
Aruna mengerjapkan mata, dia menatap jam yang menggantung di dinding. Ah, dia sudah merasakan ingin buang air kecil setiap jam segitu.
Dia kembali melihat tempat di sebelahnya, ternyata Sabda belum juga masuk ke kamar. Aruna beranjak ke kamar mandi untuk menuntaskan rasa kebeletnya terlebih dahulu.
Setelah selesai semuanya, Aruna memilih untuk mencari keberadaan suaminya. Sejenak tatapannya mengedarkan ke lantai bawah, tapi di bawah juga nampak sepi, kemudian pandangannya dia arahkan pada ruang kerja suaminya tapi ternyata lampunya juga mati. Itu artinya Sabda tidak ada di dalam sana.
"Mas Sabda kemana?" gumamnya dengan merapatkan tali kimono satin yang membalut lingerie di tubuhnya.
Aruna berjalan mendekat ke balkon saat mendengar suara musik yang terdengar cukup lirih.
"Mas Sabda... " gumam Aruna saat melihat suaminya hanya mengenakan kaos singlet. Sabda terlihat duduk sendirian dengan menikmati sebatang rokok.
Aruna berjalan menghampiri Sabda. Lelaki itu masih terlihat asyik dengan menyesap batang rokoknya.
"Mas... " panggil Aruna saat berada di tengah pintu.
"Sayang... " langsung saja Sabda menyecak puntung rokoknya saat melihat keberadaan Aruna.
Tapi, sebelum dia meminta Aruna kembali masuk, wanita itu sudah sampai di sebelahnya.
"Mas habis olahraga. Ingin merokok sebentar!" ucap Sabda membuat Aruna memilih untuk duduk di sebelahnya. Setiap kali merasa gelisah lelaki itu akan banyak menghabiskan waktu dengan rokoknya.
Aruna sempat melihat laptop di meja, dia yakin Sabda juga mengerjakan pekerjaannya di sini.
"Kenapa nggak olahraga pagi saja, Mas?" tanya Aruna dengan mengambil botol air mineral dan meminumnya beberapa teguk.
"Kenapa kamu kok nggak merasa bersalah, Run?" Sabda menatap tajam istrinya. Dia kekenyangan karena permintaan istrinya yang aneh itu.
Aruna hanya tersenyum menanggapi pertanyaan Sabda. Dia tahu, jika karena permintaannya suaminya menghabiskan banyak makanan.
"Kekenyangan itu nggak enak banget, Sayang. Mau kerja malah ngantuk. Mau olahraga juga begah dan berat." ucap Sabda dengan menyandarkan tubuh lengketnya di sandaran sofa.
__ADS_1
"Maaf, kan, maunya adek bayi." ucap Aruna dengan senyum yang memang selalu bisa meluluhkan hati lelaki di sebelahnya.
"Adek bayi, atau kamu niat ngerjain?" sindir Sabda. Lelaki itu mengelus perut istrinya. Perut yang setiap hari semakin membesar itu membuat kebahagian tersendiri bagi Sabda setiap kali mengelusnya.
"Mas lusa berangkat ya!" ujar Sabda dengan suara lemah. Sebenarnya dia merasa sangat berat meninggalkan Aruna yang sedang mengandung.
Senyum Aruna berlahan sirna. Berat rasanya jika harus berjauhan dari suaminya. Tapi, dia juga tidak ingin mengambil resiko untuk ikut pindah di tempat baru. Sabda memang pernah mengatakan jika dia akan melihat keadaan dan fasilitas kesehatan di kepulauan kecil itu.
"Mas pasti merindukan kamu dan dia." Sabda melorotkan tubuhnya menciumi perut istrinya yang terlihat menyembul itu.
Rasanya memang berbeda. Bagi Sabda, dia bisa saja jauh dari mamanya tapi entah kenapa dia merasa berat saat jauh dari istri dan calon bayinya.
"Do'ain, semua lancar! Biar Mas bisa nungguin kamu lahiran." ujar Sabda dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Aku pasti akan mendoakan Mas Sabda." balas Aruna dengan mengelus rambut pendek suaminya. Ah, kenapa matanya kenapa jadi ikutan basah seperti ini? Aruna menyusut sudut matanya yang berair, hingga Sabda kini berdiri di depannya.
"Ayo, masuk! Udara malam nggak bagus untukmu." ucap Sabda kemudian menggendong Aruna untuk masuk ke dalam.
