
Mobil berhenti tepat di dalam garasi rumah Sabda. Dia sengaja tidak membangunkan Aruna karena istrinya terlihat sangat pulas. Mulai saat ini mereka memutuskan untuk tinggal bersama di rumah Sabda.
Sabda membuka pintu rumah terlebih dahulu, kemudian berjalan menghampiri Aruna yang masih tertidur, bermaksud untuk menggendongnya masuk ke dalam.
Baru saja Sabda akan menggendongnya, Aruna mulai mengerjapkan mata dan kemudian menatap Sabda yang sudah menunduk dengan tangan terulur di bawah tubuhnya.
"Mas... " lirih Aruna, membuat Sabda tersenyum. Sudah kepalang tanggung Sabda tetap saja mengangkat tubuh mungil Aruna.
"Aku bisa jalan sendiri, Mas." ucap Aruna. Tapi tetap saja membalas ide Sabda dengan mengalungkan lengan di bahu keras suaminya.
Sabda tidak menjawab, dia langsung membawa Aruna naik ke lantai dua dan masuk ke dalam kamarnya.
Kamar yang cukup besar, dua kali luas kamar Aruna meski rumah mereka satu tipe. Ornamen dan aroma yang menguar di dalamnya benar- benar memberi kesan maskulin.
"Mulai sekarang kita tinggal bersama." ucap Sabda saat meletakkan tubuh Aruna di atas tempat tidur berukuran king size.
"Rumahku?" tanya Aruna.
"Ya, biarkan saja. Dikontrakkan, bisa." lanjut Sabda dengan santai. Kemudian ikut merebahkan diri di samping Aruna dan memeluknya.
Tapi belum sampai lima menit ponselnya sudah berbunyi, lelaki itu pun beranjak dengan malas untuk mengangkat telepon.
Sedangkan Aruna masih menikmati suasana kamar suaminya. Semua terlihat sangat mewah, Sabda memang punya selera yang cukup bagus.
Tidak pernah terpikirkan oleh Aruna untuk menjadi istri Sabda Megantara, sosok yang baru dikenalnya dan membuat Aruna yakin untuk menghabiskan sisa hidup bersamanya.
"Sayang, mau kemana?" tanya Sabda masih dengan ponsel di telinganya.
"Aku akan buat makan malam, Mas." ucap Aruna saat menghentikan langkahnya.
"Sebentar... " ucap Sabda membuat Aruna mengernyit. Dia memutuskan menunggu Sabda sampai selesai bicara dengan seseorang.
Setelah meletakkan ponselnya Sabda beranjak menghampiri Aruna. Dia mengatakan jika sudah memesan makanan dan hanya ingin dibuatkan kopi saat ini.
__ADS_1
Aruna berjalan ke dapur, mengenal sejenak dapur di rumah suaminya. Gadis itu mulai merajuk dua gelas kopi.
"Gulanya sedikit saja, Sayang." ujar Sabda memilih berdiri di belakang Aruna. Berlahan tangannya menyentuh pinggang kecil itu membuat Aruna tersentak kaget. Entah kenapa, setiap mendapat sentuhan dari lelaki yang kini memeluknya kini, dia merasa jantungnya tidak sehat.
"Aku mencintaimu." ucap Sabda sambil mencium pipi yang kini sudah merona. Aruna hanya tersenyum sambil menunduk, mengaduk kopi yang sudah jadi.
"Sayang, Showroom akan buka cabang di luar kota." ucap Sabda kemudian membalikkan tubuh Aruna agar mengahadapnya.
"Selamat, Mas. Aku senang mendengarnya." ujar Aruna sambil tersenyum. Bagi Aruna, qitu wajar saja jika pencapaian Sabda meroket, suaminya punya identitas yang dibutuhkan untuk seorang pemimpin.
"Cuma itu...?" tanya Sabda. Aruna mendongak menatap penuh tanya maksud lelaki di depannya.
"Peluk, Cium dan... kita sudah menikah, Sayang." jelas Sabda dengan mengapit bahu kecil Aruna dengan tangannya yang besar. Sabda memeluk istrinya dari belakang.
Aruna menatap mata tajam suaminya. Kemudian tersenyum sebelum mencium rahang yang di tumbuh bulu halus itu. Kenapa di situ? Karena tinggi Aruna cuma sampai di situ.
"Selamat, Mas. Aku mencintaimu." ucap Aruna yang pada akhirnya memeluk erat tubuh besar di depannya.
Keintiman mereka saat ini terbuyarkan dengan suara bel dari depan. Dia yakin itu pasti makanan yang di pesan Sabda. Dengan terburu-buru Aruna melangkah menjauh, sedangkan Sabda menyesap kopi yang baru dibuatkan istrinya.
