Menggenggam Rasa

Menggenggam Rasa
Menggenggam Rasa 56


__ADS_3

"Tidak apa, kamu makin cantik. Meskipun seperti anak SMA." lanjut Sabda saat melihat Aruna terdiam. Dia sudah hafal Aruna, wajahnya saat ini menunjukkan rasa bersalah padanya.


"Mas Mandi dulu." Sabda pun meninggalkan Aruna yang kemudian mengambil air wudhu di kran belakang.


Dalam doanya, Aruna sempat menangis saat mengingat jalan hidupnya yang sulit untuk dilaluinya. Iya, keluarga broken home, suami mengkhianatinya disaat mereka seharusnya menikmati kebahagiaan.


Aruna bergegas meninggalkan Sabda yang masih berdoa, dia tak ingin suaminya melihat dirinya menangis. Dia akan tetap baik- baik saja di depan suaminya.


Langkahnya menuruni tangga, Aruna bermaksud membuat makan malam. Pikirannya tidak lepas juga dari mertuanya yang sedang sakit.


"Run, minggu depan ada gathering family. Mas harap kamu mau menemani Mas." ucap Sabda, lelaki berhidung mancung itu ternyata sudah berdiri di belakangnya. Menatapnya begitu dalam.


"Maaf, Mas. Aku tidak bisa ikut!" jawaban Aruna membuat Sabda mendesah lemah. Dia merasa Aruna membangun tembok yang sedemikian tinggi hingga dia sangat sulit untuk merobohkannya.


Sabda menatap wanita yang kini meniriskan ayam rica-rica itu dengan sorot mata sendu. Dia tidak bisa membayangkan jika Aruna tahu sejauh mana hubungannya dengan Anin. Oh Tuhan, rasanya dia tidak bisa membayangkan jika hidupnya penuh dengan rasa cemas karena sebuah kesalahan.


"Ayo makan!" ujar Aruna hanya menatakan piring untuk Sabda. Jika biasanya dia menaruh makanan di piring untuk suaminya, saat ini sangat berbeda, berlahan dia ingin mengikis sedikit demi sedikit kebiasaan mereka.


Sabda terus menatap Aruna. Ada rasa kecewa dari dalam hati lelaki itu. Tapi, Aruna tetap berdiri pada pendiriannya.


Bagi Aruna menentang Sabda juga sangatlah sulit, dia tahu kekuatan Sabda. Ketika dirinya ingin bercerai dan lelaki itu masih kekeh untuk bertahan.


"Run, Mas akan menginap." ucap Sabda setelah mereka menyelesaikan makan malam. Aruna sudah memperkirakan itu.

__ADS_1


Aruna masih terdiam, dia masih dilema. Bagaimana dia bisa menolak? Toh, Sabda masih suaminya. Tapi, dia juga tidak ingin berada dalam satu kamar dengan lelaki itu.


"Mas bisa tidur di kamar tamu! Nanti aku akan menyiapkannya." ucap Aruna membuat Sabda mendesah. Dia menatap tajam Aruna. Dia yang biasa dominan kini harus bersabar dengan aturan main istrinya. Bukan, dia tidak akan sabar dia hanya mengalah.


Malam mulai merambat hingga pukul sepuluh, Sabda masih menunggu Aruna menyelesaikan pekerjaannya di ruang tengah. Wanita itu sengaja menyibukkan diri setelah makan malam.


"Run, jika kamu ingin kita selamanya seperti ini akan aku turuti." ucap Sabda dengan menahan kesal. Sedari tadi Aruna abai dengan kehadirannya.


"Terserah, Mas, saja!" ujar Aruna, kemudian menutup kembali laptopnya dan membawa benda itu masuk ke dalam kamar.


Sabda yang sedari tadi membuntut di belakang Aruna, juga ikut masuk ke dalam kamar. Terlihat Aruna yang sedang mengeluarkan Selimut dan akan membawanya ke kamar tamu membuat Sabda menahannya. Lelaki itu menahan tangan Aruna.


"Aku masih suamimu! Benarkah kamu akan menentang ajaran Tuhanmu? " ucap Sabda dengan menatap tajam Aruna, sorot mata memohon sekaligus menuntut membuat Aruna melemah. Dia tahu betapa berdosanya dia ketika menolak suami yang menginginkannya.


