
Andreas begitu berterima kasih pada Ana karan sudah membantu lusi.
"Nona terima kasih karna suda menolonghl istri saya, saya sudah tak tau lagi harus berkata apa jika tak ada anda yang menolong istri saya."
Ana tersenyum "Iya sama sama tuan. Lain kali jangan jauh dari istri anda ketika berada di tempat yang asing untuknya."
Andre mengangguk "Ya, aku juga bodoh karna meninggalkannya lama."
Andraes menoleh pada lusi lalu ia mengambil sesuatu dari kantongnya "Apa ini Hp mu??"
Lusi terkejut ketika andres mengangkat hpnya "Dari mana tuan mendapatkannya."
Lusi mengambil hpnya lalu ia memeriksa isinya.
Andre membelai rambutnya pelan "Lainkali, pegang baik baik hpnya dan jangan juga suka meninggalkan tas di dalam Mobil."
Lusi menoleh pada andre sambil tersenyum.
"Hehe, maaf aku lupa membawanya."
Andreas tersenyum "Apa kamu sudah makan??"
"Sudah sih, tapi aku masih lapar." Andres tersenyum.
"Kalok gitu ayo kita pergi mencari makan. bagai mana nona ana apa anda mau ikut juga??"
Ana Yang mendapt tawaran itu sempat mau menolak namun ketika melihat tatapan lusi padanya membuatnya tak enak hati, karna wanita itu begitu berharap ia ikut
"Boleh.."
Lusi yang mendengar hal itu begitu bahagia "Ye.., ana juga akan ikut makan bersama kita." Lusi terlihat gembira.
Sedangkan andres teihat tersenyum melihat tingkah lusi.
Tak lama Radit datang "Ayo kita pergi tuan, masalahnya suah selesai."
"Kita cari tempat untuk makan malam dulu, baru setelah itu kita pulang."
Lusi meraih tangan Ana "Ayo ana kita pergi ke mobil lebih dulu." Lusi menarik ana lebih dulu pergi.
Sedangkan Radit sedikit bingung "Apa gadis itu juga akan ikut."
Andres tersenyum "Tentu saja, bagai mana menurut mu tentang dia??"
Radit menatap sinis andraes "Dia jelek."
Andre berusaha menahan tawanya "Gak usah bohong, bilang saja cantik."
__ADS_1
Radit menutup telinganya "Yasudah, ayo kita pergi." Radit lebih dulu jalan sedangkan andreas malah di buat tertawa melihat tingkah sahabatnya itu lalu ia pun ikut menyusul.
Pada akhirna mereka pergi makan ke sebuah restoran cainis foods dan meteka memesan Chow Mein ,Hot Pot ,Dumplings , Peking Duck,dan Char Sia.
"Ana aku mau tanya, apa kamu sudah punya seorang kekasih???"
Ana yang mendengar hal itu lantas tersenyum "Belum, justru aku belum pernah berpacaran."
Lusi yang mendengarhal itu lantas tersenyum "Sama dong.."
Andreas terkejut"Apa maksud mu sama??"
"Aku sama semperti ana belum pernah merasakan namanya berpacaran."
"Jadi kamu sebelum menikah dengan ku belum pernah berpacaran??"
Lusi mengangguk "Jangankan berpacaran suka pada laki-laki saja aku tak pernah."
Ana terkejut "Jika kamu tak pernah mencintai laki-laki lalu bagai mana kalian berdua menikah??"
Lusi sempat terdiam sejenak, begitu juga dengan Andreas.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di pikiran Ana "Apa mungkin kalian di jodohkan??."
Lusi hanya tersenyum sedangkan ana mengira jika jawabnya benar padahal lusitersenyum agar ana tidak bertanya lagi.
"Wah sepertinya makanannya pada enak-enak, bukan begitu Ana."
Tak lama dari arah pintu Radit datang "Maaf aku terlalu lama di kamar mandi."
Lusi menatap Radit "Kamu sakit perut Radit??"
Peria itu mengangguk "Kayaknya maag ku kambuh lagi, karna lambat makan."
Lusi merasa bersalah "Maaf yah, karn mencari ku kamu sampai melewatkan makan siang mu.."
