Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 44


__ADS_3

Aruna berjalan pelan setelah melakukan pemeriksaan di bagian obgyn. Iya, hasilnya memang positif, dia hamil empat minggu saat ini.


Meski rasa bahagia yang saat ini Aruna rasakan tapi dia juga merasa dilema antara memberi tahu Sabda atau masih menyimpannya sendiri untuk sementara, karena banyak alasan yang membuat dirinya belum ingin memberitahu Sabda.


Aruna berdiri di depan klinik, setelah memesan taxi. Rasanya dadanya semakin sesak. Dia harus periksa sendiri disaat kehamilan pertamanya.


Sebuah taxi berhenti di depannya, Aruna kemudian masuk ke dalam bangku belakang dan menyandarkan tubuhnya yang terasa lemah. Bahkan, dia merasa hatinya pun rapuh. Trauma masa lalu saat ayahnya menikah lagi dengan Mama Hesti membuat dirinya dengan mudah dihantui sebuah pengkhianatan.


Menggenggam rasa ini untuk sementara dan ingin mengetahui sedalam apa Sabda mencintainya.


Aruna bukan tipe orang yang gegabah. Dia berusaha berhati- hati dalam menyikapi masalah ini. Jika tidak, perasaannya bisa menggila karena rasa marah dan kecewa. Aruna tidak mau hal itu terjadi. Selain rasa cintanya pada Sabda yang begitu dalam tapi karena juga ada calon anak yang harus dia pikirkan.


Iya, dia sendiri merasakan bagaimana berada diantara keluarga yang broken home, rasanya seperti orang yang patah hati hingga berkali-kali meski semua menyayanginya. Apalagi pernikahan yang baru seumur jagung, bagaimana dia bisa menghadapi dunia ini?


Taxi memasuki komplek perumahan. Dia segera menghapus air matanya agar tidak menunjukkan kesedihan. Iya, dia masih menggenggam rasa yang belum menemukan ke arah mana dia harus melangkah.


"Terima kasih, Pak." ucap Aruna saat memberikan uang sebelum dirinya turun dari taxi itu.


Terlihat mobil Sabda sudah terparkir di dalam. garasi. Aruna melirik jam yang melekat di pergelangan tangannya. Ternyata sudah pukul delapan malam, itu artinya dia terlalu lama mengantri di dokter kandungan.


"Assalamu'alaikum... " ucap Aruna saat memasuki rumah. Terlihat Sabda duduk di ruang tengah dengan ponsel di tangannya. Lelaki itu sekarang terlihat lebih sibuk dengan ponselnya.


"Waalaikum salam. Sayang... baru pulang?" sapa Sabda kemudian tatapannya kembali pada layar benda pipih itu.


"Mas, sudah makan? Malam ini mau makan apa?" tanya Aruna masih berusaha untuk tetap tenang meskipun hatinya serasa porak poranda.

__ADS_1


"Apa saja." jawab Sabda begitu singkat.


Aruna bergegas masuk ke dalam kamar, menaruh tasnya dan melepas jilbab segi empat dan menggantinya dengan bergo.


Sikap tenangnya bukan karena dia bisa menerima semuanya. Tapi, dia sedang berfikir bagaimana cara berbicara dengan baik pada Sabda. Tidak bisa, dia membiarkan begitu saja rasa yang ingin meledak dalam hatinya menjadikan rumit masalah yang ada.


Hanya sup dan ayam goreng. Iya, Aruna tidak selera untuk memasak yang rumit dan membuat dirinya lelah. Dia harus menjaga diri agar tetap sehat dan waras.


"Mas, sudah siap makan malamnya." ujar Aruna menghampiri Sabda.


Sabda tidak menyadari jika Aruna sudah menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Lelaki yang kini memasukkan ponselnya ke dalam saku pun melewati istrinya begitu saja menuju kursi makan.


Aruna masih melayani Sabda dengan sebaik mungkin, memerankan peran istri yang baik, entah itu dianggap atau tidak.


"Mas, boleh aku bertanya?" ucap Aruna ingin memulai bertanya tentang hubungan suaminya dengan wanita itu.


"Apa Mbak Anin selalu terlibat dalam setiap pekerjaannya, Mas Sabda?" tanya Aruna dengan hati-hati, dia tidak ingin memperpanjang permasalahan.