Anin berdiri di depan pintu. Dia tidak menyangka jika hidupnya kembali berputar pada cinta masa lalu. Dia tidak bisa melupakan cinta Sabda, sikap Sabda yang begitu lembut dan melindungi membuat dirinya tak bisa move on dari lelaki yang saat ini jauh lebih mapan dari pada saat bersamanya.
"Sabda, seandainya aku menemuimu ketika kamu mencari keberadaanku sampai di Batam, mungkin akan berbeda cerita dari sekarang. Kita akan selalu bersama." Wanita itu mendesah di depan kaca rias. Saat ini Aninditha kembali berdandan seperti dirinya tujuh tahun yang lalu.
Rambut tergerai lurus dan panjang, jepit pita di kepala bagian sebelah. Gadis polos dan lucu, selera Sabda tidak pernah berubah. Dia yakin itu, karena dia merasa Aruna memang wanita yang imut dan terkesan sederhana.
Hari ini dia akan datang ke kantor showroom milik Sabda, dia akan menjelaskan beberapa peraturan baru di kantor finanace- nya yang akan memberikan keuntungan khusus bagi pihak showroom.
"Iya, selamat pagi." jawab Anin saat menjawab sebuah panggilan telepon dari Puspita.
"Aku sudah menunggu di resto depan apartemen." ujar Puspita. Aninditha memang mengajaknya untuk bertemu.
"Baiklah aku akan turun sekarang!" Anin langsung menutup panggilannya. Dia langsung menyambar tasnya dan berjalan keluar.
__ADS_1
Sejak kepergiaan Sisil dan menjadi simpanan Royan, Aninditha memilih tinggal di apartemen. Royan menyewakan satu unit apartemen untuk dirinya. Lelaki itu sudah tergila-gila dengan pesona Aninditha.
Hari Sabtu, Aninditha bisa tampil kasual untuk pergi ke kantor, jam kantor yang hanya setengah hari membuatnya lebih bebas.
Wanita itu berjalan masuk ke dalam resto yang sudah di sepakati. Terlihat Puspita duduk dengan mengaduk secangkir coffelate yang masih mengepulkan asap.
"Apa kabar?" sapa Aninditha kemudian duduk di depan Puspita.
"Baik... " jawab Puspita masih terdengar datar.
"Bisakah membantuku sekali lagi? Mengirimkan beberapa foto ke nomer wanita itu?" tanya Anindhita pada gadis yang kembali menoleh. Dia bermaksud mengirim foto pertemuannya dengan Sabda saat di depan lift.
"Untuk apa? Apa untungnya untukku?" jawab Puspita. Dia merasa tidak perlu melakukan apapun, karena dia merasa sudah tidak mungkin menjangkau Sabda. Bahkan, dia sudah kehilangan pekerjaan yang selama ini cukup menjanjikan.
"Please! Aku bisa memberimu hadiah." desak Anindhita. Dia harus menggunakan banyak cara untuk membujuk Puspita.
"Aku punya tas branded seharga ratusan juta." Anindhita seolah meng-kode Puspita jika hadiah yang dia berikan itu bukan main- main.
Gadis berambut panjang dan berkulit putih itu mendesah. Dia tahu, apa yang mereka lakukan akan percuma, Bahkan jika sampai lelaki itu tahu. Dia bisa benar- benar menjadi pengangguran.
Sabda Megantara, dia punya banyak relasi yang cukup segan padanya. Sekali dia bertindak pekerjaan barunya juga bisa terlepas.
"Aku butuh makan, aku tidak butuh tas. Lagi pula, terkadang kita memang harus tahu diri." jawab Puspita dengan ketusnya. Kalimat Puspita memang membuat Anin geram. Tapi, dia tidak bisa menekan gadis itu.
"Baiklah, aku tunggu hingga kamu berubah pikiran." ucap Anin. Kemudian pergi meninggalkan Puspita yang tersenyum sinis.
Puspita tahu, jika Aninditha adalah sosok yang ambisius. Tapi, bagi Puspita yang penting dia tidak terlibat di dalamnya. Iya, cukup kekagumannya pada Sabda membuatnya kehilangan pekerjaan yang sudah cukup mapan.
Pertemuan dua wanita tanpa mereka ketahui diperhatikan oleh seseorang. Andrean yang akan bertemu dengan seseorang tanpa sengaja ikut mendengarkan pembicaraan mereka. Tampilan kasual dan topinya membuat lelaki itu terlihat samar dari sosok aslinya.
"Astaga... Wanita itu semakin merajalela." gumam Andrean. Dia pun mengetik pesan pada seseorang untuk bertemu setelah dia menemui orang sudah dia tunggu sejak tadi.
__ADS_1