###
Aruna membawa desain baju pengantin dan setumpuk bahan, untuk di bawa ke ruang produksi. Mama Hesti meminta Aruna mengenakan gaun pengantin yang berjilbab. Bukan itu saja, dia juga mengutarakan keinginannya agar Aruna mengenakan jilbab setelah itu. Meskipun wanita itu tidak mengharuskan Aruna menuruti keinginannya.
Terlihat Tita membuka pintu utama butik, diiringi langkah seorang lelaki yang baru saja bertunangan dengannya.
"Tita... " gumamnya kemudian berjalan menyambut kedatangan Tita dan Bagas.
"Kamu sangat menyebalkan, Run. Bisa-bisanya kamu memberitahukan aku tentang hari istimewa itu." omel Tita, dia benar-benar kesal pada temannya yang satu ini. Tita mengetahui pernikahan Aruna dari foto profile Whatshapnya.
"Maaf, Ta. Semua serba mendadak. Tapi, bukan depan saat resepsi aku pasti mengundangmu." jawab Aruna belum juga bisa menghilangkan rasa kesal Tita. Dari semalam, Tita sudah menahan diri untuk tidak menghubungi Aruna meskipun hanya untuk bertanya.
Aruna mengajak Tita dan tunangannya itu untuk masuk ke dalam ruangan Aruna. Membiarkan sahabatnya itu meluapkan kekesalan akibat dari kesalahannya.
__ADS_1
Belum juga mereka beranjak, sosok dengan tubuh tinggi tegap yang sedang berjalan masuk itu membuat semuanya menoleh.
Sabda berjalan menghampiri meja kasir dengan meletakkan sebuah paper bag.
"Terima kasih, Mas Sabda." ucap Nina diikuti Amanda yang sudah berdiri menyamai Nina. Tanpa menjawab lelaki itu kemudian beralih menghampiri Aruna dan Tita.
"Apa kabar, Bro. Nggak Nyangka, kita kembali menjadi satu circle." ucap Sabda saat menyalami Bagas. Dia tidak menyangka, perjodohannya yang dimaksud ternyata dengan Tita, teman istrinya.
"Aku nggak nyangka saja kamu bergerak sangat cepat." ujar Bagas, sambil melirik Aruna. Sabda terkekeh mendengar ucapan Bagas, kemudian merangkul istrinya.
"Biar nggak lari jadi langsung diikat." celetuj Sabda menanggapi.
"Biar nggak kayak si Annn... " Bagas, menggantungkan kalimatnya, dia menyadari salah tempat untuk meledek Sabda.
"Maaf... " lanjut Bagas. Wajah Sabda sudah terlihat tegang, apalagi saat melihat Aruna menyimak begitu intens candaan Bagas.
"Sayang, kenapa nggak mengajak mereka untuk minum kopi di sebelah." ajak Sabda mencoba mencairkan suasan. Tangannya merangkul bahu kecil Aruna mencoba menepis pikiran buruk istrinya.
"Ayo kita berbincang sambil menikmati sore." ajak Tita yang di-iya-kan Aruna.
Mereka pun berjalan keluar, " Mas Sabda, Terima kasih atas kerjasamanya." celetuk Amanda dan Nina hampir bersamaan. Tak lupa keduanya memerkan ponsel yang baru di berikan Sabda.
"Mas Sabda menyuap mereka?" lirih Aruna dengan menekankan suaranya membuat Tita dan Bagas pun tersenyum mendengarnya.
"Demi memuluskan rencana, Sayang." jawab Sabda.
Mereka memilih duduk di tempat Sabda biasa menghabiskan waktu luang dengan memperhatikan Aruna.
"Meskipun aku tidak menyaksikan akad nikah kalian, semoga kalian bahagia selalu." ujar Tita di tengah keasyikan mereka.
"Terima kasih, Ta. Sekali lagi aku minta maaf." ujar Aruna merasa tidak enak dengan sahabatnya itu.
"Oh ya, kapan kita merencakan touring lagi. Sudah lama kita terlalu sibuk dengan pekerjaan kita." Bagas memecahkan keseriusan diantara mereka. Kedekatan empat sekawan team Sabda diantaranya memang punya hobi yang sama. Yaitu melakukan touring.
__ADS_1
"Agendakan saja. Aku usahakan ikut. Aku juga ingin mengajak istriku." jawab Sabda sambil menyesap kopi panas pesanannya.
Sore itu suasan terasa lebih nyaman untuk menghabiskan waktu dengan berbincang dan ditemani minuman hangat. Sesekali bagi mereka menghabiskan waktu dengan santai bersama teman setelah seharian bekerja.