"Pernahkah Mas Sabda bercumbu dengan perempuan itu?" tanya Aruna. Dia yang pernah melihat Sabda memeluk Anin di ruangannya membuat Aruna penasaran tapi juga takut akan pengakuan Sabda.


"Jawab, Mas! Aku hanya ingin kejujuran Mas Sabda." desak Aruna ketika Sabda hanya menatapnya dengan tatapan sendu. Lelaki itu tidak berani menjawab pertanyaan Aruna.


Berlahan Sabda mengangguk, membuat Aruna mendesah dengan memejamkan kedua matanya. Sabda tahu Aruna sangat terluka karena jawabannya. Tapi sudah tidak mungkin berbohong dan menambah masalah.


"Maafkan, Mas, Run!" ucap Sabda. Lelaki itu terus saja memohon untuk diampuni.


Sungguh Aruna ingin menanyakan hal yang lebih dari itu. Tapi, kenyataannya mendengar jawaban itu hatinya begitu nyeri. Dia kembali terluka meski dia sudah memutuskan untuk berpisah.

__ADS_1


"Hanya itu, Mas?" lanjut Aruna yang hanya dijawab anggukan oleh Sabda. Dia tak ingin mendesak Sabda dengan pertanyaan yang lebih jelas karena dia juga tidak akan mampu mendengar. Aruna sudah merasa tidak nyaman saat kedua orang itu ada acara bersama di luar kota selama dua hati saat adanya perkumpulan club mobil.


Sabda menjawab pertanyaan Aruna hanya dengan anggukan. Posisinya serba salah. Karena saat jujur, dia yakin akan kehilangan sepenuhnya Aruna tapi ketika dia harus berbohong dia yakin Aruna tidak akan percaya begitu saja.


"Aku ingin Mas menggunakan kontrasepsi. Aku tidak ingin hamil!" ucap Aruna, itu artinya dia bersedia melayani Sabda meski dengan berat.


Diantara malam yang cukup lembab, Aruna melayani Sabda. Iya, semua rasa yang membuat hatinya terluka, menggenggam rasa benci dan cinta dalam satu hati saat melayani hasrat Sabda yang sangat menggebu.


Seperti singa yang sedang kelaparan, lelaki itu menuntaskan hasratnya yang sudah lama tidak tersalurkan. Entah berapa bulan dia harus berpuasa. Dia seolah kalap menikmati percintaan mereka karena dirinya tidak bisa melihat luka yang sedang disembunyikan istrinya itu.


"I love you, sayang." ucap Sabda setelah dia merasakan sebuah kepuasan dari nikmat dunia yang diberikan Aruna.


Tapi, saat ini ada yang berdenyut nyeri di hati Sabda saat Aruna tidak menjawab ungkapan perasaan cintanya. Biasanya Aruna akan menjawab ' I love you to' dengan senyum manis di bibir ranumnya. Mungkin, dia harus kembali bersabar menunggu ungkapan cinta dari Aruna.


Sedangkan saat ini, Sabda hanya memeluk tubuh mungil itu dari belakang. Dia tidak tahu jika air mata Aruna terus saja mengalir. Istrinya sedang menggenggam semua rasa yang bercampur aduk dan tercokol di hatinya. Rasa cinta, rasa marah, rasa kecewa dan rasa jijik karena tubuh yang memberinya kehangatan itu sudah memberikan kenikmatan pada wanita lain.


Rasanya hanya beberapa jam saja Aruna memejamkan mata, sebuah ciuman mendarat di keningnya. Iya, Sabda sudah terlihat segar dengan baju koko yang dia kenakan. Aruna yakin Sabda sudah Salat Subuh.


"Salat subuh dulu, sayang." ucap Sabda dengan tersenyum pada istrinya. Jika dulu panggilan itu terdengar sangat merdu sekarang justru sangat berbeda jauh.


Aruna merasa Sabda lebih terlihat berbinar dengan sorot mata bahagia yang tidak bisa dia sembunyikan. Aruna menebak mungkin karena semalam lelaki di depannya sudah menyalurkan segala hasrat yang sudah dia tahan.


"Aku akan mandi dan Salat Subuh, Mas." ucap Aruna kemudian melilitkan selimut di tubuhnya dan berjalan menuju kamar mandi.

__ADS_1


__ADS_2