingga akhirnya, Mama Hesti memilih pergi untuk memberikan kesempatan ada keduanya berbicara. Beliau berharap pernikahan mereka bisa dipertahankan.
"Run, pakai ini untuk memenuhi kebutuhanmu!" ucap Sabda dengan menyodorkan kartu debit yang pernah Aruna kembalikan.
"Mas tau kamu punya uang sendiri. Tapi, kamu masih istri dan tanggung jawab, Mas." lanjut Sabda saat melihat Aruna tak bergeming. Istrinya masih terdiam.
"Kenapa nggak segera mengurus perceraian kita? Apa yang Mas Sabda tunggu? Mungkin, dia masih berharap sama Mas. Aku tidak akan menuntut atau mempermasalahkan apapun." jawab Aruna membuat Sabda menghela nafasnya. Matanya menatap tajam wanita di depannya.
"Kita butuh waktu untuk memperbaiki semuanya. Kita tidak akan bercerai!"
"Semakin cepat, semakin baik. Tidak akan ada yang terluka lebih dalam, Mas." ucap Aruna kemudian. Kalimat Aruna yang terus saja meminta berpisah seperti menguji kesabarannya.
"Mas, pulang dulu. Ini sudah malam! Seminggu sekali, Mas, akan ke sini." ucap Sabda kemudian beranjak dari duduknya. Masih sering mengunjungi Aruna, bagi Sabda adalah cara untuk tetap mempertahankan hubungan mereka.
Aruna mengambil punggung tangan Sabda untuk bersalaman. Tapi lelaki itu langsung menariknya dalam pelukan mengecup puncak kepala istrinya hingga berkali-kali. Hingga membuat mata Sabda berkaca-kaca. Sungguh dia tidak sanggup berpisah dari istrinya.
Setelah Sabda berpamitan dengan Mama Hesti, Aruna mengantar suaminya sampai masuk ke mobil.
"Mas, hati-hati di jalan." ujar Aruna. Bagaimana pun dia masih mencintai lelaki yang saat ini menghidupkan mesin mobilnya.
"Tunggu, Mas. Mas pasti akan sering ke sini." jawab Sabda. Tapi, Aruna hanya mengangguk. Mobil mewah itu keluar dari jalan membuat Aruna kembali masuk ke dalam.
Aruan Pov
Sebenarnya aku masih mencintai Mas Sabda. Tapi, aku masih takut terluka lebih dalam lagi. Aku memang rapuh jika orang menilaiku seperti itu.
__ADS_1
Orang yang selingkuh biasanya akan selingkuh lagi. Aku takut menghadapi kenyataan seperti kemarin. Aku sudah tidak punya kekuatan untuk menghadapi pengkhianatan lagi.
Apalagi aku tahu cinta Mas Sabda dengan perempuan itu begitu besar. Aku sendiri bisa melihat keduanya merasa nyaman saat bersama.