
Tak lama radit datang dan ia terlihat hawatir namun lusi terliaht santai saja.
"Itu teman saya sudah sampai."
Radit meanghampirinya "Nona bagai mana anda tidak hati hati, bagai mana dengan kanduangan nona apa baik-baik saja??"
Lusi mengangguk "Ya , karna aku langsung di bawa sama tuan dan nona ini kerumah sakit jadi aman saja."
Pada saat Radit menoleh pada peria paruh baya dan wanita paruh baya di belakangnya dan bertapa terkejutnya dia melihat mereka.
"Tuan darius, nona tina."
"Oh kamu kenal siapa mereka Radit??"
Guma radit dalam hati "Siapa yang gak kenal orang tua mantan tunangan tuan Andre yang dulu sempat di jodohkan."
darius terkejut karna Radit mengenalnya "Anak muda, apa kita pernah bertemu sebelumnya??"
Radit tersenyum "Tidak tuan, saya mengetahui tentang anda dari surat kabar, bukankah pernah berita acara ulang tahun pernikahan kalian yang begitu mewah yang di adakan di pulau Dewata Bali, itu sebabnya saya sampai tau."
Darius tersenyum dan percaya dengan apa perkatan Radit padahal radit hanya tak mau permasalahan masa lalu di bahas lagi.
Tak lama seorang dokter datang lalu lusi segera di periksa dari janinya mengunakan USG untungnya janinya aman saja hanya saja karna pendarahan itu membuat lusi di sarankan untuk jangan beraktifitas berlebihan dulu.
Karna di takutkan akan terjadi pendarahan lagi. Dan lusi tak begitu mempermasalahkan hal itu dan menurut, lalu ia di bero berberapa resep obat.
Setelah itu baru radit mengantar lusi pulang dan jam sudah menunjuk pukul 5 sore selama perjalanan lusi hanya diam hinga mereka sampai di rumah Radit sedikit terkejut ketika melihat mobil merah yang tak asing bagingnya namun ia tak mau berpikir negatif.
Dalam benak Radit'Oh mungkin saja ada orang di apartemen yang baru membeli mobil mirip mobil orang itu.'
Mereka menaiki lift ke atas dan pada saat lift berhenti di lantai paling atas lusi segera berjalan menghampiri pintu depan apartemen lalu ia menekan tombol untuk membuka apartemen.
Pada saat pintu terbuka lusi langsung masuk "Aku pulang..." perkataan-nya terhenti ketika melihat hal tak terduga di ruang tamu rumah.
Di mana Andreas kini tengah berc*mbu dengan seorang gadis yang tidak lain dan tidak bukan adalah Zahra.
Lusi mematung di tempat. Sedangkan Radit ia sedikit melambatkan jalannya karna ia baru sadar jika ada pesan dari tauannya.
"Loh 1 jam lalu tuan ada mengirim pesan pada ku."
__ADS_1
Pada saat ia membaca bertapa terkejutnya dengan isinya.
'Radit jangan biarkan lusi kembali ke apertemen dulu,zaha baru saja kembali dari Bali dan dia sekaranga ada di rumah bersama ku.
Buat dia sibuk dan jangan sampai ia kembali.'
Radit lantas berlari masuk ke dalam rumah dan ia terdiam ketika meliht lusi di hadapannya juga terdiam menatap mereka di sofa rumah.
Kini hati lusi di penuhi dengan amarah "Rupanya ini yang kamu lakukan ketika aku tak ada!!"
Lusi berjalan dengan tergesah gesah menghampiri mereka, sedangkan mereka belum sadar jika lusi datang ke arah mereka.
Lusi dengan kasarnya menarik pakaian andras hingga mereka terjatuh ke lantai dan ciuman itu terlepas.
"Ah, siapa ini.." pada saat andre menoleh ke belakang ia terkejut melihat lusi sedangkan lusi yang sudah tersulut amarah langsung manarik rambut Zahra dan menyeretnya.
"Apa suami mu tak memuaskan mu hah, sehinga kamu bermain dengan suami orang."
Zahra mencoba melepaskan tangan lusi dari rambutnya "Ah..ah apa yang kamu lakukan lepaskan rambut ku."