Radit menggeleng "Gak papa. Oh iya kenapa nona tidak duduk di dekat tuan??"
Lusi tersenyum lalu menoleh pada Andreas "Kode keras nih, pindah gak yah??"
Andre tersenyum. "Bilangnya tadi jelek."
Radit yang pura-pura gak peka, sedangkan lusi segera bangkit.
"Baiklah, sebagi orang baik aku pindah deh." Lusi bangkit dari duduknya lalu duduk di sebelah andresa sedangkan Radit di sebelah Ana.
Namun ketika di sebelah ana wajah Radit mulai memerah dan Radit pun segera memalingkan wajahnya dan mulai membuka pembicaraan.
__ADS_1
Sedangkan lusi dan andres yang melihat hal itu berusaha menahan tawa.
Pada saat andreas akan mengambil hpnya dari kantung jasnya namun ia baru sadar jika hpnya tak ada.
Sontak ia bangkit dari duduknya "Kalia lebih dulu makan aku akan kembai ke mobil karna sepertinya ada yang ketinggalan."
Lalu andreas segera pergi sedangkan ana dan Radit sibuk berbicara berdua,dan lusi diam diam membuka tasnya, rupanya Hp andres ada dalam tasnya.
Dan hp itu menggunakan kata sandi ketika manual dan sidik jari untuk terbuka.
Sedangkan lusi ia tau kata sandi Andres jadi dengan muda hpnya terbuka dan ia segera membuka Telfon dan ia meliaht siapa nomor yang andres telfon, sontak ia tersenyum kecut.
Lusi berguma dalam hati 'Dia meninggalkan ku sama 1 jam hanya untuk menelfon wanita ini, aku takan membiarkan mu mendekat terlalu jauh lagi, sudah cukup sekali aku kecolongan dan untuk yang keduakalinya takan pernah terjadi."
Lusi menghapus jejak aplikasai yang ia buka pada hp Andreas lalu ia pun mematikan hp itu, untungnya pada saat ia membuka hp itu kondisi tanganya masih di dalam tas jadi Radit tak tau.
"Ayo kita makan, tuan akan menyusul datang."
Benar saja Tak lama andreas datang.
Lalu lusi langsung menoleh padanya "Tuan cari apa sih, sudah nanti aja carinya ayo kita makan." Andres menjawabnya.
"Apa kamu melihat hp ku??"
Lusi tersenyum "Kenapa gak tanya dari awal, hpmu ada di tas ku, bukankah pada saat di mobil kamu menitipkanya pada ku."
Andres baru ingat jika ia tadi menitip hpna pada lusi "Aku lupa." Andreas segera menghampiri lusi.
Pada saat ia akan mengambil tas gadis itu, dengan cepat lusi memindahkan tasnya "Nanti saja main hpnya, makan dulu."
"Bagai mana nanti jika ada klien ku yang menelfon ku."
Lusi menghela napas pelan "Gak mungkin ada klien yang akan menelfon mu, dan ia pasti akan mengirim surat terlebih duhulu pada Radit, bukan langsung menelfon mu.
Dari kemarin kamu selalu saja sibuk dengan hp mu sampai meniggalkan makan siang mu. Apa kamu tau, kamu itu terlihat mencurigakan seperti orang yang punya selingkuhan aja."
Andreas yang mendengar hal itu mulai merasa kesal karna lusi tiba tiba mengajaknya bertengkar.
Sedangkan Rdit tiba-tiba tersedak (ohok~) dan ana segera memberikan air untuknya.
Andre berusaha menahan emosinya dan segera kabli ke kursinya.
Namun ia sama sekali tak mau menoleh pada lusi sedangkan lusi berusaha sabar untuk tak terbawa emosi lagi dan melanjutkan makannya.
Lusi berguma dalam hati 'maaf karna aku sudah egois pada mu, namum sebagi seorang istri aku tak mungkin akan membiarkan seorang istri dari adik mu itu dekat padamu, walau dulu kalian mantan tunangan namun aku tetap takan membiarkan dia terlalu dekat dengan mu lagi. sebab kamu itu sudah menjadi bagian dari ku dan takan pernah berubah sampai kapan pun.' Lusi diam diam melirik andres adari sudut matanya.
Bersambung....
__ADS_1