"Nggak juga, memang bisa bersinggungan dengan kantor jika untuk pembiayaan secara kredit." jelas Sabda tanpa beban. Dia masih menikmati makan malamnya tanpa menyadari kegelisahan yang terlihat dari wajah istrinya.


"Kenapa diam, Sayang. Kenapa tidak makan?"


lanjut Sabda, tapi tidak juga melihat sosok yang kini menatapnya dengan mata sayu.


"Apa, Mas Sabda masih mencintai Mbak Anin?" tanya Aruna. Akhirnya dia memberanikan diri untuk menanyakan itu karena dirinya tidak ingin Sabda meyakinkan dirinya dengan mengelak apa yang sudah Aruna lihat sendiri.

__ADS_1


Sabda meletakkan sendoknya dengan kasar. Aruna menatap Sabda yang kini terlihat marah dengan pertanyaannya. Sorot mata Sabda seolah menunjukkan emosi yang masih dia tahan.


"Kita terkait karena suatu pekerjaan. Saat ini kantor sedang ada masalah. Salah satu karyawan sedang memainkan keuangan dalam transaksi penjualan. Dan itu sangat merugikan kantor. Sedangkan Anin siap membantu untuk menemukan dan membuktikan kecolongan itu." jelas Sabda dengan suara berat. Lelaki itu merasa seperti tertuduh dengan apa yang dilakukan Aruna.


"Maafkan aku, Mas. Bukan maksudku menuduh, Mas. Aku hanya ingin tahu sejauh apa hubungan Mas dengannya." lirih Aruna. Dia tidak bisa memaksa Sabda. Lelaki yang punya watak keras itu memang memberikan alasan yang cukup masuk akal.


Sabda menyelesaikan makan malamnya dengan cepat. Dia memilih meninggalkan Aruna yang masih mengaduk-aduk nasi dalam piringnya.


Aruna tidak akan mencecar lagi Sabda, meskipun hatinya masih belum bisa menerima semua alasan yang dilontarkan suaminya itu. Hatinya masih merasa janggal, apalagi saat melihat interaksi antara Sabda dan wanita itu. Perasaannya sebagai istri benar-benar tidak enak.


Lelaki yang kini berjalan menuju ruang kerjanya itu pun telah menghilang dengan pintu yang tertutup dengan keras. Aruna sudah faham jika Sabda marah karena pertanyaannya.


Aruna tidak bisa menahan lagi tangisnya. Dia membiarkan suaranya terisak pelan mencoba mengeluarkan rasa nyeri yang begitu menyesakkan dadanya.


Wajahnya pun menunduk dengan bertumpu pada kedua tangan yang terlipat di atas meja. Bahunya pun masih bergetar karena rasanya masih saja menyakitkan. Iya, kemarahan Sabda membuat hatinya semakin sakit.


"Apa aku salah jika aku bertanya? Bukankah aku berhak tau apa yang dilakukan oleh suamiku? Tapi kenapa harus semarah itu?" Ingin sekali dia melontarkan berbagai pertanyaan seperti itu tapi Aruna hanya bisa terisak dengan rasa sakit yang semakin membuncah dalam hatinya.


Tengah malam, Sabda masuk ke dalam kamar. Dia menatap sejenak istrinya yang sudah bergelung selimut hingga menutupi leher. Posisi Aruna yang memunggunginya, membuat Sabda tidak tahu jika istrinya masih menitikkan air mata.


Berlahan Sabda naik ke atas tempat tidur, membuat Aruna mengatupkan mata basahnya berpura-pura untuk tidur.


"Mas tahu, kamu belum tidur. Maafin Mas sudah bersikap kasar." ujar Sabda dengan kepala bertumpu pada kedua lengan yang sudah ditekuk.


"Kantor sedang ada masalah. Jadi, Mas harap kamu bisa mengerti dan jangan berfikir macam- macam." lanjut Sabda. kemudian menoleh ke arah samping di mana istrinya berada.

__ADS_1


Sabda melihat Aruna mengangguk membuat Sabda tahu jika Aruna juga marah. Lelaki itu kemudian menggeser tubuhnya dan memeluk tubuh mungil itu


Hening. Mereka masih terdiam hingga keduanya tidak menyadari jika sudah terlelap.


__ADS_2