Zahra mencengkram kuat tangan lusi dengan kuku tajamnya hinga menusuk tangan namun lusi yang sudah tersulut amarah tak meraskan apa pun kini yang ada hanya perasan cemburu dan amarah.
Andreas lantas menghampiri lusi lalu ia melepas paksa tangan lusi dari rambut Zaha.
"LUSI ADA APA DENGAN MU!!"
Lusi menatap sinis Andreas lalu menunjuk peria itu "KAMU BERTANYA PADA KU ADA APA DENGAN KU!.
APAKAH YANG KALIAN LAKUKAN DI SOFA ITU BISA DI WAJARKAN!."
(Plak~)
Andras menampar lusi lalu ia mencengkram wajah lusi kuat "MEMANG KENAPA??,APA KAMU AKAN MENGANCAM KU DENGAN MELAPORKAN KU PADA KAKEK!.
APA KAMU KIRA AKU TAKUT. KAMU ITU TIDAK ADA APA-APANYA BAGI KU DAN HANYA SEKEDAR ALAT PEMUAS NA*SU KU!."
Andreas mencengkram kuat hinga lusi merasa kesakitan dan akan menangis namun dengan cepat dari belakang Radit menghajar Andreas hinga peria itu tersentak ke belakang.
"Benar apa yang di katakan lusi Andre, apa yang kamu lakukan itu salah!!"
__ADS_1
"Kamu tak usah ikut campur urusan rumahtangga ku Radit kamu itu bukan siapa siapa, jika aku memecat mu hari ini, kamu.."
"Anda tak bisa memecat saya dengan senak anda. Karna jabatan yang saya dapat dari Tuan lukman jadi anda tak bisa memecat saya seenak jidat anda."
Andreas tersenyum miring lalu ia langsung menghajar andras dan awalnya peria itu dapat melawan namun karana lawanya adalah Andreas yang memiliki tubuh lebih besar dari pada akhirnya ia kala lalu di hajar hingga babak belur oleh Andreas.
Dan lusi yang panik dan takut jika Radit akan mata jika terus di hajar lantas berniat menghentikan dengan meangamil satu buah vas yang ingin ia pukul pada andreas agar berhenti namun ia kalah cepat olah Zahra yang langsung menarik rambutnya.
"TADI KAMU SEBUAT AKU JA*ANG HAH!!.
SEHARUSNYA KAMU YANG SADAR DIRIJIKA KAMUlAH JAlANGNYA YANG SESUNGGUHNYA!"
Lusi berusaha melepas tangan Zahra namun tak kuat karan wanita itu menarik kuat tanganya hingga ia terjatuh ke lantai lalu zahra melepas tarikan rambutnya setelah itu ia menendang punggung lusi.
Namun lusi berusa meringkuk untuk melindungi anaknya, setelah andreas merasa Radit sudah tak berdaya ia pun segera menghampiri Zahra "Ayo kita pergi zahra."
Zahra mengangguk , lalu dengan kasarnya ia malah menendang punggung lusi kuat hingga lusi merintih kesakitan.
"Menjijikan." andars meludahi lusi.
Mereka lari dari apar teman, sedangkan lusi dengan kesuhan menyeret tubuhnya mengmpiri Radit yang sudah pingsan.
Namun karna jarak mereka jauh lusi berusaha menahan sakit perutnya pada saat menghampiri Radit dengan menyeret tubuhnya.
Pada saat akan di buka Hp Radit rupanya masih terkunci lalu lusi kenarik tangan radir dan membuka hp itu menggunakan sidik jari radit dan langsung terbuka.
Dan ia pertama menelfon ialah Lukman karna ia takut jika menelfon Ambulan maka akan terjadi kehebohan pada Apartemen jadi ia menelfon lukman.
Dan untungnya telfon itu langsung di jawab.
"Halo Radit ada apa??"
"Kakek ku mohon cepat lah ke apartemen hik.., Suami ku lari bersama wanita itu setelah menghajar Radit."
Lukman yang mendengar hal itu terkejut dan langsung berteriak "Hey kalian yang diluar cepat ke aparteman andre dan lusi, Radit sedang terluka!!"
Dan itu lah hal yang terakhir lusi dengar lalu ia langsung pingsan ditempat karna tak sanggup menahan rasa sakit perutnya.
Bersambung......
__ADS_1