
"Dari mana, Run?" tanya Sabda saat melihat Aruna masuk ke dalam rumah. Sabda baru saja menuruni tangga, karena setelah Salat Subuh lelaki itu memilih untuk tidur kembali.
"Aku membeli nasi uduk dan ayam bakar untuk sarapan, Mas." ucap Aruna dengan meletakkan makanan yang dia bawa di atas meja makan.
Aruna sengaja membeli nasi uduk dengan lauk telur balado di tambah lagi urap karena dia tidak ingin memasak untuk sarapan. Hari ini dia hanya ingin bermalas- malasan nanti setelah Sabda balik.
Sabda duduk di kursi dengan tangan bertumpu pada meja makan. Sedangkan Aruna menyodorkan nasi yang dia beli di depan Sabda.
"Kamu tidak ingin ikut Mas pulang?" tanya Sabda yang hanya dijawab gelengan kepala Aruna.
"Kenapa kamu begitu sulit memaafkan Mas, Run? Berapa lama lagi kita harus seperti ini?" tanya Sabda dengan menatap sendu wanita yang duduk di depannya.
"Aku sudah memaafkanmu, Mas. Tapi, aku tidak tahu bisa sampai kapan aku bisa melupakan semuanya." jawab Aruna.
"Mungkin mereka yang tidak pernah merasakan sebuah pengkhianatan tidak akan mengerti bagaimana perasaan itu. Setiap saat setiap waktu selalu menghantui, bahkan mereka akan sulit membangun kembali sebuah kepercayaan." jawab Aruna masih menunduk, dia seperti sedang mengungkapkan sesuatu yang selama ini tergenggam kuat.
"Andai kamu tahu aku hampir mati menggenggam rasa ini, Mas. Menikmati setiap pengkhianatanmu dan bertarung antara bertahan dan berpisah. Rasanya aku menjadi orang setengah hidup dengan semua ini."
Aku terluka, rasa sakitnya sulit untuk aku ceritakan. Aku akui jika diriku sangat mencintaimu, tapi satu sisi aku sudah hilang kepercayaan padamu, Mas. Bagaimana hubungan ini bisa sehat jika sudah tidak ada kepercayaan lagi?" Aruna bermonolog dengan pikirannya sendiri. Seandainya saja Sabda bisa mendengar semua itu, tapi dia tidak akan mudah mengatakan semua itu.
"Maafkan, Mas." suara Sabda terdengar lirih. Melihat wajah sendu Aruna membuat mata Sabda berkaca-kaca.
Suara ponsel Sabda terdengar. Melihat nama' Mama' terpampang jelas membuat Sabda segera menggeser layar benda pipih itu.
"Iya... " jawab Sabda seketika membuat Sabda panik.
"Nyonya Rosa drop, Mas. Kita membawanya ke rumah sakit." ucap asisten rumah tangga Rosa. Melihat kepanikan Sabda, Aruna pun menatapnya penuh selidik.
"Baik, saya akan pulang." Sabda langsung berdiri setelah menutup panggilannya. Dia akan berniat untuk segera pulang.
"Mama drop. Mas akan pulang sekarang, ya!" ucap Sabda. Sebelum datang mengunjungi Aruna, Sabda memang sudah tinggal bersama Rosa selama seminggu. Tapi, nyatanya hari ini wanita yang hatinya begitu tegar itu harus dilarikan ke rumah sakit.
__ADS_1
Aruna pun membereskan secepatnya sisa makanan mereka di meja. Wanita yang saat ini juga tak kalah panik itu pun berlari mengejar Sabda yang kembali masuk ke dalam kamar.
"Mas, aku ikut!" kalimat Aruna menghentikan gerakan Sabda yang mengganti baju koko dengan kaos putih. Lelaki yang seolah tidak percaya itu menatap tajam istrinya, dia kembali meyakinkan apa yang dia dengar memanglah benar.
"Aku ikut ke rumah sakit." lanjut Aruna memberikan penjelasan. Sampai kapanpun mama mertuanya akan tetap jadi mamanya, pikir Aruna.
"Iya," jawab Sabda kemudian meneruskan kegiatannya.
Aruna membawa gamis ke dalam kamar mandi untuk mengganti piyama yang saat ini dia kenakan.
"Aku sudah siap, Mas." ucap Aruna setelah mengenakan jilbab yang senada dengan gamis yang dia kenakan.
Setelah berpamitan dengan Mama Hesti, Keduanya langsung masuk ke dalam mobil. Saat Sabda melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia takut terjadi sesuatu dengan mamanya.
"Terima kasih, Run. Kamu masih sayang Mama." ucap Sabda.
"Mama Rosa begitu baik. Tapi yang keterlaluan itu putranya." jawab Aruna hanya di balas oleh Sabda dengan senyuman yang terlihat hambar
Pov Anin
Aku tidak menyangka jika Sabda benar-benar menghindariku. Menutup Akses yang berhubungan denganku. Bahkan dengan mudahnya mengatakan untuk melupakan apa yang sudah terjadi.
Aku merasa sangat kehilangan. Selain aku memang mencintai Sabda, dia juga orang yang selalu menjadi tempat aku berlindung dan mengeluh.
Bertemu dengannya aku bisa melihat sorot matanya masih menyimpan cinta untukku. Beberapa tahun, lelaki itu masih mencintaiku seperti aku yang tak bisa melupakannya. Hingga aku bisa melihat dia begitu abai dengan istrinya dan itu membuatku yakin dia masih sangat mencintaiku apalagi cara dia menyayangi Sisil membuatku ingin mengikat dan membuatnya meninggalkan wanita itu.
Aku meminta seseorang untuk membuatnya mabuk dan membawa ke kamarku. Kami memang melalui malam panas itu, tapi ada yang membuatku terluka saat melakukannya, dia hanya mengingat dan menyebut nama perempuan itu.
Aruna
Segitu berharganya Aruna saat ini baginya? Hingga mampu mengalahkan perasaan yang bertahta hingga beberapa tahun yang lalu.
__ADS_1
Setengah sadar pun, Sabda hanya menyebutkan nama Aruna, Nama yang selalu digaungkan dalam percintaan panas kita. Aku yang sudah terbakar hasrat karena garangnya Sabda Megantara harus kembali menelan rasa kecewa. Iya, hatiku memanas karena rasa cemburu.
Aku sangat kecewa, betapa dulu Sabda sangat mencintaiku dan memujaku, hingga dia berani melawan mamanya. Tapi, namaku sudah tergantikan oleh wanita itu. Wanita yang baru dia kenal hanya dalam hitungan bulan.
Sabda begitu merasa bersalah padaku dan dan takut ketahuan istrinya membuat lelaki itu selalu memberikan apa yang aku mau, bantuan financial dan waktu untuk Sisil. Kelahiran Sisil memang bukan yang aku harapkan tapi saat ini gadis kecilku itu membuat diriku begitu menyayanginya.
Sore ini aku harus ke rumah sakit. Kondisi Sisil yang drop dan hanya ditemani saudaraku Ana membuatku harus cepat mengakhiri pekerjaanku.
Sebenarnya aku lelah dengan keadaanku saat ini. Merawat Sisil membutuhkan banyak dana, meskipun sudah dicover asuransi. Belum lagi, rasa lelah karena pekerjaan. Jika saja masih ada Sabda...
Sekali lagi aku sulit lepas dari lelaki itu, Sabda seperti sudah mengambil semua hati dan rasa nyamanku.
"Ada apa? Kenapa termenung?" Pak Royan manager kantor sedang menegurku.
"Ada sedikit masalah pribadi, Pak." jawabku. Mungkin dia bisa melihat wajah lesuku saat ini.
"Apa, financial?" tanya Pak Royan. Lelaki berumur lima puluh tahunan yang selalu terkenal genit itu memperkirakan seperti itu. Sedangkan, aku hanya mengangguk.
"Kamu butuh berapa?" tanya lelaki yang saat ini menatapnya dengan detail. Sementara akau terdiam, aku masih belum mengerti maksud beliau.
"Iya, aku akan membantumu, tapi kamu juga bisa membantuku menghilangkan jenuh ini." lanjutnya. Aku masih terdiam, kali ini aku mengerti apa maksud dari kalimatnya.
"Aku tidak memaksa. Itu terserah kamu saja." ucapnya lagi. Mungkin, dia bisa melihat kebimbanganku.
"Akan saya pikirkan, Pak." jawabku dengan perasaan yang penuh dilema.
"Apapun keputusanmu hubungi saja nanti." Setelah mengatakan itu, Pak Royan pun berlalu meninggalkan mejaku.
🌷🌷🌷🌷
Pengen ngasih visual takut kita halu dan seleranya beda. Jadi, ancur deh bantu halunya....
__ADS_1